Pages

Ads 468x60px

Selasa, 20 September 2016

KAK IAN: PENULIS OTODIDAK VS PENULIS AKADEMISI


Penulis otodidak : tanpa bakat pun bisa!
"Aku ingin memberitahu dunia satu kata saja. Karena tidak bisa melakukannya, aku menjadi penulis." (Stanislaw Lee)

Sekarang menjadi penulis tidak perlu khawatir apalagi resah-gelisah. Khawatir tidak bisa menulis dengan baik dan benar sesuai EyD (Ejaan yang Disempurnakan). Resah-gelisah tidak punya bakat.
Don’t worry guys! Bagi saya itu semua nothing! Toh, saya berkecimpung di dunia tulis-menulis dan literasi cukup lama. Awalnya juga menulis tidak bisa dengan baik dan benar. Serta tidak punya bakat. Tapi, karena sejak SMP saya suka memiliki hobi membaca dan menyukai pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, maka akhirnya bisa dengan sendirinya. Saat mendapat kesulitan, saya akan bertanya kepada siapa saja yang dapat membantu, baik itu guru, teman, kaka atau bahkan tetangga. 
Ya, saat itu saya belum mampu menulis dengan baik dan benar sesuai EyD. Apalagi memiliki dan mempunyai bakat. Lha, wong keluarga saya yang laki-laki semua menyukai mekanik. Hanya saya saja yang “tersesat” berkecimpung di dunia—yang menurut stereotip masyarakat dunia madesu. Alias, masa depan suram. Begitulah realitanya dunia, yaitu mengatakan bahwa seseorang tidak akan pernah kaya terkecuali dengan mempunyai pekerjaan tetap. Tetapi, adanya ilmu serta wawasan untuk beramal jariyah melalui dakwah dengan tulisan juga merupakan sebuah kekayaan.
Tetapi karena saya bersungguh-sungguh ingin mendalami bagaimana menulis yang baik dan benar serta sesuai EyD, saya pun membeli buku-buku how-to cara penulisan fiksi dan non fiksi di toko buku. Hampir setiap pelatihan dan workshop penulisan yang ada pun selalu saya ikuti. Semua ini saya lakukan agar keahlian menulsi saya semakin bagus dan meningkat.

Menulis (memang) mudah tapi tak gampang!
Memang sebagian kalangan mengatakan menulis itu mudah. Tetapi menurut saya, anggapan semacam itu merupakan anggapan sombong dan juga takabur. Betapa tidak, toh ternyata menulis itu tak semudah yang dibayangkan sebelumnya. Tidak seperti membalikkan telapak tangan, menulis perlu pembelajaran yang panjang!
Ya, bukan sekali berucap; adakadabra atau alakazam! Lalu langsung jadi. Bukan semudah itu! Bahkan perlu "berdarah-darah" untuk menghasilkan tulisan yang baik dan benar sesuai EyD agar menjadi sebuah tulisan yang bermutu dan berkualitas.
Sebaliknya, ada pula sebagian kalangan lain yang mengatakan menulis itu sulit. Sesulit memindahkan Monas (Monumen Nasional) dan gedung-gedung pencakar langit. Hanya keajaiban yang dapat mewujudkannya.
Ternyata anggapan itu tak lebih dari sekedar suara orang pesimis. Orang yang kalah sebelum perang. Sebab, sebagai penulis harus pantang menyerah. Pantang dibully. Sebab orang-orang yang dibully merupakan orang-orang yang unggul dan pintar, serta ngetop-ngepop duluan hingga jadi sasaran empuk bagi pembully. Karena para pembully tidak ingin yang dibully lebih unggul dan pintar serta ngetop-ngepop melebihi dirinya.
Maka dari itu, jika Anda ingin benar-benar menjadi penulis, maka harus pantang mutung dan bersifat sensitif, alias ambegan! Sebab, jika ditekuni benar-benar menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikkan lho!
Tidak percaya?
Di sana Anda akan menumpahkan segala ide/gagasan yang mengalir deras dari isi batok kepala dan hati. Biarkan saja mengalir seadanya, tumpahkan saja, tanpa ada larangan atau dilarang dari pihak mana pun. Lagi pula, menulis itu bagi saya tidak butuh bakat. Tetapi ketekunan dan kemauan besar mau belajar. Itu yang saya lakukan hingga sekarang. Saya menjadi penulis karena otodidak, bukan dari kalangan akademisi bahkan tanpa di bangku kuliah mengambil jurusan Sastra-Budaya Indonesia. Tidak sama sekali. Trust me! Okay!

Menjadi penulis itu tidak terikat dan tidak memandang siapa pun.
Sebab, penulis adalah orang yang bebas. Tak terikat dengan apa pun. Baik waktu, masa maupun ruang. Di mana pun bisa Anda jadikan tempat menulis. Toh, seorang Andrea Hirata bisa menulis tetralogi Laskar Pelangi—yang sudah dilayar lebarkan dari empat novel yang sudah ditulisnya. Gaya menulisnya begitu realis yang bertabur metafora. Begitu pula penyair Sapardi Djoko Damono yang menulis dengan gaya metafora yang berani, tak biasa, tak diduga, kadang kala ngawur tetapi sangat memikat.
Tapi bagaimana dengan penulis muda (pemula), alias newbi? Tidak bisa menulis dengan baik dan benar. Serta tidak memiliki bakat? Sudah saya katakan sejak tidak usah khawatir dan resah-gelisah!
Anda tidak percaya lagi?
Mungkin Anda lebih baik mendengar kata-kata motivasi dari penulis buku best seller berjudul “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” di bawah ini;
“Tidak ada resep yang lebih baik untuk menjadi seorang penulis, kecuali dengan menulis sekarang juga. Apapun jadinya, buatlah tulisan secara spontan. Kalau memang harus melompat-lompat. Boleh jadi akan menjadi lompatan yang indah. Tulislah sekarang juga! Apa pun yang terlintas dalam pikiran. Jangan menoleh ke belakang sebelum selesai satu tulisan. Jangan sibuk memperbaiki kalau tulisan belum selesai. Revisi itu setelah jadi.
Kalau sudah begitu tidak ada alasan karena tidak bisa menulis dengan baik dan benar sesuai EyD, apalagi harus memiliki bakat dulu. Melalui otodidak pun bisa, asalkan sering belajar dengan tekun. Ibarat pepatah “separang apapun kalau diasah akan tajam”.

Penulis akademisi: tidak selalu dengan background yang sama
“Aku ingin memberitahukan dunia satu kata saja. Karena tidak bisa melakukannya, aku menjadi penulis."(Stanislaw Lee)
Anda kenal dengan Goenawan Mohamad? Penulis dengan “Catatan Pinggir”, esei pendeknya tiap minggu di  Majalah Tempo. Tentu Anda familiarkan dengan dengan nama tersebut?
Saya yakin Anda pasti mengenalnya. Halnya saya!
Seorang penulis Indonesia kesohor ini ternyata lulusan psikologi di Universitas Indonesia (UI), setelah itu belajar ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Ternyata beliau penulis akedemisi yang tidak sesuai background (baca: disiplin ilmu) sebagai penulis. Lelaki yang berkelahiran 29 Juli 1941 inilah bukan dari akedemisi jurnalistik atau sastra-budaya Indonesia. Itulah keunikan beliau sebagai seorang penulis.
Berbeda dengan Ahmad Fuadi, penulis best seller, penulis novel Negeri 5 Menara. Memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, setelah lulus menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University.
Setelah itu merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya yang juga wartawan Tempo. Adalah mimpi masa kecil beliau yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden Tempo dan wartawan VOA. Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September 2001 dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Jadi, kalau seorang Ahmad Fuadi jago dan pandai menulis serta lihai meramu dan mengolah kata tidaklah mengagetkan, bukan. Dikarenakan beliau penulis dari kalangan akademisi. Tetapi, walau beliau dari background yang sama toh ia juga masih tetap belajar dan belajar.

Semua satu tujuan…
Mengajarkan ilmu kepada orang yang belum mengetahuinya adalah shadaqah…” (HR. Ibnu Abdil Barr)
Memang tidaklah menutup kemungkinan jika ada penulis yang realitis dan matrelitis. Mereka menjadikan profesi ini sebagai tumpuan keluarga dan mata pencahariannya. Kegiatan menulis semata-mata hanya ditujukan untuk mengejar honorarium maupun royalti saja. Ia tidak mau disia-siakan. Apapun itu, semuanya harus dijadikan uang dalam menulis. Ini merupakan sesuatu yang begitu ironi dan sangat disayangkan.
Sesungguhnya penulis itu adalah ia yang menulis karena panggilan hati dan bukan karena rupiah saja. Sebab, sejatinya menulis yang baik itu timbul dari keinginan diri sendiri dan tanpa paksaan  serta dikontemplasikan kepada pembaca dalam kehidupan sehari-hari.
Andrea Hirata saja menulis dengan hati. Sehingga, novel pertamanya Laskar Pelangi (setidaknya untuk novel pertama saja) yang mega best seller itu berhasil memikat pembaca. Karena novel Laskar Pelangi beliau dedikasikasikan khusus pada gurunya, Bu Mus. Sedangkan Sang Pemimpi dan Edensor, agaknya mulai “tercampuri” market oriented. Sedangkan untuk novel Maryamah Karpov, novel terakhir tetralogi ini lebih terlihat lebih kental “selera pasar” ketimbang menjunjung tinggi idealisme.
Kalau saya? Hmm, menulis bukan karena rupiah! Jika saya lakukan seperti itu, maka sudah lebih sepuluh tahun saya akan menggantung pena. Kalau niat saya menulis hanya mengejar rupiah dan rupiah, maka hilanglah ketulusan dan kebanggan yang ditimbulkan oleh menulis itu dari dalam diri.
Apa yang saya tulis tentu akan kering, tidak ada nyawa. Saya seperti gagal menyuguhkan manfaat bagi setiap orang yang membaca tulisan saya. Maka dari itu, saya sudah menetapkan niat dan tujuan dalam menulis! Yaitu sharing dan connecting. Bukankah sangat mulia sekali, bukan!
Karena itulah jika saya menyarankan kepada Anda, sebelum menulis tancapkan dulu niat dan tujuannya. Untuk apa Anda menulis sesungguhnya! Itu yang Anda harus lakukan.
Sebab, tujuan menulis itu sama! Ia menulis untuk diri sendiri dan juga dikontemplasikan kepada pembaca dalam kehidupan sehari-hari serta bermanfaat dan berguna pada orang lain. Entah untuk penulis otodidak maupun penulis akademisi. Semua sama satu tujuan, tidak ada pembedaan.
Ternyata menilai dan melihat penulis itu bukan hanya dari mana ia berasal maupun dari kalangan apa. Entah, dari kalangan penulis otodidak atau penulis akademisi. Tetapi, untuk apa menulis! Menginspirasikan orang banyak atau tidak. Apalagi bisa dikontemplasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik bagi penulis maupun pembacanya. Sungguh benar-benar penulis yang berpikiran luas dan mulia.
Maukah Anda menulis seperti itu? Tanpa melihat “status” dari kalangan penulis apa? Yuk, semangat menulis lagi tanpa melihat background darimana Anda berasal.[ ]

Jkt, 22 Agustus 2016. Edisi revisi, seperlunya


Biodata Penulis
Kak Ian, bekerja sebagai pengajar Jurnalistik tingkat sekolah dan bergiat di komunitas Pembatas Buku Jakata. Sekarang berdomisili di Jakarta. Cerpen, cernak, puisi dan artikelnya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional. Beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen, cerita anak, artikel/opini dan puisi.





Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter