Pages

Ads 468x60px

Senin, 19 September 2016

ZULFAISAL PUTERA: PULANG KE KOTAMU


Mengapa aku selalu ingin ke kotamu? Tersebab aku merindukanmu. Maka, dirimulah yang pertama aku temui. Setelah itu, kamu bisa temani aku menunjungi tempat wisata terindah di kotamu ini yang telah mempertemukan kita. Kita bisa habiskan waktu sambil menyaksikan pertunjukan seni di panggung terbuka itu dan menikmati suguhan kulinernya yang khas. Malamnya kita bisa berburu fashion dan menutupnya dengan santai di café.
Demikian sebuah pesan dari seseorang kepada kekasihnya di lain kota. Harus ada alasan mengapa sebuah kota dikunjungi. Bisa karena ada seseorang yang dirindukan, bisa karena tugas, bisa karena tuntutan pendidikan. Dan bila ditanya apa yang menarik dari sebuah kota? Jawabnyaa bisa tipikal warganya, letak geografisnya, bangunannya, tamannya, tempat wisatanya, panggung keseniannya, atau kulinernya.
Bila orang Jogjakarta ditanya yang menarik dari kotanya, maka akan muncul jawaban wisata belanja dan Malioboronya, Keraton dan Sultannya, Candi-candinya, bangunan bersejarahnya, gudeg dan susu sapi segarnya, atau gunung merapinya. Bila orang Bandung ditanya hal yang sama, maka akan disebut lanskap dan taman kotanya, pusat busananya, Trans studionya, Tangkuban Perahu dan wisata alam lainnya, panggung seninya, siomaynya, atau perempuannya yang geulis pisan.
Urang Banjar di Kalimantan Selatan juga punya jawaban jika ditanya tentang hal yang menarik dari banuanya. Sebutlah keindahan Seribu Sungainya, wisata alamnya dari Loksado sampai Pasar Terapung, pantai dan pulau eksotiknya, pusat permata di Martapura dan pendulangan intannya, Masjid dan makam wisata religious lainnya, patung Bakantannya, kain sasirangannya, soto dan kuliner khas lainnya, atau biniannya nang pariwantanan.
Pertanyaannya, sudah sejauh mana objek-objek yang disebutkan itu sudah diketahui publik, terutama pihak wisatawan nusantara dan mancanegara. Kemudian, sudahkah objek tersebut memenuhi standar sesuatu yang bisa dijual sehingga dianggap menarik. Hal ini berujung kepada apakah objek tersebut sudah mendapat pengakuan oleh lembaga terakit sebagai tempat wisata yang bersertifikasi, misalnya. Pertanyaan ini bisa diarahkan kepada Banua kita tercinta ini.
Pada triwulan kedua dan ketiga 2016 ini, ayojalanjalan.com menggelar Anugerah Pesona Indonesia 2016 (API 2016). Tujuannya, membangun kompetisi objek wisata yang sehat dan menjadi destinasi yang terbaik dan level dunia. Tentu mendorong peran serta berbagai pihak, terutama pemerintah daerah untuk lebih berupaya mempromosikan pariwisata di daerahnya. API melakukan voting pada masyarakat memilih destinasi ataupun objek wisata yang terbaik ataupun terpopler menurut pendapat mereka sejak akhir Mei s.d. akhir Agustus.
Dari 10 kategori dengan 10-11 objek dari berbagai tempat di Indonesia, Kalimantan Selatan hanya populer dua objek. Pertama, Pulau Sebuku, Kotabaru, pada urutan ke-7, Kategori I, Surga Tersembunyi Terpopuler (Most Popular Hidden Paradise); dan kedua, Soto Banjar, pada urutan ke-10, Kategori IV Hidangan Tradisional Terpopuler (Most Popular Traditional Dishes). Sementara 6 dari 8 kategori lainnya yang sebenarnya ada potensinya tak satu pun objek di Banua, yaitu kategori Kebersihan, Situs Sejarah, Tempat Menyelam, Atraksi Budaya, Festival Budaya, dan Tujuan Wisata Baru Terpopuler.
Sebagai urang Banjar, kita boleh prihatin, boleh juga tidak. Namun, jangan skeptis. Usia Banua yang sudah 66 tahun. Belum lagi usia kota / kabupatennya yang sudah ratusan tahun, tentu bukan waktu yang singkat untuk sebuah pembangunan bidang pariwisata. Boleh saja kita berbangga mempunyai ratusan objek wisata, dari wisata alam sampai kuliner, tetapi jika tidak dikenal, bahkan diakui publik, maka bukanlah berarti apa-apa. Sila dibandingkan dengan Provinsi NTT yang memperoleh 3 gold, 1 silver, dan 1 bronze dalam API 2016ini baru berusia 55 tahun.
Ini sekadar catatan. Barangkali kita terlalu asyik menikmati pesta yang kita rayakan sendiri dan lupa bahwapesta itu diselenggarakan untuk orang lain juga. Bisa juga karena kita gampang berpuas diri sehabis pesta dan menganggap sudah gugur kewajiban membangun pariwisata. Saya jadi teringat lirik lagu Kla Project: “Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu …” Iya, kota yang dirindukan ini masih seperti dulu. Oleh karena itu perlu inovasi dan kerja keras dengan SDM yang mengerti ruh pariwisata dan budaya. [ ]




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter