Pages

Ads 468x60px

Senin, 08 Agustus 2016

ZULFAISAL PUTERA: AKADEMISI DAN AKUARIUM


Fahrurraji Asmuni, guru dan sastrawan dari Amuntai, menyampaikan tantangan kepada Rahmadi, dosen IAIN Antasari, penulis buku “Elite Muslim Banjar di Tingkat Nasional”, satu dari dua buku yang dibahas, saat acara Bedah Buku Kalsel Book Fair 2016, di Atrium Duta Mall, 4 Agustus 2016 kemarin. Tantangannya agar Rahmadi lebih banyak menulis buku sehingga lebih dikenal sebagai penulis. Pernyataan ini muncul setelah Prof. Mujiburrahman, yang menjadi pembedah saat itu memberikan banyak kritik atas buku hasil riset tersebut.
Mendapat tantangan tersebut, jelas saja dosen Fakultas Usluhuddin & Humaniora itu membela diri bahwa dia sudah menulis lebih dari 10 judul buku. Namun, buku-buku tersebut kebanyakan hasil riset dan beredar di kampus saja, tidak ke publik. Di sinilah persoalannya, Fahrurraji yang dikenal sebagai penulis biografi datu-datu di Kalsel ini jelas takpernah tahu. Sebagai moderator, saya tanya apakah Rahmadi punya akun facebook. Beliau menjawab “tidak”. Wajar saja kalau tidak banyak dikenal publik.
Saya yakin dan percaya dosen-dosen di perguruan tinggi mana pun pasti punya karya-karya tulis yang sudah dibukukan. Dan tentu lebih dari sekadar diktat yang menjadi buku wajib pegangan mahasiswa yang mengambil mata kuliahnya. Dengan pengalaman sebagai akademisi yang sering melakukan riset, baik karena proyek, maupun tuntutan tugas, buku-buku yang lahir dari rahim kampus biasanya dianggap lebih berkualitas. Apalagi buku hasil tesis dan desertasi, tentu punya kedalaman di atas rata-rata.
Pertanyaannya, seberapa banyak karya karya intelektual para akademisi itu diedarkan ke masyarakat pembaca di luar kampus? Taruhlah 10 % saja, maka tentu akan sangat bermanfaat, daripada hanya bergaung di ruang-ruang kuliah, atau malah jadi berhala di dalam lemari pustaka. Saya mengenal beberapa dosen yang buku-buku hasil risetnya dicetak dan diedarkan di toko-toko buku. Tentu setelah ada penyesuaian sistematika dan bahasa agar lebih mudah dipahami.
Selain buku-bukunya yang luar biasa, peran akademisi di luar kampus juga perlu dan penting. Pemikiran-pemikiran yang tajam dari pengalaman bergulat dengan ilmu pengetahuan dan hasil riset yang mendalam atas sebuah persoalan para akademisi akan menjadi bahan yang berguna, misalnya, bagi pembangunan sebuah kota, atau lebih luas pembangunan negeri ini. Saya juga mengenal beberapa akademisi dan sangat takjim dengan aktivitas mereka yang menjadi pembicara di ruang publik atau menulis di media massa.
Apa yang dilakukan oleh Prodi Arsitektur Fakultas Teknik ULM akhir Juli 2016 tadi bisa menjadi contoh kasus. Dalam rangka Arch Day 2016, mereka beraksi di luar kampus. Workshop dan Seminar tentang penataan kawasan lingkungan Banjarmasin, expo, lomba, dan lain-lain dilakukan di Siring Tendean. Lebih menarik lagi, para sarjana teknik itu melakukan bedah rumah lanting di sungai depan Seberang Masjid. Ini benar benar kerja mandiri mereka. Inilah salah satu wujud nyata dari pengabdian masyarakat, satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pengalaman saya mengasuh acara ‘Suluh Banua’ tiap Rabu sore di Pro 4 RRI Banjarmasin setahun ini yang sering mengundang para doktor sebagai narasumber juga memberikan gambaran bahwa masih ada akademisi yang mau diundang dialog di radio, yang tentu kurang gebyarnya dibanding di televisi, apalagi minim honor, misalnya. Walau begitu, ada saja yang menolak dengan alasan yang berterima: sibuk mengajar di sana sini, repot menghadiri pertemuan ilmiah ini-itu, atau lagi giat penelitian abc.
Saya jadi teringat akuarium di rumah. Kotak kaca tebal yang berisi ikan-ikan berwarna keemasan dan bernilai cukup mahal itu sangat indah dipandang dan menyejukkan. Setiap waktu diberi makan dan kejernihan airnya harus dijaga. Tidak tahu seberapa lama ikan-ikan itu tetap di dalam, hidup dan sibuk dalam ekosistem terbatas, dan hanya mampu berbagi keindahan. Saya tidak berharap kampus seperti akuarium tersebut, sekadar tempat bergiat para akademisi hebat dan hanya indah dipandang mata karena wadah mereka sesungguhnya adalah di ruang-ruang publik. [Zulfaisal Putera]

(esai ini telah dimuat di SKH Banjarmasin Post edisi 7 Agustus 2016)



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter