Puisi I
Senja Sedenting Waktu
Cukup
sedenting waktu yang tersisa
Aku tak
perlu satu jam apalagi sehari
Sedenting waktu adalah keabadian
Dalam alur kisah irama kehidupan
Corak senyum itu tetap menyatu
Seperti pertama kali kita bertemu
Di bawah lambaian daun-daun kenari
Bersama kicauan burung kecil
menari
Sorot mataku juga masih seperti
dulu
Seperti awal ku menyingkap auramu
Di bawah mega yang berbaris
Bersama senja jingga yang begitu
manis
Kini semua saksi diam membisu
Yang ada hanya deskripsi rasa
menyatu
Kita terpisah dalam ruang dan
waktu
Semua tetap sama,
Hanya saja, senja kali ini
semakin lali
Waktu semakin bangka
Dan tirani ini semakin lekang
Puisi II
Menunggu Rasa Itu Tiba
Biarkan semua ini mengalir
Deras arus menuju muaranya
Hingga lelah dan terhenti
Berkerumun bersama rinai samudera
Menjadi deburan ombak yang
sungguh mesra
Begitu juga dengan permainan ini
Tak akan kuhiraukan dimana
ujungnya
Tak akan kususur dimana
pangkalnya
Hanya waktu yang akan
menggerusnya
Melengkingkan nada rasa yang ada
Hingga nanti tibalah saatnya
Selaksa senyum yang membara
Dalam lelah yang ada
Temui bahagia di ujung sana
Bahagia, tertawa, dan bercengkrama
dengannya
Puisi III
Satu Aksara
Satu aksara yang tereja
Menjadi ilmu yang sangat berharga
Ambillah isi di dalamnya
Reguklah untuk pelepas dahaga
Lambat laun satu aksara menjadi
kata
Gerombolan kata menjadi kalimat
Rentetan kalimat menjadi makna
utuh
Untuk mendewasakanmu
Memperkaya batinmu
Menjadikamu tangguh
Cerdas, dan menjadi manusia
berguna
Bacalah, satu aksara
Mengubah hidupmu lebih berharga
Mengisi jiwa agar ternama
Menjadikan semua mimpi menjadi
nyata
* Muhammad Hasir, lahir di Bawahan Selan
Kab. Banjar, 16 Juni 1986. Pengajar di SMP Negeri 2 Babirik Kab. Hulu Sungai
Utara ini beralamat tinggal di Jl. Surapati RT III No. 32 Barabai Kab. Hulu
Sungai Tengah Kalimantan Selatan. Fb. Muhammad Hasir
Mau mengirim puisi kalian ke Read Zone, klik cara pengirimannya disini. Berpotensi diterbitkan jadi buku lho
