Puisi
I
SIAPA YUYUN?
yuyun adalah puisiku yang menyamar menjadi sajak-sajak.
Bisa pula kau sebut
yuyun sebagai aksara puisiku yang keruh oleh
kalimat-kalimat.
atau,
yuyun adalah diksi puisiku yang layu karena kehabisan air
mataku.
tetapi:
yuyun adalah aku, yang mampus terunus racun sianida
karena darah dan air mata ini terlalu jauh berkelana, merantau jalan pintas bersama
dia, iya dengan dia!
sehingga yuyun dinyatakan tewas.
Lorong_Sastra/2016
Puisi
II
TU(H)AN
Tu(h)an
izinkan hamba yang hina
merebahkan tubuh.
di antara kupu-kupu dan ilalang hijau yang riang bergoyang
diterpa sejuk hembus angin
Tu(h)an
perbolehkanlah hamba yang hina
membangun istana.
istana untuk anak-anak puisi hamba
dengan kayu, batu
yang Tu(h)an tanam
dalam kandungan
tu(h)an
persilahkanlah hamba yang hina
merantau fajar untuk bekerja
merantau siang untuk pulang
dan
merantau malam untuk terlelap!
tapi Tu(h)an
hamba cuma ingat diri hamba
hamba lupa akan tu(h)an hamba
hamna khilaf dengan kewajiban hamba.
inilah hamba dengan segala kekurangannya,hanya mampu
berkata"pertemukan hamba di hari-hari berikutnya"
Lorong_Sastra/2016
Puisi
III
PEKERJA MALAM
ketika mata ini bisa melihat
lembayung senja yang nikmat
tertelan ufuk barat yang mengundang gelap.
tersulut riuh ramai sudah kotaku
pijar kerlip lampu, mewarnai paras wajah jalan
jalan dan trotoar yang di sulap menjadi restaurant.
tiba-tiba!
kelopak mata ini tak sengaja
memandang sekumpulan pekerja malam.
entah! apa yang mereka lakukan?
dengan pakain terbelah, hampir telanjang
merekahkan pesona manja
menghampiri mobil-mobil mewah yang berjajar di sekitar
lalu-lalang keramaian
dari daun telingaku masih bisa terdengar:
"Selamat malam kantong ber-uang,kemana kita akan
jalan?"
#Lorong_Sastra/2016
BIODATA:
Ridwan Andhika
Martianto, lahir di Madiun, 29 Mei 1998. Pertama kali menulis puisi saat masih
duduk di bangku SMA. Beberapa karya saya sudah masuk bersama Antologi puisi
dari berbagai penerbit.
