“Va,
cepat! Sudah ditunggu mbak Dian!” Wajah Tiwi menyembul dari balik pintu,
kemudian menghilang. Proposal belum siap juga nih. Lagi padat banget.
“Va,
cepetan dong! Tinggal nunggu anti aja nih.” Wajah Tiwi kembali muncul. Kali ini
tidak langsung menghilang. Wajah imut itu masih menunggu reaksiku. Cerewet banget, pikirku.
Akhirnya,
Ctrl + S. Yup, nanti aja deh diterusin. Aku berdiri dari kursi. Kulihat wajah
Tiwi berubah menjadi cerah, kemudian menghilang.
Aku
melangkah menuju ruang pertemuan. Benar kata Tiwi, tinggal aku yang ditunggu.
Baru aku duduk, mbak Dian segera memberiku isyarat untuk segera memulai acara
rapat akhir untuk seminar “Pernikahan Dini A la Dini” besok lusa.
Aku
benar-benar tidak bisa konsen mengikuti rapat ini. Pikiranku terpecah-pecah.
Sudah dua malam aku begadang. Banyak sekali yang harus aku handle. Bahkan tadi pagi aku harus pergi tanpa mandi dan sarapan.
Riesta, adiku semata wayang, menatapku dengan aneh.
“Jadi
begitu ya, semua sudah tahu abstraksi apa-apa yang harus kerjakan besok.” Mbak
Dian telah menjelaskan segela sesuatu kepada seluruh panitia, kemudian
memberiku isyarat agar segera menutup rapat.
“Va,
jadi anti besok ngapain dong?”
“Nggak
tahu. Entar aja aku tanya lagi sama mbak Dian.” Aku segera mengambil langkah,
ingat proyek proposalku buat audiensi sama pak Menteri. Kutinggalkan Tiwi yang
sedang bingung. Mmmh, pak Menteri sih datangnya nggak bilang-bilang. Tahu-tahu
sudah di depan mata. Padahal dari kemarin aku nggak bisa istirahat sedikitpun.
Suasana
sudah sepi. Para akhwat sudah pulang dari tadi. Mbak Dian baru pulang setelah
mamanya berkali-kali nelpon. Dengan berat hati mbak Dian pulang duluan. Tinggal
aku sendiri.
Kutengok
Alba-ku. Astaghfirullah, jam 11
malam. Aku bakal telat banget nih. Untung selesai juga akhirnya.
* * *
Rumah
sepi. Ada mama di depan TV, ngemil kacang goreng. Kusalami dan kucium punggung
tangan beliau.
“Va,
kok telat?”
“Proposalnya
baru beres, Ma. Besok pagi sekali sudah harus oke.”
“Kan
bisa dikerjakan di rumah,” tembak mama tanpa menatapku. Matanya masih tertuju
ke TV.
Aku
hanya diam. Tadi tanggung banget sih.
“Makan
dulu, Va,” mama mengingatkanku.
Ya
Tuhan, dari tadi pagi perutku belum terisi apa-apa. Pantes bawaannya lemes
seharian. Aku pun makan sekadarnnya. Nggak selera. Capek banget. Mama hanya
geleng-geleng. Kugantung baju. Mmmm… kok baunya aneh ya? Sekali lagi kucium
badanku sendiri. Kecut. Mau mandi takut masuk angin. Ah, besok pagi aja.
Setelah
sikat gigi dan wudhu aku pun tidur. Rasanya lega sekali bisa rebahan di kasur.
Indahnya dunia.
“Mbak
Vara!! Telpon, Mbak!!!” teriak Riesta nyaring dari luar kamarku. Siapa sih,
pagi-pagi begini sudah nelpon? Nggak tahu orang lagi tidur.
“Hallooo…”
Aku ber-ooo panjang, masih merem soalnya.
“Bla… Bla… Bla… Pokonya cepetan ya, Va!” suara wibawa mbak Dian baru
tertangkap di telingaku.
“Emang
sekarang jam berapa sih, Mbak?”
“Lho??
Sekarang jam 8, Va. Jangan lupa sarapan ya…”
Jam 8?
Gawat! Padahal janjinya jam setengah 9. Kacau nih. Habis subuh tadi sih,
niatnya mau tiduran sebentar aja, eh, malah keterusan. Persis seperti kejadian
kemarin. Aku pergi tanpa sarapan. Tanpa mandi. Tapi, pakai deodorant lho…
Lagi-lagi
kudapati tatapan aneh Riesta.
* * *
“Mbak,
pokoknya Ries nggak suka mbak Vara temenan sama mbak yang namanya Dian dan Tiwi
itu. Ries nggak rela. Hiks… Hiks…”
Lho?
Ada apa ini? Kok Riesta sampai nangis begitu. Pasti ada yang salah. Padahal
mbak Dian dan Tiwi itu baik banget. Cerdas, berpengetahuan luas, ramah pokoknya
deh…
“Emang
kenapa? Kan mereka baik dan shalehah.”
“Pokoknya
nggak mau!” Riesta masih cemburut.
Aku
tak mengeti ada apa sebenanya. Semenjak aku mengubah penampilanku dengan jilbab
yang lebih lebar, Riesta jadi aneh terhadapku.
“Coba,
jangan nggak mau begitu. Beri alasan
dong, biar mbak nggak bingung. Lagian Riesta kan belum pernah kenalan sama
mereka,” kataku lembut.
“Sebenarnya
dari mbak pakai jilbab yang begini Riesta sudah khawatir sama mbak Vara. Mbak
Vara jadi jorok!”
“Jorok?
Jorok gimana?”Aku semakin bingung. Apa hubungannya dengan jilbab yang gedean?
“Mbak
Vara jadi bau apek, jarang mandi. Pertama sih, Ries pikir nggak semua yang
jilbaber seperti Icha, tapi kenyataannya sampai mbak Vara yang Ries nilai
sangat bersih dan modis berubah 90 derajat.”
Hah?!
Aku kaget campur geli. Jadi itu yang membuat Riesta berubah akhir-akhir ini.
Hemmm….
“Riesta,
sebenarnya masalahnya bukan jilbab, tapi emang akhir-akhir ini mbak lagi padat
banget. Lagian baru kemarin ama kemarin lusa kan? Coba cium mbak Vara sekarang,
meski kemarin nggak mandi, juga nggak kecut. Mbak kan pakai deodorant.”
“Idih!
Nggak mandi kemarin dan kemarin lusa dibilang baru. Pokoknya mbak nggak boleh
pakai jilbab-jilbab gede itu lagi. Riesta nggak mau!”
“Lho?
Sini, mbak udah mandi, lagi. Sini cium baunya, apek apa wangi?” tantangku.
Lempar-lemparan
bantal pun terjadi.
* * *
Ucrit?
Apa tuh? Istilah ini aku dapat dari Riesta. Istilah ini yang dilabelkan Riesta
dan teman SMU Muda Harapan-nya kepada para akhwat yang sering ngumpul bareng,
membentuk suatu kelompok, sehingga terkesan seperti punya dunia sendiri.
Ekslusif.
Ukhuwah
emang indah. Jadi, salahkah jika kita menikmatinya?
Ketidaksukaan
Riesta sebenarnya berangkat dari masalah sepele. Tapi kadang bisa menjadi biang
masalah. Ya, seperti sekarang ini. Riesta sudah terlanjut mengimajinasikan
bahwa para akhwat itu identik dengan baju yang kedombrongan, eksklusif, dan lagi,
bau apek.
Masa
sih? Aku juga nggak percaya kok bisa timbul imej seperti itu? Cerita punya
cerita, ternyata selama ini Riesta sering berinteraksi dengan para akhwat yang
kebetulan seperti itu.
“Pertama,
si Icha, terus Siti yang kemarin pernah ke sini. Teman Ries di les Primagama,
si Indah, juga apek. Kemarin waktu bulan Ramadhan Pe Ka Er-nya juga diisi sama
kakak-kakak yang rata-rata bau apek. Siapa coba yang nggak apek? Cuma mbak Vara
aja yang Ries liat bersih. Ini juga udah mulai ikut-ikutan kayak mereka,” kata
Riesta tersungut-sungut.
Aku
tersenyum. Bayanganku langsung tertuju pada Putri Pertiwi alias Tiwi yang super
bersih. Wajar, bokap nyokapnya dokter. Pokoknya steril banget deh tu anak.
Perlu penyegaran opini nih. Bisa gawat kalau rata-rata remaja Islam sampai
punya pandangan seperti Riesta. Mmm… Riesta harus melihat sekretarisku. Paling
tidak, Riesta harus bertemu Tiwi.
“Ya
Allah… Jadi begitu, Va?!” mbak Dian sampai terkaget-kaget mendengar cerita yang
kusampaikan ketika kami kebetulan sedang ngumpul bertiga di sekretariat.
“Eh,
kita termasuk kategori Ucrit nggak ya?” ungkap Tiwi, ada-ada aja.
“Kita?
Anti aja kali, Wi,” ledekku. Tiwi cemberut.
“Kalau
bau, berarti termasuk Ucrit, Wi. He….” mbak Dian ikut-ikutan meledek. Tiwi
memajukan bibirnya. Lucu. Wajah imutnya semakin imut saja. Kami pun tertawa.
* * *
“Makan
siang, ayam bakar di Citro Roso, ya.”
“Sip!”
kataku sambil terus nyetir. Apapun aku lakukan demi Riesta, agar mau ikut acara
kajian mingguan kali ini. Pokoknya Riesta harus tahu bahwa Ucrit apek adalah
suatu opini yang salah kaprah. Akhwat apek? Enak aja!
“Riesta
ya?” mbak Dian menyambut kedatangan kami. Gamis ungunya tampak serasi dipadu
jilbab lebar berenda dengan warna senada. Dinamis dan sportif.
“Iya,
Mbak. Mbak siapa?” tanya Riesta balik.
“Dian.”
Mbak Dian tersenyum manis. Gigi Pepsodent-nya menebar pesona. Cling! Putih mengkilap. Gigi lebih
putih, gusi lebih sehat, nafas segar meyakinkan. Lho???
“Ooo….”
Riesta sedikit manggut-manggut. Tuh kan, mbak Dian rapi dan bersih. Aku
tersenyum penuh kemenangan. Akhwat lho…
Mataku
mencari-cari wajah imut Tiwi. Jurus
andalan nih, pikirku. Tapi, kok nggak muncul-muncul juga itu anak. Jangan
sampai Tiwi nggak datang. Sudah bela-belain janji traktir Riesta nih. Mana
hobinya pakai acara take away segala
lagi.
“Mbak,
Tiwi udah datang ya?” tanyaku sedikit gelisah.
“Mbak
juga lagi nungguin Tiwi. Katanya sih, akan datang terlambat, karena sepupunya
yang dari Semarang datang.”
Setelah
semua berkumpul, acara kajian dimulai. Semua khusuk mendengar penuturan sang presentator.
Aku
makin gelisah menunggu-nunggu kedatangan Tiwi.
“Assalamu’alikum…”
“Wa’alaikumsalam,” jawab kami serempak.
Tiwi
muncul. Tapi wajahnya tidak sumringah seperti biasanya. Di sampingnya ada gadis
yang juga berjilbab lebar. Tiwi langsung duduk di dekatku. Gadis itu duduk
bersebelahan dengan Riesta.
Ndus… Ndus… Hidungku mencium bau aneh. Apa ya? Seperti bau kaos kaki.
Keundus-undus lagi. Hah, bau apek! Seketika aku mengkhawatirkan Riesta.
“Ucrit,
Va,” bisik Tiwi di sampingku.
Mataku
langsung tertuju pada Riesta yang tampak setengah mati menahan bau. Jadi???
BIODATA:
Lu’lu’il
Latifah, adalah
mahasiswi Al-Azhar Coiro angkatan tahun 2010. Cerpen ini sudah pernah dimuat pada
edisi cetak Read Zone bulan Maret 2008
