Awal November tadi,
saya datang ke Gedung Sultan Suriasyah, Banjarmasin, untuk mengikuti Blogging
Workshop bagian dari acara Goes to Campus 2016 yang diselenggarakan Bank
Indonesia. Saya datang pukul 9.30 untuk registrasi dengan mengenakan seragam
PNS hari Selasa, warna khaki. Begitu menginjak teras gedung, beberapa orang
berpakaian rapi dan berdasi, sepertinya panitia, mendekati dan bertanya apakah
saya pejabat yang mewakili Pemko. Saya nyatakan bukan. Belum saya menyelesaikan
jawaban, mereka berlalu meninggalkan begitu saja.
Saya tidak
tersinggung karena memang saya bukan orang yang mereka tunggu dan harapkan.
Namun, saya menilai bahwa sikap mereka kurang elok. Ketika bergegas menyambang
saya, dengan sedikit menundukkan kepala, mereka menyapa dan bertanya dengan
kalimat yang bertata, didahului kata ‘maaf’. Namun, begitu tahu bukan saya yang
dimaksud, mereka melepas semua tata krama itu, dan langsung balik badan. Sangat
disayangkan, rapinya pakaian dan dasi yang dikenakan, bahkan jabatan yang
disandang, tak selaras dengan sikap yang mereka bawakan.
DMA Sirajul Huda
menceritakan tentang sejarawan Indonesia, Prof. Anhar Gonggong, saat menjadi
Direktur Jarahnitra Depdikbud, 1996-1999. Saat menghadiri sebuah acara, Anhar
datang dengan mengenakan pakaian jas. Semua yang hadir memberi penghormatan dan
mempersilakan dengan ramah. Kesempatan lain, Anhar hadir dengan kemeja biasa
dan ternyata sempat tak dihiraukan panitia. Memang tampilan fisik Anhar tak
mencitrakan pejabat, apalagi dengan rambut agak gondrong. Berdasar pengalaman
ini, Anhar tak pernah lagi mengenakan jas saat kunjungan kerja karena
menganggap penghormatan orang lain kepadanya karena pakaiannya.
Ada pula cerita
menarik tentang pakaian yang dikenakan Presiden Soekarno. Saat itu, Bung Karno
pernah memarahi TB Simatupang, Kasap RI, yang melarangnya mengenakan uniform
bergaya militer, sebuah jas putih dengan empat saku dan sejumlah bintang jasa
di dada. Kepada Cindy Adams, wartawan Amerika yang menulis biografinya, Bung
Karno beralasan mengenakan uniform itu karena ingin membuat rakyat Indonesia
bangga. "Aku panglima tertinggi. Rakyatku sudah lama dijajah Belanda.
Mereka telah dijadikan koloni selama ratusan tahun, mereka sudah lama
diperbudak. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, aku harus bisa memberikan
mereka sebuah citra...”
Saya pikir, Indonesia
ini adalah negeri yang menyanjungkan pakaian seragam. Harkat dan martabat
seseorang tampaknya masih dipengaruhi dengan seragam yang dikenakannya. Sejak
di bangku sekolah, anak bangsa sudah dikenalkan dan diwajibkan mengenakan
seragam beragam ragam. Bentuk, warna, atribut, dan jenis kain disesuaikan
dengan kelas, profesi, organisasi, pangkat, dan jabatan. Bahkan, pada dunia
kepolisian dan militer, konon ada banyak seragam yang wajib dikenakan dalam
berbagai kegiatan, termasuk pakaian dalam. Alasannya, tentu sebuah kebanggaan
dan kebersamaan.
Seragam hakikatnya
adalah bungkus. Ia mengemas sesuatu yang disebut isi. Takbisa dipungkiri,
bangsa ini masih berkutat bagaimana mengemas yang baik, tak masalah bagaimana
pun isinya. Dunia pendidikan menjadi contoh nyata. Lihatlah di sekolah anak
kita. Kelengkapan seragam, dari sepatu sampai topi sangat diperhatikan. Jika
sampai lebih dari sekali tidak mengenakan sepatu warna hitam, sepatunya disita,
orang tuanya dipanggil. Sementara, orang tua tak pernah dipanggil ketika nilai
ulangan anaknya jatuh walau berkali kali. Ketika juga diundang, mereka hanya
mengambil raport yang nilainya sudah di sim salabim.
Negara ini juga
termasuk bangsa yang suka gonta ganti seragam. Dari keseragaman pakaian,
peraturan, sampai selera. Dalam periode tertentu, pada setiap pergantian
pemerintahan, baik di pusat, maupun di daerah, perubahan seragam itu sudah
menjadi keniscayaan, diatur atau pun tidak. Bahkan, tontonan yang diperlihatkan
dari perilaku pemimpin dan media massa kepada masyarakat pun tampak seragam.
Tidak jelas, ini budaya, hobi, atau penyakit. Namun, sepertinya rakyat
Indonesia sudah terbiasa menikmati, entah terpaksa, atau tidak.
Saya
jadi teringat dengan Peribahasa Cina : Menyimpang Seinci, Merugi Seribu Batu.
inti dari peribahasa ini adalah ketika seseorang tidak memiliki prioritas dalam
hidupnya, lebih mementingkan aksesoris daripada substansi, lebih mementingkan
bungkus daripada isi, maka hanya menunggu masa kehidupan nya mengalami
kemerosotan atau kebangkrutan atau masalah yang berat atau mungkin fatal.
Apakah ciri kemerosotan dan kebangkutan yang makin terlihat di negeri ini
akibat karena pemerintah dan rakyatnya lebih mementingkan bungkus. Wallahu
alam. [ ]
