Pages

Ads 468x60px

Minggu, 03 April 2016

CERPEN HAMBERAN SYAHBANA: KINI KITA SUDAH SAMA-SAMA TUA


Lelaki yang dulu sangat kukagumi kini telah lansia dan terbaring lemas di ruang Kumala A4 RSUD Anshari Saleh Banjarmasin. Jarum infus masih melekat di tangan kanannya. Sementara di atas meja di sampingnya bertumpuk tak teratur buah segar dan roti-roti bawaan para pembesuk. Semua itu tampak berdesakan dengan beberapa buah botol infus yang belum terpakai. Seorang remaja tengah sibuk merapikan apa saja yang patut dia rapikan.

“Abah masuk mulai Kamis sore,” jelas remaja itu.

Remaja itu adalah anaknya. Dia juga menjelaskan bahwa lelaki ini masuk rumah sakit karena tensinya naik, asmanya kambuh, dan detak jantungnya juga kencang. Untung cepat dilarikan ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit saja barangkali tidak bisa tertolong. Saat itu sempat diberikan pertolongan pertama dengan memberikan oksigen dan dua buah tablet kecil ditambah dengan obat serbuk yang ditaruh di bawah lidah. Dalam waktu relatif singkat tensinya langsung turun ke 130 per 80.

Kulihat pelan-pelan lelaki ini mulai membuka matanya. Perlahan ia menoleh ke arahku. Dia memandangku lama sekali. Tampaknya dia mencoba mengenaliku. Tak lama kemudian dia tersenyum. Di usia setua ini ada sesuatu yang tak pernah berubah, yaitu senyumannya. Seketika dadaku langsung berdebar-debar, sama seperti saat remaja dulu. Senyum itu, ya senyum itulah yang membuatku jadi serba salah waktu itu.

“Win? Kamu Winda, kan?” tanyanya agak sedikit kurang yakin.

“Benar Kak Arman,” jawabku malu-malu. Sama seperti pertama kali kami bertegur sapa sehabis POSMA Unlam di tahun 70-an dulu.

“Kok sendiri saja? ” tanyanya lagi.

Nampaknya Kak Arman tidak tahu bahwa suamiku sudah meninggal dua tahun yang lalu. Seandainya ia masih hidup, tentu tidak mungkin aku bisa membesuk lelaki ini. Almarhum suamiku itu orangnya sangat cemburuan, lebih-lebih lagi dengan Kak Arman. Dulu suamiku pernah kesal berminggu-minggu gara-gara aku keceplosan menyebut nama Arman di depannya.

“Tahu dari mana kalau aku di rumah sakit?” tanya kak Arman mengejutkanku sekaligus menyadarkanku dari lamunan.

“Oh, itu?” sahutku terbata. “Tadi, waktu ulun1 membaca daftar pasien rawat inap, ternyata di sana juga ada nama Kakak, Arman Tariban. Kebetulan juga ada tetangga yang sakit, jadi sekalian ulun membesuk pian2.”

***

Pertama kali aku mengenal lelaki ini adalah ketika aku mengikuti POSMA di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. POSMA itu kependekan dari Pekan Orietasi Studi Mahasiswa. Sekarang namanya diganti menjadi OSPEK. Aku sebagai calon mahasiswi bersama ribuan cama-cami dari lima fakultas duduk bersila di lantai aula yang kotor dan berdebu. Cama-cami tiap fakutas ditandai dengan pita berwarna di topi purun yang dikenakannya. Warna hijau untuk Fakultas Ekonomi, warna merah untuk Fakultas Hukum, warna kuning untuk Fakultas Sosial Politik, warna putih untuk Fakultas Keguruan dan warna ungu untuk Fakuktas Ilmu Pendidikan.

Masih segar dalam ingatanku ketika kami sedang serius mendengarkan penjelasan tentang pentingnya mentaati tata tertib POSMA, tiba-tiba kami dikejutkan oleh jeritan seseorang yang sedang dianiaya di luar ruangan. Tak lama kemudian, masuk seorang cama. Tampak di sekujur tubuhnya ada tempelan perban-perban kasa steril merah-merah. Wajahnya juga merah bekas kena hajar. 

“Tunduk! Semua tunduk!!!” teriak salah seorang panitia dengan kerasnya. Tuli rasanya telinga ini mendengar pengeras suara yang begitu nyaring Ditambah dengan suara dan ucapan yang sama keluar dari mahasiswa-mahasiswa di sekeliling kami. Kami semua cepat-cepat tunduk, takut kena marah. Suasana pun jadi hening, tak ada suara sedikitpun. Tak ada seorang pun diantara kami yang berani mengangkat muka, apalagi berbicara.

“Sudah! Sekarang angkat muka kalian! Dengar baik-baik!” teriak panitia yang tadi.

Aneh. Selama ini aku tidak pernah dibentak-bentak. Malah aku yang membentak-bentak. Di rumah aku adalah raja, mau apa saja tinggal minta, atau teriak sekeras-kerasnya. Tetapi di sini aku malah diam bagaikan patung batu, duduk manis di lantai aula yang kotor dan berdebu. Bagaikan sapi gagu ditarik di hidung mau saja disuruh begini disuruh begitu. Lebih-lebih lagi kalau yang ngomong lelaki itu.

Dari arah luar ruangan terdengar suara seseorang bicara. Suaranya berat garang dan berwibawa. “Manusia tak tahu malu! Belum apa-apa sudah membuat malu almamater!”

Lelaki itu kini sudah memasuki ruangan sambil memandang sinis ke arah kami. Lalu berhenti di dekat cama yang dianiaya tadi. Dia menatapnya dengan mata panas membara bagaikan api.

“Inilah calon koruptor di masa depan. Kada tahu disupan, mamakan wadai lima bapadah sabuting3.”

Kami cama-cami langsung serentak tertawa terpingkal-pingkal tak tertahankan. Namun, kami terkejut mendengar bentakan-bentakan dari berbagai arah.
“Diam! Diam!” bentak beberapa orang senior garang bersamaan.

“Tunduk!” bentak yang lain lagi tak kalah garangnya.

Senior-senior itu marah, membentak bersahut-sahutan bagaikan kawanan serigala hutan yang memburu mangsa, dengan ucapan yang sama, perintah yang harus kami taati semua.

“Ooo… Begini ya?” suara lelaki itu garang berwibawa. “Begini caranya kalian menyambut teman kalian yang baru kena hukum? Dia ini teman kalian, teman senasib sepenanggungan. Harusnya kalian perihatin atas nasib yang baru menimpa teman kalian ini. Eh, malah ketawa. Suka! Gembira! Di mana rasa solidaritas kalian?”

“Kami mati-matian mempertahankan nama baik almamater ini,” sambung lelaki itu. “Unlam tercinta yang tak ada duanya. Eh, kalian malah mempermalukan kami. Ini baru seorang yang ketahuan. Padahal, belakangan ini banyak pemilik warung makan yang melapor bahwa nasinya habis dimakan cama-cami, tetapi uang yang diterima kurang dari setengahnya. Itu artinya kalian banyak yang makan tidak bayar! Memalukan!”

Lelaki ini bukan main marahnya. Matanya melotot seperti mau lepas. Bagaikan harimau lapar yang mengaum-ngaum ingin menerkam mangsanya.

Tiba-tiba salah seorang panitia mengangkat megaphone dan berteriak nyaring sekeras-kerasnya. “Semuanya cepat berdiri! Angkat kedua tangan! Telunjuk lurus menunjuk ke atas! Gerak-gerakan telunjuk, terus gerakkan! Angkat kaki kiri! Lihat! Lihat telunjuk kalian masing-masing! Terus! Terus gerakan telunjuk kalian! Awas, kaki tidak boleh sampai turun!”

Aneh! Apa-apaan ini? Kami mau saja mematuhi perintah yang tak masuk akal ini. Tak seorang pun yang menyangkal, walaupun hati kami dongkol bagai dipenuhi batu-batu sebesar kepala. Gerakan ini terlihat cuma gerakan sepele, tetapi kami merasa ini adalah hukuman berat. Aku hampir jatuh atau mungkin juga pingsan sekalian mati. Untung panitia menyadari hal itu dan cepat-cepat menghentikan hukuman ini.

“Kalian semua adalah calon-calon pemimpin masa depan,” kata lelaki ini dengan suara berat berwibawa bergema ke seluruh ruangan.

“Belum apa-apa sudah tidak jujur. Bagaimana kalau nanti sudah jadi pemimpin? Atau jadi anggota legislatif?,” lanjut lelaki ini. “Orang-orang yang seperti begini, pasti nantinya jadi koruptor. Memakan uang yang bukan haknya. Memanipulasi uang Negara dan memeras uang rakyat dengan alasan tak jelas. Kalau kerja di kantor pajak, suka menggelapkan pembayaran pajak. Suka membantu pengusaha membuat laporan pembayaran pajak asli tapi palsu. Kalau jadi pejabat atau jadi kepala daerah suka memberi izin tambang yang merusak konservasi alam. Kalau jadi penegak hukum suka menelikung pasal-pasal hukum atau bisa jadi makelar kasus. Kalau jadi anggota dewan suka gratifikasi dan korupsi berjamaah.”

Aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatiku. Entah mengapa? Mulai saat itu aku jadi tertarik pada lelaki ini. Sejujurnya aku ingin selalu berdekatan, aku ingin selalu bersamanya dalam setiap kesempatan. Sebagai mahasiswi berwajah lumayan, hampir setiap lelaki ingin menggodaku. Tetapi, lelaki ini beda. Sedikitpun dia tidak terpengaruh dengan kecantikanku.

“Tapi, bukan berarti kalian tidak bisa berubah. Kami jamin setelah kalian selesai mengikut POSMA ini, Insya Allah, semuanya akan menjadi calon pemimpin yang baik hati. Aamiin.”

* * *

Suatu ketika aku sedang berada di kafetaria bersama teman-temanku. Lelaki ini juga ada di sana. Aku tidak tahu apakah dia sengaja atau tidak, tiba-tiba saja dia melirik ke arahku sembari tersenyum. Senyum seorang aktivis yang sangat kukagumi. Senyum yang sangat kunanti-nanti. Senyum itu laksana elang menukik tajam ke ujung jantungku. Waw! Senyum itu membuat aku terkesima. Aku gembira, aku kelepak-kelepak, berbunga-bunga. Jantungku rasanya mau copot. Ada debaran menggemuruh yang begitu dahsyat. Ada gelora yang begitu menggebu-gebu dalam hatiku. Aku tak kuasa menahan gelora itu. Aku gemetar, aku berkeringat dan aku jadi serba salah.

Aku jauh lebih salah tingkah lagi ketika lelaki ini duduk di sampingku. Mimpi apa aku tadi malam? Pucuk dicinta ulam pun tiba. Lelaki yang kuidam-idamkan selama ini benar-benar berada di sampingku. Aku kegeeran. Tenyata karena memang hanya itulah satu-satunya kursi yang kosong saat itu.

Sepintas dia terlihat seperti playboy kampus yang selalu melahap mahasiswi baru setiap awal tahun perkuliahan. Sudah biasa, setiap tahun selalu saja ada bunga-bunga yang berguguran. Sudah biasa pacar-pacar di tahun kemaren ditinggalkan merana menanggung derita jiwa.

***

Di tahun kuliahku yang kedua, barulah aku bisa mendekati lelaki ini: Kak Arman. Kami sering bertemu di perpustakaan. Sering bertukar pikiran, bicara berbagai hal, bahkan curhat. Kami juga sering jalan bareng, janjian ketemuan makan malam di luar, bahkan sering nonton bersama. Kuperhatikan diam-diam rasanya ini bukan hanya sekadar pertemanan. Tetapi sudah menjurus ke ranah yang lain. Apakah dia juga ada hati padaku? Ataukah hanya aku saja yang kegeeran?

Aku sangat senang semua ini berjalan perlahan. Aku sabar menunggu sampai dia mengungkapkan isi hatinya. Tetapi, tampaknya dia tidak juga mengutarakan isi hatinya. Sampai akhirnya Kak Arman diwisuda, aku masih sendiri. Tiga tahun kemudian aku pun diwisuda juga, dan aku masih saja sendiri. Padahal dulunya aku sangat berharap Kak Arman memberikan ciuman selamat kepadaku di saat wisuda. Ternyata itu hanyalah mimpi.

Secara tak kuduga ternyata kami bertugas pada sekolah yang sama. Tetapi tidak tampak sedikitpun adanya tanda-tanda rindunya padaku, apalagi cinta. Semua berjalan biasa, adem-adem saja. Padahal aku sangat berharap bisa mewujudkan impianku selama ini. Sekali lagi aku harus bersabar. Biarlah semuanya itu berjalan secara alami seperti dalam lagu Bengawan Solo, air meluap sampai jauh, dan akhirnya ke laut. Nah, di laut itulah aku berharap, kami bisa berlayar menuju pantai idaman. Namun sayang, semuanya hanyalah khayalan.

Sampai akhirnya terjadi peristiwa yang sangat menguncangkan hatiku. Sesuatu yang paling kutakuti terjadi juga. Sebuah undangan perkawinan tergeletak manis di meja setiap guru. Undangan perkawinan Kak Arman Tariban dengan seorang wanita yang sama sekali tidak kukenal. Katanya, itu adalah pilihan orang tuanya. Betapa dahsyat kurasa pukulan di hatiku. Pedih hatiku bagai ditusuk beribu peniti.

Tak berapa lama kemudian, dengan berat hati kuminta orang tuaku menerima lamaran seorang pengusaha yang sama sekali tidak pernah kucintai. Padahal, selama ini aku selalu menolak setiap lamaran yang datang.

Setelah aku menikah, tiba-tiba saja aku dipindah tugaskan ke kota lain tanpa alasan yang jelas. Usut punya usut, ternyata itu adalah ulah suamiku yang sangat mencemburui Kak Arman. Sejak itu kami tak pernah bertemu lagi hingga sore yang tak terduga ini.

***

Tiba-tiba saja kulihat ada sesuatu yang lain. Pelan-pelan kulihat lelaki ini menatapku, dan terus menatapku. Aku tidak tahu apa yang ada dibenaknya. Yang jelas aku merasa ia ingin mengatakan sesuatu.

“Sayang kita sudah sama-sama tua,” desisnya lirih. “Sebenarnya aku ….” Lelaki ini seperti tak sanggup meneruskannya.

“Ya, Kak Arman. Sebenarnya Winda juga ….” Aku juga tak sanggup meneruskan kata-kata itu.

Di langit-langit ruang Kumala A4 ini, ada sepasang cecak berkejaran kemudian menghilang entah ke mana. Ternyata cecak-cecak itu lebih mengerti daripada kami. [*]


Banjarmasin, Agustus 2010


Catatan:
1 Saya
2 Kamu
3 Tak tahu malu, makan kue lima biji bilangnya sebiji




*Hamberan Syahbana lahir di Banjarmasin, 14 Juli 1948. Pensiunan Guru SMP ini mengabdikan dedikasinya di dunia sastra sejak akhir tahun 60-an. Diawali tahun 1969 sebagai Ketua Departemen Seni Sastra Sanggar Kerikil Tadjam Banjarmasin. Tahun 1976 sebagai Wakil Sekretaris Dewan Kesenian Kalimantan Selatan. Tahun 1979 sebagai Kombid Sastra Badan Kordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Komisariat Kalimantan Selatan.

Tulisannya dimuat dalam Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni RRI Banjarmasin, Buletin Bandarmasih Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Selatan, SKH Utama Banjarmasin, Dinamika Banjarmasin (Bukan Dinamika Berita), Media Masyarakat Banjarmasin, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Dinamika Berita Banjarmasin, SKH Kalimantan Pos Banjarmasin, Media Kalimantan.

Puisi-puisinya juga dimuat dalam Antologi Puisi Air Bah (Sanggar Budaya Kalimantan Selatan, 1972), Camping Bukit Batu Mandiangin (Sanggar Pelajar Kerikil Tajam Banjarmasin, 1973), Panorama (Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Selatan, 1974), La Ventre de Kandangan, Mozaik Sastra HSS 1937-2003 (Kandangan HSS, 2004), Menyampir Bumi Leluhur ( Tabalong 2010),  seloka bisu batu benawa ( Hulu Sungai Tengah  2011).

Buku-bukunya yang terbit tahun 2011 MENIKMATI 108  PUISI  PENYAIR INDONESIA dan Kumpulan  Cerpen KAU YANG KUIDAMKAN (Syahbana Putera Publishing Banjarmasin, 2011)



Cara Mengirim Naskah ke Redaksi Read Zone
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter