Pages

Ads 468x60px

Selasa, 12 Juli 2016

OLIVIA: SEPENGGAL PENGALAMAN RAMADHAN HINGGA LEBARAN DI JERMAN


Ketika diminta untuk menuliskan pengalaman berpuasa saya di negeri Hitler oleh salah seorang senior idola di RZ, saya sempat ragu. Di tengah padatnya jadwal kuliah, praktek dan tugas saya sebagai asisten dokter praktek, sementara bila ada sedikit waktu luang selalu saya manfaatkan untuk berkomunikasi dengan teman teman dan keluarga di Indonesia. Tapi, nggak apa-apa lah saya coba berbagi sedikit pengalaman saya selama di sini. Siapa tau nanti ada pembaca yang juga bisa ke sini, liburan ataupun melanjutkan studi di negara ini.
Program beasiswa Aupair yang saya ikuti membawa saya mencicipi pengalaman menuntut ilmu di Jerman, negara yang mayoritas penduduknya adalah non muslim, negara sibuk tapi tetap elegant menurut saya. Dan di bulan kedua saya di sini, saya bertemu bulan yang selalu dinanti umat muslim sedunia yaitu bulan Ramadhan, yang artinya kewajiban saya untuk berpuasa. What's on? Tentu saja nggak ada yang salah sih jika dilihat dari sudut agama karena puasa Ramadhan memang wajib. Tetapi untuk muslim yang tinggal di Jerman tentu ada beberapa hal yang wajib pula untuk di perhatikan dan dipatuhi mengingat siklus waktu siang dan malam yang jauh berbeda dengan negara asal saya yaitu Indonesia.
Di sini, waktu siang lebih panjang daripada waktu malam. Shalat subuh jam 06.00 pagi dan shalat maghrib sekitar jam 21.30. Tentu bisa dibayangkan berpuasa selama 19 jam lebih. Sebelum berpuasa, seseorang perlu memeriksakan dirinya terlebih dahulu ke dokter untuk memastikan kondisinya sehat dan tidak ada kendala sakit apapun nantinya. Terutama untuk anak-anak. Di sini ada peraturan bahwa seorang anak diwajibkan berpuasa bila dia berumur 15 tahun dan dinyatakan sehat oleh dokter. Tapi itu kembali lagi kepada didikan orang tua dan keimanan si anak sendiri. Begitu juga untuk ibu hamil dan menyusui, umumnya tidak diperbolehkan untuk berpuasa.
Tapi beruntung sekali karena Ramadhan saya tahun ini weather di Jerman, tepatnya kota Hamburg yang saya tinggali sangat bersahabat, cerah dengan suhu 25-27 derajat C. Dan yang terasa istimewa saya berusaha menjalankan ibadah puasa sesuai dengan waktu imsak dan buka puasa yang ditetapkan oleh masjid setempat, yaitu imsak pukul 05.40 dan berbuka pukul 21.30. Ada beberapa teman dari negara lain yang berbuka sesuai dengan waktu di Mekkah atau ada juga yang sesuai dengan waktu di negeri asalnya seperti Malaysia, Thailand, Philippina, dll. Tergantung keyakinan masing masing.
Berpuasa 19 jam lebih memang sangat menguras tenaga, tetapi dapat terobati dengan perhatian ekstra menyenangkan dari teman teman kerja maupun mahasiswa yang non muslim bahkan dari dokter spesialis kandungan dr. Marie Köhler, atasan saya. Di kampus ketika sedang eksperimen di lab ada teman dari Thailand yang dengan baik hatinya menyodorkan sekotak es krim magnum untuk saya berbuka nanti atau teman dari Kanada yang hari berikutnya membagi sweet banana-nya. Begitu juga dr. Marie yang rela tidak makan siang demi toleransi kepada saya yang sedang berpuasa. Duh... serasa dimudahkan dan disayangi banyak orang. Terhibur sekali.
Tapi sayang sekali karena padatnya jadwal saya di kampus dan sepulang dari kampus saya harus kembali ke klinik praktek dr. Marie, saya tidak bisa memenuhi undangan KJRI untuk buka puasa bersama rekan-rekan setanah air lainnya. Ada sedikit kekecewaan dalam hati saya. Tapi mau gimana lagi, pasien saya jauh lebih penting untuk ditangani waktu itu.




Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Suasana lebaran di kota Hamburg lebih mengesankan dan hampir seperti suasana di Indonesia. Shalat Idul Fitri dilaksanakan di KJRI pada pukul 08.20. Pagi-pagi sehabis sholat subuh saya sudah menuju ke KJRI yang berjarak 300 m dari apartemen yang saya tinggali bersama papi mami saya. Karena kebetulan papi saya adalah staff KJRI di sini. Kami jalan kaki saja sembari menikmati suasana yang sangat nyaman dengan latar pemandangan danau Alster yang sangat indah di kejauhan.
Sesampai di KJRI suasana masih agak sepi. Karena papi termasuk panitia sholat ied, beliau langsung ikut bersibuk ria menyiapkan segala sesuatunya. Sementara saya sama mami mengambil tempat di dalam ruangan KJRI yang sudah disiapkan. Kebanyakan para pegunjung yang datang adalah mahasiswa dan keluarga yang sudah menetap puluhan tahun di Jerman. Ada juga yang sedang menikmati liburan di Jerman dan segaja ke Hamburg untuk mengikuti shalat ied di sini. Karena katanya lebih mirip dengan suasana Indonesia. Beberapa pegunjung lebih suka mengambil tempat untuk sholat ied di pelataran gedung karena katanya pahalanya lebih besar. Tapi saya dan mami tetap keukeuh untuk di dalam ruangan saja.
Selesai shalat, pengunjung dipersilahkan menikmati hidangan yang disediakan oleh pihak panitia dari KJRI berupa makanan kecil seperti kacang mete, coklat, nastar keju, nastar rempah, kue bawang, keripik tempe, onde onde merdeka dan kacang bawang. Ada juga hidangan yang agak berat seperti opor ayam, lontong sayur, rendang, sate, dan soto lamongan. Saya dan mami memilih makan buah-buahan saja karena kondisi mami yang masih unfitable dan harus selektif terhadap lemak dan makanan berkalori tinggi. Selesai menikmati hidangan kebanyakan masih enggan pulang. Mereka lebih memilih bercengkerama terlebih dahulu atau berdiskusi di beberapa tempat halaman KJRI yang memang sudah disediakan dan sangat nyaman untuk bersantai. Berkenalan dan mempererat silaturrahmi di negeri orang. [*]


Biodata:

Olivia Tata Kurniati, kelahiran Tabalong,  8 Februari 1994. Saat ini sedang menjalankan studi Medicine Faculty Ginekologi and Onkologi di Hamburg University.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter