Syukur
Alhamdulillah pada saat ini kita masih diberi Allah usia, sehingga bisa berjumpa dengan hari yang mulia
yaitu hari Raya Idul Adha 1437 H. Hari raya ini ditandai dengan dengungan
takbir, tahmid dan tahlil yang berkumandang di seluruh penjuru dunia sejak
kemarin sore (9 Dzulhijjah) dan berhenti hingga hari tasyrik yang ketiga.
Seperti
halnya Idul Fitri yang mempunyai dua pesan utama, yakni bertaqwa kepada Allah
sebagai inti ibadah puasa dan cinta sesama manusia, lebih-lebih yang tak punya
sebagai inti zakat fitrah. Idul Adha juga mempunyai dua pesan utama, yakni taqwa
bagi jamaah haji dan cinta sesama sebagai tujuan ibadah qurban.
Seperti yang
sudah kita ketahui bersama, hari raya Idul Adha juga disebut hari Raya Haji, sebab
pada momen ini proses ibadah haji para dhuyufurrahman di Tanah Suci sudah
memasuki puncaknya yg ditandai dengan wukuf di arafah sehari sebelumnya.
Dalam
mengerjakan ibadah haji, ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil, antara lain
:
1.
Melatih diri menghidari perbuatan rafas (tidak senonoh/ceroboh)
dsb.
2.
Menghindarkan diri dari berbuat dosa (fasik).
3.
Menghindarkan dari sikap berbantah-bantahan.
4.
Membangun persatuan ummat seluruh dunia.
5.
Membekali diri dengan taqwa agar jangan terhina di depan Allah dan
manusia. Untuk meraih haji mambrur.
“(Musim)
haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya
dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat Fasik
dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu
kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan
Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa. dan bertakwalah kepada-Ku Hai
orang-orang yang berakal. (TQS. Al Baqarah:
197)
Selain itu,
Rasulullah SAW. juga memberikan kabar gembira bagi pelaksana ibadah haji yang
diterima Allah melalui sabda beliau, “Tidak ada balasan yang pantas bagi haji
mabrur adalah syurga.”
Selain
disebut hari Raya Haji, Hari Raya Idul Adha juga kita kenal dengan sebutan Hari
Raya Qurban. Pada hari ini dilaksanakan qurban/penyembelihan hewan berupa
kambing, kerbau dan hewan sejenisnya. Peristiwa sejarah qurban diabadikan dalam
Al Qur’an pada Surah Ash Shaffat
ayat 102 – 109 :
[102]. Maka tatkala anak itu
sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:
"Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk
orang-orang yang sabar.
[103]. tatkala keduanya telah
berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah
kesabaran keduanya ).
[104]. dan Kami panggillah dia:
"Hai Ibrahim,
[105]. Sesungguhnya kamu telah
membenarkan mimpi itu.
Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik.
[106]. Sesungguhnya ini
benar-benar suatu ujian yang nyata.
[107]. dan Kami tebus anak itu
dengan seekor sembelihan yang besar.
[108] Kami abadikan untuk
Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,
[109] (yaitu)"Kesejahteraan
dilimpahkan atas Ibrahim".
Menurut para
ulama, kita sebagai umat Nabi Muhammad yang berkemampuan disunatkan (bahkan
sunnat muakkad) melaksanakan qurban. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW.,
“Dari Abdullah bin Auf berkata :
Rasulullah SAW bersabda : Hai manusia sesungguhnya atas setiap ahli rumah pada
tiap tahun disunahkan berqurban.” (Hadits Riwayat Abu Daud dengan Sanat
Hasan)
Ada beberapa
poin penting yang dapat diambil dari peristiwa sejarah dan pelaksanaan qurban,
yaitu;
1.
Nabi Ibrahim merupakan sosok orang tua yang luar biasa dalam hal
ketaatan kepada Allah. Termasuk ketika dituntut mengorbankan sesuatu yang
sangat berharga.
2.
Nabi Ismail adalah sosok anak/generasi muda yang sangat taat pada
orang tua dan juga pada Allah. Dengan rela menyerahkan jiwa dan raga demi orang
tua dan melaksanakan ketaatan kepada Allah.
3.
Dari sini juga mengisyaratkan perlunya menyebeleh/menghilangkan
sifat-sifat kebinatangan sifat-sifat kebinatangan seperti; rakus, budak nafsu,
tak perduli halal-haram dan sebagainya agar menjadi jiwa yang suci.
4.
Kegiatan qurban berikutnya dengan penyembelihan hewan yang
dagingnya dibagikan adalah contoh nyata cara menyantuni orang yang tidak mampu
dan memberi hadiah kepada sesama. Sebab daging qurban bukan hanya untuk orang
yang tidak mampu tetapi boleh orang yang mampu dan dimakan bersamapun bagi
pelaksana kurban sebagian tidak dilarang.
Oleh mari
kita budayakan ibadah qurban, baik secara murni, secara arisan dan sebagainya.
Tidak hanya sekali dalam seumur hidup, tetapi berkali-kali jika berkemampuan.
Sesungguhnya
Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat
karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah
yang terputus (TQS. Al-Kautsar: 1-3)
Semoga pelaksanaan shalat id dan qurban kita
kali ini diterima oleh Allah. Dan kita berjumpa lagi dengan hari yang sama di
tahun depan. Dan semoga ibadah haji
keluarga dan handai taulan kita mabrur, serta kita diberikan kemampuan pula
meraihnya di tahun depan. Aamiin. [ ]
(Tulisan ini
merupakan materi Khutbah Idul Adha yang penulis sampaikan di Mesjid At Taqwa,
Telaga Sari, Amuntai Selatan, Kab. Hulu Sungai Utara pada hari Senin, 10
Dzulhijjah 1437H)
Biodata:
Drs. H. M. Hasbi Salim, M.Pd. adalah anak sulung dari
pasangan Maslan Yazidi (alm) seorang guru dengan Hj. Siti
Arbaiyah (seorang ibu rumah tangga) lahir 26 Juli 1963 di desa Rumpiang,
Kecamatan Aluh-Aluh (sekarang Kecamatan Jambu Raya), Kabupaten Banjar, provinsi
Kalimantan Selatan.
Pria
ini adalah guru Bahasa Inggris SMAN 1 Amuntai sejak 1990 sampai sekarang.
Selain itu ia juga dosen tidak
tetap pada STIQ, STIA dan STIPER. Meraih predikat Guru Teladan 2 Tingkat Provinsi
tahun 1994 dan Guru Berpristasi 3 Tingkat Provinsi 2005, mendapat Anugerah Sastra
dari Gubernur Kalimantan Selatan, Rudi Arifin 2008, serta pendapat penghargaan Anugerah Asta Prana dari
Bupati Kabupaten Banjar, Khairul Shaleh, 2014.
Juara harapan II Karya Tulis Ilmiah tentang Kebudayaan
Daerah oleh Jarahnetra Depdikbud. 1998 dan 1999, Meraih juara harapan IV
Nasional Penulisan Karya Fiksi diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan, 2005,
Meraih Juara II Nasional penulisan Cerita Rakyat oleh Pusat bahasa, 2005, Juara
II Kreativitas Guru oleh LIPI 2000 dan harapan II tahun 2005.
Penulis
adalah alumnus Pondok pesantren Abnaul Amin Rumpiang, MAS Al Irsyad Iambu
burung, IAIN Antasari Banjarmasin serta telah merampungkan pendidikan jenjang
strata 2 pada UNLAM Banjarmasin jurusan
Manajemen Pendidikan 2011. Penulis juga alumnus
pertemuan penulis dunia di Bali (Ubud
Writers and Readers Festival) 2012.
Buku
yang telah diterbitkan, antara lain; Beternak Itik Alabio
(nonfiksi), Adicita, Yogyakarta, 2004, Kambang Barenteng (fiksi),
Adicita, Yogyakarta, 2004, Misteri Pohon Kasturi (Antologi Cerpen Anak,
hasil Lomba Fiksi Pusbuk 2005), Widya Duta, Bandung, 2007 dan Dunia
Sahabat (Antologi Cerpen Anak), Zikrul Hakim, Jakarta, 2007, Masih
Ada Cahaya (Tahura Media), Banjarmasin. Magnet Baitullah (Antologi
Cerpen), Tahura, Yogyakarta, 2010. Orang Banjar Naik Haji,
Tahura Media, Banjarmasin, 2011, Ketika Api Bicara (Antologi
Cerpen) Tahura Media, Banjarmasin, Puteri Junjung Buih (Antologi
Cerita Rakyat, Penakita, Banjarmasin,
2012, Merajut Impian (Puteri Sasirangan) (Novel), Hemat,
Amuntai, 2012, Kado Haji, Hemat, Amuntai, 2012, Basic Grammar
of English, Hemat, Amuntai, 2013.
