Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 16 Juli 2016

CERPEN KAK IAN: ORANG-ORANG BERWAJAH MONYET


Parlin tertunduk lemas ketika ia ikut terjaring dalam penertiban monyet di ibukota. Ia sendiri tidak menyangka kalau dirinya salah satu yang menjadi korbannya. Saat itu seharian ia belum mendapatkan uang sepersen pun dari atraksi Si Primbon, nama monyet yang ia miliki untuk menarik simpati para penonton aksinya.
Naas. Di tengah hari ketika raja siang yang masih malu-malu menampakkan diri saat ia akan menampilkan atraksi Si Primbon di tengah jalan, tiba-tiba beberapa petugas dinas sosial berseragam coklat itu langsung menyergap Parlin. Tentu saja itu membuat ia takut bukan kepalang. Apalagi usianya masih sangat belia. Masih berusia dua puluh satu. Ia hanya lulusan bangku SD. Hanya bisa baca tulis saja. Tidak seperti kebanyakan teman-teman kecilnya di kampung halamannya. Tidak bisa menulis apalagi membaca. Semua disebabkan karena kemiskinan.
Parlin kontan terkejut saat tiba-tiba ia langsung dibawa para petugas yang kebanyakan berperut buncit itu. Apalagi ia belum pernah sama sekali melakukan tindak kriminal dan kejahatan. Lagi pula ia datang ke ibukota hanya baru beberapa hari. Menjadi tukang topeng monyet hanya karena untuk membantu perekonomian orangtuanya di kampung halamannya yang labil. Terlebih ia anak sulung dari empat bersaudara. Itu pun adik-adiknya masih kecil-kecil. Tentu mereka butuh jajan pula.
Semua pasang mata langsung mengarah ke tubuh cungkring Parlin ketika ia diangkut untuk menaiki mobil petugas itu. Maklum, tempat menampilkan aksi Si Primbon berada di tengah jalan. Tempat berlalu lalang para pengendara dan pejalan kaki melewati jalan itu. Tanpa perlawanan ia mengikuti langkah para petugas itu untuk menuju mobil
Aneh. Begitu yang Parlin rasakan ketika dalam penyergapan itu Si Primbon yang setia menemaninya tidak ada perlawanan. Biasanya jika ada orang asing mengganggunya, ia selalu menyerang dan mencakar bahkan menggigitnya tanpa ampun. Tapi, kenapa saat para petugas itu menangkapnya ia diam saja. Seperti terhipnotis. Tak bisa melakukan apa-apa. Si Primbon menurut saja ketika dibawa lalu dimasukan ke teralis besi.
 “Sudahlah, Lin, kamu buat apa cari uang di Jakarta. Apalagi mau jadi tukang topeng monyet. Memangnya kamu tidak mendengar berita apa, kalau di ibukota monyet tidak diperbolehkan masuk apalagi dipekerjakan. Nanti kamu di sana sama seperti mereka yang terkena jaring penertiban aksi bebas dari monyet. Nanti Si Primbonmu kena tangkap juga lho oleh mereka.”
Parlin tiba-tiba teringat dengan ocehan teman-temannya di kampung saat usai main sepak bola di tengah lapangan yang masih ditumbuhi ilalang. Tapi ia malah mengacuhkan ucapan mereka. Ia tidak percaya jika belum membuktikannya. Sekarang?
“Cepat, jalan! Jangan sampai kami memenjarakan kau nanti jika melawan!”
Byarrr…. Seperti kilat menggelegar di tengah hari bolong, Parlin mendengar gertakan itu. Sehingga lamunannya seketika mengapas ke langit yang kelam memayungi dirinya saat itu. Ia langsung terlonjak terkejut.
Parlin langsung kembali sadar. Ternyata para petugas penertiban monyet sedang menggiringnya untuk naik ke atas mobil dinas berwarna senja itu.
Dengan jalan dipaksakan Parlin pun langsung menuju mobil itu sambil bertanya-tanya. Akan mau dibawa ke mana dirinya?
 “Pak, saya, mau dibawa ke mana?”
Parlin memekik keras di depan petugas berseragam coklat itu. Tapi ucapannya hanya dianggap angin lalu. Tidak ada timbal balik. Ia tidak menerima jawaban dari para petugas itu.
Parlin saat itu masih ketakutan. Apalagi ia di ibukota hanya seorang diri. Sebatang kara. Tidak ada yang ia tahu apalagi mengenal orang-orang yang ditemuinya. Ia masih dicekam ketakutan. Tetapi sesaat mata cekungnya mengarahkan ke Si Primbon. Monyet yang menjadi teman setianya. Hanya diam saja. Tidak berkutik sama sekali. Ini malah bahagia sekali. Ada apa sebenarnya ini? Pikir Parlin tidak menentu.
Parlin mengikuti perintah para petugas penertiban monyet itu untuk naik ke mobil dinas.  Walau di sana sudah banyak orang-orang semacam dirinya. Para tukang topeng monyet yang sudah terkena jaring penertiban.
“Pak, saya sebenarnya mau dibawa ke mana?” Parlin bertanya kembali.
Nihil. Lagi-lagi ia tidak dapat jawabannya dari petugas penertiban itu. Anehnya hanya bahasa isyarat!
Ya, bahasa isyarat itu seperti Si Primbon kala sedang marah. Tidak mau diganggu. Ada juga kalau sedang gatal. Ia menggaruk-garuk seluruh tubuh seperti petugas penertiban itu yang tiba-tiba berubah seperti Si Primbon.
“Ah, ini cuman mimpi! Mungkin mataku saja yang sudah lamur. Petugas-petugas itu seperti Si Primbon.”
Parlin menghalau pikirannya. Ia tidak mau memikirkan itu. Tetapi ia harus memikirkan dirinya agar bisa keluar dari segala masalah serta membebaskan Si Primbon dan membawa kembali kampungnya.
Sesampai di mobil, Parlin pun dijadikan satu dengan para tukang topeng monyet lainnya. Walau saat itu mobil dinas penertiban itu belum jalan. Masih mengumpulkan monyet serta Tuannya. Lagi-lagi keanehan pun terjadi dilihatnya.
Saat para petugas itu berkumpul menjadi satu lalu beristirahat di pohon trembesi. Mereka tiba-tiba seperti Si Primbon sedang menikmati setandan pisang tanduk yang masak-masak sambil bercekak-cekik jika sedang kegirangan diberi pisang.
Namun, Parlin tidak langsung percaya apa yang dilihatnya itu. Ia pun bertanya dengan salah satu seprofesinya yang terkena jaring penertiban di mobil walau agak sungkan. Siapa tahu yang menjadi lawan bicaranya itu mau menanggapinya.
“Maaf, apa sampeyan melihat para petugas yang sedang makan pisang di bawah pohon itu?  Mereka itu kelakuannya seperti monyet ya?”
Agak berat Parlin mengucapkan itu. Sesaat tidak mendapati jawaban.
“Kalau mereka monyet sampeyan apa?”
Akhirnya Parlin mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya. Tetapi, kenapa tiba-tiba wajah mereka itu seperti … Astaga! Lawan bicaranya itu sudah seperti Si Primbon. Ucapannya, kelakuannya, serta seluruh tubuhnya sudah mulai ditubuhi bulu-bulu halus berwarna kelabu.
Parlin langsung memalingkan wajahnya. Ia mengulang kembali ucapan lawan bicaranya ketika menyembut dirinya seperti monyet. Ia kembali melihat para petugas dinas itu. Apa yang dilihat sungguh menyesakkan dadanya kembali. Ia benar-benar terkejut. Para petugas itu sudah amat seperti Si Primbon. Baik dari cara makannya, ucapannya, kelakukannya dan seluruh tubuh mereka pula sudah ditubuhi bulu-bulu halus berwarna kelabu. Saat itu ia ingin berontak. Ingin kabur dari mobil dinas penertiban itu. Sayang, tangannya terborgol dan kakinya tidak bisa leluasa untuk melarikan diri.
Prak!!!
“Hai, monyet, kenapa kau melamun saja! Ada apa kamu melihat kami?! Bukannya kamu juga seperti kami!”
Sebuah pentungan menghentakkan lamunan Parlin di mobil dinas penertiban itu. Kencang. Sangat kencang sekali bunyi suara pentungan itu ketika diadu oleh badan mobil itu.
Semua para tukang topeng monyet yang berada di atas mobil itu langsung terlonjak. Terkejut. Semua terkaget bukan kepalang.
Seketika itu Parlin langsung loncat dari atas mobil itu. Ia kabur dari penertiban tukang topeng monyet. Ia lari sekencang mungkin agar terhindar dari para petugas berperut buncit itu. Usai itu ia langsung mencari mobil mewah untuk melihat dirinya melalui kaca spion. Apakah benar dirinya sudah menjadi Si Primbon? Ia harus membuktikannya sendiri.
Tidak lama Parlin sudah ada di bawah rambu lampu lalu lintas. Bertepatan dengan lampu berwarna merah. Tanda semua pengendara beroda dua maupun empat berhenti. Saat itu ia langsung menyempatkan diri untuk berkaca.
“Mas, ada monyet di samping kaca spion kita!”
Tiba-tiba pemilik mobil mewah itu mengusir Parlin. Pemilik mobil mewah itu terkejut bukan kepalang ketika di dekat mobilnya ada seekor monyet bergaruk-garuk bercermin di kaca spion mobil mewahnya.
Parlin tidak menyangka kalau mereka; pemilik mobil mewah itu berkata demikian. Bahwa dirinya seekor monyet. Ternyata ia benar-benar sudah menjadi Si Primbon. Menjadi monyet. Entah, apa yang sebenarnya terjadi dengannya ia tidak tahu. Padahal awal menginjak ibukota ia memang sudah menjadi monyet seperti Si Primbon. Tapi ia tidak mengetahuinya itu.
Sejak saat itu Parlin menjadi monyet ibukota yang terlunta-lunta. Tidak terurus. Berkeliaran kesana-kemari. Bahkan memanjat dinding-dinding gedung pecakar langit, mencari setandan pisang untuk mengganjal perutnya. Walau para petugas penertiban monyet masih memburunya.[ ]


BIODATA:
Kak Ian, bekerja sebagai pengajar Jurnalistik tingkat sekolah dan bergiat di komunitas RELI (Relawan Literasi) Jakarta. Sekarang berdomisili di Jakarta. Cerpen, cernak, puisi dan artikelnya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional. Beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen, cerita anak, artikel/opini dan puisi.


CARA MENGIRIM CERPEN KE READ ZONE
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter