Penulis
otodidak : tanpa bakat pun bisa!
"Aku ingin memberitahu dunia satu kata
saja. Karena tidak bisa melakukannya, aku menjadi penulis." (Stanislaw
Lee)
Sekarang menjadi penulis tidak perlu
khawatir apalagi resah-gelisah. Khawatir tidak bisa menulis dengan baik dan
benar sesuai EyD (Ejaan yang Disempurnakan). Resah-gelisah tidak punya
bakat.
Don’t worry
guys! Bagi saya itu semua nothing! Toh, saya berkecimpung di
dunia tulis-menulis dan literasi cukup lama. Awalnya juga menulis tidak bisa
dengan baik dan benar. Serta tidak punya bakat. Tapi, karena sejak SMP saya suka
memiliki hobi membaca dan menyukai pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, maka
akhirnya bisa dengan sendirinya. Saat mendapat kesulitan, saya akan bertanya
kepada siapa saja yang dapat membantu, baik itu guru, teman, kaka atau bahkan
tetangga.
Ya, saat itu saya belum mampu menulis dengan
baik dan benar sesuai EyD. Apalagi memiliki dan mempunyai bakat. Lha,
wong keluarga saya yang laki-laki semua menyukai mekanik. Hanya saya saja yang
“tersesat” berkecimpung di dunia—yang menurut stereotip masyarakat dunia madesu.
Alias, masa depan suram. Begitulah realitanya dunia, yaitu mengatakan bahwa
seseorang tidak akan pernah kaya terkecuali dengan mempunyai pekerjaan tetap.
Tetapi, adanya ilmu serta wawasan untuk beramal jariyah melalui dakwah dengan
tulisan juga merupakan sebuah kekayaan.
Tetapi karena saya bersungguh-sungguh ingin
mendalami bagaimana menulis yang baik dan benar serta sesuai EyD, saya pun
membeli buku-buku how-to cara penulisan fiksi dan non fiksi di toko
buku. Hampir setiap pelatihan dan workshop penulisan yang ada pun selalu saya
ikuti. Semua ini saya lakukan agar keahlian menulsi saya semakin bagus dan meningkat.
Menulis
(memang) mudah tapi tak gampang!
Memang sebagian kalangan mengatakan menulis
itu mudah. Tetapi menurut saya, anggapan semacam itu merupakan anggapan sombong
dan juga takabur. Betapa tidak, toh ternyata menulis itu tak semudah yang dibayangkan
sebelumnya. Tidak seperti membalikkan telapak tangan, menulis perlu
pembelajaran yang panjang!
Ya, bukan sekali berucap; adakadabra
atau alakazam! Lalu langsung jadi. Bukan semudah itu! Bahkan perlu
"berdarah-darah" untuk menghasilkan tulisan yang baik dan benar sesuai
EyD agar menjadi sebuah tulisan yang bermutu dan berkualitas.
Sebaliknya, ada pula sebagian kalangan lain
yang mengatakan menulis itu sulit. Sesulit memindahkan Monas (Monumen Nasional)
dan gedung-gedung pencakar langit. Hanya keajaiban yang dapat mewujudkannya.
Ternyata anggapan itu tak lebih dari sekedar
suara orang pesimis. Orang yang kalah sebelum perang. Sebab, sebagai penulis
harus pantang menyerah. Pantang dibully. Sebab orang-orang yang dibully
merupakan orang-orang yang unggul dan pintar, serta ngetop-ngepop duluan hingga
jadi sasaran empuk bagi pembully. Karena para pembully tidak
ingin yang dibully lebih unggul dan pintar serta ngetop-ngepop melebihi
dirinya.
Maka dari itu, jika Anda ingin benar-benar menjadi
penulis, maka harus pantang mutung dan bersifat sensitif, alias ambegan!
Sebab, jika ditekuni benar-benar menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan
dan mengasyikkan lho!
Tidak percaya?
Di sana Anda akan menumpahkan segala
ide/gagasan yang mengalir deras dari isi batok kepala dan hati. Biarkan saja
mengalir seadanya, tumpahkan saja, tanpa ada larangan atau dilarang dari pihak
mana pun. Lagi pula, menulis itu bagi saya tidak butuh bakat. Tetapi ketekunan
dan kemauan besar mau belajar. Itu yang saya lakukan hingga sekarang. Saya
menjadi penulis karena otodidak, bukan dari kalangan akademisi bahkan tanpa di
bangku kuliah mengambil jurusan Sastra-Budaya Indonesia. Tidak sama sekali. Trust
me! Okay!
Menjadi
penulis itu tidak terikat dan tidak memandang siapa pun.
Sebab, penulis adalah orang yang bebas. Tak
terikat dengan apa pun. Baik waktu, masa maupun ruang. Di mana pun bisa Anda
jadikan tempat menulis. Toh, seorang Andrea Hirata bisa menulis tetralogi Laskar
Pelangi—yang sudah dilayar lebarkan dari empat novel yang sudah ditulisnya.
Gaya menulisnya begitu realis yang bertabur metafora. Begitu pula penyair
Sapardi Djoko Damono yang menulis dengan gaya metafora yang berani, tak biasa,
tak diduga, kadang kala ngawur tetapi sangat memikat.
Tapi bagaimana dengan penulis muda (pemula),
alias newbi? Tidak bisa menulis dengan baik dan benar. Serta tidak
memiliki bakat? Sudah saya katakan sejak tidak usah khawatir dan resah-gelisah!
Anda tidak percaya lagi?
Mungkin Anda lebih baik mendengar kata-kata
motivasi dari penulis buku best seller berjudul “Kupinang Engkau dengan
Hamdalah” di bawah ini;
“Tidak ada resep yang lebih baik untuk
menjadi seorang penulis, kecuali dengan menulis sekarang juga. Apapun jadinya,
buatlah tulisan secara spontan. Kalau memang harus melompat-lompat. Boleh jadi
akan menjadi lompatan yang indah. Tulislah sekarang juga! Apa pun yang
terlintas dalam pikiran. Jangan menoleh ke belakang sebelum selesai satu
tulisan. Jangan sibuk memperbaiki kalau tulisan belum selesai. Revisi itu
setelah jadi.
”Kalau sudah
begitu tidak ada alasan karena tidak bisa menulis dengan baik dan benar sesuai
EyD, apalagi harus memiliki bakat dulu. Melalui otodidak pun bisa, asalkan sering
belajar dengan tekun. Ibarat pepatah “separang apapun kalau diasah akan
tajam”.
Penulis
akademisi: tidak selalu dengan background
yang sama
“Aku ingin memberitahukan
dunia satu kata saja. Karena tidak bisa melakukannya, aku menjadi
penulis."(Stanislaw Lee)
Anda kenal dengan Goenawan Mohamad? Penulis
dengan “Catatan Pinggir”, esei pendeknya tiap minggu di Majalah Tempo. Tentu Anda familiarkan dengan
dengan nama tersebut?
Saya yakin Anda pasti mengenalnya. Halnya
saya!
Seorang penulis Indonesia kesohor ini
ternyata lulusan psikologi di Universitas Indonesia (UI), setelah itu belajar
ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika
Serikat. Ternyata beliau penulis akedemisi yang tidak sesuai background
(baca: disiplin ilmu) sebagai penulis. Lelaki yang berkelahiran 29 Juli 1941
inilah bukan dari akedemisi jurnalistik atau sastra-budaya Indonesia. Itulah
keunikan beliau sebagai seorang penulis.
Berbeda dengan Ahmad Fuadi, penulis best
seller, penulis novel Negeri 5 Menara. Memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo
dan lulus pada tahun 1992.
Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, setelah lulus
menjadi wartawan Tempo.
Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah
bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright
untuk kuliah S2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University.
Setelah itu merantau ke Washington DC
bersama Yayi, istrinya yang juga wartawan Tempo. Adalah mimpi masa
kecil beliau yang menjadi kenyataan. Sambil kuliah, mereka menjadi koresponden
Tempo dan wartawan VOA.
Berita bersejarah seperti peristiwa 11 September
2001 dilaporkan mereka
berdua langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill.
Jadi, kalau seorang Ahmad Fuadi jago dan
pandai menulis serta lihai meramu dan mengolah kata tidaklah mengagetkan,
bukan. Dikarenakan beliau penulis dari kalangan akademisi. Tetapi, walau beliau
dari background yang sama toh ia juga masih tetap belajar dan belajar.
Semua satu
tujuan…
“Mengajarkan
ilmu kepada orang yang belum mengetahuinya adalah shadaqah…” (HR. Ibnu Abdil
Barr)
Memang tidaklah menutup kemungkinan jika ada
penulis yang realitis dan matrelitis. Mereka menjadikan profesi ini sebagai
tumpuan keluarga dan mata pencahariannya. Kegiatan menulis semata-mata hanya ditujukan
untuk mengejar honorarium maupun royalti saja. Ia tidak mau disia-siakan.
Apapun itu, semuanya harus dijadikan uang dalam menulis. Ini merupakan sesuatu
yang begitu ironi dan sangat disayangkan.
Sesungguhnya penulis itu adalah ia yang
menulis karena panggilan hati dan bukan karena rupiah saja. Sebab, sejatinya
menulis yang baik itu timbul dari keinginan diri sendiri dan tanpa paksaan serta dikontemplasikan kepada pembaca dalam
kehidupan sehari-hari.
Andrea Hirata saja menulis dengan hati.
Sehingga, novel pertamanya Laskar Pelangi (setidaknya untuk novel
pertama saja) yang mega best seller itu berhasil memikat pembaca. Karena
novel Laskar Pelangi beliau dedikasikasikan khusus pada gurunya, Bu Mus.
Sedangkan Sang Pemimpi dan Edensor, agaknya mulai “tercampuri” market
oriented. Sedangkan untuk novel Maryamah Karpov, novel
terakhir tetralogi ini lebih terlihat lebih kental “selera pasar” ketimbang
menjunjung tinggi idealisme.
Kalau saya? Hmm, menulis bukan karena rupiah!
Jika saya lakukan seperti itu, maka sudah lebih sepuluh tahun saya akan
menggantung pena. Kalau niat saya menulis hanya mengejar rupiah dan rupiah,
maka hilanglah ketulusan dan kebanggan yang ditimbulkan oleh menulis itu dari
dalam diri.
Apa yang saya tulis tentu akan kering, tidak
ada nyawa. Saya seperti gagal menyuguhkan manfaat bagi setiap orang yang
membaca tulisan saya. Maka dari itu, saya sudah menetapkan niat dan tujuan
dalam menulis! Yaitu sharing dan connecting. Bukankah sangat
mulia sekali, bukan!
Karena itulah jika saya menyarankan kepada
Anda, sebelum menulis tancapkan dulu niat dan tujuannya. Untuk apa Anda menulis
sesungguhnya! Itu yang Anda harus lakukan.
Sebab, tujuan menulis itu sama! Ia menulis
untuk diri sendiri dan juga dikontemplasikan kepada pembaca dalam kehidupan
sehari-hari serta bermanfaat dan berguna pada orang lain. Entah untuk penulis
otodidak maupun penulis akademisi. Semua sama satu tujuan, tidak ada pembedaan.
Ternyata menilai dan melihat penulis itu
bukan hanya dari mana ia berasal maupun dari kalangan apa. Entah, dari kalangan
penulis otodidak atau penulis akademisi. Tetapi, untuk apa menulis!
Menginspirasikan orang banyak atau tidak. Apalagi bisa dikontemplasikan dalam
kehidupan sehari-hari, baik bagi penulis maupun pembacanya. Sungguh benar-benar
penulis yang berpikiran luas dan mulia.
Maukah Anda menulis seperti itu? Tanpa
melihat “status” dari kalangan penulis apa? Yuk, semangat menulis lagi tanpa
melihat background darimana Anda berasal.[ ]
Jkt, 22
Agustus 2016. Edisi revisi, seperlunya
Biodata
Penulis
Kak Ian,
bekerja sebagai pengajar Jurnalistik tingkat sekolah dan bergiat di komunitas
Pembatas Buku Jakata. Sekarang berdomisili di Jakarta. Cerpen, cernak, puisi
dan artikelnya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional.
Beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen, cerita anak, artikel/opini dan
puisi.
