Puisi I
SECANGKIR KOPI
Secangkir kopi penuh sebelum diminum
Entah seruput yang keberapa masuk ke mulutmu
Selalu saja ditingkahi bibir menghisap
Bagaikan sebuah mesin
Membuka menutup mengecap
Mereguk puas demi puas
Menghisap air dalam tuangan
Beribu bentuk
Teguk seteguk berteguk teguk
Bergelombang mengalir
meruas ke ruas melewati rongga rongga tubuh
hingga di sungai ususmu
Dalam secangkir kopi
hilang bening air menjadi hitam
Putih air tawar berubah manis pahit
Menyatu warna hitam pekat
Menghiasi kesedihanmu
Menyertai ceria hari harimu
Kau atau dia yang mengaduknya menjadi padu
Tidak penting lagi
karena tak ada air putih yang kau sebut susu
atau tawar
Tak ada bubuk lembut dari biji buah kopi yang
kau tanam petik
Tak ada manis dari batang-batang tebu yang
kau namakan gula
Bahkan cangkir dan gelas kaca hanya sekedar
bentuk tuangan
Menampung dalam ukuran cukup, kurang dan
tambah
Yang kini tengah kau nikmati
secangkir kopi berasap
meliuk putih halus beraroma khas
menuju menyusup ke paru parumu
entah kau mengenalinya atau tidak
ketika dia keluar di pori pori kulitmu
atau melalui batang tubuhmu yang satu itu
warna hitam tak tampak lagi
dalam nikmat lain
Tanjung, 30
Maret 2016
(Pernah
dimuat di SKH Media Kalimantan edisi 12 April 2016)
Puisi II
SEBATANG ROKOK
Hanya sebatang saja
Begitulah rokok bertengger di bibir
Tidak tertentu bibir siapa saja
Bukan hanya milik bintang iklan
Rakyat jelata dan para pemimpin negeri ini
biasa menyulut api di ujung batangnya
maka berhembuslah asap putih dari celah
berjuta mulut
membelah udara
kemudian tak berapa lama gumpalan putih itu
menghilang
bersatu dengan kegaiban angin
Selalu sebatang saja yang menyala
Lainnya menunggu giliran untuk dihisap
Perlahan
batang itu menyusut
Sehabis ditarik angina dadamu
Dan bulat merah api yang bergeser ke mulutmu
Kembang kemps
Selagi akan membakarnya
Mereka mengingatkanmu
Dengan wajah cemas dan sekarat yang dipajang
di bungkus
Dirimu bergeming mengulang
Menghisap menghembus
Menghirup pembakaran
Mengeluarkan lega yang sempat terkurung
sesaat
wajahmu tersenyum membayangkan wujudnya
bertajali pada asap
bernafas mengingat dia
menghembus menyebut namanya
Tanjung, 31
Maret 2016
(Pernah
dimuat di SKH Media Kalimantan edisi 12 April 2016)
Puisi III
WAKTU
Saat kau datang tak seorang mampu menghindar
Karena ruang meliput segala
Tidak juga aku yang menghabiskan jatah usia
Menunggu di pintu masuk atau pintu keluar
Sebab di areal ini jalan pulang pergi manusia
Menuju nasib dipintaloleh takdir demi takdir
Sebelum semua berakhir
waktu bagai pedang
Terhunus menebas harap
Yang kau gantung di celah celah langit
Waktu kau pergi tidak seorang bertahan
merangkulmu
Meski peluk mesra penuh cinta
Telah ada sejak dulu
Tidak juga dia yang diberi karamat
Kuatnya hanya sebatas hitungan menanda jarak
Dan lama hidup ukuran hari berjumlah minggu
bulan tahun dan abad
Maka rangkaian ini adalah kesempatan
beribadat
Sesudah semua dimula
Waktu adalah ketika engkau sebelumnya tak ada
menjadi hidup lalu
disebut untuk menyatakan ada
Karena zaman bergerak menimbunnya di lobang
lobang kuburan
Di ruang inilah waktu berhenti
tidak beredar tidak bernafas
Tempat pembuangan kaku tanah galian
bersegi empat titik tanam jasad
Bernisan tanggal wafat
Waktu adalah keadaan saat bumi berputar
Dan langit landasannya yang membentang
Dan ketika tiada bersama kiamat menelan
takdir semesta
Maka waktu adalah makhluk yang senantiasa
dicipta dalan persaksian amal manusia
Tanjung, 1
Desember 2011
(Pernah
dimuat di SKH Media Kalimantan edisi 2 Desember 2011)
*H. Ahmad Surkati Ar lahir di Tanjung 8 April 1971. Menulis
cerpen, puisi dan esai sejak masih di ponpes Alfalah Banjarbaru tahun 1980-an. Kumpulan
cerpennya dapat dibaca dalam antologi cerpen Kisah Bidadari, terbit awal tahun
2000-an. Serta satu cerpennya menjadi salah satu cerpen yang dimuat dalam Buku
Sastra Festival Keseniaan Yogyakarta (FKY) tahun 1997. Karangannya tersebar di
berbagai media massa nasional dan lokal, seperti Yogya Post, Pos Film,
Banjarmasin Post, Kalimantan Post, Radar Banjar, Media Kalimantan, dan lain
lain. Sekarang selain sebagai PNS Kankemenag Tabalong juga aktifi di MUI
Tabalong dan berdakwah

