Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 06 Agustus 2016

CERPEN SETO PERMADA: EROS, SETELAH RIBUAN TAHUN KEMUDIAN


Bagaimana jika Eros mogok dan tak lagi melesatkan panah asmara?
Eros yang lebih dikenal sebagai Amor, tiba-tiba saja merenung di pinggir danau. Sudah ribuan tahun ia jalani hidup sendiri, membantu orang-orang dalam urusan asmara. Maka ia berkaca pada permukaan air itu, betapa wajahnya sudah tak tampan lagi. Ia baru menyadari kalau dirinya sudah bertransformasi menjadi bayi bersayap yang kehilangan cintanya sendiri.

Dengan amat putus asa, Eros melepaskan kedua sayap mungilnya. Ia melempar busur dan anak panah ke danau yang selama ini tak pernah meleset bidikannya. Dan seketika, waktu bumi berhenti berdetak. Hanya ada dirinya, juga kesunyian.
Sang Dewa Asmara itu berjalan menghampiri bangku yang tak jauh dari danau itu. Duduk dengan kaki menjuntai bersilang ujungnya. Jauh tatapannya ke arah langit. Betapa ia merindukan Psikhe, kekasih pertama dan terakhir yang amat cantik jelita. Ia rindu pada ribuan tahun lalu, ketika ibunya, Afrodit, menyuruhnya membuat Psikhe jatuh cinta pada pria buruk rupa, namun malah ia tusukkan panah asmara ke dadanya sendiri. Hingga yang jatuh cinta justru dirinya.
Afrodit marah ketika mengetahui rencananya menjadi senjata makan tuan. Pasalnya, sebagai Dewi Kecantikan, ia merasa paling dikagumi di kalangan para dewa. Ia tak mau disaingi oleh kecantikan dan keranuman Psikhe.
Afrodit tidak menyetujui hubungan mereka dan memberi beberapa tantangan pada Psikhe. Ketika menjalankan salah satu perintah Afrodit, Psikhe terkena kutukan. Eros kemudian menyelamatkan Psikhe dan mendatangi Zeus.
Hingga akhirnya, Zeus pun mengabulkan permintaan Eros dan menyatakan bahwa mereka berdua boleh hidup bersama.
Pesta pernikahan Eros dihelat besar-besaran oleh Zeus. Peristiwa itu kini membayangi dirinya. Ia rindu pada masa lalu. Ketika berjalan-jalan di taman langit bagai pasangan yang sempurna sepanjang masa. Melewati waktu hanya dengan Psikhe, istri yang paling dicintai.
Hingga suatu kali ia menerima perintah oleh Zeus untuk turun ke bumi.
“Nak, sudah saatnya kau turun ke bumi. Kau tak seharusnya terus berada di sini. Hanya membantu urusan asmara dewa-dewi bukanlah takdirmu. Itu terlalu mudah,” kata Zeus ketika Eros dan Psikhe tengah bergurau dan tertawa kecil-kecil.
“Kenapa aku harus turun ke bumi?”
“Bumi membutuhkan bantuanmu, Nak. Manusia-manusia telah kehilangan cinta dan perasaan kasih sayang. Banyak sekali keluarga yang berantakan. Banyak sekali perceraian, maupun pembunuhan. Turunlah, Nak. Turunlah....
“Bersama Psikhe?”
“Tidak, dia tetap di sini, menjaga ibumu yang sudah tua. Kau turunlah sendirian saja. Jika manusia sudah bisa merawat cintanya sendiri, baru kau bisa kembali.”
Sejak itu, Eros pun turun bersamaan dengan pelangi sehabis hujan deras. Ia terbang mengelilingi dunia. Dan memang benar, banyak sekali orang-orang yang telah kehilangan cinta. Atau tak mampu menumbuhkan perasaan cinta dan kasih sayang dalam dada mereka sendiri.
Maka, setiap kali Eros melihat adanya pembunuhan atau hal-hal yang tak manusiawi, ia pun membidikkan panah-panah asmara dan seketika dalam dada yang dipanahnya tumbuh rasa cinta dan kasih sayang.
Tahun demi tahun ia lewati. Berkeliling ke dunia sana, dunia sini. Mencari setiap hal yang bertentangan dengan adab cinta. Hingga kini, ribuan tahun berlalu, ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Apakah Zeus akan marah?
Perlahan, bulir-bulir air mata Eros berjatuhan ke rerumputan. Waktu pun berjalan kembali. Teriakan demi teriakan, erangan, lenguhan, maupun bahasa-bahasa cinta biadab menggantung di telinganya.
Ketika senja turun, ada seorang gadis cantik dengan wajah murung duduk di sebelah Eros. Mereka bertatapan sebentar. Tapi kemudian masing-masing tenggelam lagi dalam kesedihan. Rupanya gadis itu juga tengah bersedih.
“Kehidupan kini menjadi sebuah ilusi kebahagiaan. Apa yang mereka inginkan dariku hanyalah tubuh yang tak seberapa ini. Lima puluh pria telah kudatangi dan berwajah sama setiap kali kami melewati suatu ikatan. Kandas, dan mereka selalu ingin mencabik-cabik diriku. Kapan hal ini akan berakhir? Kapan perasaan tulusnya cinta dan kasih sayang akan memenuhi dunia kembali?”
Eros memandangi gadis itu. Sekilas mirip dengan Psikhe. Namun, pasti bukan. Sebab Psikhe bukan tipe wanita yang gampang mencari dan berganti-ganti pasangan. “Apa yang kaucari dalam hubungan percintaan?”
Gadis itu justru menoleh dengan tatapan marah, “Gara-gara kau! Kau seharusnya membiarkan manusia tumbuh dengan cintanya sendiri. Bukan malah membantu. Yang terjadi hanya berahi demi berahi berkuasa. Tak lagi murni dari dalam hati.”
“Oke, makanya aku di sini.”
Gadis itu kaget, “Oh, maaf. Memangnya apa alasanmu kemari?”
“Aku mogok kerja. Dulu, aku pernah memiliki seorang istri yang amat cantik jelita. Kami menjadi pasangan yang amat serasi. Para dewa dan dewi terpukau ketika kami lewat. Kami menjadi sebuah idola untuk para penghuni langit yang tengah dimabuk asmara.”
Gadis itu tertawa.
“Kenapa kau tertawa?”
“Apa istrimu seperti bayi juga? Bagaimana bayi bisa jatuh cinta?”
“Pertanyaan yang sama. Mengapa hingga saat ini bayi sepertiku bisa menumbuhkan rasa cinta pada umat manusia? Tidak. Dulu aku tak seperti ini. Dulu aku tinggi, besar, semampai, juga berbulu halus. Namun, kini aku tak lagi bisa ke langit dan bertemu dengan istriku.”
“Kenapa?”
“Aku telah kehilangan rasa cinta.”
Gadis yang semula murung wajahnya itu, meledak tertawa-tawa.
“Ini bukan lelucon, tahu?”
“Maaf, maaf. Apakah mungkin bagi Dewa Asmara yang profesional sepertimu justru kehilangan rasa cinta?”
“Sudahlah, abaikan. Kau tak menarik sama sekali.”
Eros merajuk. Tak ada gunanya duduk bersama gadis edan itu. Ia pun memakai sayapnya kembali dan terbang menjauhi danau. Ia ingin mencari tempat yang sekiranya sepi tanpa ada pengganggu.
Sepanjang terbang, ia banyak melihat orang-orang menjalani cinta hanya memakai berahi saja. Lebih condong ke arah penyalahgunaan cinta dan kasih sayang. Perkosaan, pembunuhan, bunuh diri, dan penculikan atas dasar cinta merebak di mana-mana. Bahkan hubungan percintaan hanya mampu ditampilkan lewat layar kaca atau layar lebar saja. Seakan cinta dan kasih sayang menjadi barang semu yang mustahil dimiliki.
Eros benar-benar kecewa.
Hingga bertahun-tahun, Eros dengan tubuh bayi bersayap mungil menemukan tempat ideal untuk kesendiriannya. Tempat itu lebih mirip reruntuhan. Mayat-mayat bergelimpangan di sana. Darah-darah berceceran. Ia yakin, pasti baru saja terjadi pembantaian di daerah itu.
Ketika Eros duduk di atas batu antara puing-puing, sesuatu bergerak-gerak dari balik pasir. Matanya tertegun sebentar menatap orang yang terkubur di sana. Ia pun membantunya agar lekas keluar.
Eros terpaku ketika wajah berpasir di depannya diusap hingga bersih. Ia melihat tubuh seorang gadis muda di depannya mirip sekali dengan Psikhe. Bagaimana mungkin ia melihat hal yang sama di dunia manusia dua kali?
“Kenapa kau mengikutiku?” Eros hendak pergi, menganggap wanita itu sama dengan sebelumnya, namun tangannya segera ditarik oleh gadis itu dan dipeluknya erat-erat.
“Terima kasih, kenapa baru sekarang kau datang?”
“Aku sudah berhenti kerja. Ke sini aku niatnya mau refreshing.
“Oh...”
Melihat gadis itu tak sanggup berdiri, Eros membantunya berjalan menghampiri sebuah batu puing yang rata dan pipih. Mereka duduk di sana.
“Memangnya apa yang terjadi di sini?” tanya Eros penasaran.
“Dua negara bersengketa dan saling menyerang.”
Eros nampak lega, karena itu di luar tugasnya. Ia sama sekali tak ada urusan dengan dunia politik. “Apa sebabnya?”
“Anak masing-masing pemimpin negara jatuh cinta atas kehendaknya sendiri. Namun, kedua orang tua mereka tak setuju. Mereka pun mengerahkan pasukan untuk saling membunuh lawan. Hingga dari dua negara itu tak ada lagi sisa kecuali puing-puing ini.”
Hati Eros meledak-ledak. Ia tersenyum amat puas. Akhirnya, akhirnya, ada juga yang bisa memunculkan cinta dari dalam dada sendiri. Akhirnya setelah ribuan tahun, ia punya kesempatan untuk kembali ke langit. Tentu saja, menemui istri tercinta. Pasti sudah lama merindukannya.
“Boleh tahu kau siapa?” tanya Eros penasaran.
“Aku adalah Putri Psikhe yang mencintai Pangeran Eros. Namun, kekasihku kini tak lagi ada. Ia mati dalam pertempuran ini,” air mata gadis itu menggenang.
Sementara Eros tak tahu harus berbuat apa. Keriangan dalam hatinya runtuh berganti pertanyaan yang absurd.
Jadi, sebenarnya aku ini siapa? tanyanya pada diri sendiri. [ ]


Purworejo, 2016




BIODATA:
Seto Permada, lahir tanggal 12 Oktober 1994 di Purworejo. Ia merupakan alumnus SMA Negeri 4 Purworejo. Beberapa karyanya bisa dijumpai dalam antologi cerpen Ritual Lapaong Astral (TJBT, 2016) dan Kota Gudik (2016).




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter