Bismillahirrahmaanirrahiim
Penulis? Wow! Hebat juga kata yang satu ini. Ketika Anda
membaca novel, cerpen, artikel, timbul rasa kagum pada penulisnya. Diam-diam
Anda ingin seperti mereka.
Wow! Aku ingin jadi
penulis! Kalau perlu, jadi penulis hebat. Kalimat ini terngiang dalam
pikiran Anda. Menjadi penulis memang berawal dari keinginan. Namun,
keinginan saja tidaklah cukup, kalau tidak didukung dengan tindakan.
Manakala keinginan dan tindakan dalam artian langsung Anda
hajar dengan menulis, itu pun belum cukup. Anda harus memiliki bahan yang akan
Anda tulis.
Bahan bisa Anda peroleh dari pengalaman pribadi. Bisa juga
dari membaca buku, majalah, surat kabar, dan internet. Menulis dan membaca saling
berkaitan dan mendukung karena tak mungkin Anda bisa menulis kalau informasi
yang akan disampaikan tidak dimiliki. Dan, tak mungkin Anda bercerita tentang
tempat wisata kalau Anda tak pernah ke tempat tersebut.
Bahan sudah ada, pengalaman pun sudah bejibun. Rasanya
saya sudah mantap ingin jadi penulis. Saya ingin coba menulis cerpen.
Nampaknya, menulis cerpen itu mudah, tinggal menuliskan khayalan-khayalan. Lalu
dikaitkan dengan pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain yang pernah
saya baca atau dengar dari orang lain. Ah, ternyata ketika mengawali menulis,
susahnya nngak ketolongan. Susah abis!
Kalau cerpen susah, mungkin aku memang tidak terlalu
berbakat atau mungkin tidak terlalu tertarik dengan cerpen. Bagaimana kalau aku
coba menulis artikel? Menulis artikel pun ternyata susahnya minta ampun.
Susah, susah, susah, susah menulis. Itulah kata yang
terpatri dalam pikiran Anda. Akhirnya, Anda memvonis diri tak berbakat. Impian
Anda jadi penulis terkubur di kedalaman bumi lapisan ketujuh. Jauh amat ya, hehe….
Mengapa ini terjadi pada diriku? Padahal banyak orang
bilang menulis itu mudah. Menulis itu gampang. Apa yang harus aku lakukan?
Bagaimana cara mengatasinya? Adakah kiat-kiatnya?
Nah, untuk menjawab pertanyaan Anda itu, Insya Allah akan saya bahas pada pertemuan berikutnya.
