Bakat. Kata yang satu ini biasanya sangat ampuh dijadikan alasan
untuk tidak menulis. Ah, saya rasa, saya
memang tak berbakat menulis. Pertanyaannya, memangnya keterampilan menulis
itu dibawa sejak lahir?
Keterampilan, hemat saya tidak ada hubungannya dengan bakat bawaan
sejak lahir. Keterampilan itu diperoleh dengan latihan, bukan dengan hanya
berpikir aku ini berbakat menulis apa tidak ya? Kalau Anda sudah memancangkan
niat untuk jadi seorang penulis, tidak ada cara lain, Anda harus melatih diri
dengan menulis.
Mengapa orang bisa beralasan dengan tidak berbakat. Ini terjadi
karena sekali dua kali menulis lalu gagal, tulisan jeleklah yang
dipermasalahkan. Atau bingung harus menulis apa. Bisa juga menulis satu
paragraf saja tidak terselesaikan. Lalu serta merta memvonis diri tidak
berbakat menulis.
Contoh bidang lain, seperti orang belajar menyanyi. Ada yang
suaranya memang sudah merdu dari sananya. Tidak berpayah-payah latihan, ia pun
bisa melantunkan lagu dengan bagus. Kita pun bisa mengatakan dia memang
berbakat. Ada lagi yang suaranya jelek, ibarat kata, walau latihan vokal dengan
jungkir-balik, hasilnya tetap jelek. Dia pun kita anggap tidak berbakat.
Oke, untuk sementara, yang satu ini kita sepakat bahwa suara bagus
itu bawaan sejak lahir. Tapi, saya masih meragukannya. Keraguan saya begini,
potensi orang sama. Sama-sama diberi akal, diberi waktu, diberi suara. Mereka
yang bersuara bagus itu lantaran lebih terdahulu saja melatih suaranya. Kapan?
Sejak bayi. Bagaimana cara mereka latihan? Dengan sering menangis. Ini analisis
saya saja kok, apakah ada penelitian tentang anak yang sering nangis dengan
keras sejak bayi berhubungan erat dengan suaranya yang bagus. Kalau belum ada
silakan teliti ya, hehe….
Mengapa saya bisa berkesimpulan begitu? Waktu kuliah dulu, saya
punya teman, namanya Ahmad Sawiti. Ia cerita bahwa ketika latihan pertama kali
membaca Al-Quran dengan berlagu ia pernah dihina oleh orang bahwa suaranya
sangat jelek. Tidak mungkin bisa sukses menjadi juara kalau suara jelek seperti
kumbang dalam buluh. Sejak saat itu ia berlatih keras. Akhirnya, ia pun menjadi
Qari nasional.
Nah, bagaimana dengan menulis? Menulis tidak ada hubungannya
dengan suara. Menulis adalah kerja otak dan tangan sekaligus. Tinggal bagaimana
kita memanfaatkan otak dan tangan kita. Secara teori para ahli membagi otak
menjadi dua bagian yaitu belahan kiri dan kanan.
Dalam buku Quantum Learning menyarankan kepada yang baru belajar
menulis maupun yang sudah jadi penulis, ketika menulis hendaknya memaksimalkan pemanfaatan
belahan otak kanan. Abaikan dulu otak kiri. Alasannya, otak kiri berkaitan
erat dengan kelogisan, pengetahuan secara teori bahwa menulis itu harus baik,
tidak boleh salah. Makanya, ketika kita menulis ada yang salah ketik, otak kiri
memerintahkan untuk memperbaikinya. Baru satu paragraf, bahkan satu kalimat otak
kiri sudah memerintahkan membaca yang sudah ditulis untuk mengetahui
susunan kalimatnya sudah baik atau jelek. Manakala merasa jelek, serta merta
tangan men-delete. Makanya, abaikan
dulu perintah otak kiri ini.
Sementara itu, jika kita memaksimalkan otak kanan, tulisan akan
terus mengalir karena otak kanan ini berkaitan dengan perasaan, kegairahan, dan
imajinasi. Ia tak peduli salah atau benar. Jelek atau bagus. Otak kanan terus
mendorong kita untuk memproduksi kata-kata tanpa bersusah-payah. Teknik
memaksimalkan otak kanan ini yaitu dengan cara menulis cepat atau bisa juga
disebut free writing.
Free writing. Ini istilah yg digunakan Pak Hernowo Hasim untuk
melatih menulis tanpa beban. Tak takut salah, titik tekannya bukan pada hasil,
tapi pada prosesnya. Artinya bagaimana seseorang bisa memproduksi kata-kata
tanpa harus berpikir benar salahnya, baik tidaknya. Yang penting alirkan
tulisan sesuka kita tanpa harus berpikir bagus. Menulis bebas ini mirip dengan
yang pernah saya baca di buku Quantum Learning, yaitu menulis cepat. Buku
itulah yang menginspirasi saya. Dan, setelah membaca tulisan-tulisan Pak
Hernowo di fb, hal ini memperkuat pengalaman saya untuk terus menerapkannya. Lihat
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1200807813286489&id=100000718449566
Bagi penulis sekelebar Pak Hernowo Hasim pun tetap menggunakan
teknik ini untuk menggairahkan menulis yang sebenarnya.
Nah, ini saya kutipkan komentar beliau di status fb Haderi Ideris.
Pak Haderi, free writing atau
dalam Quantum Learning disebut fast writing merupakan teknik menulis ketika
ingin memulai menulis yang mengubah PARADIGMA menulis saya. Sebelum mencoba dan
membiasakan teknik menulis bebas atau menulis cepat yang saya memberdayakan
ini, saya dahulu TIDAK PERCAYA DIRI menulis, TAKUT DAN CEMAS menulis, dan
BINGUNG ketika ingin memulai menulis.
Komentar berikutnya setelah saya ungkap tentang menulis dengan
otak sebelah kanan.
Benar sekali apa yang Pak Haderi
Ideris sampaikan ini. Coba perhatikan petunjuk di buku itu yang meminta kita
menulis dengan dua belahan otak--kiri dan kanan. Setiap kali saya MEMULAI
menulis, saya senantiasa membiasakan untuk menulis dengan otak kanan--yang
bebas, spontan, emosional, bergairah, menemukan hal baru, dsb. Itu dahsyat Pak!
Saya bersyukur Pak Haderi Ideris sudah menemukan dan berkenan membaca
terjemahan Quantum Learning. Itu buku yang sangat memberdayakan diri saya. Salam
dan makasih.
Sekarang Anda sudah tahu tekniknya. Tinggal Anda mempraktikkannya.
Tidak tergantung apakah Anda berbakat atau tidak. Keterampilan didapat dengan
latihan bukan hanya sekadar memikirkan saya berbakat apa tidak. Ya toh? [HADERI IDERIS]
