Pages

Ads 468x60px

Senin, 11 Juli 2016

H. MOH. MUFID, Lc. M.HI: IDUL FITRI, MELESTARIKAN SPIRIT RAMADHAN


Ketika malam idul fitri tiba, kita mendengar bukan hanya gemuruh suara takbir yang membesarkan Allah. Tetapi, dalam lubuk hati terdalam, kita seakan mendengar gemuruh perasaan yang mengharu-biru, gemuruh suara kepedihan dan kegembiraan, gemuruh tangis dan tawa.
Kita menangis karena mengenang Ramadhan, yang begitu cepat meninggalkan kita, karena telah tiba kesempurnaan bilangannya. Kita tertawa karena tiba pada hari bersyukur, yang mengantarkan kita pada curahan kasih sayang Allah, yang tidak ada batasnya, tidak ada hingganya dan tidak ada henti-hentinya.
Bagi umat Islam, momentum idul fitri adalah saat-saat penting untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Seluruh kesalahan yang pernah dilakukan selama setahun, seolah ingin kita lebur di hari Lebaran ini, dengan mengucapkan minal a’idin wal-faizin, yang dalam masyarakat kita sering dimaknai "mohon maaf lahir dan batin". Meskipun keluasan dan kedalaman makna ungkapan minal a’idin wal-faizin tidaklah sepenuhnya terwakili sekadar dalam perkataan "mohon maaf lahir dan batin".
Selain itu, di momentum Idul Fitri inilah pada akhirnya kita dapat mengevaluasi diri, mawas diri, serta mengukur kualitas diri dalam keseluruhan amal yang kita lakukan, khususnya dalam melewati hari-hari Ramadhan yang penuh hikmah.
Saat ini, kita baru saja selesai melewati kewajiban menjalankan ibadah puasa. Kita seharusnya dapat memetik buah ketakwaan sebagai hasil yang paling mulia dari proses penempaan diri melalui ibadah puasa. Kita seharusnya berhasil menjadi manusia utuh dan bermartabat sesuai karakter yang relevan dengan tuntutan syari’at dan masyarakat. Sebab seperti diisyaratkan al-Qur’an, kita adalah para pewaris manusia unggul yang pernah menerima kewajiban berpuasa untuk meraih ketakwaan yang serupa.
Begitu santun Allah menunjukkan jalan menuju takwa melalui proses puasa. Suatu proses menahan diri dari segala nafsu. Jika kesadaran kolektif yang menjadi target proses pembelajaran dari ibadah puasa dapat diraih setiap Muslim, niscaya ia akan mendapatkan petunjuk dalam menjalani kehidupan sebelas bulan pasca bulan suci Ramadhan. Karena kualitas ketakwaan inilah yang akan membimbing jalan hidup kita menuju hidayah dan kebahagian hakiki.
Minimal ada tiga nilai dan spirit Ramadhan yang seharusnya selalu dilestarikan setelah berakhirnya bulan suci ini. Spirit inilah yang akan menjadi indikator atau ukuran dalam keberhasilan kita meraih ketakwaan itu, baik secara spiritual maupun sosial.
Pertama, hendaknya mampu mempertahankan sikap jujur. Kita sadar, bahwa saat kita berpuasa Ramadhan, kejujuran selalu mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makan dan minum meskipun tidak ada orang yang mengawasinya. Hal ini karena kita yakin Allah swt yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan kita tidak mau “mencurangi” Allah swt serta tidak mau membohongi diri sendiri. Inilah kejujuran yang sesungguhnya. Karena itu, setelah berpuasa sebulan penuh semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam perbuatan, jujur dalam berinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya.
Ibadah puasa telah mendidik kita untuk berlaku jujur kepada hati nurani kita yang sehat dan tajam, bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan kita sebelas bulan mendatang, maka tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah Ramadhan kita menemukan kegagalan, karena kita gagal melaksanakan spiritnya dalam kehidupan sehari-hari pasca Ramadhan.
Kedua, nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah semangat berjamaah dan berkumpul di majelis ilmu. Kebersamaan kita dalam proses pengendalian diri membuat setan merasa kesulitan dalam menggoda manusia. Betapapun setan menggoda agar kita mengabaikan terawih, toh kita masih berangkat ke masjid-masjid, surau-surau untuk melaksanakannya. Betapapun sibuknya aktivitas kita di Bulan Ramadhan, toh kita masih menyempatkan diri untuk menunaikan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Betapa masjid-masjid seakan-akan memiliki daya tarik di bulan Ramadhan. Gelombang magnetiknya sangat kuat, sehingga kita berbondong-bondong ke masjid untuk beribadah.
Karena itu, semangat kita berjamaah sesudah Ramadhan ini, semestinya akan menjadi sangat baik. Apalagi kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa hidup sendirian, sehebat apapun kekuatan dan potensi diri yang kita miliki, kita tetap sangat memerlukan pihak lain. Berjamaah berarti meniscayakan adanya interaksi sosial yang merupakan suatu pondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran dalam berinteraksi, bergaul, berkomunikasi di antara warga suatu masyarakat, menjadikan suatu masyarakat tersebut dapat menjalin persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan kebersamaan. Dan, kebersamaan inilah modal penting dalam membangun kerukunan dan toleransi antar umat manusia.
Ketiga, yang harus kita lestarikan sesudah Ramadhan berakhir adalah upaya pengendalian diri. Puasa Ramadhan adalah bentuk pengendalian diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal terlarang tersebut semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu lainnya. Kita harus mampu mengendalikan nafsu serakah, nafsu amarah, nafsu ghibah dan lainnya. Keberhasilan kita dalam mengendalikan nafsu inilah yang menjadi modal berharga dalam meraih hidayah dan ridha Allah swt.

Dengan demikian, harus kita sadari bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan, keberhasilan ibadah Ramadhan justeru tidak hanya terletak pada amaliah Ramadhan yang kita kerjakan dengan baik, tapi yang juga sangat penting adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan tahun yang akan datang.
Kini, Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Begitupun nuansa Idul Fitri yang secara perlahan beranjak pergi. Semoga amalan kita selama di bulan puasa Ramadhan diterima Allah swt. Dan semoga kita semua diberikan umur panjang sehingga mampu berjumpa dengan Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun-tahun yang akan datang.

(Diambil dari intisari khotbah Idul Fitri 1437 H. oleh H. Moh. Mufid, Lc. M.HI. pada salah satu pelaksanaan shalat Idul Fitri di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter