Pages

Ads 468x60px

Senin, 12 September 2016

ZULFAISAL PUTERA: SEKALI DI UDARA, (JANGAN) LUPA DARATAN


Ada cerita menarik tentang radio yang terjadi di Banua Tahun 1993.  Memasuki bulan April tahun itu,  Radio Republik Indonesia  (RRI) Banjarmasin gencar mempromosikan akan membuka programa 2 atau RRI Pro 2. Programa baru ini dianggap sebagai terobosan baru RRI karena akan siaran di jalur FM, sementara Pro 1 yang menjadi induknya selama berpuluh-puluh tahun setia di jalur AM. Hal ini juga untuk mengimbangi persaingan dengan beberapa radio swasta di Banjarmasin yang saat itu sudah di jalur FM, yaitu Ash Bone, DBs, dan Nusantara Antik.
RRI Pro 2 Banjarmasin yang siaran di gelombang 95,7 FM direncanakan mulai on air tanggal 1 April dengan acara unggulan, salah satunya, musik dangdut. Rencana siaran Pro 2 ini tentu  menarik perhatian radio kompetitor saat itu karena menganggap pasti akan berpengaruh kepada terbaginya pendengar dan kue iklan. Radio Nusantara Antik yang siaran di 103 FM yang paling mengambil hati akan itu. Radio ini punya acara Dangdut paling dikenal saat itu, Dangdut Mania, setiap pukul 09.00 s.d. 12.00.
Menjelang 1 April, para penyiar Radio Nusantara FM pun rapat untuk merumuskan acara yang diprediksi bisa mengikat pendengar sekaligus mengalihkan perhatiannya saat itu dari bakal hadirnya RRI Pro 2. Muncullah ide membuat  April Mop dengan berita rekayasa ‘wafatnya Deddy, penyiar Radio Nusantara’. Bersamaan dengan mulainya siaran RRI Pro 2, pukul 06.00 pagi 1 April itu, diumumkanlah berita ‘wafatnya’ Deddy hingga berulang-ulang tiap 15 menit. Pendengar radio di Banua heboh. Ucapan duka cita melalui telepon mengalir deras, termasuk yang datang langsung ke studio.
Tidak tahu persis apakah perhatian pendengar radio yang  terfokus pada berita ‘wafatnya’ penyiar Radio Nusantara saat itu benar-benar mengalihkan perhatian pada gebyarnya peluncuran acara RRI Pro 2. Yang pasti, tabir berita April Mop Radio Nusantara yang menggemparkan itu akhirnya dibuka pukul 14.00 karena terlalu menimbulkan banyak ekses. Aparat turun tangan karena studio dipenuhi banyak orang. Dari peristiwa ini jelas tergambar bagaimana kuatnya ikatan emosional antara pendengr dengan radio dan penyiarnya saat itu.
Bagaimana sekarang, apakah radio bisa membuat ulah yang menarik perhatian publik lagi seperti puluhan tahun lalu, setelah kehadirannya tidak lagi sendiri karena sudah dikepung oleh televisi dan internet? Bisa ya, bisa tidak. Apakah radio masih punya pendengar atau masih didengar? Jawabannya tentu masih, walau tak sebanyak dulu lagi. Menurut survei Nielsen 2014, tiap tahun, pendengar radio mengalami penurunan hingga 3%. Bahkan sebagai media promosi, radio hanya memiliki porsi penetrasi 30% penggunaan di tengah masyarakat, dibanding televisi dan media lainnya.
Saya yakin dan percaya, baik RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik plat merah, maupun radio swasta tetap berharap punya pendengar. Apalagi radio swasta yang menggantungkan hidup dari iklan akan sangat berpengaruh jika pendengarnya mulai menyusut. Dalam kasus ini, RRI adalah radio yang paling aman. Dengan jaringan pemancar tersebar  di seluruh Indonesia, varian programa sampai 4, dan juga buka jalur streaming, membuat RRI masih punya jaminan pendengar sampai ke pelosok. Apalagi mayoritas pendanaannya masih ditanggung pemerintah, tentu RRI tak akan pernah kehabisan nafas.
Para penyelenggara RRI janganlah terlena dengan segala fasilitas tersebut. Perlu juga mengevaluasi diri apakah program acara yang disajikan itu benar didengar sesuai sasarannya dan sesuai kebutuhan pendengarnya. Tidak salahnya kalau RRI juga melihat dan belajar bagaimana radio swasta menghidupi dirinya di tengah persaingan media dan keterbatasan fisik. Saya pikir radio swasta lebih maju selangkah dalam teknologi dan sajian acara. Radio swasta pandai menjalin kerjasama dengan pihak lain, baik acara on air maupun off air-nya. Dan satu lagi, senantiasa mempromosikan acaranya.
Promosi, itulah yang saya lakukan ketika mengisi acara talkshow “Suluh Banua’ di RRI Pro 4 Banjarmasin setahun ini. Sebagus apa pun acara itu, apalagi sekadar acara dialog yang kering lagu, jika tak dipromosikan, pasti tak akan ditunggu orang untuk didengar. Saatnya RRI secara rutin menggunakan media spanduk, baliho, atau media sosial untuk mengenalkan acaranya. Ini tak sekadar soal marketing, tapi pencitraan. 11 September hari in,i sudah 71 tahun usia RRI. Jangan asyik dengan jargon “Sekali di Udara Tetap di Udara dan Lupa Daratan”. Lupakan romantisme masa lalu sebagai jagoan satu satunya. Publik sudah banyak pilihan. Curilah perhatian mereka dengan berbagai cara. [ ]




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter