Ada cerita menarik tentang radio yang terjadi di Banua Tahun
1993. Memasuki bulan April tahun itu, Radio Republik
Indonesia (RRI) Banjarmasin gencar mempromosikan akan membuka programa 2
atau RRI Pro 2. Programa baru ini dianggap sebagai terobosan baru RRI karena
akan siaran di jalur FM, sementara Pro 1 yang menjadi induknya selama
berpuluh-puluh tahun setia di jalur AM. Hal ini juga untuk mengimbangi
persaingan dengan beberapa radio swasta di Banjarmasin yang saat itu sudah di
jalur FM, yaitu Ash Bone, DBs, dan Nusantara Antik.
RRI Pro 2 Banjarmasin yang siaran di gelombang 95,7 FM
direncanakan mulai on air tanggal 1 April dengan acara unggulan, salah satunya,
musik dangdut. Rencana siaran Pro 2 ini tentu menarik perhatian radio
kompetitor saat itu karena menganggap pasti akan berpengaruh kepada terbaginya
pendengar dan kue iklan. Radio Nusantara Antik yang siaran di 103 FM yang
paling mengambil hati akan itu. Radio ini punya acara Dangdut paling dikenal
saat itu, Dangdut Mania, setiap pukul 09.00 s.d. 12.00.
Menjelang 1 April, para penyiar Radio Nusantara FM pun rapat
untuk merumuskan acara yang diprediksi bisa mengikat pendengar sekaligus
mengalihkan perhatiannya saat itu dari bakal hadirnya RRI Pro 2. Muncullah ide
membuat April Mop dengan berita rekayasa ‘wafatnya Deddy, penyiar Radio
Nusantara’. Bersamaan dengan mulainya siaran RRI Pro 2, pukul 06.00 pagi 1
April itu, diumumkanlah berita ‘wafatnya’ Deddy hingga berulang-ulang tiap 15
menit. Pendengar radio di Banua heboh. Ucapan duka cita melalui telepon
mengalir deras, termasuk yang datang langsung ke studio.
Tidak tahu persis apakah perhatian pendengar radio yang
terfokus pada berita ‘wafatnya’ penyiar Radio Nusantara saat itu benar-benar
mengalihkan perhatian pada gebyarnya peluncuran acara RRI Pro 2. Yang pasti,
tabir berita April Mop Radio Nusantara yang menggemparkan itu akhirnya dibuka
pukul 14.00 karena terlalu menimbulkan banyak ekses. Aparat turun tangan karena
studio dipenuhi banyak orang. Dari peristiwa ini jelas tergambar bagaimana kuatnya
ikatan emosional antara pendengr dengan radio dan penyiarnya saat itu.
Bagaimana sekarang, apakah radio bisa membuat ulah yang menarik
perhatian publik lagi seperti puluhan tahun lalu, setelah kehadirannya tidak
lagi sendiri karena sudah dikepung oleh televisi dan internet? Bisa ya, bisa
tidak. Apakah radio masih punya pendengar atau masih didengar? Jawabannya tentu
masih, walau tak sebanyak dulu lagi. Menurut survei Nielsen 2014, tiap tahun,
pendengar radio mengalami penurunan hingga 3%. Bahkan sebagai media promosi,
radio hanya memiliki porsi penetrasi 30% penggunaan di tengah masyarakat,
dibanding televisi dan media lainnya.
Saya yakin dan percaya, baik RRI sebagai Lembaga Penyiaran
Publik plat merah, maupun radio swasta tetap berharap punya pendengar. Apalagi
radio swasta yang menggantungkan hidup dari iklan akan sangat berpengaruh jika
pendengarnya mulai menyusut. Dalam kasus ini, RRI adalah radio yang paling
aman. Dengan jaringan pemancar tersebar di seluruh Indonesia, varian
programa sampai 4, dan juga buka jalur streaming, membuat RRI masih punya
jaminan pendengar sampai ke pelosok. Apalagi mayoritas pendanaannya masih
ditanggung pemerintah, tentu RRI tak akan pernah kehabisan nafas.
Para penyelenggara RRI janganlah terlena dengan segala fasilitas
tersebut. Perlu juga mengevaluasi diri apakah program acara yang disajikan itu
benar didengar sesuai sasarannya dan sesuai kebutuhan pendengarnya. Tidak
salahnya kalau RRI juga melihat dan belajar bagaimana radio swasta menghidupi
dirinya di tengah persaingan media dan keterbatasan fisik. Saya pikir radio
swasta lebih maju selangkah dalam teknologi dan sajian acara. Radio swasta
pandai menjalin kerjasama dengan pihak lain, baik acara on air maupun off
air-nya. Dan satu lagi, senantiasa mempromosikan acaranya.
Promosi, itulah yang saya lakukan ketika mengisi acara talkshow
“Suluh Banua’ di RRI Pro 4 Banjarmasin setahun ini. Sebagus apa pun acara itu,
apalagi sekadar acara dialog yang kering lagu, jika tak dipromosikan, pasti tak
akan ditunggu orang untuk didengar. Saatnya RRI secara rutin menggunakan media
spanduk, baliho, atau media sosial untuk mengenalkan acaranya. Ini tak sekadar
soal marketing, tapi pencitraan. 11 September hari in,i sudah 71 tahun usia
RRI. Jangan asyik dengan jargon “Sekali di Udara Tetap di Udara dan Lupa
Daratan”. Lupakan romantisme masa lalu sebagai jagoan satu satunya. Publik
sudah banyak pilihan. Curilah perhatian mereka dengan berbagai cara. [ ]
