Prolog
Berita itu pun segera
tersebar. Cepat sekali. Seperti ada yang kembali, mengulang
sejarah. Seperti dulu, hampir setahun yang lalu. “Mustaqimah akan kawin! Imus
mau menikah lagi!” kata mereka. Lucu, memang. Benar-benar menggelikan. Si Imus
akan kawin? Mau menikah lagi? Hm, kupikir ada yang salah. Memangnya kapan Imus
menikah? Kapan juga ia bercerai? Tidak. Mereka tidak salah. Di kampung
sesempit ini, adakah suatu peristiwa besar yang bisa terlewatkan begitu saja? Apalagi tentang gagalnya pernikahan Mustaqimah itu. Putri seorang terpandang seperti Haji Fauji pula. Sungguh, tak mungkin kami melupakannya. Bahkan biar sepuluh tahun sekalipun.
sesempit ini, adakah suatu peristiwa besar yang bisa terlewatkan begitu saja? Apalagi tentang gagalnya pernikahan Mustaqimah itu. Putri seorang terpandang seperti Haji Fauji pula. Sungguh, tak mungkin kami melupakannya. Bahkan biar sepuluh tahun sekalipun.
/ 1
/
Larut
malam. Sepi. Kampung di sepanjang bantaran sungai itu sudah bagai kuburan
sekarang. Tak ada lagi bunyi kertuk dayung orang mengayuh jukung1,
apatah lagi derum mesin kelotok2 yang melaju memburu waktu. Bahkan jengkrik pun seperti enggan untuk
bersiul malam ini. Benar-benar sunyi. Tapi, suami-istri itu belum juga akan
beranjak tidur. Keduanya masih menyandar lesu di ruang tamu. Saling diam. Di depan
mereka, selembar kartu undangan perkawinan masih tergeletak pasrah di atas
lantai. Sepotong kertas putih, agak sedikit buram, dengan huruf-huruf cetakan
berwarna hijau lumut. Tanpa sampul plastik. Terkesan amat
sederhana.
Satu jam. Dua jam. Sungguh, begitu cepat waktu berlalu. Ah, Pak Rahim ingin
tersenyum sebenarnya. Ada rasa geli yang selalu ditahan-tahannya. Apanya yang
salah dengan kartu undangan itu, batinnya menimbang-nimbang. Tak ada. Mungkin
ini cuma soal selera saja. Atau, barangkali juga menyangkut rasa yang lain?
Gengsi, misalnya? Tapi, senyum itu selalu saja diredamnya. Kata-kata itu
senantiasa urung dilontarkannya. Ia tahu benar tabiat sang istri. Mudah tersinggung.
Cepat naik darah. Meski perawakannya kecil, tapi suaranya nyaring bagai
petasan. Tak sekali dua ia mendengar orang menggelari istrinya sebagai latupan
cabi3. Ia sudah malas
terus berdebat dengan perempuan baya yang sudah puluhan tahun menjadi pendamping
hidupnya itu.
Sudah. Yang lanjur sudahlah terlanjur. Baru saja terjadi perang mulut
antara mereka. Entah sudah yang keberapa kali. Seperti tak ada ujung
kesudahannya. Tak ada tuntas-tuntasnya. Sejak kemarin sore, selalu saja kartu
undangan perkawinan itu yang jadi pungkala4, biang perkara.
Pembawaan sang istri marah-marah melulu. Bukan lantaran sedang mengidam.
Wajahnya masam, kecut seperti jeruk nipis. Kalau sudah begitu, kadang Pak Rahim
tergoda juga untuk mengganggunya. Ingin ia mengulang romantisme cinta mereka
sewaktu muda dulu. Ingin ia merayu dengan sedikit bergenit-genit, “Wahai, Dinda
Halimah sayang, engkau jangan terus bermuram durja begitu dong. Ntar kepergok
malaikat pencatat dosa lagi. Gimana?” Lalu, sambil meliuk-liukkan
telunjuk kanannya vertikal ke bawah, dalam satu titik pandang, ia katakan pula
dengan nada sedikit mengejek, “Kacian… deh lo!” Tapi tidak. Itu pun
harus diurungkannya. Sebab, ia tahu gelagat sang istri. Tentu tak akan
seromantis dulu lagi. Kini, di sisinya bukan lagi seorang gadis remaja yang
senang bermanja-manja, tapi seorang wanita berumur empat puluhan yang lebih
sering tampil galaknya daripada lembut keibuannya.
“Pokoknya, Pak, aku tidak akan mau berangkat ke pesta perkawinan itu.
Titik!” geram suara Bu Halimah sore itu, seperti sangat membenci orang yang
empunya hajat. Kata-kata itulah yang diulang-ulangnya sejak kemarin. “Tidak!
Tidak! Tidak! Titik!” Tak ada tawaran lain. Tak ada pilihan lagi baginya.
Pak Rahim hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Bu,” dicobanya mendinginkan suasana. “Soal berangkat atau tidak itu memang
hak dan urusan pribadi masing-masing. Tapi, cobalah pikir sekali lagi. Tidak
enak rasanya kita kepada keluarga Haji Fauji. Mereka sangat baik. Mereka sudah
terlalu sering menolong kita. Kita sudah banyak berutang budi kepada mereka.
Apa salahnya kalau sekali ini kita sedikit mengalah? Masakan hanya lantaran
selembar kartu undangan saja kita harus memutuskan silaturrahmi? Bagaimanapun, Bu, mereka itu kan tetangga kita juga. Jiran kita.
Lagi pula, menurut ajaran agama, memenuhi undangan orang itu wajib hukumnya. Fardhu ‘ain, Bu.”
“Kalau itu aku juga
tahu, Pak. Tapi, sekarang masalahnya bukan lagi soal wajib atau sunat. Ini
masalah keadilan. Keadilan, Pak!”
“Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Kuin, maksudmu?” seloroh Pak Rahim sambil tersenyum-senyum
kecil.
“Hih, dasar si Bapak.”
Bu Halimah tampak merajuk. “Sekarang Bapak pikirkan juga sekali lagi. Kalau
undangannya saja sudah harus dibeda-bedakan, bagaimana nanti pelayanannya?
Coba. Di sana nanti, jangan-jangan orang-orang seperti kita ini akan
ditempatkan di ruang khusus yang sangat tidak istimewa, sementara orang-orang
dari kalangan terpandang disediakan ruang lain yang jauh lebih mewah. Dengan
aneka makanan yang serba enak. Apa Bapak mau dibeda-bedakan seperti itu? Itu
namanya penghinaan. Penghinaan, Pak!”
Pak Rahim terdiam. Kini
ia mulai ragu juga dengan pendiriannya. Namun, ia tetap mencoba meneguhkan
hati. Ia benar-benar merasa tidak enak kalau hanya karena perkara kecil sampai
melupakan segala kebaikan yang pernah diberikan keluarga Haji Fauji kepada
mereka selama ini. Ia tidak mau perbuatannya dikatakan orang seperti kemarau
setahun disiram oleh hujan sehari. Maka, meski tetap dengan sedikit ragu, ia
harus berusaha meyakinkan sang istri bahwa masalah perbedaan warna itu bukanlah
suatu kesengajaan, melainkan lantaran kekhilafan semata.
“Begini, Bu,” ujar Pak
Rahim tampak serius. “Sebaiknya kita jangan berprasangka buruk dulu. Yah…, husnul
zan sajalah. Kita ambil yang baiknya, kita singkirkan yang buruknya. Siapa
tahu ini cuma kesalahpahaman kita sendiri. Mungkin saja keluarga Pak Haji
sebenarnya tidak bermaksud membeda-bedakan para undangan, tapi hanya lantaran
keterbatasan jumlah undangan yang sudah dicetak. Mungkin juga akibat kekeliruan
orang yang diserahi urusan menulis dan membagi-bagikan undangan itu. Bukankah
hal seperti itu sudah lumrah?”
“Yah, terserah Bapak sajalah kalau begitu. Tapi,
kalau nanti dugaanku benar, Bapak tanggung sendiri akibatnya. Tak usah
mengeluh. Tak usah dibahas lagi. Bapak seperti tidak tahu Haji Fauji saja.
Meskipun naik hajinya sudah lima kali, tapi siapa yang tahu berapa istri
simpanannya? Munafik! Kalau dia memberi sumbangan, pasti hanya ingin
dipuji-puji. Ingin dikatakan orang paling dermawan di kampung ini. Kalau
lagi bicara, cah, pasti cuma memamerkan segala kekayaannya. Dasar sombong.
Orang sombong tidak wajib kita hormati. Pokoknya, Pak, nanti aku tidak akan
ikut berangkat ke pesta perkawinan anaknya itu. Titik!”
Melihat kekerasan hati
istrinya, kini Pak Rahim semakin jadi serba salah. Benar-benar seperti
menghadapi buah simalakama. Menurutkan kehendak sang istri berarti memutuskan
silaturrahmi dengan keluarga Haji Fauji, memenuhi undangan Haji Fauji sama
dengan memperburuk kondisi ‘stabilitas nasional’ dalam rumah tangganya sendiri.
Dan, celakanya lagi, belakangan sang istri tak segan-segan minta cerai kalau
penyakit naik darahnya sedang kambuh. Kadang-kadang ia juga suka berpikir kalau
sang istri sedang puber kedua.
/ 2
/
Perdebatan
itu berawal setelah Bu Halimah pulang dari pertemuan ibu-ibu di rumah Pambakal5 Arbain. Seperti biasa, bagi ibu-ibu di kampung itu makna setiap kali ada
pertemuan atau arisan bukan sekadar kegiatan kumpul-kumpul dan bersilaturrahmi,
tapi lebih sebagai ajang pamer kekayaan dengan bumbu bualan di sana-sini. Bukan
suatu pemandangan aneh lagi bila kebanyakan ibu-ibu itu nyaris memakai semua
perhiasan yang dimilikinya. Lehernya berat dengan gandulan rantai emas
bermedalion biji-biji mutiara. Daun telinganya lentur oleh giwang emas bermata
tatahan intan. Tangannya kiri-kanan penuh jejeran gelang emas. Layaknya toko
berjalan.
Kadang Bu Halimah merasa rikuh duduk bersama mereka. Merasa minder bila
sudah ditanya ibu-ibu di sampingnya soal keadaan keluarga. “Oh ya, suami Bu
Halimah kerja di mana ya? Anak-anak Ibu kuliah di mana? Tadi Ibu naik apa
kemari?” Ih, begitu nyinyirnya. Padahal, mereka tahu persis bagaimana keadaan
keluarganya. Sering ia merasa jijik melihat kelakuan mereka. Pada pertemuan
kali ini pun rasa rikuhnya tak dapat ia sembunyikan. Ia ingin sekali
cepat-cepat pulang. Gelisah mendengarkan obrolan teman-temannya.
“Eh, Ibu-ibu, sudah pada dapat
undangan semua kan?” celetuk Bu Atikah.
“Undangan? Maksud Bu
Ati undangan perkawinannya Mustaqimah itu?”
“Iyalah…, siapa lagi
yang akan kawin di kampung ini? Konon pestanya besar-besaran, lho. Di
Gedung Bundar lagi. Dua ekor sapi, katanya. Dan ada yang tahu berapa jumlah jujuran6-nya? Hanya seperangkat alat salat. Sebab, katanya sih, si Imus
sendirilah yang menolak maskawin dalam bentuk uang. Ia tidak mau kalau dirinya
seperti diperjualbelikan, katanya. Tapi jangan kaget dulu, sebab sang calon
suami yang pengusaha batubara itu akan memberinya kado perkawinan istimewa.
Sebuah rumah gedung dan sebuah mobil mewah!”
“Ya, anak siapa dulu dong.
Haji Fauji, juragan kayu, pemilik wantilan7 terbesar di Pulau Alalak. Terang saja akan jadi
berita. Apalagi si Imus itu kan putri sulungnya. Masakan kalah sama
pesta perkawinan adiknya dulu. Lagi pula, Ibu-ibu sudah tahu semua kan
bagaimana cerita gagalnya perkawinan Imus dulu? Sudah
dua kali, lho. Sempat minggat ke Bali segala lagi. Jadi, tentu saja
orang tuanya harus bisa-bisa mengatur. Harus pandai-pandai pasang siasat. Kalau
tidak, wah, bisa-bisa gagal lagi. Kalau anaknya sampai jadi perawan tua, malu kan?”
Hm, dasar tukang
gosip! Bu Halimah menahan rasa gemasnya.
“Oh iya, Ibu-ibu, ini
kebetulan sekali saya bawa kartu undangannya,” ujar Bu Atikah pula seraya
mengeluarkan selembar kartu undangan dari dalam tasnya, lalu menatingnya
tinggi-tinggi. Sebuah kartu undangan dengan amplop besar seukuran buku.
Warnanya merah muda. Kertasnya kukuh mengkilat. “Hm, masih wangi,” tambah Bu
Atikah setelah membuka sampul plastik dan melekatkan lembar amplop itu ke ujung
hidungnya.
“Eh, Bu Ati, ternyata
saya juga kebawa nih!” sahut Bu Ita.
“Saya juga bawa!” Ibu
yang lain tak mau kalah.
“Saya
juga, Bu!”
“Wah, seperti
kebetulan semua ya?”
Bahu Bu Halimah serasa
bergidik melihat kelakuan ibu-ibu itu. Dasar genit, pikirnya. Tapi, kedua
matanya tak bisa berkedip. Satu demi satu diamatinya semua kartu undangan yang
tertating di tangan ibu-ibu itu. Kebanyakan berwarna pink, tapi ada
beberapa yang berwarna putih seperti yang diterimanya. Dan ia segera tahu,
mereka yang menerima kartu undangan warna putih diam-diam segera menyimpannya
kembali. Dengan wajah malu-malu.
“O, punya Bu Atun
warna putih rupanya?”
Yang
ditanya tampak tersipu-sipu.
“Kalau Bu Halimah,
bagaimana?”
Bu Halimah segera
gelagapan. Tapi, dengan cepat ia dapat mengendalikan kegugupannya. Sekadar dengan
senyum kecil. Ia tak merasa perlu menjawabnya. Ia sudah tahu ke mana arah
pertanyaan itu. Sebab, beberapa ibu yang tadi memegang kartu undangan warna
putih ternyata berasal dari kalangan yang lebih-kurang senasib dengannya.
Sebaliknya, ibu-ibu pemegang kartu undangan warna pink memang semuanya
dari kelas menengah ke atas. Ada Bu Pambakal, Bu Lurah, istri pegawai
bank, istri pemilik wantilan, dan beberapa lagi pedagang di Pasar Lama
atau Ujung Murung. Tak ada istri seorang tukang ojek, istri penarik becak, atau
istri kuli pasar seperti dirinya. Sungguh memuakkan, gerutunya dalam hati.
/ 3
/
Pagi itu, meski sang suami sudah berulang kali membujuknya, Bu Halimah
tetap pada pendiriannya. Ia benar-benar tak mau ikut berangkat ke pesta
perkawinan Mustaqimah. Bukan lantaran ia tidak mengenal Mustaqimah secara
dekat, tetapi karena kekerashatiannya yang tidak mau diperlakukan secara tidak
adil. Ia benar-benar tidak bisa terima kalau derajatnya
dibeda-bedakan dengan orang lain. Maka, Pak Rahim akhirnya pasrah saja. Tak ada
gunanya lagi segala penjelasan dan bujuk rayunya. Dengan langkah berat, ia pun
akhirnya berangkat sendirian. Sepanjang jalan ia terpaksa mengarang-ngarang,
mencari-cari alasan yang tepat atas ketidakhadiran istrinya. Sekadar jaga-jaga
kalau nanti ditanyakan Pak Haji Fauji. Sebab, bagaimanapun, keluarga Haji Fauji
sudah terlalu banyak menolongnya. Selama puluhan tahun ia pernah bekerja di
bawah kepercayaan juragan terkaya di kampungnya itu, meski cuma sebagai buruh
kasar.
Memasuki ruangan luas
gedung megah itu, tempat pesta perkawinan dilangsungkan, Pak Rahim benar-benar
merasa demikian kecil. Merasa begitu terkucil. Ia melihat pemandangan yang
sangat asing. Para tamu mengambil makan-minum sendiri-sendiri. Segala jenis
hidangan tersaji dalam panci-panci dan talam-talam mengkilap, aneka minuman
dalam piala-piala kristal, di atas beberapa meja panjang yang ditempatkan
terpisah. Oh, inikah yang namanya prasmanan itu? Para tamu makan sambil
berdiri, sebagian berpasang-pasangan. Inikah pula yang namanya pesta taman,
dengan makan ala Prancis itu?
Pak Rahim harus banyak belajar dulu. Lama ia mengamati bagaimana cara orang
mengambil sajian makan-minum, sebelum membawanya ke suatu tempat untuk
disantap. Tak ada yang menghiraukannya. Hampir semua wajah asing di matanya.
Tak tampak tetangga-tetangga di kampungnya. Ke mana mereka? Entahlah. Mungkin
belum datang. Mungkin pula sudah pulang. Di sini ia hanya kenal keluarga Haji
Fauji, tapi mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan, Haji Fauji
sendiri seolah tak melihat kehadirannya. Setiap saat ia bolak-balik menerima
dan menggandeng tamu-tamu kehormatannya. Orang-orang berpakaian parlente.
Orang-orang dari kelas atas. Orang-orang yang tadi keluar dari pintu
mobil-mobil mewah. Mereka saling bersalaman. Berpeluk-pelukan. Berbasa-basi dan
tertawa-tawa. Sungguh Pak Rahim benar-benar merasa terasing, merasa seorang
diri, di pesta perkawinan putri juragan terkaya di kampungnya itu.
Batin
Pak Rahim mulai berkecamuk. Rasa haru, sedih, sesal, benci, bercampur aduk
menjadi segumpal guman yang tak sampai di bibirnya. Ternyata engkau benar,
Halimah. Ini memang bukan undangan untuk orang-orang seperti kita. Ini bukan tempat orang-orang sekelas kita. Hatinya serasa teriris. Kini, seperti kata istrinya, ia memang merasa terhina. Ia ingin pulang.
Ingin segera meninggalkan tempat itu. Tapi, oh…, alangkah naïf dirinya.
Bagaimana kalau nanti Pak Haji Fauji menegurnya? Ia ingat amplop dalam sakunya.
Ia ingin bersalaman langsung dengan Haji Fauji. Ia merasa kurang afdal kalau
hanya memasukkan amplopnya ke lubang guji berhias di samping pintu keluar itu.
Tapi, dilihatnya Haji Fauji masih terus dalam kesibukannya, di antara tamu-tamu
kehormatannya. Mungkin Pak Gubernur, Pak Walikota, anggota DPR, pejabat
penting, atau pengusaha besar. Entahlah. Ia tak mengenali mereka. Yang jelas,
sampai lama ia menunggu, juragan itu tak juga mengacuhkan kehadirannya.
Pulang. Dengan
diam-diam. Demikianlah akhirnya yang harus dilakukan Pak Rahim. Tak ada pilihan
lain. Sebab, toh juga tak akan ada yang mau tahu. Tak ada yang hirau
atas kehadirannya. Juga kepulangannya. Ada atau tidak ada, sama saja. Maka,
pulang. Pulang dengan diam-diam. Dengan hati teriris-iris. Ingin rasanya ia
menangis. Sedih. Nelangsa. Seperti seorang anak yang tak dipedulikan ibunya.
Maka, pulang. Dengan diam-diam. Dan setibanya di rumah nanti, ia akan segera
merobek-robek kartu undangan perkawinan itu.
Epilog
Entah harus bersyukur ataukah ikut bersedih,
keesokan harinya kami sekampung mendengar kabar dramatis dari babak akhir pesta
perkawinan yang sangat mewah itu. Aku sendiri hampir tak percaya. Tak terjadi deus
ex machina.8 Tak ada dewa turun ke
panggung. Sang Dalang telah menutup ceritanya. Bukan happy ending, tapi
dengan sad ending. Syahdan, calon mempelai laki-laki yang siang itu
sejatinya segera bersanding dengan Mustaqimah di atas sebuah pelaminan gemerlap
ternyata tak kunjung datang hingga sore hari. Hingga pesta berakhir dengan air
mata. Mustaqimah menangis sejadi-jadinya. Haji Fauji merah padam wajahnya. Sang
istri langsung pingsan begitu sampai berita: Drs. Kurnain Daud, MM, calon
mempelai laki-laki, mendadak dijemput ke Mabes POLRI karena terlibat perkara illegal
mining bersama empat rekan bisnisnya!
Batu Ampar, Februari
2006
Variasi
cerita buat penulis cerpen “Perkawinan Mustaqimah” (Zulfaisal Putera) dan
“Mencari Timur” (Sainul Hermawan) yang pernah dimuat di Radar Banjarmasin (5 Juni 2005 dan 18 Desember 2005).
Catatan :
[1] Sampan; biduk; perahu
tanpa mesin (khas masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan).
2 Perahu bermotor
(tempel) di Kalimantan Selatan.
3 Secara harfiah berarti
jenis petasan kecil, sekecil cabe rawet, tetapi ledakannya keras; sindiran bagi
orang (biasanya perempuan) berperawakan kecil, tetapi ketika mencak-mencak
suaranya nyaring meladak-ledak.
4 Faktor penyebab
terjadinya sesuatu (masalah/peristiwa).
5 Kepala kampung/desa.
6 Maskawin (dalam tradisi
perkawinan masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan).
7 Tempat penggergajian
kayu.
8 Secara harfiah berarti
dewa turun dari langit (bahasa Yunani); kebiasaan para dramawan Yunani klasik
yang mengakhiri adegan/pertunjukan dramanya dengan menghadirkan dewa ke
panggung untuk membantu para tokoh dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi.
BIODATA
Jamal T. Suryanata mulai produktif menulis sejak
awal dekade 90-an. Ia menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Banjar (bahasa
daerah di Kalimantan Selatan). Beberapa karya tulisnya pernah terpilih sebagai
pemenang dalam sejumlah even sayembara penulisan, baik di tingkat daerah maupun
nasional. Karya-karyanya yang lain (berupa puisi, cerpen, kritik dan esai
sastra, juga artikel pendidikan dan kebudayaan) telah tersebar di berbagai
media massa, di samping dalam sejumlah buku antologi bersama. Selain itu, ia
juga kerap didaulat sebagai narasumber dalam berbagai forum seminar dan
diskusi, terutama untuk bidang sastra-budaya dan pendidikan. Pernah menerima
Hadiah Seni dari Gubernur Kalsel (2000), Penghargaan Sastra dari Kepala
Balai Bahasa Banjarmasin (2007), dan Anugerah Budaya dari Gubernur Kalsel
(2015).
Buku-bukunya yang sudah diterbitkan antara lain Untuk
Sebuah Pengabdian (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), Mengenal Teknologi Penerbangan dan Antariksa (Yogyakarta: Adicita
Karya Nusa, 1998), Di Bawah Matahari Terminal (Yogyakarta: Adicita Karya
Nusa, 2001), Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra (Yogyakarta:
Adicita Karya Nusa, 2003), Galuh (Banjarmasin: Radar Banjarmasin Press,
2005), Penyesalan Sang Pemburu
(Jakarta: Pabelan Cerdas Nusantara, 2005), Bulan
di Pucuk Cemara (Yogyakarta: Gama Media dan LPKPK, 2006), Debur Ombak Guruh Gelombang
(Banjarmasin: Tahura Media, 2010), Bintang
Kecil di Langit yang Kelam (Banjarmasin: Tahura Media, 2010), Guruku Tidak Kencing Berlari
(Banjarmasin: Tahura Media, 2010), Tragika
Sang Pecinta: Gayutan Sufistik Sajak-sajak Ajamuddin Tifani (Yogyakarta:
Akar Indonesia, 2010), Sastra di Tapal
Batas (Banjarmasin: Tahura Media, 2012), Inspring Teacher: 7 Pemantik Sukses Menjadi Guru Inspiratif, 2
jilid (Jakarta: PT Elex Media
Komputindo, 2013), Kitab Cinta
(Banjarbaru: Scripta Cendekia, 2014), Sastra
Banjar: Refleksi Historis dan Tinjauan Kritis (Banjarmasin: Pustaka Banua,
2015), Sajak Sepanjang Trotoar
(Banjarmasin: Tahura Media, 2016), dan Pengkajian
Drama: Teori, Metodologi, dan Aplikasi (Yogyakarta: Akar-Indonesia, 2016).

