Pages

Ads 468x60px

Minggu, 07 Agustus 2016

HADERI IDERIS: MENULIS, MEMBUANG PIKIRAN


Melatih diri untuk terus menulis adalah keniscayaan. Terlepas dari yang kita tulis itu mau dibaca orang atau tidak, baik atau tidak, bahkan amburadul sekalipun, jangan dipersoalkan.
Dalam tahapan ini kita mencoba membuang pikiran. Pikiran yang bagaimana yang kita buang? Membuang pikiran kalut dan  tegang. Jika setelah menulis, kita merasa plong, lega. Berarti kita berhasil mendapatkan manfaat menulis.
Manakala kita menulis malah menambah ketegangan pikiran, berarti kita tidak mendapatkan manfaat menulis. Lalu gimana caranya? Ya, bebaskan saja diri kita dari orang sekitar. Anggap saja kita hanya sendiri dalam dunia kita, bebas tanpa beban dan tanpa merasa takut dicela, dicemooh dari apa yang kita tulis. Karena yang kita pikirkan bukan hasil dari tulisan kita. Tetapi bagaimana kita membuat proses  menulis itu sesuatu yang menyenangkan.
Ketegangan, rasa takut itulah yang biasanya menghalang kita menulis. Oleh karena itu, kita harus bebas dari semua ketegangan dengan cara membebaskan diri dari segala tuntutan begini begitu. Menulis saja suka-suka kita.
Kalau kita menulis semau kita. Lalu bagaimana dengan hasilnya, tentu amburadul dan akan ditertawakan dan dicemooh. Menulis kok amburadul, gimana bisa diterbitkan? 
Betul, tentu saja amburadul. Kalau kita memikirkan amburadulnya. Dan terus memikirkan rasa takut dicemooh, kita tidak akan berani menulis. Saya bukan menyarankan tulisan yang amburadul itu yang mesti dikirim dan dipublish untuk dibaca orang. Sekali lagi bukan itu maksudnya.
Saya menyampaikan teknik  bagaimana proses menulisnya. Bukan terfokus pada hasilnya. Ketika proses menulisnya itu kita berada pada kondisi bebas dan menyenangkan, maka manakala sudah selesai menulis ada rasa puas. Ada semacam hasrat yang bisa tersalurkan. Ini yang saya maksud menikmati proses menulis. Bukan menikmati hasil tulisan. Kalau hasil tulisan bebas yang kita nikmati tentu saja memgecewakan karena bahasanya sedikit kacau, salah ejaan, dan banyak lagi kesalahan yang lain. Ada kalimat yang tidak efektif, dan sebagainya.
Kalau kita kecewa dengan hasil tulisan kita sendiri, lalu bagaimana dengan orang lain yang membaca tulisan kita? Pastinya kita akan ditertawakan. Lah, makanya kata saya tadi jangan lihat hasil, tapi lihat dan nikmati prosesnya. Bahwa kita berhasil membuang pikiran kita yang tegang dan dapat menggantinya dengan gairah menuang pikiran ke bejana tulisan tanpa beban. Itu saja, titik.
Teknik itulah yang disebut dengan menulis di ranah pribadi. Tanpa harus diketahui orang lain. Dan tak perlu dipublikasikan. Kenapa? Karena tulisannya amburadul tadi. Hehehe. Kalau tulisan kita mau dipublish dan dibaca orang, tentu saja kita harus memperbaiki tulisan yang amburadul tadi. Begitu.... [Haderi Ideris]




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter