Ketika diminta untuk menuliskan
pengalaman berpuasa saya di negeri Hitler oleh salah seorang senior idola di RZ,
saya sempat ragu. Di tengah padatnya jadwal kuliah, praktek dan tugas saya
sebagai asisten dokter praktek, sementara bila ada sedikit waktu luang selalu
saya manfaatkan untuk berkomunikasi dengan teman teman dan keluarga di
Indonesia. Tapi, nggak apa-apa lah saya coba berbagi sedikit pengalaman saya
selama di sini. Siapa tau nanti ada pembaca yang juga bisa ke sini, liburan
ataupun melanjutkan studi di negara ini.
Program beasiswa Aupair yang saya ikuti
membawa saya mencicipi pengalaman menuntut ilmu di Jerman, negara yang
mayoritas penduduknya adalah non muslim, negara sibuk tapi tetap elegant
menurut saya. Dan di bulan kedua saya di sini, saya bertemu bulan yang selalu
dinanti umat muslim sedunia yaitu bulan Ramadhan, yang artinya kewajiban saya
untuk berpuasa. What's on? Tentu saja
nggak ada yang salah sih jika dilihat dari sudut agama karena puasa Ramadhan
memang wajib. Tetapi untuk muslim yang tinggal di Jerman tentu ada beberapa hal
yang wajib pula untuk di perhatikan dan dipatuhi mengingat siklus waktu siang
dan malam yang jauh berbeda dengan negara asal saya yaitu Indonesia.
Di sini, waktu siang lebih panjang daripada
waktu malam. Shalat subuh jam 06.00 pagi dan shalat maghrib sekitar jam 21.30. Tentu
bisa dibayangkan berpuasa selama 19 jam lebih. Sebelum berpuasa, seseorang
perlu memeriksakan dirinya terlebih dahulu ke dokter untuk memastikan
kondisinya sehat dan tidak ada kendala sakit apapun nantinya. Terutama untuk
anak-anak. Di sini ada peraturan bahwa seorang anak diwajibkan berpuasa bila
dia berumur 15 tahun dan dinyatakan sehat oleh dokter. Tapi itu kembali lagi
kepada didikan orang tua dan keimanan si anak sendiri. Begitu juga untuk ibu
hamil dan menyusui, umumnya tidak diperbolehkan untuk berpuasa.
Tapi beruntung sekali karena Ramadhan
saya tahun ini weather di Jerman,
tepatnya kota Hamburg yang saya tinggali sangat bersahabat, cerah dengan suhu
25-27 derajat C. Dan yang terasa istimewa saya berusaha menjalankan ibadah
puasa sesuai dengan waktu imsak dan buka puasa yang ditetapkan oleh masjid
setempat, yaitu imsak pukul 05.40 dan berbuka pukul 21.30. Ada beberapa teman dari
negara lain yang berbuka sesuai dengan waktu di Mekkah atau ada juga yang
sesuai dengan waktu di negeri asalnya seperti Malaysia, Thailand, Philippina,
dll. Tergantung keyakinan masing masing.
Berpuasa 19 jam lebih memang sangat
menguras tenaga, tetapi dapat terobati dengan perhatian ekstra menyenangkan
dari teman teman kerja maupun mahasiswa yang non muslim bahkan dari dokter
spesialis kandungan dr. Marie Köhler, atasan saya. Di kampus ketika sedang
eksperimen di lab ada teman dari Thailand yang dengan baik hatinya menyodorkan
sekotak es krim magnum untuk saya berbuka nanti atau teman dari Kanada yang
hari berikutnya membagi sweet banana-nya.
Begitu juga dr. Marie yang rela tidak makan siang demi toleransi kepada saya
yang sedang berpuasa. Duh... serasa dimudahkan dan disayangi banyak orang.
Terhibur sekali.
Tapi sayang sekali karena padatnya
jadwal saya di kampus dan sepulang dari kampus saya harus kembali ke klinik
praktek dr. Marie, saya tidak bisa memenuhi undangan KJRI untuk buka puasa
bersama rekan-rekan setanah air lainnya. Ada sedikit kekecewaan dalam hati saya.
Tapi mau gimana lagi, pasien saya jauh lebih penting untuk ditangani waktu itu.
Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, saya
merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Suasana lebaran di kota Hamburg lebih
mengesankan dan hampir seperti suasana di Indonesia. Shalat Idul Fitri
dilaksanakan di KJRI pada pukul 08.20. Pagi-pagi sehabis sholat subuh saya
sudah menuju ke KJRI yang berjarak 300 m dari apartemen yang saya tinggali
bersama papi mami saya. Karena kebetulan papi saya adalah staff KJRI di sini.
Kami jalan kaki saja sembari menikmati suasana yang sangat nyaman dengan latar
pemandangan danau Alster yang sangat indah di kejauhan.
Sesampai di KJRI suasana masih agak
sepi. Karena papi termasuk panitia sholat ied, beliau langsung ikut bersibuk
ria menyiapkan segala sesuatunya. Sementara saya sama mami mengambil tempat di
dalam ruangan KJRI yang sudah disiapkan. Kebanyakan para pegunjung yang datang
adalah mahasiswa dan keluarga yang sudah menetap puluhan tahun di Jerman. Ada
juga yang sedang menikmati liburan di Jerman dan segaja ke Hamburg untuk mengikuti
shalat ied di sini. Karena katanya lebih mirip dengan suasana Indonesia. Beberapa
pegunjung lebih suka mengambil tempat untuk sholat ied di pelataran gedung
karena katanya pahalanya lebih besar. Tapi saya dan mami tetap keukeuh untuk di dalam ruangan saja.
Selesai shalat, pengunjung
dipersilahkan menikmati hidangan yang disediakan oleh pihak panitia dari KJRI
berupa makanan kecil seperti kacang mete, coklat, nastar keju, nastar rempah, kue
bawang, keripik tempe, onde onde merdeka dan kacang bawang. Ada juga hidangan
yang agak berat seperti opor ayam, lontong sayur, rendang, sate, dan soto lamongan.
Saya dan mami memilih makan buah-buahan saja karena kondisi mami yang masih unfitable dan harus selektif terhadap
lemak dan makanan berkalori tinggi. Selesai menikmati hidangan kebanyakan masih
enggan pulang. Mereka lebih memilih bercengkerama terlebih dahulu atau
berdiskusi di beberapa tempat halaman KJRI yang memang sudah disediakan dan
sangat nyaman untuk bersantai. Berkenalan dan mempererat silaturrahmi di negeri
orang. [*]
Biodata:
Olivia
Tata Kurniati, kelahiran Tabalong, 8 Februari 1994. Saat ini sedang menjalankan
studi Medicine Faculty Ginekologi and Onkologi di Hamburg University.


