Ketika malam idul fitri tiba, kita mendengar
bukan hanya gemuruh suara takbir yang membesarkan Allah. Tetapi, dalam lubuk
hati terdalam, kita seakan mendengar gemuruh perasaan
yang mengharu-biru, gemuruh suara kepedihan dan kegembiraan, gemuruh tangis dan
tawa.
Kita menangis karena
mengenang Ramadhan, yang begitu cepat meninggalkan kita, karena telah tiba
kesempurnaan bilangannya. Kita tertawa karena tiba pada hari bersyukur, yang
mengantarkan kita pada curahan kasih sayang Allah, yang tidak ada batasnya,
tidak ada hingganya dan tidak ada henti-hentinya.
Bagi umat Islam, momentum idul fitri adalah saat-saat penting
untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Seluruh kesalahan yang pernah
dilakukan selama setahun, seolah ingin kita lebur
di hari Lebaran ini, dengan mengucapkan minal
a’idin wal-faizin, yang dalam masyarakat kita
sering dimaknai "mohon maaf lahir dan batin". Meskipun keluasan dan kedalaman
makna ungkapan minal a’idin wal-faizin
tidaklah sepenuhnya terwakili sekadar dalam perkataan "mohon maaf lahir
dan batin".
Selain
itu, di momentum
Idul Fitri inilah pada akhirnya kita dapat mengevaluasi diri, mawas diri, serta
mengukur kualitas diri dalam keseluruhan amal yang kita lakukan, khususnya
dalam melewati hari-hari Ramadhan yang penuh hikmah.
Saat
ini, kita baru saja selesai melewati kewajiban menjalankan ibadah puasa. Kita
seharusnya dapat memetik buah ketakwaan sebagai hasil yang paling mulia dari
proses penempaan diri melalui ibadah puasa. Kita seharusnya berhasil menjadi
manusia utuh dan bermartabat sesuai karakter yang relevan dengan tuntutan
syari’at dan masyarakat. Sebab seperti diisyaratkan al-Qur’an, kita adalah para
pewaris manusia unggul yang pernah menerima kewajiban berpuasa untuk meraih
ketakwaan yang serupa.
Begitu santun
Allah menunjukkan jalan menuju takwa melalui proses puasa. Suatu proses menahan
diri dari segala nafsu. Jika kesadaran kolektif yang menjadi target proses
pembelajaran dari ibadah puasa dapat diraih setiap Muslim, niscaya ia akan mendapatkan
petunjuk dalam menjalani kehidupan sebelas bulan pasca bulan suci Ramadhan.
Karena kualitas ketakwaan inilah yang akan membimbing jalan hidup kita menuju hidayah
dan kebahagian hakiki.
Minimal ada
tiga nilai dan spirit Ramadhan yang seharusnya selalu dilestarikan setelah
berakhirnya bulan suci ini. Spirit inilah yang akan menjadi indikator atau
ukuran dalam keberhasilan kita meraih ketakwaan itu, baik secara spiritual
maupun sosial.
Pertama, hendaknya mampu
mempertahankan sikap jujur. Kita sadar, bahwa saat kita berpuasa Ramadhan,
kejujuran selalu mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makan dan
minum meskipun tidak ada orang yang mengawasinya. Hal ini karena kita yakin
Allah swt yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan kita
tidak mau “mencurangi” Allah swt serta tidak mau membohongi diri sendiri. Inilah
kejujuran yang sesungguhnya. Karena itu, setelah berpuasa sebulan penuh
semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur
dalam perkataan, jujur dalam perbuatan, jujur dalam berinteraksi dengan orang,
jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya.
Ibadah puasa telah mendidik kita untuk berlaku jujur kepada hati
nurani kita yang sehat dan tajam, bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan
kita sebelas bulan mendatang, maka tarbiyyah (pendidikan)
dari ibadah Ramadhan kita menemukan kegagalan, karena kita gagal melaksanakan
spiritnya dalam kehidupan sehari-hari pasca Ramadhan.
Kedua, nilai ibadah
Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah semangat berjamaah dan berkumpul di
majelis ilmu. Kebersamaan kita dalam proses pengendalian diri membuat setan merasa
kesulitan dalam menggoda manusia. Betapapun setan menggoda agar kita
mengabaikan terawih, toh kita masih berangkat ke masjid-masjid, surau-surau
untuk melaksanakannya. Betapapun sibuknya aktivitas kita di Bulan Ramadhan, toh
kita masih menyempatkan diri untuk menunaikan shalat lima waktu secara
berjamaah di masjid. Betapa masjid-masjid seakan-akan memiliki daya tarik di
bulan Ramadhan. Gelombang magnetiknya sangat kuat, sehingga kita
berbondong-bondong ke masjid untuk beribadah.
Karena itu, semangat kita berjamaah
sesudah Ramadhan ini, semestinya akan menjadi sangat baik. Apalagi
kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa hidup sendirian, sehebat apapun
kekuatan dan potensi diri yang kita miliki, kita tetap sangat memerlukan pihak
lain. Berjamaah berarti meniscayakan adanya interaksi sosial yang merupakan
suatu pondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran dalam
berinteraksi, bergaul, berkomunikasi di antara warga suatu masyarakat, menjadikan
suatu masyarakat tersebut dapat menjalin persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan
kebersamaan. Dan, kebersamaan inilah modal penting dalam membangun kerukunan
dan toleransi antar umat manusia.
Ketiga, yang harus kita lestarikan sesudah
Ramadhan berakhir adalah upaya pengendalian diri. Puasa Ramadhan adalah bentuk pengendalian
diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Kemampuan kita dalam mengendalikan
diri dari hal-hal terlarang tersebut semestinya membuat kita mampu
mengendalikan diri dari hawa nafsu lainnya. Kita harus mampu mengendalikan
nafsu serakah, nafsu amarah, nafsu ghibah dan lainnya. Keberhasilan kita dalam
mengendalikan nafsu inilah yang menjadi modal berharga dalam meraih hidayah dan ridha Allah
swt.
Dengan demikian, harus kita sadari
bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan, keberhasilan ibadah
Ramadhan justeru tidak hanya terletak pada amaliah Ramadhan yang kita kerjakan dengan
baik, tapi yang juga sangat penting adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal
hingga Ramadhan tahun yang akan datang.
Kini, Ramadhan telah pergi
meninggalkan kita. Begitupun nuansa Idul Fitri yang secara perlahan beranjak pergi.
Semoga amalan kita selama di bulan
puasa Ramadhan diterima Allah swt.
Dan semoga kita semua diberikan umur panjang sehingga
mampu berjumpa dengan Ramadhan
dan Idul Fitri pada
tahun-tahun yang akan datang.
(Diambil
dari intisari khotbah Idul Fitri 1437 H. oleh H. Moh. Mufid, Lc. M.HI. pada
salah satu pelaksanaan shalat Idul Fitri di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara
Provinsi Kalimantan Selatan)
