Pages

Ads 468x60px

Jumat, 12 Agustus 2016

PUISI ALMUNA: RINDU RUMAH


Puisi I
MERINDUKAN RUMAH

Sulit untuk beranjak berdiri sebab masih berangan
Kenyamanan ini seperti mimpi
Bahkan tak ingin bangun dari mimpi
Suasana yang begitu menenangkan
Kelembutan kasur yang kurebahi
Seolah berbaring di awan yang begitu lembut
Seketika mata ku terbelalak seolah tak menerima
Tak menerima kenyataan yang ada
Aku harus pergi
Pergi untuk kasur yang menanti ku dikejauhan sana
Namun tak senyaman kasur di rumah
Aku sangat ingin berlama-lama disini
Namun kewajibanku yang mengharuskanku
Mengharuskan ku untuk pergi dan akan kembali dalam waktu yang lama
Seolah tak ingin melewatkan kenyamanan ini
Sejenak ku pejamkan mata dan menghayal kembali
Meski sebentar aku tetap menikmatinya
Menikmati kenyamanan rumah
Menikmati kasur ku di kamar
Menikmati masakan rumah
Menikmati tawa-canda bersama adik-adikku
Ooohhh kenyamanan itu tak terbalaskan
Tak terbalaskan oleh kesendirian ku dikejauhan sana
Namun aku yakin bahwa aku akan kembali menikmatinya
Walau dalam waktu yang begitu lama




Puisi II
DIA IBUMU

Dia genggam erat bantal dan ia tahan teriakan yang menyakitkan
hingga peluhnya menetes bagai hujan di pagi hari

Dia bertarung melawan mati dengan kelembutan hati,
senyumnya tiada henti saat ia dengar suara tangis kecil yang keluar
dari pintu berharga yang ia miliki
Tidak hanya sampai di situ

Dia kembali berjuang dengan memberikan air surga yang tiada bandingnya
putih lekat menyegarkan dahaga yang kau rasakan

Dia kembali bangkit dari tidur yang kurang lelap
hanya untuk memberikanmu rasa saat kau merengek-rengek dalam malam

Dia kembali menanti kehadiranmu
saat kau pergi bermain dan hampir lupa untuk pulang

Dia kembali  memelukmu dan menghapus air matamu
saat kau dalam masalah rumit yang membuatmu di ambang keputus asaan

Dia kembali untuk mencerahkan hatimu memeberikanmu ilmu
dan mendidikmu agar kau lebih pintar darinya

Dia kembali memberikan segalanya hanya untuk melihat senyummu
meski dia  harus menangis dibelakangmu

Dialah ibumu….
Dia yang melahirkanmu dan membesarkanmu dengan kasih sayangnya


Banjarmasin, 24 mei 2016




Puisi III
JERITAN MALAM

Malam bertabur bintang dengan cahaya kemerlap yang menghiasi langit di keramaian kota
Gadis itu duduk dipinggiran lampu taman yang memancarkan aura cantiknya
Dia berlari dari bilik yang membuatnya merasakan sempit
Helaan nafas panjang menyertainya
Dia ingin keluar dari rasa sakit yang membuatnya selalu menjerit sepanjang malam
Bahkan kumbang yang selalu menemaninya telah pergi
sebab kumbang hanya akan menghisap madunya
dan akan pergi setelah merasa kenikmatan sesaat
Takkan ada pertolongan untuk sang bunga
Sebab bunga yang telah layu ingin selalu pergi jauh dari keramaian yang membuatnya terpuruk dalam hiruk pikuk kota "hanjama"
Saat ini jeritannya takkan pernah terhenti sampai ia menemukan jawaban atas kepastian.


Banjarmasin 11 juli 2016




BIODATA
ALMUNA, seorang mahasisiwi di IAIN Antasari Banjarmasin semester 4, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Lahir di Puruk cahu 30 januari 1996. Tinggal di Marabahan, alamat sekarang di pal 4,5 gang permata kelurahan pemurus luar kec.banjarmasin timur. Saya seorang pencinta seni, saat ini saya menjabat sebagai kabid Pengembangan Ilmiah dan Intelektual (PII) disebuah organisasi Sanggar At-ta’dib yang ada di IAIN Antasari Banjarmasin.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter