Lelaki yang dulu sangat kukagumi kini telah lansia dan terbaring
lemas di ruang Kumala A4 RSUD Anshari Saleh Banjarmasin. Jarum infus masih
melekat di tangan kanannya. Sementara di atas meja di sampingnya bertumpuk tak
teratur buah segar dan roti-roti bawaan para pembesuk. Semua itu tampak
berdesakan dengan beberapa buah botol infus yang belum terpakai. Seorang remaja
tengah sibuk merapikan apa saja yang patut dia rapikan.
“Abah masuk mulai Kamis sore,” jelas remaja itu.
Remaja itu adalah anaknya. Dia juga menjelaskan bahwa lelaki ini
masuk rumah sakit karena tensinya naik, asmanya kambuh, dan detak jantungnya
juga kencang. Untung cepat dilarikan ke rumah sakit. Jika terlambat sedikit
saja barangkali tidak bisa tertolong. Saat itu sempat diberikan pertolongan
pertama dengan memberikan oksigen dan dua buah tablet kecil ditambah dengan
obat serbuk yang ditaruh di bawah lidah. Dalam waktu relatif singkat tensinya
langsung turun ke 130 per 80.
Kulihat pelan-pelan lelaki ini mulai membuka matanya. Perlahan ia
menoleh ke arahku. Dia memandangku lama sekali. Tampaknya dia mencoba
mengenaliku. Tak lama kemudian dia tersenyum. Di usia setua ini ada sesuatu
yang tak pernah berubah, yaitu senyumannya. Seketika dadaku langsung
berdebar-debar, sama seperti saat remaja dulu. Senyum itu, ya senyum itulah
yang membuatku jadi serba salah waktu itu.
“Win? Kamu Winda, kan?” tanyanya agak sedikit kurang yakin.
“Benar Kak Arman,” jawabku malu-malu. Sama seperti pertama kali kami
bertegur sapa sehabis POSMA Unlam di tahun 70-an dulu.
“Kok sendiri saja? ” tanyanya lagi.
Nampaknya Kak Arman tidak tahu bahwa suamiku sudah meninggal dua
tahun yang lalu. Seandainya ia masih hidup, tentu tidak mungkin aku bisa membesuk
lelaki ini. Almarhum suamiku itu orangnya sangat cemburuan, lebih-lebih lagi
dengan Kak Arman. Dulu suamiku pernah kesal berminggu-minggu gara-gara aku
keceplosan menyebut nama Arman di depannya.
“Tahu dari mana kalau aku di rumah sakit?” tanya kak Arman
mengejutkanku sekaligus menyadarkanku dari lamunan.
“Oh, itu?” sahutku terbata. “Tadi, waktu ulun1 membaca daftar pasien rawat inap, ternyata di sana
juga ada nama Kakak, Arman Tariban. Kebetulan juga ada tetangga yang sakit,
jadi sekalian ulun membesuk pian2.”
***
Pertama kali aku mengenal lelaki ini adalah ketika aku mengikuti
POSMA di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. POSMA itu kependekan dari
Pekan Orietasi Studi Mahasiswa. Sekarang namanya diganti menjadi OSPEK. Aku
sebagai calon mahasiswi bersama ribuan cama-cami dari lima fakultas duduk
bersila di lantai aula yang kotor dan berdebu. Cama-cami tiap fakutas ditandai
dengan pita berwarna di topi purun yang dikenakannya. Warna hijau untuk
Fakultas Ekonomi, warna merah untuk Fakultas Hukum, warna kuning untuk Fakultas
Sosial Politik, warna putih untuk Fakultas Keguruan dan warna ungu untuk
Fakuktas Ilmu Pendidikan.
Masih segar dalam ingatanku ketika kami sedang serius mendengarkan
penjelasan tentang pentingnya mentaati tata tertib POSMA, tiba-tiba kami dikejutkan
oleh jeritan seseorang yang sedang dianiaya di luar ruangan. Tak lama kemudian,
masuk seorang cama. Tampak di sekujur tubuhnya ada tempelan perban-perban kasa
steril merah-merah. Wajahnya juga merah bekas kena hajar.
“Tunduk! Semua tunduk!!!” teriak salah seorang panitia dengan
kerasnya. Tuli rasanya telinga ini mendengar pengeras suara yang begitu nyaring
Ditambah dengan suara dan ucapan yang sama keluar dari mahasiswa-mahasiswa di
sekeliling kami. Kami semua cepat-cepat tunduk, takut kena marah. Suasana pun
jadi hening, tak ada suara sedikitpun. Tak ada seorang pun diantara kami yang
berani mengangkat muka, apalagi berbicara.
“Sudah! Sekarang angkat muka kalian! Dengar baik-baik!” teriak
panitia yang tadi.
Aneh. Selama ini aku tidak pernah dibentak-bentak. Malah aku yang
membentak-bentak. Di rumah aku adalah raja, mau apa saja tinggal minta, atau
teriak sekeras-kerasnya. Tetapi di sini aku malah diam bagaikan patung batu,
duduk manis di lantai aula yang kotor dan berdebu. Bagaikan sapi gagu ditarik
di hidung mau saja disuruh begini disuruh begitu. Lebih-lebih lagi kalau yang
ngomong lelaki itu.
Dari arah luar ruangan terdengar suara seseorang bicara. Suaranya
berat garang dan berwibawa. “Manusia tak tahu malu! Belum apa-apa sudah membuat
malu almamater!”
Lelaki itu kini sudah memasuki ruangan sambil memandang sinis ke
arah kami. Lalu berhenti di dekat cama yang dianiaya tadi. Dia menatapnya
dengan mata panas membara bagaikan api.
“Inilah calon koruptor di masa depan. Kada tahu disupan, mamakan wadai lima bapadah sabuting3.”
Kami cama-cami langsung serentak tertawa terpingkal-pingkal tak
tertahankan. Namun, kami terkejut mendengar bentakan-bentakan dari berbagai
arah.
“Diam! Diam!” bentak beberapa orang senior garang bersamaan.
“Tunduk!” bentak yang lain lagi tak kalah garangnya.
Senior-senior itu marah, membentak bersahut-sahutan bagaikan
kawanan serigala hutan yang memburu mangsa, dengan ucapan yang sama, perintah
yang harus kami taati semua.
“Ooo… Begini ya?” suara lelaki itu garang berwibawa. “Begini
caranya kalian menyambut teman kalian yang baru kena hukum? Dia ini teman
kalian, teman senasib sepenanggungan. Harusnya kalian perihatin atas nasib yang
baru menimpa teman kalian ini. Eh, malah ketawa. Suka! Gembira! Di mana rasa
solidaritas kalian?”
“Kami mati-matian mempertahankan nama baik almamater ini,” sambung
lelaki itu. “Unlam tercinta yang tak ada duanya. Eh, kalian malah mempermalukan
kami. Ini baru seorang yang ketahuan. Padahal, belakangan ini banyak pemilik
warung makan yang melapor bahwa nasinya habis dimakan cama-cami, tetapi uang
yang diterima kurang dari setengahnya. Itu artinya kalian banyak yang makan
tidak bayar! Memalukan!”
Lelaki ini bukan main marahnya. Matanya melotot seperti mau lepas.
Bagaikan harimau lapar yang mengaum-ngaum ingin menerkam mangsanya.
Tiba-tiba salah seorang panitia mengangkat megaphone dan berteriak
nyaring sekeras-kerasnya. “Semuanya cepat berdiri! Angkat kedua tangan!
Telunjuk lurus menunjuk ke atas! Gerak-gerakan telunjuk, terus gerakkan! Angkat
kaki kiri! Lihat! Lihat telunjuk kalian masing-masing! Terus! Terus gerakan
telunjuk kalian! Awas, kaki tidak boleh sampai turun!”
Aneh! Apa-apaan ini? Kami mau saja mematuhi perintah yang tak
masuk akal ini. Tak seorang pun yang menyangkal, walaupun hati kami dongkol
bagai dipenuhi batu-batu sebesar kepala. Gerakan ini terlihat cuma gerakan
sepele, tetapi kami merasa ini adalah hukuman berat. Aku hampir jatuh atau
mungkin juga pingsan sekalian mati. Untung panitia menyadari hal itu dan
cepat-cepat menghentikan hukuman ini.
“Kalian semua adalah calon-calon pemimpin masa depan,” kata lelaki
ini dengan suara berat berwibawa bergema ke seluruh ruangan.
“Belum apa-apa sudah tidak jujur. Bagaimana kalau nanti sudah jadi
pemimpin? Atau jadi anggota legislatif?,” lanjut lelaki ini. “Orang-orang yang seperti
begini, pasti nantinya jadi koruptor. Memakan uang yang bukan haknya.
Memanipulasi uang Negara dan memeras uang rakyat dengan alasan tak jelas. Kalau
kerja di kantor pajak, suka menggelapkan pembayaran pajak. Suka membantu pengusaha
membuat laporan pembayaran pajak asli tapi palsu. Kalau jadi pejabat atau jadi
kepala daerah suka memberi izin tambang yang merusak konservasi alam. Kalau
jadi penegak hukum suka menelikung pasal-pasal hukum atau bisa jadi makelar
kasus. Kalau jadi anggota dewan suka gratifikasi dan korupsi berjamaah.”
Aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatiku. Entah
mengapa? Mulai saat itu aku jadi tertarik pada lelaki ini. Sejujurnya aku ingin
selalu berdekatan, aku ingin selalu bersamanya dalam setiap kesempatan. Sebagai
mahasiswi berwajah lumayan, hampir setiap lelaki ingin menggodaku. Tetapi,
lelaki ini beda. Sedikitpun dia tidak terpengaruh dengan kecantikanku.
“Tapi, bukan berarti kalian tidak bisa berubah. Kami jamin setelah
kalian selesai mengikut POSMA ini, Insya Allah, semuanya akan menjadi calon
pemimpin yang baik hati. Aamiin.”
* * *
Suatu ketika aku sedang berada di kafetaria bersama teman-temanku.
Lelaki ini juga ada di sana. Aku tidak tahu apakah dia sengaja atau tidak,
tiba-tiba saja dia melirik ke arahku sembari tersenyum. Senyum seorang aktivis
yang sangat kukagumi. Senyum yang sangat kunanti-nanti. Senyum itu laksana
elang menukik tajam ke ujung jantungku. Waw!
Senyum itu membuat aku terkesima. Aku gembira, aku kelepak-kelepak,
berbunga-bunga. Jantungku rasanya mau copot. Ada debaran menggemuruh yang
begitu dahsyat. Ada gelora yang begitu menggebu-gebu dalam hatiku. Aku tak
kuasa menahan gelora itu. Aku gemetar, aku berkeringat dan aku jadi serba
salah.
Aku jauh lebih salah tingkah lagi ketika lelaki ini duduk di
sampingku. Mimpi apa aku tadi malam? Pucuk dicinta ulam pun tiba. Lelaki yang
kuidam-idamkan selama ini benar-benar berada di sampingku. Aku kegeeran.
Tenyata karena memang hanya itulah satu-satunya kursi yang kosong saat itu.
Sepintas dia terlihat seperti playboy
kampus yang selalu melahap mahasiswi baru setiap awal tahun perkuliahan. Sudah
biasa, setiap tahun selalu saja ada bunga-bunga yang berguguran. Sudah biasa
pacar-pacar di tahun kemaren ditinggalkan merana menanggung derita jiwa.
***
Di tahun kuliahku yang kedua, barulah aku bisa mendekati lelaki
ini: Kak Arman. Kami sering bertemu di perpustakaan. Sering bertukar pikiran,
bicara berbagai hal, bahkan curhat. Kami juga sering jalan bareng, janjian
ketemuan makan malam di luar, bahkan sering nonton bersama. Kuperhatikan diam-diam
rasanya ini bukan hanya sekadar pertemanan. Tetapi sudah menjurus ke ranah yang
lain. Apakah dia juga ada hati padaku? Ataukah hanya aku saja yang kegeeran?
Aku sangat senang semua ini berjalan perlahan. Aku sabar menunggu
sampai dia mengungkapkan isi hatinya. Tetapi, tampaknya dia tidak juga
mengutarakan isi hatinya. Sampai akhirnya Kak Arman diwisuda, aku masih
sendiri. Tiga tahun kemudian aku pun diwisuda juga, dan aku masih saja sendiri.
Padahal dulunya aku sangat berharap Kak Arman memberikan ciuman selamat
kepadaku di saat wisuda. Ternyata itu hanyalah mimpi.
Secara tak kuduga ternyata kami bertugas pada sekolah yang sama.
Tetapi tidak tampak sedikitpun adanya tanda-tanda rindunya padaku, apalagi
cinta. Semua berjalan biasa, adem-adem saja. Padahal aku sangat berharap bisa
mewujudkan impianku selama ini. Sekali lagi aku harus bersabar. Biarlah
semuanya itu berjalan secara alami seperti dalam lagu Bengawan Solo, air meluap sampai jauh, dan akhirnya ke laut.
Nah, di laut itulah aku berharap, kami bisa berlayar menuju pantai idaman.
Namun sayang, semuanya hanyalah khayalan.
Sampai akhirnya terjadi peristiwa yang sangat menguncangkan
hatiku. Sesuatu yang paling kutakuti terjadi juga. Sebuah undangan perkawinan
tergeletak manis di meja setiap guru. Undangan perkawinan Kak Arman Tariban
dengan seorang wanita yang sama sekali tidak kukenal. Katanya, itu adalah
pilihan orang tuanya. Betapa dahsyat kurasa pukulan di hatiku. Pedih hatiku
bagai ditusuk beribu peniti.
Tak berapa lama kemudian, dengan berat hati kuminta orang tuaku
menerima lamaran seorang pengusaha yang sama sekali tidak pernah kucintai.
Padahal, selama ini aku selalu menolak setiap lamaran yang datang.
Setelah aku menikah, tiba-tiba saja aku dipindah tugaskan ke kota
lain tanpa alasan yang jelas. Usut punya usut, ternyata itu adalah ulah suamiku
yang sangat mencemburui Kak Arman. Sejak itu kami tak pernah bertemu lagi
hingga sore yang tak terduga ini.
***
Tiba-tiba saja kulihat ada sesuatu yang lain. Pelan-pelan kulihat
lelaki ini menatapku, dan terus menatapku. Aku tidak tahu apa yang ada
dibenaknya. Yang jelas aku merasa ia ingin mengatakan sesuatu.
“Sayang kita sudah sama-sama tua,” desisnya lirih. “Sebenarnya aku
….” Lelaki ini seperti tak sanggup meneruskannya.
“Ya, Kak Arman. Sebenarnya Winda juga ….” Aku juga tak sanggup
meneruskan kata-kata itu.
Di langit-langit ruang Kumala A4 ini, ada sepasang cecak
berkejaran kemudian menghilang entah ke mana. Ternyata cecak-cecak itu lebih
mengerti daripada kami. [*]
Banjarmasin, Agustus 2010
Catatan:
1 Saya
2 Kamu
3 Tak
tahu malu, makan kue lima biji bilangnya sebiji
*Hamberan Syahbana
lahir di Banjarmasin, 14 Juli 1948. Pensiunan Guru SMP ini mengabdikan
dedikasinya di dunia sastra sejak akhir tahun 60-an. Diawali tahun 1969 sebagai
Ketua Departemen Seni Sastra Sanggar Kerikil Tadjam Banjarmasin. Tahun 1976
sebagai Wakil Sekretaris Dewan Kesenian Kalimantan Selatan. Tahun 1979 sebagai
Kombid Sastra Badan Kordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Komisariat
Kalimantan Selatan.
Tulisannya dimuat dalam Untaian
Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni RRI Banjarmasin, Buletin Bandarmasih Dewan
Kesenian Daerah Kalimantan Selatan, SKH Utama Banjarmasin, Dinamika Banjarmasin
(Bukan Dinamika Berita), Media Masyarakat Banjarmasin, Banjarmasin Post, Radar
Banjarmasin, Dinamika Berita Banjarmasin, SKH Kalimantan Pos Banjarmasin, Media
Kalimantan.
Puisi-puisinya juga dimuat dalam
Antologi Puisi Air Bah (Sanggar Budaya Kalimantan Selatan, 1972), Camping Bukit
Batu Mandiangin (Sanggar Pelajar Kerikil Tajam Banjarmasin, 1973), Panorama
(Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Selatan, 1974), La Ventre de Kandangan,
Mozaik Sastra HSS 1937-2003 (Kandangan HSS, 2004), Menyampir Bumi Leluhur (
Tabalong 2010), seloka bisu batu benawa
( Hulu Sungai Tengah 2011).
Buku-bukunya yang terbit tahun 2011 MENIKMATI 108 PUISI
PENYAIR INDONESIA dan Kumpulan
Cerpen KAU YANG KUIDAMKAN (Syahbana Putera Publishing Banjarmasin, 2011)
Cara Mengirim Naskah ke Redaksi Read Zone
Cara Mengirim Naskah ke Redaksi Read Zone
