Pages

Ads 468x60px

Minggu, 14 Agustus 2016

HADERI IDERIS: MENULIS, MEMBANGUN PIKIRAN


Menulis 15 menit secara cepat tanpa berpikir ini itu. Apa yang terlintas, langsung kita tulis. Mau nyambung atau tidak, tak perduli, yang penting pikiran terkeluarkan dalam bentuk tulisan. Teringat hal menggembirakan, tulis. Ingat kesedihan, tulis. Ingat apa saja, tulis. Dengan begitu waktu 15 menit benar-benar efektif sehingga kita dapat menghasilkan tulisan. Seperti pembahasan terdahulu, proses seperti ini disebut dengan membuang pikiran.
Menulis itu ibarat buang hajat. Setelah keluar dari WC, lega rasanya. Bayangkan, jika terus menerus lambung ini diisi, tapi tak pernah dibuang atau tak mau dibuang, berbahaya. Begitu pula dengan pikiran, setiap hari mendapatkan asupan informasi, pengetahuan, pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Lalu kita biarkan ditanggung sendiri tanpa pernah dibicarakan dengan orang lain atau tidak pernah diadukan kepada Allah dalam munajat, kemungkinan besar  stress pun akan menimpa. Makanya, untuk menghindari stress, pilihan cerdas yang lain adalah dengan menulis.
Tentu saja menulis dalam arti membuang ini tidak akan menghasilkan tulisan utuh yang bisa dikonsumsi orang lain. Karena memang tujuannya bukan menghasilkan tulisan untuk dibaca orang lain. Hasilnya pun pasti ngaur, tak beraturan. Namun, ketika kita melakukan itu justru membuat kita enjoy, tak terbeban, tak ada kekhawatiran apa pun. Keadaan menulis seperti itulah yang mesti kita pelihara. Ketika menulis sudah selesai, ada rasa lega. Berarti kita sudah benar-benar mendapatkan manfaat menulis.
Disamping menulis sebagai proses membuang, menulis juga sebagai proses membangun pikiran. Manakala kita membaca buku, lalu kita coba memahami apa yang kita baca, lalu kita menuliskan apa yang kita pahami  tadi, ini yang kita sebut menulis sebagai proses membangun pikiran sendiri. Ketika kita mampu membangun pikiran dengan menuliskannya, berarti kita betul-betul memahaminya. Dan jadilah ilmu yang kita baca tadi benar-benar terpatri dalam pikiran tak mudah terlupakan.
Ketika saya mampu menjelaskan tatacara menyelenggarakan jenazah dari proses memejamkan mata mayat sampai proses memotong kain kapan dan memandikan mayat dalam sebuah buku, berarti saya benar-benar mengikat ilmu itu dalam bentuk tulisan. Sehingga memudahkan saya dalam praktik.
Ini dua hal yang bisa dibolak-balik. Dari pengalaman praktik, kita kontruksi jadi tulisan. Karena pengalaman kita betul-betul dikuasai sehingga memudahkan kita dalam menuliskannya. [Haderi Ideris]




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter