Terkadang
hidup akan terasa kering jika kita tidak punya rasa seni yang baik. Selain itu,
menikmati seni dan alam juga dapat meningkatkan sifat humoris kita. (M. Anis Matta berjudul Model Manusia Muslim
Abad XXI)
Penyair begitu kita sebut. Sebutan tak asing
lagi kita dengar bagi para pecinta atau mereka yang mencintai menyukai puisi.
Atau, mereka yang mencintai dan menyukai dunia kepenyairan. Namun jika
ditanyakan atau ada bertanya apakah yang dimaksud penyair itu saya tidak berani
mengatakan.
Sebab apa? Saya sudah ”mengobrak-abrik” di
kamus, situs Google, membuka Wikipedia dan segala macam blog. Apa yang saya
dapat?
Ternyata saya tak menemukan satu apa pun dari
pengertian penyair itu sendiri secara detail dan komplit sesuai benar-benar
pengertian kata tersebut. Nihil didapat.
Namun bila selama ini mengatakan bahwa
pengertian dari penyair itu adalah
orang yang menulis syair, puisi, sajak, balada, roman maupun sejenisnya itu
sah-sah saja. Anda, saya maupun kita semua sah-sah saja mengatakan demikian.
Tak ada yang melarang.
Dus, untuk itu jadi lupakanlah kalau kita menyebut
diri kita penyair atau bukan. Cukuplah kita mengatakan sebagai penulis syair,
puisi, atau semacamnya. Yakinlah apa pun jika kita semai dengan baik kita pasti
akan menikmatinya. Seperti pepatah Jawa mengatakan becik kitoto olo ketoro. Siapa yang menanam dia pula yang menuai
nantinya.
Lalu bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa
penyair itu lebay ?
Hmm, apakah itu tidak berlebihan jika penyair
itu bisa dikatakan lebay. Bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa penyair itu
terlalu meng-hiperbola-kan.
Membesar-besarkan kata—dengan cara berlebihan! Bak setinggi langit. Terkesan
me- lebay -kan kata-kata yang tertulis.
Padahal bukankah itu yang diperlukan seorang penyair? Entahlah.
Jadi jika tidak begitu mana mungkin puisi,
sajak atau semacamnya sampai sekarang ini bisa abadi dengan indahnya. Itulah
yang menjadi pertanyaan kita.
Coba simak pengertian dari puisi itu sendiri di
bawah ini;
Dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) menurut Wikipedia Eksiklopedia Bebas, puisi adalah seni
tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan,
atau selain arti semantiknya. Jadi membedakan puisi dan prosa adalah berada dari
segi estetik suatu bahasa dan penggunaannya yang sengaja diulang, meter dan rima. Serta
mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan
imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreatifitas.
Lalu mengenai kata ”lebay” tu sendiri
mari kita merujuk kepada Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) akan kita temukan kata L-E-B-A-I. Lebai di sini berarti
pegawai masjid atau orang yang mengurus suatu pekerjaan yang bertalian dengan
agama Islam di dusun (kampung). Jika demikian makna “ L-E-B-A-I ” yang dikenal
dulu adalah sesuai dengan KBBI bukan L-E-B-A-Y berakhiran huruf “y” saat ini.
Apalagi akhir-akhir ini saya sering sekali
menjumpai dan mendengar kata “lebai”. Anehnya kata itu kini tidak lagi indah di
dengar. Kata itu kini tidak lagi sakral melainkan bermakna konotasi tidak
sesuai dengan arti menurut KBBI tersebut.
Mungkin Anda yang hobi ber-facebook-an ria seringkali menemukan
kata “lebay” ini bukan ”lebai” tanpa akhiran huruf ”y”. Itu tentu saja. Sadar atau tidak Anda sudah menulis kata-kata yang lebay di
dinding status Facebook Anda!
Entah siapa yang memulai mengganti makna
“lebai” yang dulunya sangat terhormat dan mulia kini bergeser dan dimaknai
menjadi gelar buat orang-orang yang sok suci atau munafik. Akibatnya banyak
orang-orang yang enggan berkata-kata terpuji, berucap dengan ucapan yang baik,
bertutur dengan budi bahasa yang sopan. Karena akan langsung di ”cap” dengan
kalimat “ah lebay banget sih lo…!”
Untuk itu jika penyair atau kepenyairan
memang dianggap lebay sebagian menurut orangg. Saya akan mengambil salah satu
contoh saja seorang maestro dalam dunia ini.
Adalah sosok Chairil Anwar yang sangat lekat
dengan citra kepenyairan Indonesia. Sejumlah larik puisinya dari penyair ini
telah menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara yang hidup di kalangan
masyarakat. Seperti contoh larik ini;
“Aku
ini binatang jalang”, “Hidup hanya
menunda kekalahan”, “Aku mau hidup
seribu tahun lagi”, dan masih banyak lagi.
Kebebasan bahasa itulah yang teramat penting
dalam berpuisi. Terbukti Malasyia, negara yang menggunakan bahasa Melayu, yang
serumpun dengan bahasa Indonesia (tapi tidak pernah memiliki penyair sekaliber
Chairil) dalam hal bahasa pun jauh tertinggal dari bangsa kita. Kebebasan
bahasa itu adalah prestasi besar bangsa Indonesia.
Dengan itu kita dapat mengutarakan apa saja
langsung dari lubuk hati kita. Seperti diamini banyak sastrawan kita, berkah
itu adalah warisan Chairil Anwar, penyair terbesar yang pernah kita miliki.
Chairil yang dilahirkan di Medan, Sumatera
Utara, pada 22 Juli 1922. Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh. Dia
menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati
Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang
dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir.
Saat Chairil meninggalpun hanya mewarisan
karya yang tidak begitu banyak, yaitu 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi
terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Kepada Evawani, putrinya yang
masih berumur satu tahun, Chairil bahkan hanya mewariskan sebuah radio kecil,
berbentuk kotak warna hitam, bermerk Philips.
Seperti memenuhi pesan profetiknya dalam
salah satu bait puisinya: “di karet, di
karet sampai juga/deru angin”, Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada
hari berikutnya.
Pun Chairil Anwar juga pernah berkata sebelum
akhir hanyatnya.
”Penyair
bukanlah wali apalagi nabi.” Begitu dalam sebuah pidato radionya. Ia
berkata kembali. ”Wahyu dan wahyu itu ada
dua dan tidak semua wahyu adalah wahyu.”
Nah
lho? Kalau seperti apa yang dikatakan oleh sang maestro tersebut. Katakan
apakah Anda ingin tetap membuka kamus demi mendapatkan arti apa itu penyair?
Dan tak mau dianggap penyair adalah manusia paling lebay di dunia?
Boleh jadi, percaya boleh tidak, jika Anda menulis
syair atau semacamnya Anda tak lantas menjadi penyair. Ini menjadi berbeda
seandainya Anda tiba-tiba berdiri di atas tanah dan menaburkan benih jagung,
yang Anda sendiri tidak yakin akan tumbuh jagung atau tidak di tempat tersebut.
Maka Anda akan menjadi petani karena mendapat sebutan petani dari tetangga yang
saat itu kebetulan melintas sedang lari pagi.
Itulah maksud saya. Jadi, untuk apa Anda
menjadi penyair jika sekedar ingin disebut penyair, yang bahkan rangkaian
kata-kata tak pernah Anda yakini dapat tumbuh dan berbuah bagi diri Anda,
keluarga, dan orang lain.
Jadi, lupakanlah apakah Anda penyair atau
bukan. Cukuplah Anda menulis syair, puisi, atau semacamnya. Yakini bahwa Anda
telah menanam jagung dengan benar agar kelak semua dapat menikmatinya. Tentunya
kunci yang terakhir adalah kebebasan berbahasa itu yang teramat penting.
Maka dari itu abaikan saja jika ada
orang-orang yang mengatakan kalau penyair itu lebay. Apalagi bagi mereka yang
mencintai dunia kepenyairan. Bukan, begitu? Semoga.[]
Biodata
Kak Ian,
bekerja sebagai pengajar Jurnalistik tingkat sekolah dan bergiat di komunitas
RELI (Relawan Literasi) Jakarta dan Pembatas Buku Jakarta. Sekarang
berdomisili di Jakarta. Cerpen, cernak, puisi dan artikelnya telah dimuat di
berbagai surat kabar lokal dan nasional. Beberapa kali memenangkan lomba
menulis cerpen, cerita anak, artikel/opini dan puisi.
