Tak satu pun keterampilan bisa
kita kuasai tanpa latihan. Seumpama kita ingin menghafal Alquran. Tak mungkin
bisa hafal tanpa gerak, tanpa melakukan. Paling tidak kita bisa memulainya
dengan membaca satu baris ayat. Tidak cukup satu kali. Ayat tadi kita baca
beberapa kali. Ada yang menganjurkan sampai dua puluh kali.
Dari upaya kita menghafal tadi,
bisa dirasakan pertama kali kita membaca satu ayat saja masih terbata-bata,
lalu kita terus membaca sampai puluhan kali, akhirnya kita pun lancar membaca
ayat tersebut. Terus kita ulang lagi beberapa kali, pada tahap ini sesekali
kita sudah bisa menutup mata dan bisa membaca ayat tersebut. Terus kita ulang
lagi dengan menutup mata, pada tahap ini kita seolah melihat bacaannya.
Akhirnya, satu baris ayat tadi sudah melekat dalam ingatan dan hafal. Begitulah
kiranya cara orang menghafal Alquran. Dan jika sudah hafal pun kita tidak boleh
berhenti, harus terus diulang pada kesempatan yang lain.
Dari analogi orang yang ingin
menghafal itu bisa kita jadikan pelajaran untuk bisa terampil menulis. Tak
mungkin orang yang ingin terampil menulis hanya berlatih sekali dua kali.
Untuk membantu Anda berlatih
menulis untuk tahap awal adalah dengan cara menulis bebas. Pak Hernowo Hasim
menyebutnya dengan free writting. Dalam buku Quantum Learning disebut juga
dengan menulis cepat. Pada tahap ini tulisan kita tidak dimaksudkan untuk
dipublikasikan.
Menulis bebas ini tidak hanya
berguna untuk mereka yang baru belajar, tetapi bisa juga dimanfaatkan oleh
mereka yang sudah mahir dalam menulis. Gunanya adalah untuk memancing ide atau
pikiran kita dalam bentuk tulisan. Kita bebas mengeluarkan pikiran apa saja
dalam bentuk tulisan.
Kita sediakan waktu 15 menit
untuk menulis bebas. Dalam rentang waktu itu, tulislah apa saja yang terlintas
dalam pikiran Anda. Jika Anda ingat tentang perjalanan mudik yang melelahkan,
tulislah. Jika ingat tentang kelucuan anak-anak Anda, tulislah. Dalam tahap ini
Anda hanya melatih mengeluarkan pikiran-pikiran Anda dalam bentuk tulisan.
Tentu saja hasilnya tidak beraturan. Anda tak perlu khawatir hasilnya
berantakan. Yang penting dalam rentang waktu yang sudah kita targetkan tadi
menghasilkan tulisan. Yakni tulisan ala gado-gado.
Tahap latihan ini, Anda tidak
diperkenankan membaca yang sudah ditulis untuk mengetahui baik tidaknya hasil
tulisan. Dan tak perlu juga memperbaiki kata-kata yang salah tulis. Tahap
ini bukan terfokus pada hasil, tetapi terfokus pada proses menulis, proses Anda
mengeluarkan pikiran.
Jika Anda anggap selesai satu
paragraf, teruslah menulis paragraf berikutnya, terus, dan terus, menuliskan
apa saja yang terlintas dalam pikiran walau tidak ada hubungannya antara
paragraf yang satu dengan yang lainnya.
Di tahap ini hasil tulisan tidak
perlu diperbaiki. Biarkan saja hasilnya begitu. Yang dimaksudkan adalah Anda
berhasil memanfaatkan waktu 15 menit tadi dengan gairah menulis.
Besoknya Anda lakukan lagi
seperti itu. 15 menit cukup berlatih mengeluarkan uneg-uneg dalam bentuk
tulisan. Tidak perlu berpikir mulai dari mana. Tulis saja yang teringat pertama
kali. Kalau memang biasa menggunakan kalimat "Pada suatu hari"
lakukan saja dulu seperti itu. Seiring waktu kalimat itu akan bisa terganti
dengan kalimat yang lain. Pokoknya lintasan pikiran pertama itu yang Anda
tulis.
Saya pun masih menggunakan teknik
ini. Manakala ingin menulis, tapi belum ada gairah. Saya menulis ala
gado-gado dulu untuk memancing ide-ide yang ada agar mudah keluar dalam bentuk
tulisan. Ibarat motor lakukan pemanasan mesin dulu. Baru berkendara.
Manakala saya sudah bisa menikmati proses menulis ala gado-gado ini, dan gairah
menulis sudah terpancing, saya bisa beralih menulis topik yang ingin saya
angkat dalam sebuah tulisan.
Sesekali saya juga terpancing
untuk membaca dan memperbaiki apa yang sudah ditulis. Namun, kita mesti ingat
bahwa tulisan ini hanya untuk konsumsi pribadi, jadi tak perlu takut salah, tak
perlu takut jelek.
Oke selamat berlatih menulis ala
gado-gado. [HADERI IDERIS]
