Pages

Ads 468x60px

Selasa, 09 Agustus 2016

KAK IAN: KEBEBASAN BERBAHASA DALAM BERPUISI


Terkadang hidup akan terasa kering jika kita tidak punya rasa seni yang baik. Selain itu, menikmati seni dan alam juga dapat meningkatkan sifat humoris kita. (M. Anis Matta berjudul Model Manusia Muslim Abad XXI)

Penyair begitu kita sebut. Sebutan tak asing lagi kita dengar bagi para pecinta atau mereka yang mencintai menyukai puisi. Atau, mereka yang mencintai dan menyukai dunia kepenyairan. Namun jika ditanyakan atau ada bertanya apakah yang dimaksud penyair itu saya tidak berani mengatakan.
Sebab apa? Saya sudah ”mengobrak-abrik” di kamus, situs Google, membuka Wikipedia dan segala macam blog. Apa yang saya dapat?
Ternyata saya tak menemukan satu apa pun dari pengertian penyair itu sendiri secara detail dan komplit sesuai benar-benar pengertian kata tersebut. Nihil didapat.
Namun bila selama ini mengatakan bahwa pengertian dari penyair itu adalah orang yang menulis syair, puisi, sajak, balada, roman maupun sejenisnya itu sah-sah saja. Anda, saya maupun kita semua sah-sah saja mengatakan demikian. Tak ada yang melarang.
Dus, untuk itu jadi lupakanlah kalau kita menyebut diri kita penyair atau bukan. Cukuplah kita mengatakan sebagai penulis syair, puisi, atau semacamnya. Yakinlah apa pun jika kita semai dengan baik kita pasti akan menikmatinya. Seperti pepatah Jawa mengatakan becik kitoto olo ketoro. Siapa yang menanam dia pula yang menuai nantinya.
Lalu bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa penyair itu lebay ?
Hmm, apakah itu tidak berlebihan jika penyair itu bisa dikatakan lebay. Bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa penyair itu terlalu meng-hiperbola-kan. Membesar-besarkan kata—dengan cara berlebihan! Bak setinggi langit. Terkesan me- lebay -kan kata-kata yang tertulis. Padahal bukankah itu yang diperlukan seorang penyair? Entahlah.
Jadi jika tidak begitu mana mungkin puisi, sajak atau semacamnya sampai sekarang ini bisa abadi dengan indahnya. Itulah yang menjadi pertanyaan kita.
Coba simak pengertian dari puisi itu sendiri di bawah ini;
Dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποι (poiéo/poió) menurut Wikipedia Eksiklopedia Bebas, puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Jadi membedakan puisi dan prosa adalah berada dari segi estetik suatu bahasa dan penggunaannya yang  sengaja diulang, meter dan rima. Serta mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreatifitas.
Lalu mengenai kata ”lebay” tu sendiri mari  kita merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) akan kita temukan kata L-E-B-A-I. Lebai di sini berarti pegawai masjid atau orang yang mengurus suatu pekerjaan yang bertalian dengan agama Islam di dusun (kampung). Jika demikian makna “ L-E-B-A-I ” yang dikenal dulu adalah sesuai dengan KBBI bukan L-E-B-A-Y berakhiran huruf “y” saat ini.
Apalagi akhir-akhir ini saya sering sekali menjumpai dan mendengar kata “lebai”. Anehnya kata itu kini tidak lagi indah di dengar. Kata itu kini tidak lagi sakral melainkan bermakna konotasi tidak sesuai dengan arti menurut KBBI tersebut.
Mungkin Anda yang hobi ber-facebook-an ria seringkali menemukan kata “lebay” ini bukan ”lebai” tanpa akhiran huruf  ”y”. Itu tentu saja. Sadar atau tidak Anda sudah menulis kata-kata yang lebay di dinding status Facebook Anda!
Entah siapa yang memulai mengganti makna “lebai” yang dulunya sangat terhormat dan mulia kini bergeser dan dimaknai menjadi gelar buat orang-orang yang sok suci atau munafik. Akibatnya banyak orang-orang yang enggan berkata-kata terpuji, berucap dengan ucapan yang baik, bertutur dengan budi bahasa yang sopan. Karena akan langsung di ”cap” dengan kalimat “ah lebay banget sih lo…!”
Untuk itu jika penyair atau kepenyairan memang dianggap lebay sebagian menurut orangg. Saya akan mengambil salah satu contoh saja seorang maestro dalam dunia ini.
Adalah sosok Chairil Anwar yang sangat lekat dengan citra kepenyairan Indonesia. Sejumlah larik puisinya dari penyair ini telah menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara yang hidup di kalangan masyarakat. Seperti contoh larik ini;
Aku ini binatang jalang”, “Hidup hanya menunda kekalahan”, “Aku mau hidup seribu tahun lagi”, dan masih banyak lagi.
Kebebasan bahasa itulah yang teramat penting dalam berpuisi. Terbukti Malasyia, negara yang menggunakan bahasa Melayu, yang serumpun dengan bahasa Indonesia (tapi tidak pernah memiliki penyair sekaliber Chairil) dalam hal bahasa pun jauh tertinggal dari bangsa kita. Kebebasan bahasa itu adalah prestasi besar bangsa Indonesia.
Dengan itu kita dapat mengutarakan apa saja langsung dari lubuk hati kita. Seperti diamini banyak sastrawan kita, berkah itu adalah warisan Chairil Anwar, penyair terbesar yang pernah kita miliki.
Chairil yang dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1922. Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh. Dia menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir.
Saat Chairil meninggalpun hanya mewarisan karya yang tidak begitu banyak, yaitu 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Kepada Evawani, putrinya yang masih berumur satu tahun, Chairil bahkan hanya mewariskan sebuah radio kecil, berbentuk kotak warna hitam, bermerk Philips.
Seperti memenuhi pesan profetiknya dalam salah satu bait puisinya: “di karet, di karet sampai juga/deru angin”, Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada hari berikutnya.
Pun Chairil Anwar juga pernah berkata sebelum akhir hanyatnya.
Penyair bukanlah wali apalagi nabi.” Begitu dalam sebuah pidato radionya. Ia berkata kembali. ”Wahyu dan wahyu itu ada dua dan tidak semua wahyu adalah wahyu.”
 Nah lho? Kalau seperti apa yang dikatakan oleh sang maestro tersebut. Katakan apakah Anda ingin tetap membuka kamus demi mendapatkan arti apa itu penyair? Dan tak mau dianggap penyair adalah manusia paling lebay di dunia?
Boleh jadi, percaya boleh tidak, jika Anda menulis syair atau semacamnya Anda tak lantas menjadi penyair. Ini menjadi berbeda seandainya Anda tiba-tiba berdiri di atas tanah dan menaburkan benih jagung, yang Anda sendiri tidak yakin akan tumbuh jagung atau tidak di tempat tersebut. Maka Anda akan menjadi petani karena mendapat sebutan petani dari tetangga yang saat itu kebetulan melintas sedang lari pagi.
Itulah maksud saya. Jadi, untuk apa Anda menjadi penyair jika sekedar ingin disebut penyair, yang bahkan rangkaian kata-kata tak pernah Anda yakini dapat tumbuh dan berbuah bagi diri Anda, keluarga, dan orang lain.
Jadi, lupakanlah apakah Anda penyair atau bukan. Cukuplah Anda menulis syair, puisi, atau semacamnya. Yakini bahwa Anda telah menanam jagung dengan benar agar kelak semua dapat menikmatinya. Tentunya kunci yang terakhir adalah kebebasan berbahasa itu yang teramat penting.
Maka dari itu abaikan saja jika ada orang-orang yang mengatakan kalau penyair itu lebay. Apalagi bagi mereka yang mencintai dunia kepenyairan. Bukan, begitu? Semoga.[]


Biodata
Kak Ian, bekerja sebagai pengajar Jurnalistik tingkat sekolah dan bergiat di komunitas RELI (Relawan Literasi) Jakarta dan Pembatas Buku Jakarta. Sekarang berdomisili di Jakarta. Cerpen, cernak, puisi dan artikelnya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional. Beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen, cerita anak, artikel/opini dan puisi.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter