Rumi, perempuan berambut putih
merata itu duduk di kursi goyang. Di teras rumah limasan dari kayu jati itu
angin semilir. Mata Rumi memejam. Bibirnya menggariskan senyum. Kursi bergoyang
pelan. Pelan, pelan, dan kemudian berhenti.
Dulu, dulu sekali, Rumi masih
kecil. Ia kerap melihat nenek duduk di kursi goyang. Menyanyikan
tembang-tembang Jawa yang tak Rumi pahami, dengan mata memejam. Suara nenek
bening dan kadang suaranya melengking menyanyikan tembang, entah tembang apa.
Di telinga Rumi tembang-tembang
itu seperti mantra dan menakutkan. Bulu-bulu tangan dan tengkuk Rumi merinding.
Rumi berlari masuk kamar. Bersembunyi di balik selimut, meski hari masih siang.
Suatu hari nenek masih duduk di
kursi goyang, meski sudah saatnya makan siang. Ibu menyuruh Rumi memanggil
nenek, tapi ia tak berani. Rumi tak ingin bulu-bulu di tubuhnya merinding.
Ibu menuju teras. Rumi mengintip
dari balik pintu. Rumi melihat ibu memanggil pelan nenek dan menepuk pelan
tangan nenek, seperti memeriksa. Rumi melihat wajah ibu terhenyak dan mengucap
sesuatu. Ibu menoleh ke arah Rumi yang bersembunyi di balik pintu. Mata ibu
berkaca-kaca.
Kemudian orang-orang berdatangan.
Kemudian mereka bergantian memanggul keranda berselimut kain hijau menuju selatan
desa. Masuk ke pekuburan. Mereka mengubur nenek. Kata ibu, saat itu Rumi masih
berusia lima tahun.
Kemudian ibu menggantikan nenek
duduk di singgasana bergoyang itu. Rumi meminta ibu jangan menyanyikan
tembang-tembang aneh seperti yang dilakukan nenek.
“Baiklah. Ibu akan mendongeng,”
kata ibu.
Ibu duduk di kursi goyang. Rumi
duduk di lantai dengan kepala agak mendongak, mendengarkan ibu mendongeng. Dongeng
kancil mencuri mentimun, pangeran dan puteri raja, dan dongeng lainnya. Saat
itu Rumi sudah sekolah, sudah bisa baca tulis.
“Sekarang kau tulislah dongeng
yang kau dengarkan tadi,” kata ibu tiap kali usai mendongeng.
Rumi mengambil kertas dan pensil.
Mula-mula kalimat yang ia susun berantakan. Ibu memeriksa dan mengoreksi.
Mengajari cara membuat paragraf dan sebagainya. Ibu juga memberikan Rumi banyak
buku cerita. Rumi membacanya dengan rakus dan mencoba menulis cerita sendiri.
Saat lulus dari Sekolah Rakyat, Rumi sudah bisa menulis cerita dengan lancar.
Saat SMP, Rumi mencoba mengirim
cerita pendek ke koran. Tiga kali ia mengirim melalui pos, tiga kali pula
tulisannya dikembalikan. Pada kiriman yang keempat, cerita pendeknya dimuat.
Rumi melonjak-lonjak. Menunjukkan koran itu pada ibu, ayah, dan teman-teman.
Saat lulus dari SMP, belasan cerita pendeknya telah termuat di berbagai koran
dan majalah.
Saat masuk SPG, Rumi harus pindah
ke kota. Tinggal di rumah teman ibu. Rumi terus menulis dan sering dimuat,
sehingga ia bisa membayar sewa kamar sendiri. Meski begitu ibu masih mengirim
uang untuk Rumi. Kata ibu, sekaya apa pun anak, bila belum menikah, maka
orangtua wajib menafkahinya.
Bila ada hari libur, Rumi pulang
ke desa. Rumi meminta ibu duduk di kursi goyang, sementara ia duduk di lantai
tegel. Ibu mendongeng dan Rumi mendengarkan.
“Ibu tak punya dongeng lagi.
Sekarang, kamulah yang mendongeng,” kata ibu dan meminta Rumi duduk di kursi
goyang.
Rumi menurut. Dadanya berdebar
ketika duduk di kursi goyang. Rumi menghela napas sejenak, kemudian mulai
mendongeng. Ibu duduk di lantai mendengarkan dan bibirnya menggariskan senyum.
“Kelak, kamu akan mendongeng
untuk anak-anakmu, cucu-cucumu,” kata ibu, usai Rumi menyelesaikan dongeng
pertamanya. Rumi tersenyum. Wajah Harun melintas di pikirannya. Ah, ibu belum
tahu siapa Harun.
Lulus dari SPG, Rumi mengabdi di
sebuah SMP Negeri di Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Jarak
rumah dengan SMP tempat Rumi mengajar sekitar tiga kilometer. Dua tahun
kemudian, Rumi bercerita tentang Harun.
“Dia lelaki hebat, Ibu. Dia lulus
lebih dulu dari SPG. Sekarang dia mengajar di SMP swasta di Pekalongan,” kata
Rumi.
“Kalau kamu yakin dia lelaki
hebat untukmu, maka ibu pun yakin dia menantu yang hebat untuk ibu,” ibu
tersenyum dan wajah Rumi bercahaya seketika.
“Tapi kalau kamu menikah, kamu
akan meninggalkan rumah ini,” senyum di bibir ibu surut.
“Tidak, Ibu,” sergah Rumi. “Kami
sudah sepakat, bila menikah kelak, Rumi akan tetap tinggal di sini. Mas Harun
akan pulang sebulan sekali.”
Ibu tersenyum.
“Bila begitu, tunggu apa lagi?”
Pernikahan Rumi dan Harun meriah
sekali, tiga hari tiga malam. Ada barongan, kuda lumping dan wayang kulit.
Pernikahan anak tunggal memang selalu meriah.
Sebulan setelah Rumi menikah, ibu
meninggal di kursi goyang. Tak ada tanda-tanda atau menderita sakit. Memang
sudah waktunya meninggal. Setahun kemudian ayah wafat, setelah sekian lama
berlarut-larut memendam rindu pada ibu. Ibu dan ayah tak sempat melihat cucu
mereka lahir.
Cucu yang tak sempat melihat
kakek dan neneknya itu hanya satu. Sampai Rumi berambut memutih sebagian, tak ada
lagi anak yang lahir dari rahimnya. Kata orang, sudah turunan.
Alia, anak Rumi, juga memiliki
satu anak –setidaknya sampai saat ini. Kata orang, sangat mudah menggambar
denah silsilah keluarga Rumi, karena selalu hanya punya satu anak. Mustika,
anak Alia –alias cucu Rumi—kini berusia tujuh tahun, sudah kelas 2 SD.
Alia dan suaminya tinggal di
Semarang. Tiap akhir pekan mereka mengajak Mustika berkunjung ke desa, menengok
Rumi. Sabtu sore kemarin mereka datang. Namun karena Alia ada janji wawancara
dengan nara sumber dan suaminya harus meliput seminar lingkungan hidup, mereka
menitipkan Mustika. Minggu sore atau malam, Alia dan suaminya, atau satu dari
mereka –mana yang sempat-- akan menjemput Mustika.
Bila berkunjung ke desa, Mustika
selalu meminta Rumi duduk di kursi goyang. “Ayo, Nek, mendongeng,” pinta
Mustika dari tempatnya bersila, di lantai tegel yang tak pernah berganti motif
sejak dulu kala.
Dongeng turun-temurun terdengar
lagi di teras rumah kayu jati itu.
“Besok nenek ulang tahun, ya?”
kata Mustika ketika Rumi usai mendongeng.
“Masa?”
“Iya, Nek. Kakek yang bilang.
Nenek minta hadiah apa? Nanti Tika belikan, deh.”
“Mm, apa ya? Bagaimana kalau buku
cerita rakyat?”
“Baiklah. Besok pagi Tika dan
kakek akan ke kota.”
“Pakai uang siapa?”
“Uang kakek.”
Rumi terkekeh.
Harun, suami Rumi, menetap di
rumah kayu jati itu setelah permohonan mutasinya dikabulkan. Usai salat subuh,
Harun dan Mustika berangkat ke Pekalongan naik bus. Mereka membeli beberapa
buku cerita rakyat untuk kado ulang tahun Rumi. Menjelang asar mereka telah
pulang.
“Nenek, Tika pulang,” seru
Mustika dari halaman.
Harun menyilangkan jari di bibir.
“Sstt, Nenek tidur,” bisiknya.
“Hati-hati. Bangunkan pelan-pelan.”
Mustika mengangguk dan tersenyum.
Ia menyentuh tangan Rumi, menepuk-nepuk pelan. Tak ada reaksi.
“Nenek,” Mustika berbisik.
Harun ikut menepuk pelan tangan
Rumi. Menyentuh dan mengguncangkan bahu Rumi, hingga kursi itu bergoyang pelan.
Harun tertegun. Harun meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung Rumi. Harun
terhenyak.
“Innalillahi...”
Mata Harun berkaca-kaca menoleh
pada Mustika. Bibir Mustika bergetar.
“Neneeeeekk!!!”
Mustika memekik. Tas plastik
putih di tangannya jatuh. Buku-buku cerita terserak di lantai. [*]
BIODATA:
Sulistiyo
Suparno,
kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di Minggu Pagi, Wawasan,
Cempaka, Radar Surabaya, Banjarmasin Pos dan media lainnya. Bergiat di
Komunitas Pena, perkumpulan penulis di Batang. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.

