“Kita serius
ke tempat ini, Li?” tanya Amat Boong pada teman sekelasnya yang ada di
sampingnya.
“Demi
cintamu, Mat,” jawab Ali.
“Tapi, aku kok
ragu ya,” ucap Amat sambil mengamati sebuah rumah tua yang ada di hadapannya.
“Kita sudah
menempuh perjalanan yang jauh. Masak kita kembali dengan tangan hampa. Lagipula
kata orang-orang, beliau adalah seorang yang sakti mandraguna.”
Amat diam.
Dia memandangi lekat-lekat rumah tua itu.
“Nggak usah
mikir macam-macam, Mat. Bayangin Maudi aja,” saran Ali.
Perlahan, Amat
mengaguk. Mereka pun memasuki halaman rumah tua di pinggiran hutan itu.
*
* *
Gadis itu
dipanggil Maudi. Nama lengkapnya adalah Maudi Ayunan. Dia seorang siswi baru
pindahan dari Bandung di sebuah SMA bernama di Tabalong. Kehadiran pertama
siswi baru ini langsung menjadikannya buah bibir di sekolah, terutama di
kalangan para cowok. Bagaimana tidak, aura kecantikan yang terpancar dari
dirinya terasa langsung menghabiskan gelap dan menerbitkan terang bagi sekolah.
Dengan kulit yang seperti langsat, bibir dan hidung yang mungil, rambut yang
hitam dan melambai-lambai jika tertiup angin, bola mata cokelat yang menawan,
tak begitu jauh parasnya dengan aktris pemeran utama film Kapal Kardus,
membuatnya memiliki daya pikat yang luar biasa, sehingga banyak cowok yang tergila-gila
padanya, tak terkecuali Amat Boong.
Sebagai
cowok tak menggiurkan di kalangan siswi di sekolah, tentu ini adalah cobaan teramat
berat bagi Amat. Apalagi sudah begitu banyak cowok-cowok kece di sekolah yang
mendekati Maudi sejak sebulan pindahnya. Dihitung-hitung, sudah ada 45 orang
cowok yang mencoba mendekati Maudi. Itu artinya, rata-rata per hari ada 1,5
orang yang mendekati Maudi.
Namun,
anehnya tak ada seorang pun dari mereka yang berhasil merebut hati Maudi. Hanya
senyuman yang mereka dapat, itu saja. Hal itu membuat Amat berpendapat, “Karena
Maudi adalah anak kota yang sudah kekinian, mungkin dia sudah terbiasa melihat
cowok-cowok kece. Jadi, dia mencari cowok yang beda dari cowok-cowok yang sudah
ada. Seperti aku.” Amat pun cengengesan sendiri dan, HAP! Lalat pun masuk!
Pendapatnya
ini membuat kepedeannya meningkat drastic hingga menimbulkan keberanian pada
dirinya untuk mendekati Maudi. Berbagai alat perang pun ia siapkan sebelum
mendekati Maudi, seperti golok, kapak, dan rantai. Bukan untuk membantai Maudi
apabila menolaknya, tapi untuk bunuh diri apabila cintanya ditolak.
Namun, belum
sempat Amat beraksi, dia mendapat sebuah informasi yang mengejutkan tentang rahasia
hidup Maudi. Rahasia hidup yang tak dirahasiakan lagi oleh Maudi, dan itu
membuat langkah Amat seketika terhenti.
*
* *
“Sebenarnya
dahulu namanya bukan Maudi Ayunan,” kata Iin Formawati, seorang siswi sekelas
Amat yang hobi mengoleksi biodata orang-orang. Setiap kenal orang, Iin selalu
meminta data lengkap terkait orang tersebut. Tidak hanya nama lengkap, nama
orang tua, dan tempat tanggal lahir, tapi juga hal-hal yang bersifat privasi
selama orang itu mau memberitahukannya, seperti ukuran kaos kaki, kentut berapa
kali sehari, apakah pernah kelelep di sungai, dan sebagainya. Tak ayal, Iin pun
menjadi tujuan utama setiap orang untuk mencari berbagai informasi tentang
seseorang.
“Jadi, siapa
namanya?” tanya Amat.
“Apa dia
seorang gadis anggota FBI yang menyamar untuk memata-matai teroris di sekolah
kita?” Ali menerka-nerka.
“Bukan itu,”
sahut Iin. “Jadi, dahulu nama Maudi adalah Siti Batriah. Seiring dengan
pertumbuhannya, Maudi memiliki sedikit kelainan, yaitu kalau mau ngapainnya aja
selalu maunya diayun. Bahkan jika mau pipis pun harus diayun terlebih dahulu.
Oleh karena itu, saat usianya masih tiga tahun, orang tuanya mengganti namanya
menjadi Maudi Ayunan.”
Ali
manggut-manggut. Walau di hatinya agak kecewa karena tidak jadi melihat aksi
seorang mata-mata FBI. Dia sudah membayangkan nanti ada ledakan hebat di
sekolahnya dan terjadilah adu tembak seperti yang sering ditontonnya di film box office Hollywood. Jika begitu,
lumayan dia bisa libur sekolah.
Sedangkan
Amat mengerutkan kening, “In, nggak ada informasi yang lebih penting?”
“Ada dong!”
jawab Iin bersemangat. “Tapi, kamu jangan kecewa, sakit hati, patah hati,
apalagi bunuh diri jika mendengarnya.”
Amat
mengangguk mantap.
“Maudi
phobia sama gundul!”
Prang!!!
Ini adalah
pukulan yang sangat kejam bagi kisah cinta Amat. Belum berangkat berperang, dia
telah mati. Amat pun tertunduk lesu.
“Jangan bersedih,
Mat! Masih ada kesempatan untuk merebut hati Maudi,” Ali menyemangati.
“Li, dia
phobia sama gundul. Itu artinya, kehadiranku hanya akan menakuti dia.”
Ali
geleng-geleng kepala. “Kamu salah, Mat. Asal kamu mau berusaha sungguh-sungguh,
akan ada jalan yang terbuka untukmu.”
“Usaha
seperti apa, Li? Ini gundul udah gundul seumur hidup. Permanen. Kayak ompongku.”
Ali hanya diam
prihatin.
“Kok bisa ya
Maudi phobia sama gundul?” tanya Ali.
“Entahlah.
Aku belum mendapat informasi tentang hal itu. Mungkin dia ada punya pengalaman
yang mengerikan ketemu tuyul,” jawab Iin asal.
Amat
langsung manyun.
“Tapi, aku berjanji
akan cari tahu. Karena ini adalah memang tugas dan menjadi tujuan hidup seorang
Iin Formawati,” lanjutnya bersemangat.
*
* *
Amat duduk
di tepi ranjangnya, mengamati botol kecil yang ada di tangannya. Botol itu
berisi cairan berwarna hijau. Tapi, itu bukan sirup. Itu adalah sebuah ramuan
sakti yang mampu mengeluarkannya dari keputusasaan.
“Ramuan ini adalah ramuan terhebat yang
kupunya. Dia bisa memenuhi apapun yang diinginkan peminumnya. Tapi, hanya satu
keinginan. Tidak lebih! Ini ramuan sangat mahal harganya. Tapi, karena permasalahan
kamu adalah tentan cinta, aku akan berikan ramuan ini ke kamu dengan harga
khusus, murah dan terjangkau untuk kantong anak sekolah sepertimu.” Perkataan kakek yang tak terlihat wajahnya
karena memakai jubah dan penutup wajah itu masih terngiang di telinga Amat.
“Jadi, urusan rambut yang tidak pernah tumbuh
di kepalamu adalah urusan gampang bagi ramuan ini,” lanjut kakek itu kemudian terkekeh.
Sekarang,
ramuan terhebat itu telah berada di tangannya, dengan modal lima ribu perak.
Sesuai pesan si kakek tak terlihat wajahnya itu, dia harus meminum ramuan itu
sebelum tidur dengan terlebih dahulu menyebutkan keinginannya sebanyak tiga
kali di dalam hati, dan dijamin besok ia akan menemukan keajaibannya ketika dia
bangun tidur. Amat pun langsung meminumnya sekali teguk dan bergegas tidur.
Dan
ternyata, keajaiban yang disebutkan itu memang terjadi. Sungguh luat biasa!
Kepalanya yang gundul licin telah dipenuhi dengan rambut. “Wah, kalau manjur
gini, besok aku akan ke rumah kakek itu lagi, minta ramuan penumbuh gigi,”
ungkap Amat sumringah.
Amat
melangkah ke sekolah dengan penuh rasa percaya diri. Baginya, hari ini adalah
hari yang sangat bersejarah dalam
hidupnya karena merupakan hari pertama dia melangkah di dunia bersama rambut di
kepalanya. Dan dia juga yakin, hari ini akan menjadi hari yang paling istimewa
dalam hidupnya, karena cinta pertamanya akan terjalin. Dia berjalan dengan senyum
penuh kebahagiaan menuju kelasnya.
Namun, ketika
ia sudah sampai di sekolah, semua orang memandanginya dengan kening berkerut, “Anak mana tuh? Baru pertama kali masuk sini,
sok kepedean gitu?”
“Woy, kamu
siapa?” cegat Ali ketika Amat ingin masuk kelas.
Amat tertawa
terbahak. “Masak kamu tak mengenaliku, Li. Aku Amat.”
Semua siswa
yang mendengar itu langsung terperangah. Mata mereka melotot besar saking
terkejutnya. Bahkan ada yang langsung keluar iler. Ali kemudian tersenyum, “Ternyata benar-benar manjur. Padahal kakek
itu terkenal gagal terus ngasih ramuan.”
“Hari ini
juga, aku akan nembak Maudi!” ucap Amat mantap.
*
* *
Amat termenung
di depan cermin. Wajahnya merautkan kekecewaan. Bukan karena cinta yang
bertepuk sebelah tangan, melainkan karena rencana penembakan Maudi harus
tertunda. Ternyata hari ini Maudi tidak masuk sekolah akibat sakit. Tapi, dia
berusaha meyakinkan dirinya bahwa masih ada hari esok untuk menyatakan
cintanya. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Maudi.
Amat mulai
menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi. Untuk pertama kalinya sisir yang
merupakan hadiah dari ayahnya pada ultahnya yang kelima bisa ia pakai. Bahkan
setelah isya tadi, ibunya langsung mengadakan acara syukuran atas tumbuhnya
rambut di kepala Amat. Bagi keluarganya, ini adalah sebuah kebahagiaan dan
kebanggaan yang lur biasa.
Namun sayangnya,
kebahagiannya itu hanya bersifat sementara. Rumahnya tiba-tiba gempar membahana
ketika Amat bangun tidur keesokan harinya, karena tidak ada lagi sehelai rambut
pun di kepalanya. Kepalanya kembali bening seperti semula! Anehnya lagi, tidak
ada ceceran rambutnya di sekitar tempat tidurnya. Rambutnya hilang tanpa bekas!
Amat pun
langsung menemui kakek tak terlihat wajah itu. Dia komplain. Dia merasa
dirugikan telah bayar lima ribu. Namun, ketika sampai di situ, sang kakek hanya
terkekeh, kemudian berujar, “Ramuan itu memiliki syarat dan ketentuan. Lima
ribu untuk paket per hari. Apabila ingin sebulan, ada paket pilihan tersendiri.”
Amat yang tak
mau ambil pusing dengan syarat dan ketentuan tersebut, akhirnya meninggalkan
rumah kakek itu dengan penuh kekecewaan. Dan seiring kepergiannya itu,
keputusasaannya untuk mendapatkan Maudi kembali datang.
Sesampainya
dia di sekolah, berbagai pertanyaan tentang di mana rambutnya pun muncul dari
teman-temannya. Namun, tak ada satu pun yang ditanggapinya dengan kata, hanya
dengan raut kesedihan. Namun, kesedihannya mulai terusik ketika dari kejauhan
dia melihat Maudi sudah ceria seperti sedia kala. Baginya, melihat keceriaan
Maudi ibarat penawar rasa gundah gulananya.
“Mat,
bagaimana penembakan Maudi?” tanya Ali di kelas.
“Sudah pupus
harapan,” jawab Amat parau sambil menunduk.
Ali diam,
mencoba merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya itu.
“Mat!!
Harapanmu belum pupus!!!” Tiba-tiba Iin masuk kelasnya sambil berteriak-teriak.
Dia langsung menghampiri Amat sambil berteriak lagi, “Aku salah!!! Aku
salah!!!”
Kehadiran
Iin itu disambut kerutan kening oleh Amat dan Ali.
“Ternyata,
Maudi tidak phobia sama gundul!!”
“Hah??!!
Terus?” tanya Amat dan Ali kaget bersamaan.
“Aku salah
baca. Ternyata Maudi phobia sama gundu. Kemarin, ada bekas kotoran cecak nempel
di buku catatan kenalanku dan membentuk seperti huruf ‘L’. Makanya aku
kebacanya gundul.”
Amat dan Ali
garuk-garuk kepala. Rada tak percaya dengan penjelasan Iin.
“Gundu?
Kelereng maksudnya?” Ali memastikan.
“Iya. Dan
itulah yang membuat Maudi sakit kemarin. Dia tersentuh kelereng yang dibawa
keponakannya dan langsung sakit. Dia punya masa lalu yang suram dengan
kelereng.”
Amat masih
rada tak percaya. Tapi, informasi Iin barusan tentu mengembalikan kepercayaan
dirinya untuk pedekate dengan Maudi. Akhirnya, Amat pun tersenyum. Pintu goanya
pun terbuka dan membuat para lalat beradu terbang untuk memasuki goa itu. [ ]
