Pages

Ads 468x60px

Selasa, 13 September 2016

Drs. H. M. HASBI SALIM, M. Pd: HIKMAH HARI RAYA QURBAN DAN HARI RAYA HAJI


Syukur Alhamdulillah pada saat ini kita masih diberi Allah usia,  sehingga bisa berjumpa dengan hari yang mulia yaitu hari Raya Idul Adha 1437 H. Hari raya ini ditandai dengan dengungan takbir, tahmid dan tahlil yang berkumandang di seluruh penjuru dunia sejak kemarin sore (9 Dzulhijjah) dan berhenti hingga hari tasyrik yang ketiga.

Seperti halnya Idul Fitri yang mempunyai dua pesan utama, yakni bertaqwa kepada Allah sebagai inti ibadah puasa dan cinta sesama manusia, lebih-lebih yang tak punya sebagai inti zakat fitrah. Idul Adha juga mempunyai dua pesan utama, yakni taqwa bagi jamaah haji dan cinta sesama sebagai tujuan ibadah qurban.
Seperti yang sudah kita ketahui bersama, hari raya Idul Adha juga disebut hari Raya Haji, sebab pada momen ini proses ibadah haji para dhuyufurrahman di Tanah Suci sudah memasuki puncaknya yg ditandai dengan wukuf di arafah sehari sebelumnya.
Dalam mengerjakan ibadah haji, ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil, antara lain :

1.       Melatih diri menghidari perbuatan rafas (tidak senonoh/ceroboh) dsb.
2.       Menghindarkan diri dari berbuat dosa (fasik).
3.       Menghindarkan dari sikap berbantah-bantahan.
4.       Membangun persatuan ummat seluruh dunia.
5.       Membekali diri dengan taqwa agar jangan terhina di depan Allah dan manusia. Untuk meraih haji mambrur.

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa. dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal. (TQS. Al Baqarah: 197)

Selain itu, Rasulullah SAW. juga memberikan kabar gembira bagi pelaksana ibadah haji yang diterima Allah melalui sabda beliau, “Tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur adalah syurga.”

Selain disebut hari Raya Haji, Hari Raya Idul Adha juga kita kenal dengan sebutan Hari Raya Qurban. Pada hari ini dilaksanakan qurban/penyembelihan hewan berupa kambing, kerbau dan hewan sejenisnya. Peristiwa sejarah qurban diabadikan dalam Al Qur’an pada Surah Ash Shaffat ayat 102 – 109 :
[102]. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar.
[103]. tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
[104]. dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
[105]. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
[106]. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
[107]. dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
[108] Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,
[109] (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".

Menurut para ulama, kita sebagai umat Nabi Muhammad yang berkemampuan disunatkan (bahkan sunnat muakkad) melaksanakan qurban. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW., “Dari Abdullah bin Auf berkata : Rasulullah SAW bersabda : Hai manusia sesungguhnya atas setiap ahli rumah pada tiap tahun disunahkan berqurban.” (Hadits Riwayat Abu Daud dengan Sanat Hasan)
Ada beberapa poin penting yang dapat diambil dari peristiwa sejarah dan pelaksanaan qurban, yaitu;
1.       Nabi Ibrahim merupakan sosok orang tua yang luar biasa dalam hal ketaatan kepada Allah. Termasuk ketika dituntut mengorbankan sesuatu yang sangat berharga.
2.       Nabi Ismail adalah sosok anak/generasi muda yang sangat taat pada orang tua dan juga pada Allah. Dengan rela menyerahkan jiwa dan raga demi orang tua dan melaksanakan ketaatan kepada Allah.
3.       Dari sini juga mengisyaratkan perlunya menyebeleh/menghilangkan sifat-sifat kebinatangan sifat-sifat kebinatangan seperti; rakus, budak nafsu, tak perduli halal-haram dan sebagainya agar menjadi jiwa yang suci.
4.       Kegiatan qurban berikutnya dengan penyembelihan hewan yang dagingnya dibagikan adalah contoh nyata cara menyantuni orang yang tidak mampu dan memberi hadiah kepada sesama. Sebab daging qurban bukan hanya untuk orang yang tidak mampu tetapi boleh orang yang mampu dan dimakan bersamapun bagi pelaksana kurban sebagian tidak dilarang.

Oleh mari kita budayakan ibadah qurban, baik secara murni, secara arisan dan sebagainya. Tidak hanya sekali dalam seumur hidup, tetapi berkali-kali jika berkemampuan.

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (TQS. Al-Kautsar: 1-3)

Semoga pelaksanaan shalat id dan qurban kita kali ini diterima oleh Allah. Dan kita berjumpa lagi dengan hari yang sama di tahun depan. Dan semoga ibadah haji keluarga dan handai taulan kita mabrur, serta kita diberikan kemampuan pula meraihnya di tahun depan. Aamiin. [ ]

(Tulisan ini merupakan materi Khutbah Idul Adha yang penulis sampaikan di Mesjid At Taqwa, Telaga Sari, Amuntai Selatan, Kab. Hulu Sungai Utara pada hari Senin, 10 Dzulhijjah 1437H)



Biodata:
Drs. H. M. Hasbi Salim, M.Pd. adalah anak sulung dari   pasangan Maslan Yazidi (alm) seorang guru dengan Hj. Siti Arbaiyah (seorang ibu rumah tangga) lahir 26 Juli 1963 di desa Rumpiang, Kecamatan Aluh-Aluh (sekarang Kecamatan Jambu Raya), Kabupaten Banjar, provinsi Kalimantan Selatan.
Pria ini adalah guru Bahasa Inggris SMAN 1 Amuntai sejak 1990 sampai sekarang. Selain itu ia juga  dosen tidak tetap pada STIQ, STIA dan STIPER. Meraih predikat Guru Teladan 2 Tingkat Provinsi tahun 1994 dan Guru Berpristasi 3 Tingkat Provinsi  2005, mendapat Anugerah Sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan, Rudi Arifin 2008, serta pendapat penghargaan Anugerah Asta Prana dari Bupati Kabupaten Banjar, Khairul Shaleh, 2014.
Juara harapan II Karya Tulis Ilmiah tentang Kebudayaan Daerah oleh Jarahnetra Depdikbud. 1998 dan 1999, Meraih juara harapan IV Nasional Penulisan Karya Fiksi diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan, 2005, Meraih Juara II Nasional penulisan Cerita Rakyat oleh Pusat bahasa, 2005, Juara II Kreativitas Guru oleh LIPI 2000 dan harapan II tahun 2005.
Penulis adalah alumnus Pondok pesantren Abnaul Amin Rumpiang, MAS Al Irsyad Iambu burung, IAIN Antasari Banjarmasin serta telah merampungkan pendidikan jenjang strata 2 pada UNLAM  Banjarmasin jurusan Manajemen Pendidikan 2011. Penulis juga alumnus  pertemuan penulis dunia  di Bali (Ubud Writers and Readers Festival) 2012.
Buku yang telah diterbitkan, antara lain; Beternak Itik Alabio (nonfiksi), Adicita, Yogyakarta, 2004, Kambang Barenteng (fiksi), Adicita, Yogyakarta, 2004, Misteri Pohon Kasturi (Antologi  Cerpen Anak, hasil Lomba Fiksi Pusbuk 2005), Widya Duta, Bandung, 2007 dan Dunia Sahabat (Antologi Cerpen Anak), Zikrul Hakim, Jakarta,  2007,  Masih Ada Cahaya (Tahura Media), Banjarmasin. Magnet Baitullah (Antologi Cerpen), Tahura, Yogyakarta, 2010. Orang Banjar Naik Haji, Tahura Media, Banjarmasin, 2011, Ketika Api Bicara (Antologi Cerpen) Tahura Media, Banjarmasin, Puteri Junjung Buih (Antologi Cerita Rakyat, Penakita, Banjarmasin,  2012, Merajut Impian (Puteri Sasirangan) (Novel), Hemat, Amuntai, 2012, Kado Haji, Hemat, Amuntai, 2012, Basic Grammar of English, Hemat, Amuntai, 2013.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter