Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 14 Mei 2016

seRial#2 MAHFUZH AMIN: RAMUAN PENUMBUH RAMBUT



“Kita serius ke tempat ini, Li?” tanya Amat Boong pada teman sekelasnya yang ada di sampingnya.
“Demi cintamu, Mat,” jawab Ali.
“Tapi, aku kok ragu ya,” ucap Amat sambil mengamati sebuah rumah tua yang ada di hadapannya.

“Kita sudah menempuh perjalanan yang jauh. Masak kita kembali dengan tangan hampa. Lagipula kata orang-orang, beliau adalah seorang yang sakti mandraguna.”
Amat diam. Dia memandangi lekat-lekat rumah tua itu.
“Nggak usah mikir macam-macam, Mat. Bayangin Maudi aja,” saran Ali.
Perlahan, Amat mengaguk. Mereka pun memasuki halaman rumah tua di pinggiran hutan itu.
* * *
Gadis itu dipanggil Maudi. Nama lengkapnya adalah Maudi Ayunan. Dia seorang siswi baru pindahan dari Bandung di sebuah SMA bernama di Tabalong. Kehadiran pertama siswi baru ini langsung menjadikannya buah bibir di sekolah, terutama di kalangan para cowok. Bagaimana tidak, aura kecantikan yang terpancar dari dirinya terasa langsung menghabiskan gelap dan menerbitkan terang bagi sekolah. Dengan kulit yang seperti langsat, bibir dan hidung yang mungil, rambut yang hitam dan melambai-lambai jika tertiup angin, bola mata cokelat yang menawan, tak begitu jauh parasnya dengan aktris pemeran utama film Kapal Kardus, membuatnya memiliki daya pikat yang luar biasa, sehingga banyak cowok yang tergila-gila padanya, tak terkecuali Amat Boong.
Sebagai cowok tak menggiurkan di kalangan siswi di sekolah, tentu ini adalah cobaan teramat berat bagi Amat. Apalagi sudah begitu banyak cowok-cowok kece di sekolah yang mendekati Maudi sejak sebulan pindahnya. Dihitung-hitung, sudah ada 45 orang cowok yang mencoba mendekati Maudi. Itu artinya, rata-rata per hari ada 1,5 orang yang mendekati Maudi.
Namun, anehnya tak ada seorang pun dari mereka yang berhasil merebut hati Maudi. Hanya senyuman yang mereka dapat, itu saja. Hal itu membuat Amat berpendapat, “Karena Maudi adalah anak kota yang sudah kekinian, mungkin dia sudah terbiasa melihat cowok-cowok kece. Jadi, dia mencari cowok yang beda dari cowok-cowok yang sudah ada. Seperti aku.” Amat pun cengengesan sendiri dan, HAP!  Lalat pun masuk!
Pendapatnya ini membuat kepedeannya meningkat drastic hingga menimbulkan keberanian pada dirinya untuk mendekati Maudi. Berbagai alat perang pun ia siapkan sebelum mendekati Maudi, seperti golok, kapak, dan rantai. Bukan untuk membantai Maudi apabila menolaknya, tapi untuk bunuh diri apabila cintanya ditolak.
Namun, belum sempat Amat beraksi, dia mendapat sebuah informasi yang mengejutkan tentang rahasia hidup Maudi. Rahasia hidup yang tak dirahasiakan lagi oleh Maudi, dan itu membuat langkah Amat seketika terhenti.
* * *
“Sebenarnya dahulu namanya bukan Maudi Ayunan,” kata Iin Formawati, seorang siswi sekelas Amat yang hobi mengoleksi biodata orang-orang. Setiap kenal orang, Iin selalu meminta data lengkap terkait orang tersebut. Tidak hanya nama lengkap, nama orang tua, dan tempat tanggal lahir, tapi juga hal-hal yang bersifat privasi selama orang itu mau memberitahukannya, seperti ukuran kaos kaki, kentut berapa kali sehari, apakah pernah kelelep di sungai, dan sebagainya. Tak ayal, Iin pun menjadi tujuan utama setiap orang untuk mencari berbagai informasi tentang seseorang.
“Jadi, siapa namanya?” tanya Amat.
“Apa dia seorang gadis anggota FBI yang menyamar untuk memata-matai teroris di sekolah kita?” Ali menerka-nerka.
“Bukan itu,” sahut Iin. “Jadi, dahulu nama Maudi adalah Siti Batriah. Seiring dengan pertumbuhannya, Maudi memiliki sedikit kelainan, yaitu kalau mau ngapainnya aja selalu maunya diayun. Bahkan jika mau pipis pun harus diayun terlebih dahulu. Oleh karena itu, saat usianya masih tiga tahun, orang tuanya mengganti namanya menjadi Maudi Ayunan.”
Ali manggut-manggut. Walau di hatinya agak kecewa karena tidak jadi melihat aksi seorang mata-mata FBI. Dia sudah membayangkan nanti ada ledakan hebat di sekolahnya dan terjadilah adu tembak seperti yang sering ditontonnya di film box office Hollywood. Jika begitu, lumayan dia bisa libur sekolah.
Sedangkan Amat mengerutkan kening, “In, nggak ada informasi yang lebih penting?”
“Ada dong!” jawab Iin bersemangat. “Tapi, kamu jangan kecewa, sakit hati, patah hati, apalagi bunuh diri jika mendengarnya.”
Amat mengangguk mantap.
“Maudi phobia sama gundul!”
Prang!!!
Ini adalah pukulan yang sangat kejam bagi kisah cinta Amat. Belum berangkat berperang, dia telah mati. Amat pun tertunduk lesu.
“Jangan bersedih, Mat! Masih ada kesempatan untuk merebut hati Maudi,” Ali menyemangati.
“Li, dia phobia sama gundul. Itu artinya, kehadiranku hanya akan menakuti dia.”
Ali geleng-geleng kepala. “Kamu salah, Mat. Asal kamu mau berusaha sungguh-sungguh, akan ada jalan yang terbuka untukmu.”
“Usaha seperti apa, Li? Ini gundul udah gundul seumur hidup. Permanen. Kayak ompongku.”
Ali hanya diam prihatin.
“Kok bisa ya Maudi phobia sama gundul?” tanya Ali.
“Entahlah. Aku belum mendapat informasi tentang hal itu. Mungkin dia ada punya pengalaman yang mengerikan ketemu tuyul,” jawab Iin asal.
Amat langsung manyun.
“Tapi, aku berjanji akan cari tahu. Karena ini adalah memang tugas dan menjadi tujuan hidup seorang Iin Formawati,” lanjutnya bersemangat.
* * *
Amat duduk di tepi ranjangnya, mengamati botol kecil yang ada di tangannya. Botol itu berisi cairan berwarna hijau. Tapi, itu bukan sirup. Itu adalah sebuah ramuan sakti yang mampu mengeluarkannya dari keputusasaan.
“Ramuan ini adalah ramuan terhebat yang kupunya. Dia bisa memenuhi apapun yang diinginkan peminumnya. Tapi, hanya satu keinginan. Tidak lebih! Ini ramuan sangat mahal harganya. Tapi, karena permasalahan kamu adalah tentan cinta, aku akan berikan ramuan ini ke kamu dengan harga khusus, murah dan terjangkau untuk kantong anak sekolah sepertimu.” Perkataan kakek yang tak terlihat wajahnya karena memakai jubah dan penutup wajah itu masih terngiang di telinga Amat.
“Jadi, urusan rambut yang tidak pernah tumbuh di kepalamu adalah urusan gampang bagi ramuan ini,” lanjut kakek itu kemudian terkekeh.
Sekarang, ramuan terhebat itu telah berada di tangannya, dengan modal lima ribu perak. Sesuai pesan si kakek tak terlihat wajahnya itu, dia harus meminum ramuan itu sebelum tidur dengan terlebih dahulu menyebutkan keinginannya sebanyak tiga kali di dalam hati, dan dijamin besok ia akan menemukan keajaibannya ketika dia bangun tidur. Amat pun langsung meminumnya sekali teguk dan bergegas tidur.
Dan ternyata, keajaiban yang disebutkan itu memang terjadi. Sungguh luat biasa! Kepalanya yang gundul licin telah dipenuhi dengan rambut. “Wah, kalau manjur gini, besok aku akan ke rumah kakek itu lagi, minta ramuan penumbuh gigi,” ungkap Amat sumringah.
Amat melangkah ke sekolah dengan penuh rasa percaya diri. Baginya, hari ini adalah hari yang sangat  bersejarah dalam hidupnya karena merupakan hari pertama dia melangkah di dunia bersama rambut di kepalanya. Dan dia juga yakin, hari ini akan menjadi hari yang paling istimewa dalam hidupnya, karena cinta pertamanya akan terjalin. Dia berjalan dengan senyum penuh kebahagiaan menuju kelasnya.
Namun, ketika ia sudah sampai di sekolah, semua orang memandanginya dengan kening berkerut, “Anak mana tuh? Baru pertama kali masuk sini, sok kepedean gitu?”
“Woy, kamu siapa?” cegat Ali ketika Amat ingin masuk kelas.
Amat tertawa terbahak. “Masak kamu tak mengenaliku, Li. Aku Amat.”
Semua siswa yang mendengar itu langsung terperangah. Mata mereka melotot besar saking terkejutnya. Bahkan ada yang langsung keluar iler. Ali kemudian tersenyum, “Ternyata benar-benar manjur. Padahal kakek itu terkenal gagal terus ngasih ramuan.”
“Hari ini juga, aku akan nembak Maudi!” ucap Amat mantap.
* * *
Amat termenung di depan cermin. Wajahnya merautkan kekecewaan. Bukan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, melainkan karena rencana penembakan Maudi harus tertunda. Ternyata hari ini Maudi tidak masuk sekolah akibat sakit. Tapi, dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa masih ada hari esok untuk menyatakan cintanya. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Maudi.
Amat mulai menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi. Untuk pertama kalinya sisir yang merupakan hadiah dari ayahnya pada ultahnya yang kelima bisa ia pakai. Bahkan setelah isya tadi, ibunya langsung mengadakan acara syukuran atas tumbuhnya rambut di kepala Amat. Bagi keluarganya, ini adalah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan yang lur biasa.
Namun sayangnya, kebahagiannya itu hanya bersifat sementara. Rumahnya tiba-tiba gempar membahana ketika Amat bangun tidur keesokan harinya, karena tidak ada lagi sehelai rambut pun di kepalanya. Kepalanya kembali bening seperti semula! Anehnya lagi, tidak ada ceceran rambutnya di sekitar tempat tidurnya. Rambutnya hilang tanpa bekas!
Amat pun langsung menemui kakek tak terlihat wajah itu. Dia komplain. Dia merasa dirugikan telah bayar lima ribu. Namun, ketika sampai di situ, sang kakek hanya terkekeh, kemudian berujar, “Ramuan itu memiliki syarat dan ketentuan. Lima ribu untuk paket per hari. Apabila ingin sebulan, ada paket pilihan tersendiri.”
Amat yang tak mau ambil pusing dengan syarat dan ketentuan tersebut, akhirnya meninggalkan rumah kakek itu dengan penuh kekecewaan. Dan seiring kepergiannya itu, keputusasaannya untuk mendapatkan Maudi kembali datang.
Sesampainya dia di sekolah, berbagai pertanyaan tentang di mana rambutnya pun muncul dari teman-temannya. Namun, tak ada satu pun yang ditanggapinya dengan kata, hanya dengan raut kesedihan. Namun, kesedihannya mulai terusik ketika dari kejauhan dia melihat Maudi sudah ceria seperti sedia kala. Baginya, melihat keceriaan Maudi ibarat penawar rasa gundah gulananya.
“Mat, bagaimana penembakan Maudi?” tanya Ali di kelas.
“Sudah pupus harapan,” jawab Amat parau sambil menunduk.
Ali diam, mencoba merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya itu.
“Mat!! Harapanmu belum pupus!!!” Tiba-tiba Iin masuk kelasnya sambil berteriak-teriak. Dia langsung menghampiri Amat sambil berteriak lagi, “Aku salah!!! Aku salah!!!”
Kehadiran Iin itu disambut kerutan kening oleh Amat dan Ali.
“Ternyata, Maudi tidak phobia sama gundul!!”
“Hah??!! Terus?” tanya Amat dan Ali kaget bersamaan.
“Aku salah baca. Ternyata Maudi phobia sama gundu. Kemarin, ada bekas kotoran cecak nempel di buku catatan kenalanku dan membentuk seperti huruf ‘L’. Makanya aku kebacanya gundul.”
Amat dan Ali garuk-garuk kepala. Rada tak percaya dengan penjelasan Iin.
“Gundu? Kelereng maksudnya?” Ali memastikan.
“Iya. Dan itulah yang membuat Maudi sakit kemarin. Dia tersentuh kelereng yang dibawa keponakannya dan langsung sakit. Dia punya masa lalu yang suram dengan kelereng.”
Amat masih rada tak percaya. Tapi, informasi Iin barusan tentu mengembalikan kepercayaan dirinya untuk pedekate dengan Maudi. Akhirnya, Amat pun tersenyum. Pintu goanya pun terbuka dan membuat para lalat beradu terbang untuk memasuki goa itu. [ ]


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter