Grek!
“Hei, mengapa enak-enakan tidur? Kebun masih kotor dan kau justru bersantai.”
Suara bising membangunkanku dari tidur nyenyak. Nada-nada amarah acapkali menjadi makanan empuk meski tak tertuju padaku. Betapa bosan telingaku setiap mendengar jeritan wanita paruh baya pada gadis di dalam ruang kumuh.
“Aku baru pulang kerja, Bi. Akan kubersihkan besok pagi.”
BRAK! Tendangan kaki pada papan pintu membuat tubuhku melonjak kaget.
“Kau hanya bekerja hingga sore dan mengeluh? Aku mengurusmu hampir dua puluh tahun tapi tak pernah mengeluh.”
“Tentu saja karena semua keluhanmu adalah bentuk kemarahan tak beralasan,” sahutku membatin memandang geram wanita yang mulai berambut putih. Ingin sekali aku menerkam leher berbalut lemak itu.
“Baik, Bi,” patuh gadis berbadan ceking berusaha bangkit meski sepasang mata terasa berat.
Gadisku keluar dari kamar yang mirip gudang, atau memang sebuah gudang. Ia berusaha tegar dan menegakkan punggung. Meski mengalami kehidupan garang tetap wajahnya tak tampak usang. Ia gadis tercantik dan terindah di sepanjang hidupku.
* * *
“Jerry, jangan bermain di sungai!” seru gadisku memandang khawatir.
Aku menurut menjauhkan tubuhku dari sungai kecil berair cukup deras. Dan ia kembali mengajak ikatan lidi ‘berdansa’. Di kebun belimbing seluas 250 m2 ia melenggang kangkung seorang diri. Tak ada pegawai dan tak ada pembantu pula di rumah. Semua aktivitas bersih-bersih diketuainya. Namun, tak pernah sekalipun wanita tua tak beradab memberi upah.
“Kau mau mencicipinya, Jerry? Ini tidak terlalu asam.”
Jemari lentik atau tepatnya tulang hanya terbungkus kulit menyodorkan buah bintang berwarna kuning segar padaku. Kaki-kakiku sontak berlari dalam gendongannya. Tempat ternyaman yang pernah kumiliki di usiaku yang tak muda lagi.
“Muach! Kau lebih berisi dari sebelumnya.” Luncurnya mengusap kepalaku dan merebahkanku di kaki pohon bersama dua buah belimbing matang.
“Tetap di sana dan habiskan makananmu. Sebentar lagi selesai dan kita pulang.” Selorohnya kembali berpeluh keringat membersihkan daun-daun kering.
Aku pun duduk manis sambil mencabik buah segar. Tak kusangka diri yang pemakan daging dan sempat mati kelaparan kini adalah pemakan segala. Buah, sayur, semua yang tersedia kulahap sangat nikmat.
Teringat di trototar jalan penuh hiruk-pikuk, aku tergeletak lemah dan tak seorangpun sudi menghiraukanku. Aku kabur dan berharap siapa saja mau mengajakku hidup bersama. Entah orang atau binatang lain. Namun, Tuhan sungguh baik karena mempertemukanku pada gadisku.
“Aku hanya punya beberapa kentang goreng dan kuharap kau suka.”
Saat itu pertama kali aku memakan makanan selain daging mentah dan terasa sangat enak makan dari tangannya. Sejak itu pula aku selalu bersamanya dan mengetahui betapa kalut kehidupan yang ia jalani. Jauh lebih buruk dari hidupku yang masih bisa makan daging meski sepotong untuk sehari.
“Aahh…, selesai juga. Kau juga sudah menghabiskan dua buah belimbing. Enak?”
Tubuh mungilku terangkat ke pangkuan dan berebah di pelukannya. Terasa hangat dan ingin lebih lama.
* * *
Bunga-bunga kamboja gugur di atas perebahan. Tulang-belulang tersusun di tiap-tiap kotak tanah dan terkubur sekian kaki di perut bumi. Dan di dua gundukan tanah bertancap nisan gadisku berdiri mematung.
Erick Vincent dan Nathalia Maranthia Vincent. Dua nama yang pernah kudengar di layar kaca sebelum bertemu gadisku. Sepasang pengusaha dermawan yang dirampok dan dibunuh secara keji. Dan aku senang mendengar vonis hukuman mati pada tiga tersangka tak manusiawi tersebut.
“Kalian pergi begitu cepat sebelum aku sempat membalas budi. Hanya doa yang kini bisa kulakukan.” Gadisku terdengar mulai terisak. Bola mata memerah buram dan siap menitik. Ia menangis.
“Kalau aku tak berbaik hati menampungmu di sini, kau sudah jadi gelandangan. Siapa dirimu? Orang tuamu mati secara tidak terhormat dan tak meninggalkan uang sepeserpun. Menyedihkan! Masih untung kuberi kau makan gratis.”
Gerutuan mulut berbisa wanita paruh baya masih tersibak jelas dalam ingatanku. Wanita yang mau tak mau harus dihormati gadisku karena ia adalah kakak kandung sang ayah. Masih tak kupungkiri betapa kejam wanita itu telah memperbudak ponakan sendiri. Ia menyuruh gadisku bekerja, mengurus kebun, sedang dirinya hanya duduk berjualan dan menikmati semua hasil.
“Hiks! Sskk!”
“Guk.. guk!” Gonggongku berjingkrak meraih jemarinya. Ia menoleh lalu mengusap air mata. Sepasang tangan sontak menggendong tubuh kecil berbulu lebatku ini. Kujulurkan lidah ke bibir tipis gadisku. Ingin kuraih air mata dan menyeka habis bulir air yang menodai keindahan wajah timurnya.
“Iya, iya, iya, aku tak menangis lagi. Kita pulang ya karena langit hampir gelap.”
Kami pulang dan gadisku berusaha menunjukkan wajah ceria padaku. Ia selalu berusaha mengatakan pada dunia bila hati di balik rusuk baik-baik saja, meski tidak begitu kenyataannya. Ia tak suka aku khawatir dan aku tak suka ia menangis. Air mata gadisku tak ternilai oleh apapun.
Biodata:
Sinta Susanti. Lahir pada 14 Maret 1995 di Medan dan dibesarkan di Sidoarjo. Mulai menggeluti dunia literasi sejak dua tahun terakhir. Bercita-cita menjadi seniman dan pebisnis. Email : sintasusanti51@gmail.com

