Fahrurraji Asmuni, guru dan sastrawan dari Amuntai, menyampaikan tantangan kepada Rahmadi, dosen IAIN Antasari, penulis buku “Elite Muslim Banjar di Tingkat Nasional”, satu dari dua buku yang dibahas, saat acara Bedah Buku Kalsel Book Fair 2016, di Atrium Duta Mall, 4 Agustus 2016 kemarin. Tantangannya agar Rahmadi lebih banyak menulis buku sehingga lebih dikenal sebagai penulis. Pernyataan ini muncul setelah Prof. Mujiburrahman, yang menjadi pembedah saat itu memberikan banyak kritik atas buku hasil riset tersebut.
Mendapat tantangan tersebut,
jelas saja dosen Fakultas Usluhuddin & Humaniora itu membela diri bahwa dia
sudah menulis lebih dari 10 judul buku. Namun, buku-buku tersebut kebanyakan
hasil riset dan beredar di kampus saja, tidak ke publik. Di sinilah
persoalannya, Fahrurraji yang dikenal sebagai penulis biografi datu-datu di
Kalsel ini jelas takpernah tahu. Sebagai moderator, saya tanya apakah Rahmadi
punya akun facebook. Beliau menjawab “tidak”. Wajar saja kalau tidak banyak
dikenal publik.
Saya yakin dan percaya
dosen-dosen di perguruan tinggi mana pun pasti punya karya-karya tulis yang
sudah dibukukan. Dan tentu lebih dari sekadar diktat yang menjadi buku wajib
pegangan mahasiswa yang mengambil mata kuliahnya. Dengan pengalaman sebagai
akademisi yang sering melakukan riset, baik karena proyek, maupun tuntutan
tugas, buku-buku yang lahir dari rahim kampus biasanya dianggap lebih
berkualitas. Apalagi buku hasil tesis dan desertasi, tentu punya kedalaman di
atas rata-rata.
Pertanyaannya, seberapa banyak
karya karya intelektual para akademisi itu diedarkan ke masyarakat pembaca di
luar kampus? Taruhlah 10 % saja, maka tentu akan sangat bermanfaat, daripada
hanya bergaung di ruang-ruang kuliah, atau malah jadi berhala di dalam lemari
pustaka. Saya mengenal beberapa dosen yang buku-buku hasil risetnya dicetak dan
diedarkan di toko-toko buku. Tentu setelah ada penyesuaian sistematika dan
bahasa agar lebih mudah dipahami.
Selain buku-bukunya yang luar
biasa, peran akademisi di luar kampus juga perlu dan penting.
Pemikiran-pemikiran yang tajam dari pengalaman bergulat dengan ilmu pengetahuan
dan hasil riset yang mendalam atas sebuah persoalan para akademisi akan menjadi
bahan yang berguna, misalnya, bagi pembangunan sebuah kota, atau lebih luas
pembangunan negeri ini. Saya juga mengenal beberapa akademisi dan sangat takjim
dengan aktivitas mereka yang menjadi pembicara di ruang publik atau menulis di
media massa.
Apa yang dilakukan oleh Prodi
Arsitektur Fakultas Teknik ULM akhir Juli 2016 tadi bisa menjadi contoh kasus.
Dalam rangka Arch Day 2016, mereka beraksi di luar kampus. Workshop dan Seminar
tentang penataan kawasan lingkungan Banjarmasin, expo, lomba, dan lain-lain
dilakukan di Siring Tendean. Lebih menarik lagi, para sarjana teknik itu
melakukan bedah rumah lanting di sungai depan Seberang Masjid. Ini benar benar
kerja mandiri mereka. Inilah salah satu wujud nyata dari pengabdian masyarakat,
satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pengalaman saya mengasuh acara
‘Suluh Banua’ tiap Rabu sore di Pro 4 RRI Banjarmasin setahun ini yang sering
mengundang para doktor sebagai narasumber juga memberikan gambaran bahwa masih
ada akademisi yang mau diundang dialog di radio, yang tentu kurang gebyarnya
dibanding di televisi, apalagi minim honor, misalnya. Walau begitu, ada saja
yang menolak dengan alasan yang berterima: sibuk mengajar di sana sini, repot
menghadiri pertemuan ilmiah ini-itu, atau lagi giat penelitian abc.
Saya jadi teringat akuarium di
rumah. Kotak kaca tebal yang berisi ikan-ikan berwarna keemasan dan bernilai
cukup mahal itu sangat indah dipandang dan menyejukkan. Setiap waktu diberi
makan dan kejernihan airnya harus dijaga. Tidak tahu seberapa lama ikan-ikan
itu tetap di dalam, hidup dan sibuk dalam ekosistem terbatas, dan hanya mampu
berbagi keindahan. Saya tidak berharap kampus seperti akuarium tersebut,
sekadar tempat bergiat para akademisi hebat dan hanya indah dipandang mata
karena wadah mereka sesungguhnya adalah di ruang-ruang publik. [Zulfaisal Putera]
(esai ini
telah dimuat di SKH Banjarmasin Post edisi 7 Agustus 2016)
