Melatih diri untuk terus menulis
adalah keniscayaan. Terlepas dari yang kita tulis itu mau dibaca orang atau
tidak, baik atau tidak, bahkan amburadul sekalipun, jangan dipersoalkan.
Dalam tahapan ini kita mencoba
membuang pikiran. Pikiran yang bagaimana yang kita buang? Membuang pikiran
kalut dan tegang. Jika setelah menulis, kita merasa plong, lega. Berarti
kita berhasil mendapatkan manfaat menulis.
Manakala kita menulis malah menambah
ketegangan pikiran, berarti kita tidak mendapatkan manfaat menulis. Lalu gimana
caranya? Ya, bebaskan saja diri kita dari orang sekitar. Anggap saja kita hanya
sendiri dalam dunia kita, bebas tanpa beban dan tanpa merasa takut dicela,
dicemooh dari apa yang kita tulis. Karena yang kita pikirkan bukan hasil dari
tulisan kita. Tetapi bagaimana kita membuat proses menulis itu sesuatu
yang menyenangkan.
Ketegangan, rasa takut itulah
yang biasanya menghalang kita menulis. Oleh karena itu, kita harus bebas dari
semua ketegangan dengan cara membebaskan diri dari segala tuntutan begini
begitu. Menulis saja suka-suka kita.
Kalau kita menulis semau kita.
Lalu bagaimana dengan hasilnya, tentu amburadul dan akan ditertawakan dan
dicemooh. Menulis kok amburadul, gimana bisa diterbitkan?
Betul, tentu saja amburadul.
Kalau kita memikirkan amburadulnya. Dan terus memikirkan rasa takut dicemooh,
kita tidak akan berani menulis. Saya bukan menyarankan tulisan yang amburadul
itu yang mesti dikirim dan dipublish untuk dibaca orang. Sekali lagi bukan itu
maksudnya.
Saya menyampaikan teknik
bagaimana proses menulisnya. Bukan terfokus pada hasilnya. Ketika proses
menulisnya itu kita berada pada kondisi bebas dan menyenangkan, maka manakala
sudah selesai menulis ada rasa puas. Ada semacam hasrat yang bisa tersalurkan.
Ini yang saya maksud menikmati proses menulis. Bukan menikmati hasil tulisan.
Kalau hasil tulisan bebas yang kita nikmati tentu saja memgecewakan karena
bahasanya sedikit kacau, salah ejaan, dan banyak lagi kesalahan yang lain. Ada
kalimat yang tidak efektif, dan sebagainya.
Kalau kita kecewa dengan hasil
tulisan kita sendiri, lalu bagaimana dengan orang lain yang membaca tulisan
kita? Pastinya kita akan ditertawakan. Lah, makanya kata saya tadi jangan lihat
hasil, tapi lihat dan nikmati prosesnya. Bahwa kita berhasil membuang pikiran
kita yang tegang dan dapat menggantinya dengan gairah menuang pikiran ke bejana
tulisan tanpa beban. Itu saja, titik.
Teknik itulah yang disebut dengan
menulis di ranah pribadi. Tanpa harus diketahui orang lain. Dan tak perlu
dipublikasikan. Kenapa? Karena tulisannya amburadul tadi. Hehehe. Kalau tulisan
kita mau dipublish dan dibaca orang, tentu saja kita harus memperbaiki tulisan
yang amburadul tadi. Begitu.... [Haderi
Ideris]
