Bagaimana jika Eros mogok dan tak
lagi melesatkan panah asmara?
Eros yang lebih dikenal sebagai Amor,
tiba-tiba saja merenung di pinggir danau. Sudah ribuan tahun ia jalani hidup sendiri,
membantu orang-orang dalam urusan asmara. Maka ia berkaca pada permukaan air
itu, betapa wajahnya sudah tak tampan lagi. Ia baru menyadari kalau dirinya
sudah bertransformasi menjadi bayi bersayap yang kehilangan cintanya sendiri.
Dengan amat putus asa, Eros
melepaskan kedua sayap mungilnya. Ia melempar busur dan anak panah ke danau
yang selama ini tak pernah meleset bidikannya. Dan seketika, waktu bumi
berhenti berdetak. Hanya ada dirinya, juga kesunyian.
Sang Dewa Asmara itu berjalan
menghampiri bangku yang tak jauh dari danau itu. Duduk dengan kaki menjuntai
bersilang ujungnya. Jauh tatapannya ke arah langit. Betapa ia merindukan
Psikhe, kekasih pertama dan terakhir yang amat cantik jelita. Ia rindu pada
ribuan tahun lalu, ketika ibunya, Afrodit, menyuruhnya membuat Psikhe jatuh
cinta pada pria buruk rupa, namun malah ia tusukkan panah asmara ke dadanya
sendiri. Hingga yang jatuh cinta justru dirinya.
Afrodit marah ketika mengetahui
rencananya menjadi senjata makan tuan. Pasalnya, sebagai Dewi Kecantikan, ia
merasa paling dikagumi di kalangan para dewa. Ia tak mau disaingi oleh
kecantikan dan keranuman Psikhe.
Afrodit tidak menyetujui hubungan
mereka dan memberi beberapa tantangan pada Psikhe. Ketika menjalankan salah
satu perintah Afrodit, Psikhe terkena kutukan. Eros kemudian menyelamatkan
Psikhe dan mendatangi Zeus.
Hingga akhirnya, Zeus pun
mengabulkan permintaan Eros dan menyatakan bahwa mereka berdua boleh hidup
bersama.
Pesta pernikahan Eros dihelat
besar-besaran oleh Zeus. Peristiwa itu kini membayangi dirinya. Ia rindu pada
masa lalu. Ketika berjalan-jalan di taman langit bagai pasangan yang sempurna
sepanjang masa. Melewati waktu hanya dengan Psikhe, istri yang paling dicintai.
Hingga suatu kali ia menerima
perintah oleh Zeus untuk turun ke bumi.
“Nak, sudah saatnya kau turun ke
bumi. Kau tak seharusnya terus berada di sini. Hanya membantu urusan asmara
dewa-dewi bukanlah takdirmu. Itu terlalu mudah,” kata Zeus ketika Eros dan
Psikhe tengah bergurau dan tertawa kecil-kecil.
“Kenapa aku harus turun ke bumi?”
“Bumi membutuhkan bantuanmu, Nak.
Manusia-manusia telah kehilangan cinta dan perasaan kasih sayang. Banyak sekali
keluarga yang berantakan. Banyak sekali perceraian, maupun pembunuhan.
Turunlah, Nak. Turunlah....”
“Bersama Psikhe?”
“Tidak, dia tetap di sini,
menjaga ibumu yang sudah tua. Kau turunlah sendirian saja. Jika manusia sudah
bisa merawat cintanya sendiri, baru kau bisa kembali.”
Sejak itu, Eros pun turun
bersamaan dengan pelangi sehabis hujan deras. Ia terbang mengelilingi dunia.
Dan memang benar, banyak sekali orang-orang yang telah kehilangan cinta. Atau
tak mampu menumbuhkan perasaan cinta dan kasih sayang dalam dada mereka sendiri.
Maka, setiap kali Eros melihat
adanya pembunuhan atau hal-hal yang tak manusiawi, ia pun membidikkan
panah-panah asmara dan seketika dalam dada yang dipanahnya tumbuh rasa cinta
dan kasih sayang.
Tahun demi tahun ia lewati.
Berkeliling ke dunia sana, dunia sini. Mencari setiap hal yang bertentangan
dengan adab cinta. Hingga kini, ribuan tahun berlalu, ia memutuskan untuk
berhenti bekerja. Apakah Zeus akan marah?
Perlahan, bulir-bulir air mata
Eros berjatuhan ke rerumputan. Waktu pun berjalan kembali. Teriakan demi
teriakan, erangan, lenguhan, maupun bahasa-bahasa cinta biadab menggantung di
telinganya.
Ketika senja turun, ada seorang
gadis cantik dengan wajah murung duduk di sebelah Eros. Mereka bertatapan
sebentar. Tapi kemudian masing-masing tenggelam lagi dalam kesedihan. Rupanya
gadis itu juga tengah bersedih.
“Kehidupan kini menjadi sebuah
ilusi kebahagiaan. Apa yang mereka inginkan dariku hanyalah tubuh yang tak
seberapa ini. Lima puluh pria telah kudatangi dan berwajah sama setiap kali
kami melewati suatu ikatan. Kandas, dan mereka selalu ingin mencabik-cabik diriku.
Kapan hal ini akan berakhir? Kapan perasaan tulusnya cinta dan kasih sayang
akan memenuhi dunia kembali?”
Eros memandangi gadis itu.
Sekilas mirip dengan Psikhe. Namun, pasti bukan. Sebab Psikhe bukan tipe wanita
yang gampang mencari dan berganti-ganti pasangan. “Apa yang kaucari dalam
hubungan percintaan?”
Gadis itu justru menoleh dengan
tatapan marah, “Gara-gara kau! Kau seharusnya membiarkan manusia tumbuh dengan
cintanya sendiri. Bukan malah membantu. Yang terjadi hanya berahi demi berahi
berkuasa. Tak lagi murni dari dalam hati.”
“Oke, makanya aku di sini.”
Gadis itu kaget, “Oh, maaf.
Memangnya apa alasanmu kemari?”
“Aku mogok kerja. Dulu, aku
pernah memiliki seorang istri yang amat cantik jelita. Kami menjadi pasangan
yang amat serasi. Para dewa dan dewi terpukau ketika kami lewat. Kami menjadi
sebuah idola untuk para penghuni langit yang tengah dimabuk asmara.”
Gadis itu tertawa.
“Kenapa kau tertawa?”
“Apa istrimu seperti bayi juga?
Bagaimana bayi bisa jatuh cinta?”
“Pertanyaan yang sama. Mengapa
hingga saat ini bayi sepertiku bisa menumbuhkan rasa cinta pada umat manusia?
Tidak. Dulu aku tak seperti ini. Dulu aku tinggi, besar, semampai, juga berbulu
halus. Namun, kini aku tak lagi bisa ke langit dan bertemu dengan istriku.”
“Kenapa?”
“Aku telah kehilangan rasa
cinta.”
Gadis yang semula murung wajahnya
itu, meledak tertawa-tawa.
“Ini bukan lelucon, tahu?”
“Maaf, maaf. Apakah mungkin bagi
Dewa Asmara yang profesional sepertimu justru kehilangan rasa cinta?”
“Sudahlah, abaikan. Kau tak
menarik sama sekali.”
Eros merajuk. Tak ada gunanya
duduk bersama gadis edan itu. Ia pun memakai sayapnya kembali dan terbang
menjauhi danau. Ia ingin mencari tempat yang sekiranya sepi tanpa ada
pengganggu.
Sepanjang terbang, ia banyak
melihat orang-orang menjalani cinta hanya memakai berahi saja. Lebih condong ke
arah penyalahgunaan cinta dan kasih sayang. Perkosaan, pembunuhan, bunuh diri,
dan penculikan atas dasar cinta merebak di mana-mana. Bahkan hubungan
percintaan hanya mampu ditampilkan lewat layar kaca atau layar lebar saja.
Seakan cinta dan kasih sayang menjadi barang semu yang mustahil dimiliki.
Eros benar-benar kecewa.
Hingga bertahun-tahun, Eros
dengan tubuh bayi bersayap mungil menemukan tempat ideal untuk kesendiriannya.
Tempat itu lebih mirip reruntuhan. Mayat-mayat bergelimpangan di sana.
Darah-darah berceceran. Ia yakin, pasti baru saja terjadi pembantaian di daerah
itu.
Ketika Eros duduk di atas batu
antara puing-puing, sesuatu bergerak-gerak dari balik pasir. Matanya tertegun
sebentar menatap orang yang terkubur di sana. Ia pun membantunya agar lekas keluar.
Eros terpaku ketika wajah
berpasir di depannya diusap hingga bersih. Ia melihat tubuh seorang gadis muda
di depannya mirip sekali dengan Psikhe. Bagaimana mungkin ia melihat hal yang
sama di dunia manusia dua kali?
“Kenapa kau mengikutiku?” Eros
hendak pergi, menganggap wanita itu sama dengan sebelumnya, namun tangannya
segera ditarik oleh gadis itu dan dipeluknya erat-erat.
“Terima kasih, kenapa baru
sekarang kau datang?”
“Aku sudah berhenti kerja. Ke
sini aku niatnya mau refreshing.”
“Oh...”
Melihat gadis itu tak sanggup
berdiri, Eros membantunya berjalan menghampiri sebuah batu puing yang rata dan
pipih. Mereka duduk di sana.
“Memangnya apa yang terjadi di
sini?” tanya Eros penasaran.
“Dua negara bersengketa dan
saling menyerang.”
Eros nampak lega, karena itu di
luar tugasnya. Ia sama sekali tak ada urusan dengan dunia politik. “Apa
sebabnya?”
“Anak masing-masing pemimpin
negara jatuh cinta atas kehendaknya sendiri. Namun, kedua orang tua mereka tak
setuju. Mereka pun mengerahkan pasukan untuk saling membunuh lawan. Hingga dari
dua negara itu tak ada lagi sisa kecuali puing-puing ini.”
Hati Eros meledak-ledak. Ia tersenyum
amat puas. Akhirnya, akhirnya, ada juga yang bisa memunculkan cinta dari dalam
dada sendiri. Akhirnya setelah ribuan tahun, ia punya kesempatan untuk kembali
ke langit. Tentu saja, menemui istri tercinta. Pasti sudah lama merindukannya.
“Boleh tahu kau siapa?” tanya
Eros penasaran.
“Aku adalah Putri Psikhe yang
mencintai Pangeran Eros. Namun, kekasihku kini tak lagi ada. Ia mati dalam
pertempuran ini,” air mata gadis itu menggenang.
Sementara Eros tak tahu harus
berbuat apa. Keriangan dalam hatinya runtuh berganti pertanyaan yang absurd.
Jadi,
sebenarnya aku ini siapa?
tanyanya pada diri sendiri. [ ]
Purworejo,
2016
BIODATA:
Seto
Permada, lahir
tanggal 12 Oktober 1994 di Purworejo. Ia merupakan alumnus SMA Negeri 4
Purworejo. Beberapa karyanya bisa dijumpai dalam antologi cerpen Ritual Lapaong Astral (TJBT, 2016) dan Kota Gudik (2016).
