MERINDUKAN
RUMAH
Sulit
untuk beranjak berdiri sebab masih berangan
Kenyamanan
ini seperti mimpi
Bahkan
tak ingin bangun dari mimpi
Suasana
yang begitu menenangkan
Kelembutan
kasur yang kurebahi
Seolah
berbaring di awan yang begitu lembut
Seketika
mata ku terbelalak seolah tak menerima
Tak
menerima kenyataan yang ada
Aku harus
pergi
Pergi
untuk kasur yang menanti ku dikejauhan sana
Namun
tak senyaman kasur di rumah
Aku
sangat ingin berlama-lama disini
Namun
kewajibanku yang mengharuskanku
Mengharuskan
ku untuk pergi dan akan kembali dalam waktu yang lama
Seolah
tak ingin melewatkan kenyamanan ini
Sejenak
ku pejamkan mata dan menghayal kembali
Meski
sebentar aku tetap menikmatinya
Menikmati
kenyamanan rumah
Menikmati
kasur ku di kamar
Menikmati
masakan rumah
Menikmati
tawa-canda bersama adik-adikku
Ooohhh
kenyamanan itu tak terbalaskan
Tak
terbalaskan oleh kesendirian ku dikejauhan sana
Namun
aku yakin bahwa aku akan kembali menikmatinya
Walau
dalam waktu yang begitu lama
Puisi II
DIA
IBUMU
Dia
genggam erat bantal dan ia tahan teriakan yang menyakitkan
hingga
peluhnya menetes bagai hujan di pagi hari
Dia
bertarung melawan mati dengan kelembutan hati,
senyumnya
tiada henti saat ia dengar suara tangis kecil yang keluar
dari
pintu berharga yang ia miliki
Tidak
hanya sampai di situ
Dia
kembali berjuang dengan memberikan air surga yang tiada bandingnya
putih
lekat menyegarkan dahaga yang kau rasakan
Dia
kembali bangkit dari tidur yang kurang lelap
hanya
untuk memberikanmu rasa saat kau merengek-rengek dalam malam
Dia
kembali menanti kehadiranmu
saat
kau pergi bermain dan hampir lupa untuk pulang
Dia
kembali memelukmu dan menghapus air
matamu
saat
kau dalam masalah rumit yang membuatmu di ambang keputus asaan
Dia kembali
untuk mencerahkan hatimu memeberikanmu ilmu
dan
mendidikmu agar kau lebih pintar darinya
Dia
kembali memberikan segalanya hanya untuk melihat senyummu
meski
dia harus menangis dibelakangmu
Dialah
ibumu….
Dia
yang melahirkanmu dan membesarkanmu dengan kasih sayangnya
Banjarmasin,
24 mei 2016
Puisi III
JERITAN MALAM
Malam bertabur bintang dengan
cahaya kemerlap yang menghiasi langit di keramaian kota
Gadis itu duduk dipinggiran lampu taman yang memancarkan aura cantiknya
Dia berlari dari bilik yang membuatnya merasakan sempit
Helaan nafas panjang menyertainya
Dia ingin keluar dari rasa sakit yang membuatnya selalu menjerit sepanjang malam
Bahkan kumbang yang selalu menemaninya telah pergi
sebab kumbang hanya akan menghisap madunya
Gadis itu duduk dipinggiran lampu taman yang memancarkan aura cantiknya
Dia berlari dari bilik yang membuatnya merasakan sempit
Helaan nafas panjang menyertainya
Dia ingin keluar dari rasa sakit yang membuatnya selalu menjerit sepanjang malam
Bahkan kumbang yang selalu menemaninya telah pergi
sebab kumbang hanya akan menghisap madunya
dan akan pergi setelah
merasa kenikmatan sesaat
Takkan ada pertolongan untuk sang bunga
Sebab bunga yang telah layu ingin selalu pergi jauh dari keramaian yang membuatnya terpuruk dalam hiruk pikuk kota "hanjama"
Saat ini jeritannya takkan pernah terhenti sampai ia menemukan jawaban atas kepastian.
Takkan ada pertolongan untuk sang bunga
Sebab bunga yang telah layu ingin selalu pergi jauh dari keramaian yang membuatnya terpuruk dalam hiruk pikuk kota "hanjama"
Saat ini jeritannya takkan pernah terhenti sampai ia menemukan jawaban atas kepastian.
Banjarmasin 11 juli 2016
BIODATA
ALMUNA, seorang mahasisiwi
di IAIN Antasari Banjarmasin semester 4, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan
Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Lahir di Puruk cahu 30 januari 1996. Tinggal
di Marabahan, alamat sekarang di pal 4,5 gang permata kelurahan pemurus luar
kec.banjarmasin timur. Saya seorang pencinta seni, saat ini saya menjabat
sebagai kabid Pengembangan Ilmiah dan Intelektual (PII) disebuah organisasi
Sanggar At-ta’dib yang ada di IAIN Antasari Banjarmasin.

