Pages

Ads 468x60px

Senin, 07 November 2016

ZULFAISAL PUTERA: MENYIMPANG SEINCI, MERUGI SERIBU BATU


Awal November tadi, saya datang ke Gedung Sultan Suriasyah, Banjarmasin, untuk mengikuti Blogging Workshop bagian dari acara Goes to Campus 2016 yang diselenggarakan Bank Indonesia. Saya datang pukul 9.30 untuk registrasi dengan mengenakan seragam PNS hari Selasa, warna khaki. Begitu menginjak teras gedung, beberapa orang berpakaian rapi dan berdasi, sepertinya panitia, mendekati dan bertanya apakah saya pejabat yang mewakili Pemko. Saya nyatakan bukan. Belum saya menyelesaikan jawaban, mereka berlalu meninggalkan begitu saja.
Saya tidak tersinggung karena memang saya bukan orang yang mereka tunggu dan harapkan. Namun, saya menilai bahwa sikap mereka kurang elok. Ketika bergegas menyambang saya, dengan sedikit menundukkan kepala, mereka menyapa dan bertanya dengan kalimat yang bertata, didahului kata ‘maaf’. Namun, begitu tahu bukan saya yang dimaksud, mereka melepas semua tata krama itu, dan langsung balik badan. Sangat disayangkan, rapinya pakaian dan dasi yang dikenakan, bahkan jabatan yang disandang, tak selaras dengan sikap yang mereka bawakan.
DMA Sirajul Huda menceritakan tentang sejarawan Indonesia, Prof. Anhar Gonggong, saat menjadi Direktur Jarahnitra Depdikbud, 1996-1999. Saat menghadiri sebuah acara, Anhar datang dengan mengenakan pakaian jas. Semua yang hadir memberi penghormatan dan mempersilakan dengan ramah. Kesempatan lain, Anhar hadir dengan kemeja biasa dan ternyata sempat tak dihiraukan panitia. Memang tampilan fisik Anhar tak mencitrakan pejabat, apalagi dengan rambut agak gondrong. Berdasar pengalaman ini, Anhar tak pernah lagi mengenakan jas saat kunjungan kerja karena menganggap penghormatan orang lain kepadanya karena pakaiannya.
Ada pula cerita menarik tentang pakaian yang dikenakan Presiden Soekarno. Saat itu, Bung Karno pernah memarahi TB Simatupang, Kasap RI, yang melarangnya mengenakan uniform bergaya militer, sebuah jas putih dengan empat saku dan sejumlah bintang jasa di dada. Kepada Cindy Adams, wartawan Amerika yang menulis biografinya, Bung Karno beralasan mengenakan uniform itu karena ingin membuat rakyat Indonesia bangga. "Aku panglima tertinggi. Rakyatku sudah lama dijajah Belanda. Mereka telah dijadikan koloni selama ratusan tahun, mereka sudah lama diperbudak. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, aku harus bisa memberikan mereka sebuah citra...”
Saya pikir, Indonesia ini adalah negeri yang menyanjungkan pakaian seragam. Harkat dan martabat seseorang tampaknya masih dipengaruhi dengan seragam yang dikenakannya. Sejak di bangku sekolah, anak bangsa sudah dikenalkan dan diwajibkan mengenakan seragam beragam ragam. Bentuk, warna, atribut, dan jenis kain disesuaikan dengan kelas, profesi, organisasi, pangkat, dan jabatan. Bahkan, pada dunia kepolisian dan militer, konon ada banyak seragam yang wajib dikenakan dalam berbagai kegiatan, termasuk pakaian dalam. Alasannya, tentu sebuah kebanggaan dan kebersamaan.
Seragam hakikatnya adalah bungkus. Ia mengemas sesuatu yang disebut isi. Takbisa dipungkiri, bangsa ini masih berkutat bagaimana mengemas yang baik, tak masalah bagaimana pun isinya. Dunia pendidikan menjadi contoh nyata. Lihatlah di sekolah anak kita. Kelengkapan seragam, dari sepatu sampai topi sangat diperhatikan. Jika sampai lebih dari sekali tidak mengenakan sepatu warna hitam, sepatunya disita, orang tuanya dipanggil. Sementara, orang tua tak pernah dipanggil ketika nilai ulangan anaknya jatuh walau berkali kali. Ketika juga diundang, mereka hanya mengambil raport yang nilainya sudah di sim salabim.
Negara ini juga termasuk bangsa yang suka gonta ganti seragam. Dari keseragaman pakaian, peraturan, sampai selera. Dalam periode tertentu, pada setiap pergantian pemerintahan, baik di pusat, maupun di daerah, perubahan seragam itu sudah menjadi keniscayaan, diatur atau pun tidak. Bahkan, tontonan yang diperlihatkan dari perilaku pemimpin dan media massa kepada masyarakat pun tampak seragam. Tidak jelas, ini budaya, hobi, atau penyakit. Namun, sepertinya rakyat Indonesia sudah terbiasa menikmati, entah terpaksa, atau tidak.
Saya jadi teringat dengan Peribahasa Cina : Menyimpang Seinci, Merugi Seribu Batu. inti dari peribahasa ini adalah ketika seseorang tidak memiliki prioritas dalam hidupnya, lebih mementingkan aksesoris daripada substansi, lebih mementingkan bungkus daripada isi, maka hanya menunggu masa kehidupan nya mengalami kemerosotan atau kebangkrutan atau masalah yang berat atau mungkin fatal. Apakah ciri kemerosotan dan kebangkutan yang makin terlihat di negeri ini akibat karena pemerintah dan rakyatnya lebih mementingkan bungkus. Wallahu alam. [ ]


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter