Pages

Ads 468x60px

Rabu, 09 November 2016

ALIMAN SYAHRANI: DIAM ITU DOSA


Ketika dulu Mar’ie Muhammad, menteri keuangan di era Orde Baru, mengucapkan kata perpisahan, ia meminta maaf, seperti biasa. Tetapi kali ini, Mar’ie menambah ungkapan klise. Selain meminta maaf atas ucapan, tindakan, gerak-geriknya selama menjadi menteri, ia juga meminta maaf atas tutup mulutnya (sambil meletakkan ibu jari di mulutnya). Ia mohon maaf bukan saja untuk apa yang ia ucapkan, tetapi juga apa yang ia diamkan.
Ajaib. Anda bisa berdosa karena ucapan Anda. Tetapi apakah Anda berdosa karena diam, bungkam, atau tidak berbicara? Bukankah diam itu emas? Bukankah diam berarti pengendalian diri? Selama ini kita diajari untuk diam dan memandang diam sebagai amal saleh yang utama. Kita mungkin merujuk kepada al-Ghazali yang menyebut keburukan bicara dan keutamaan diam. Diam adalah tanda orang yang memperoleh hikmat, kata al-Ghazali.
Tiba-tiba Mar’ie mengingatkan kita ada diam yang dosa dan, untuk itu, kita harus minta maaf. Yang mohon maaf karena diam itu adalah orang yang mengisi saat terakhir jabatannya dengan kesibukan memberi keterangan. Rupanya, banyak yang ia katakan; tetapi lebih banyak lagi yang ia diamkan. Dan Mr. Clean minta maaf untuk keduanya. Sebagaimana tidak semua berbicara berdosa, tidak semua diam berpahala. Tidak semua diam emas. Ada juga diam yang sampah dan menyembunyikan kebusukan. Untuk sementara, kita dapat menyebut empat diam yang dosa.
#Pertama, Anda diam ketika kemungkaran dilakukan terang-terangan di depan Anda. Nabi saw. menyebut salah satu yang dilaknat Allah adalah suami yang diam melihat istrinya berbuat maksiat. (Maksud Nabi saw. tentu saja meliputi juga istri yang diam melihat suaminya berbuat dosa).
Al-Qur’an menyebut laknat yang ditimpakan kepada Bani Israil melalui lidah Dawud dan Isa a.s. karena mereka diam melakukan kemungkaran di antara mereka: “Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat (QS 5:78-79). Salah satu kemungkaran yang dibuat bani Israil waktu itu adalah kezaliman dan penindasan. ‘Ali bin Abi Thalib menegaskan, kezaliman tak pernah berlangsung tanpa kerja sama antara yang menzalimi dan yang dizalimi. Dengan diam, orang yang tertindas mendukung pelestarian penindasan. Diamnya seluruh masyarakat/bangsa atas penindasan pengausa adalah tonggak utama kezaliman.
‘Ali bin Husayn, cucu ‘Ali, berdoa, “Tuhanku, ampuni aku bila di sampingku ada orang yang dizalimi dan aku diam.” Diam di sini dapat berarti izin, seperti diamnya seorang perempuan ketika dipinang, atau diamnya aparat hukum ketika seorang yang berkuasa melakukan pelanggaran. Mengizinkan kezaliman sama besar dosanya dengan melakukan kezaliman itu sendiri.
#Kedua, diam itu dosa jika berkenaan dengan informasi yang diperlukan masyarakat. Rasulullah saw. berkata, “Jika seorang ulama (‘alim, pemilik informasi) ditanya, lalu ia menyembunyikan informasinya itu (diam), ia akan dibelenggu dengan belenggu api neraka.” Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. juga mengingatkan, “Celaka bagi orang yang mengetahui (‘alim, pemuka agama) terhadap suatu persoalan, namun ia tidak memberitahukan kepada orang yang belum mengetahui (awam).” (HR Ahmad).
Al-Qur’an juga mewantikan, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar (hak) dengan yang salah (bathil) dan janganlah kamu sembunyikan yang benar itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah 42).
Berdosalah seorang ulama yang diam, tidak mengajarkan ilmunya; seorang yang tahu jalan yang tidak mau memberikan petunjuk; seorang yang melihat kebusukan dan tidak melaporkannya.
Pada tahun ‘80an, Challenger, pesawat ruang angkasa AS, meledak pada saat peluncuran dan membunuh semua krunya. Penyebabnya diduga karena salah satu bagian pesawat, O ring, meleleh dalam temperatur tertentu. Para insinyur sudah lama mengetahuinya, tetapi mereka tidak melaporkannya karena takut dikecam oleh pimpinannya. Mereka tutup mulut. Diam mereka itu dosa. Diamnya menyelamatkan mereka tetapi mencelakakan orang banyak. Ketika para ulama, tuan guru, ustadz, kiayi habib, cendekiawan, dan orang-orang pintar diam melihat kerusakan jukung banua atau negeri ini nang pacang tarampak ambul demi kepentingan sesaat, mereka ikut bertanggung jawab jika jukung banua dan negeri ini tatingkulup.
Berbicara atau berbuat sesuatu berarti melakukan kemungkinan untuk salah dan kesalahan itu bisa fatal. Tapi bersikap diam juga bukanlah tindakan yang tepat. Sebab, diam bukanlah suatu sikap tetapi memberi legitimasi untuk terjadinya penyimpangan-penyimpangan.
#Ketiga, diam yang dosa adalah tidak mau berbicara selama tidak berkaitan dengan keuntungan dirinya. “Tahukah kalian,” kata Jalaluddin Rumi kepada para pengikutnya, “mengapa al-Qur’an menyebut: …sesunggunya suara yang paling buruk adalah suara keledai?” (QS 31:19). Dahulu, ketika semua makhluk diciptakan, mereka diberi kemampuan mengeluarkan suara. Ketika suara mereka keluar pertama kalinya, semua makhluk memuji dan mengagungkan Tuhan, kecuali keledai. Keledai hanya mau bersuara, jika lapar atau ingin memuaskan nafsunya.”
Banyak orang seperti keledai. Dunia boleh bergejolak: hutan terbakar, kemarau panjang, banyak orang kelaparan. Mereka diam. Masyarakat boleh resah: jutaan orang kehilangan pekerjaan karena krisis moneter, jutaan bayi mati karena krisisi menetek. Rakyat boleh sesangsara: jalan negara macet dan rusak oleh mobil angkutan batu bara, harga bahan pokok meroket, PHK merajelela, pengangguran membludak. Umat boleh terpecah: pronogarfi dan pornoaksi menjamur, aliran sesat merebak, penistaan terhadap agama dilakukan terang-terangan, penghinaan terhadap Nabi berlangsung di berbagai tempat dan media. Mereka diam. Begitu mereka dihadapkan pada persoalan gaji dan tunjangan mereka sendiri, mereka angkat bicara. Segera setelah tuntutan kenaikan gaji mereka dipenuhi, mereka sunyi kembali. Segera setelah fasilitas dinas (uang perjalanan dinas, rumah dinas, mobil dinas) mereka dikabulkan, mereka manut lagi.
Ada juga orang yang bersuara keras, vokal, dan kritis. Di mana-mana ia menjadi singa mimbar dan orator ulung. Ia dikenal sebagai pengikut garis keras. Ia kesohor sebagai kelompok oposisi yang fanatik. Tiba-tiba suaranya hilang. Rupanya ia kini sudah menduduki jabatan yang basah di tengah-tengah orang yang dahulu dikecamnya. Rupanya, suara kerasnya itu hanya suara keledai. Suara yang keluar karena lapar.
#Keempat, diam itu dosa, ketika Anda tidak mengakui kesalahan yang Anda lakukan, disengaja atau tidak, khilaf atau mahilap. Anda melakukan kesalahan yang amat-amat merugikan dan meresahkan masyarakat. Orang banyak menuntut pertanggungjawaban Anda. Masyarakat meminta klarifikasi Anda. Umat mengharap permohonan maaf Anda. Anda diam. Anda menjadi lautan yang isinya tidak terlihat. Anda bersembunyi di menara gading yang tak terjangkau. Anda menjelma menjadi manusia suci yang tidak boleh dikritik, tak boleh disalahkan, apalagi dimintai klarifikasi, diminta pertanggungjawaban dan permohonan maaf segala. Anda menjadi patung yang kaku, tanpa ekspresi. Begitu Anda menemukan kambing hitam, Anda melolong dengan suara yang mengalahkan halilintar.
Lantas, apakah seharusnya kita tidak usah berkata kecuali untuk yang buruk, dan tidak berbuat kecuali untuk yang baik? Karena selama ini kita lebih banyak berbicara tentang berbagai kebaikan dengan segala pahalanya. Namun yang terjadi justru keburukan kian merajalela.
Rasulullah saw. memberi tuntunan, “Apabila engkau melihat ketidakberesan maka atasilah dengan tanganmu. Jika tidak mampu, gunakan mulutmu. Dan bila engkau tidak pula mampu menggunakan mulut, cobalah dengan hatimu, tetapi itulah selemah-lemahnya iman.”
Tafsiran “pop” hadits ini mewajibkan orang tidak berdiam diri bila melihat keadaan yang senjang. Tindakan yang bisa diambil untuk mengatasi kesenjuangan itu bertingkat-tingkat menurut status dan kondisi orang yang bersangkutan. Siapa yang mempunyai kekuasaan (tangan) atau kewenangan politik, gunakan apa yang dimilikinya itu untuk membereskan keadaan yang senjang tersebut. Siapa yang menguasai mimbar (mulut) atau media massa, pakailah sarana itu untuk propaganda tentang kebaikan dan kebenaran. Lalu yang tak punya apa-apa silakan berupaya memperbaiki keadaan dengan berdoa.
Kita tidak tahu mengapa Mar’ie minta maaf untuk tutup mulutnya. Apakah karena ia pernah diam menyaksikan kezaliman, atau karena informasi yang tidak berani ia sampaikan? Tetapi kita yakin, Mar’ie tidak diam karena sudah dipenuhi kebutuhan makannya. Suara Mar’ie bukan suara keledai. Juga, Mar’ie tidak diam karena menyembunyikan kesalahannya. Ia terkenal sebagai orang yang bersih. Kita pasti memaafkan Mar’ie atas diamnya. Kita maklum. Tarimakasih, Pak mar’ie. Semoga Tuhan selalu memberkatimu.
Kita akan selalu merindukan sosok dan pribadi seperti Pak Mar’ie dalam diri para pejabat dan politisi kita. Dan sepertinya kita tak perlu pesimis, sebab kita masih bisa mendengar, meskipun sayup-sayup, ada para pejabat dan politisi yang mau bersuara keras.
Tetapi semoga saja suara keras mereka bukan suara keledai!
Billahi fi sabilil haq! [ ]


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter