Pages

Ads 468x60px

Minggu, 15 Mei 2016

HADERI IDERIS: MENULIS DAN RASA TAK BERBAKAT




Bakat. Kata yang satu ini biasanya sangat ampuh dijadikan alasan untuk tidak menulis. Ah, saya rasa, saya memang tak berbakat menulis. Pertanyaannya, memangnya keterampilan menulis itu dibawa sejak lahir?

Keterampilan, hemat saya tidak ada hubungannya dengan bakat bawaan sejak lahir. Keterampilan itu diperoleh dengan latihan, bukan dengan hanya berpikir aku ini berbakat menulis apa tidak ya? Kalau Anda sudah memancangkan niat untuk jadi seorang penulis, tidak ada cara lain, Anda harus melatih diri dengan menulis.

Mengapa orang bisa beralasan dengan tidak berbakat. Ini terjadi karena sekali dua kali menulis lalu gagal, tulisan jeleklah yang dipermasalahkan. Atau bingung harus menulis apa. Bisa juga menulis satu paragraf saja tidak terselesaikan. Lalu serta merta memvonis diri tidak berbakat menulis.

Contoh bidang lain, seperti orang belajar menyanyi. Ada yang suaranya memang sudah merdu dari sananya. Tidak berpayah-payah latihan, ia pun bisa melantunkan lagu dengan bagus. Kita pun bisa mengatakan dia memang berbakat. Ada lagi yang suaranya jelek, ibarat kata, walau latihan vokal dengan jungkir-balik, hasilnya tetap jelek. Dia pun kita anggap tidak berbakat.

Oke, untuk sementara, yang satu ini kita sepakat bahwa suara bagus itu bawaan sejak lahir. Tapi, saya masih meragukannya. Keraguan saya begini, potensi orang sama. Sama-sama diberi akal, diberi waktu, diberi suara. Mereka yang bersuara bagus itu lantaran lebih terdahulu saja melatih suaranya. Kapan? Sejak bayi. Bagaimana cara mereka latihan? Dengan sering menangis. Ini analisis saya saja kok, apakah ada penelitian tentang anak yang sering nangis dengan keras sejak bayi berhubungan erat dengan suaranya yang bagus. Kalau belum ada silakan teliti ya, hehe….

Mengapa saya bisa berkesimpulan begitu? Waktu kuliah dulu, saya punya teman, namanya Ahmad Sawiti. Ia cerita bahwa ketika latihan pertama kali membaca Al-Quran dengan berlagu ia pernah dihina oleh orang bahwa suaranya sangat jelek. Tidak mungkin bisa sukses menjadi juara kalau suara jelek seperti kumbang dalam buluh. Sejak saat itu ia berlatih keras. Akhirnya, ia pun menjadi Qari nasional.

Nah, bagaimana dengan menulis? Menulis tidak ada hubungannya dengan suara. Menulis adalah kerja otak dan tangan sekaligus. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan otak dan tangan kita. Secara teori para ahli membagi otak menjadi dua bagian yaitu belahan kiri dan kanan.

Dalam buku Quantum Learning menyarankan kepada yang baru belajar menulis maupun yang sudah jadi penulis, ketika menulis hendaknya memaksimalkan pemanfaatan belahan otak kanan. Abaikan dulu otak kiri. Alasannya, otak kiri berkaitan erat dengan kelogisan, pengetahuan secara teori bahwa menulis itu harus baik, tidak boleh salah. Makanya, ketika kita menulis ada yang salah ketik, otak kiri memerintahkan untuk memperbaikinya. Baru satu paragraf, bahkan satu kalimat otak kiri sudah memerintahkan  membaca yang sudah ditulis untuk mengetahui susunan kalimatnya sudah baik atau jelek. Manakala merasa jelek, serta merta tangan men-delete. Makanya, abaikan dulu perintah otak kiri ini.

Sementara itu, jika kita memaksimalkan otak kanan, tulisan akan terus mengalir karena otak kanan ini berkaitan dengan perasaan, kegairahan, dan imajinasi. Ia tak peduli salah atau benar. Jelek atau bagus. Otak kanan terus mendorong kita untuk memproduksi kata-kata tanpa bersusah-payah. Teknik memaksimalkan otak kanan ini yaitu dengan cara menulis cepat atau bisa juga disebut free writing.

Free writing. Ini istilah yg digunakan Pak Hernowo Hasim untuk melatih menulis tanpa beban. Tak takut salah, titik tekannya bukan pada hasil, tapi pada prosesnya. Artinya bagaimana seseorang bisa memproduksi kata-kata tanpa harus berpikir benar salahnya, baik tidaknya. Yang penting alirkan tulisan sesuka kita tanpa harus berpikir bagus. Menulis bebas ini mirip dengan yang pernah saya baca di buku Quantum Learning, yaitu menulis cepat. Buku itulah yang menginspirasi saya. Dan, setelah membaca tulisan-tulisan  Pak Hernowo di fb, hal ini memperkuat pengalaman saya untuk terus menerapkannya. Lihat https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1200807813286489&id=100000718449566

Bagi penulis sekelebar Pak Hernowo Hasim pun tetap menggunakan teknik ini untuk menggairahkan menulis yang sebenarnya.

Nah, ini saya kutipkan komentar beliau di status fb Haderi Ideris.

Pak Haderi, free writing atau dalam Quantum Learning disebut fast writing merupakan teknik menulis ketika ingin memulai menulis yang mengubah PARADIGMA menulis saya. Sebelum mencoba dan membiasakan teknik menulis bebas atau menulis cepat yang saya memberdayakan ini, saya dahulu TIDAK PERCAYA DIRI menulis, TAKUT DAN CEMAS menulis, dan BINGUNG ketika ingin memulai menulis.

Komentar berikutnya setelah saya ungkap tentang menulis dengan otak sebelah kanan.

Benar sekali apa yang Pak Haderi Ideris sampaikan ini. Coba perhatikan petunjuk di buku itu yang meminta kita menulis dengan dua belahan otak--kiri dan kanan. Setiap kali saya MEMULAI menulis, saya senantiasa membiasakan untuk menulis dengan otak kanan--yang bebas, spontan, emosional, bergairah, menemukan hal baru, dsb. Itu dahsyat Pak! Saya bersyukur Pak Haderi Ideris sudah menemukan dan berkenan membaca terjemahan Quantum Learning. Itu buku yang sangat memberdayakan diri saya. Salam dan makasih.

Sekarang Anda sudah tahu tekniknya. Tinggal Anda mempraktikkannya. Tidak tergantung apakah Anda berbakat atau tidak. Keterampilan didapat dengan latihan bukan hanya sekadar memikirkan saya berbakat apa tidak. Ya toh? [HADERI IDERIS]


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter