Parlin tertunduk lemas
ketika ia ikut terjaring dalam penertiban monyet di ibukota. Ia sendiri tidak
menyangka kalau dirinya salah satu yang menjadi korbannya. Saat itu seharian ia
belum mendapatkan uang sepersen pun dari atraksi Si Primbon, nama monyet yang
ia miliki untuk menarik simpati para penonton aksinya.
Naas. Di tengah hari
ketika raja siang yang masih malu-malu menampakkan diri saat ia akan menampilkan
atraksi Si Primbon di tengah jalan, tiba-tiba beberapa petugas dinas sosial
berseragam coklat itu langsung menyergap Parlin. Tentu saja itu membuat ia
takut bukan kepalang. Apalagi usianya masih sangat belia. Masih berusia dua
puluh satu. Ia hanya lulusan bangku SD. Hanya bisa baca tulis saja. Tidak seperti
kebanyakan teman-teman kecilnya di kampung halamannya. Tidak bisa menulis
apalagi membaca. Semua disebabkan karena kemiskinan.
Parlin kontan terkejut
saat tiba-tiba ia langsung dibawa para petugas yang kebanyakan berperut buncit itu.
Apalagi ia belum pernah sama sekali melakukan tindak kriminal dan kejahatan.
Lagi pula ia datang ke ibukota hanya baru beberapa hari. Menjadi tukang topeng
monyet hanya karena untuk membantu perekonomian orangtuanya di kampung halamannya
yang labil. Terlebih ia anak sulung dari empat bersaudara. Itu pun adik-adiknya
masih kecil-kecil. Tentu mereka butuh jajan pula.
Semua pasang mata
langsung mengarah ke tubuh cungkring Parlin ketika ia diangkut untuk menaiki
mobil petugas itu. Maklum, tempat menampilkan aksi Si Primbon berada di tengah
jalan. Tempat berlalu lalang para pengendara dan pejalan kaki melewati jalan
itu. Tanpa perlawanan ia mengikuti langkah para petugas itu untuk menuju mobil
Aneh. Begitu yang Parlin
rasakan ketika dalam penyergapan itu Si Primbon yang setia menemaninya tidak
ada perlawanan. Biasanya jika ada orang asing mengganggunya, ia selalu
menyerang dan mencakar bahkan menggigitnya tanpa ampun. Tapi, kenapa saat para
petugas itu menangkapnya ia diam saja. Seperti terhipnotis. Tak bisa melakukan
apa-apa. Si Primbon menurut saja ketika dibawa lalu dimasukan ke teralis besi.
“Sudahlah, Lin, kamu buat apa cari uang di
Jakarta. Apalagi mau jadi tukang topeng monyet. Memangnya kamu tidak mendengar berita
apa, kalau di ibukota monyet tidak diperbolehkan masuk apalagi dipekerjakan.
Nanti kamu di sana sama seperti mereka yang terkena jaring penertiban aksi bebas
dari monyet. Nanti Si Primbonmu kena tangkap juga lho oleh mereka.”
Parlin tiba-tiba
teringat dengan ocehan teman-temannya di kampung saat usai main sepak bola di
tengah lapangan yang masih ditumbuhi ilalang. Tapi ia malah mengacuhkan ucapan
mereka. Ia tidak percaya jika belum membuktikannya. Sekarang?
“Cepat, jalan! Jangan
sampai kami memenjarakan kau nanti jika melawan!”
Byarrr…. Seperti kilat menggelegar di tengah hari bolong, Parlin
mendengar gertakan itu. Sehingga lamunannya seketika mengapas ke langit yang
kelam memayungi dirinya saat itu. Ia langsung terlonjak terkejut.
Parlin langsung kembali
sadar. Ternyata para petugas penertiban monyet sedang menggiringnya untuk naik
ke atas mobil dinas berwarna senja itu.
Dengan jalan dipaksakan
Parlin pun langsung menuju mobil itu sambil bertanya-tanya. Akan mau dibawa ke mana
dirinya?
“Pak, saya, mau dibawa ke mana?”
Parlin memekik keras di
depan petugas berseragam coklat itu. Tapi ucapannya hanya dianggap angin lalu.
Tidak ada timbal balik. Ia tidak menerima jawaban dari para petugas itu.
Parlin saat itu masih
ketakutan. Apalagi ia di ibukota hanya seorang diri. Sebatang kara. Tidak ada
yang ia tahu apalagi mengenal orang-orang yang ditemuinya. Ia masih dicekam
ketakutan. Tetapi sesaat mata cekungnya mengarahkan ke Si Primbon. Monyet yang
menjadi teman setianya. Hanya diam saja. Tidak berkutik sama sekali. Ini malah
bahagia sekali. Ada apa sebenarnya ini? Pikir Parlin tidak menentu.
Parlin mengikuti perintah
para petugas penertiban monyet itu untuk naik ke mobil dinas. Walau di sana sudah banyak orang-orang
semacam dirinya. Para tukang topeng monyet yang sudah terkena jaring penertiban.
“Pak, saya sebenarnya
mau dibawa ke mana?” Parlin bertanya kembali.
Nihil. Lagi-lagi ia
tidak dapat jawabannya dari petugas penertiban itu. Anehnya hanya bahasa isyarat!
Ya, bahasa isyarat itu seperti
Si Primbon kala sedang marah. Tidak mau diganggu. Ada juga kalau sedang gatal.
Ia menggaruk-garuk seluruh tubuh seperti petugas penertiban itu yang tiba-tiba
berubah seperti Si Primbon.
“Ah, ini cuman mimpi!
Mungkin mataku saja yang sudah lamur. Petugas-petugas itu seperti Si Primbon.”
Parlin menghalau pikirannya.
Ia tidak mau memikirkan itu. Tetapi ia harus memikirkan dirinya agar bisa
keluar dari segala masalah serta membebaskan Si Primbon dan membawa kembali
kampungnya.
Sesampai di mobil,
Parlin pun dijadikan satu dengan para tukang topeng monyet lainnya. Walau saat
itu mobil dinas penertiban itu belum jalan. Masih mengumpulkan monyet serta
Tuannya. Lagi-lagi keanehan pun terjadi dilihatnya.
Saat para petugas itu
berkumpul menjadi satu lalu beristirahat di pohon trembesi. Mereka tiba-tiba
seperti Si Primbon sedang menikmati setandan pisang tanduk yang masak-masak
sambil bercekak-cekik jika sedang kegirangan diberi pisang.
Namun, Parlin tidak
langsung percaya apa yang dilihatnya itu. Ia pun bertanya dengan salah satu seprofesinya
yang terkena jaring penertiban di mobil walau agak sungkan. Siapa tahu yang
menjadi lawan bicaranya itu mau menanggapinya.
“Maaf, apa sampeyan
melihat para petugas yang sedang makan pisang di bawah pohon itu? Mereka itu kelakuannya seperti monyet ya?”
Agak berat Parlin
mengucapkan itu. Sesaat tidak mendapati jawaban.
“Kalau mereka monyet
sampeyan apa?”
Akhirnya Parlin mendapatkan
jawaban dari lawan bicaranya. Tetapi, kenapa tiba-tiba wajah mereka itu seperti
… Astaga! Lawan bicaranya itu sudah seperti Si Primbon. Ucapannya, kelakuannya,
serta seluruh tubuhnya sudah mulai ditubuhi bulu-bulu halus berwarna kelabu.
Parlin langsung memalingkan
wajahnya. Ia mengulang kembali ucapan lawan bicaranya ketika menyembut dirinya
seperti monyet. Ia kembali melihat para petugas dinas itu. Apa yang dilihat
sungguh menyesakkan dadanya kembali. Ia benar-benar terkejut. Para petugas itu
sudah amat seperti Si Primbon. Baik dari cara makannya, ucapannya, kelakukannya
dan seluruh tubuh mereka pula sudah ditubuhi bulu-bulu halus berwarna kelabu.
Saat itu ia ingin berontak. Ingin kabur dari mobil dinas penertiban itu.
Sayang, tangannya terborgol dan kakinya tidak bisa leluasa untuk melarikan
diri.
Prak!!!
“Hai, monyet, kenapa kau
melamun saja! Ada apa kamu melihat kami?! Bukannya kamu juga seperti kami!”
Sebuah pentungan
menghentakkan lamunan Parlin di mobil dinas penertiban itu. Kencang. Sangat
kencang sekali bunyi suara pentungan itu ketika diadu oleh badan mobil itu.
Semua para tukang topeng
monyet yang berada di atas mobil itu langsung terlonjak. Terkejut. Semua
terkaget bukan kepalang.
Seketika itu Parlin langsung
loncat dari atas mobil itu. Ia kabur dari penertiban tukang topeng monyet. Ia
lari sekencang mungkin agar terhindar dari para petugas berperut buncit itu.
Usai itu ia langsung mencari mobil mewah untuk melihat dirinya melalui kaca
spion. Apakah benar dirinya sudah menjadi Si Primbon? Ia harus membuktikannya
sendiri.
Tidak lama Parlin sudah
ada di bawah rambu lampu lalu lintas. Bertepatan dengan lampu berwarna merah.
Tanda semua pengendara beroda dua maupun empat berhenti. Saat itu ia langsung menyempatkan
diri untuk berkaca.
“Mas, ada monyet di
samping kaca spion kita!”
Tiba-tiba pemilik mobil
mewah itu mengusir Parlin. Pemilik mobil mewah itu terkejut bukan kepalang
ketika di dekat mobilnya ada seekor monyet bergaruk-garuk bercermin di kaca
spion mobil mewahnya.
Parlin tidak menyangka
kalau mereka; pemilik mobil mewah itu berkata demikian. Bahwa dirinya seekor
monyet. Ternyata ia benar-benar sudah menjadi Si Primbon. Menjadi monyet.
Entah, apa yang sebenarnya terjadi dengannya ia tidak tahu. Padahal awal menginjak
ibukota ia memang sudah menjadi monyet seperti Si Primbon. Tapi ia tidak
mengetahuinya itu.
Sejak saat itu Parlin
menjadi monyet ibukota yang terlunta-lunta. Tidak terurus. Berkeliaran
kesana-kemari. Bahkan memanjat dinding-dinding gedung pecakar langit, mencari
setandan pisang untuk mengganjal perutnya. Walau para petugas penertiban monyet
masih memburunya.[ ]
BIODATA:
Kak Ian, bekerja sebagai pengajar Jurnalistik tingkat sekolah dan
bergiat di komunitas RELI (Relawan Literasi) Jakarta. Sekarang berdomisili
di Jakarta. Cerpen, cernak, puisi dan artikelnya telah dimuat di berbagai surat
kabar lokal dan nasional. Beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen,
cerita anak, artikel/opini dan puisi.
