Mengapa aku selalu ingin ke kotamu? Tersebab aku
merindukanmu. Maka, dirimulah yang pertama aku temui. Setelah itu, kamu bisa
temani aku menunjungi tempat wisata terindah di kotamu ini yang telah
mempertemukan kita. Kita bisa habiskan waktu sambil menyaksikan pertunjukan
seni di panggung terbuka itu dan menikmati suguhan kulinernya yang khas. Malamnya
kita bisa berburu fashion dan menutupnya dengan santai di café.
Demikian sebuah pesan dari seseorang kepada
kekasihnya di lain kota. Harus ada alasan mengapa sebuah kota dikunjungi. Bisa karena
ada seseorang yang dirindukan, bisa karena tugas, bisa karena tuntutan
pendidikan. Dan bila ditanya apa yang menarik dari sebuah kota? Jawabnyaa bisa
tipikal warganya, letak geografisnya, bangunannya, tamannya, tempat wisatanya,
panggung keseniannya, atau kulinernya.
Bila orang Jogjakarta ditanya yang menarik
dari kotanya, maka akan muncul jawaban wisata belanja dan Malioboronya, Keraton
dan Sultannya, Candi-candinya, bangunan bersejarahnya, gudeg dan susu sapi
segarnya, atau gunung merapinya. Bila orang Bandung ditanya hal yang sama, maka
akan disebut lanskap dan taman kotanya, pusat busananya, Trans studionya,
Tangkuban Perahu dan wisata alam lainnya, panggung seninya, siomaynya, atau
perempuannya yang geulis pisan.
Urang Banjar di Kalimantan Selatan juga punya
jawaban jika ditanya tentang hal yang menarik dari banuanya. Sebutlah keindahan
Seribu Sungainya, wisata alamnya dari Loksado sampai Pasar Terapung, pantai dan
pulau eksotiknya, pusat permata di Martapura dan pendulangan intannya, Masjid
dan makam wisata religious lainnya, patung Bakantannya, kain sasirangannya,
soto dan kuliner khas lainnya, atau biniannya nang pariwantanan.
Pertanyaannya, sudah sejauh mana objek-objek
yang disebutkan itu sudah diketahui publik, terutama pihak wisatawan nusantara
dan mancanegara. Kemudian, sudahkah objek tersebut memenuhi standar sesuatu
yang bisa dijual sehingga dianggap menarik. Hal ini berujung kepada apakah
objek tersebut sudah mendapat pengakuan oleh lembaga terakit sebagai tempat
wisata yang bersertifikasi, misalnya. Pertanyaan ini bisa diarahkan kepada
Banua kita tercinta ini.
Pada triwulan kedua dan ketiga 2016 ini,
ayojalanjalan.com menggelar Anugerah Pesona Indonesia 2016 (API 2016). Tujuannya,
membangun kompetisi objek wisata yang sehat dan menjadi destinasi yang terbaik
dan level dunia. Tentu mendorong peran serta berbagai pihak, terutama
pemerintah daerah untuk lebih berupaya mempromosikan pariwisata di daerahnya.
API melakukan voting pada masyarakat memilih destinasi ataupun objek wisata
yang terbaik ataupun terpopler menurut pendapat mereka sejak akhir Mei s.d.
akhir Agustus.
Dari 10 kategori dengan 10-11 objek dari
berbagai tempat di Indonesia, Kalimantan Selatan hanya populer dua objek.
Pertama, Pulau Sebuku, Kotabaru, pada urutan ke-7, Kategori I, Surga
Tersembunyi Terpopuler (Most Popular
Hidden Paradise); dan kedua, Soto Banjar, pada urutan ke-10, Kategori IV
Hidangan Tradisional Terpopuler (Most
Popular Traditional Dishes). Sementara 6 dari 8 kategori lainnya yang
sebenarnya ada potensinya tak satu pun objek di Banua, yaitu kategori
Kebersihan, Situs Sejarah, Tempat Menyelam, Atraksi Budaya, Festival Budaya,
dan Tujuan Wisata Baru Terpopuler.
Sebagai urang Banjar, kita boleh prihatin,
boleh juga tidak. Namun, jangan skeptis. Usia Banua yang sudah 66 tahun. Belum
lagi usia kota / kabupatennya yang sudah ratusan tahun, tentu bukan waktu yang
singkat untuk sebuah pembangunan bidang pariwisata. Boleh saja kita berbangga
mempunyai ratusan objek wisata, dari wisata alam sampai kuliner, tetapi jika
tidak dikenal, bahkan diakui publik, maka bukanlah berarti apa-apa. Sila dibandingkan
dengan Provinsi NTT yang memperoleh 3 gold,
1 silver, dan 1 bronze dalam API 2016ini baru berusia 55
tahun.
Ini sekadar catatan. Barangkali kita terlalu
asyik menikmati pesta yang kita rayakan sendiri dan lupa bahwapesta itu
diselenggarakan untuk orang lain juga. Bisa juga karena kita gampang berpuas
diri sehabis pesta dan menganggap sudah gugur kewajiban membangun pariwisata.
Saya jadi teringat lirik lagu Kla Project: “Pulang ke kotamu. Ada setangkup
haru dalam rindu. Masih seperti dulu …” Iya, kota yang dirindukan ini masih
seperti dulu. Oleh karena itu perlu inovasi dan kerja keras dengan SDM yang
mengerti ruh pariwisata dan budaya. [ ]
