Menulis 15 menit secara cepat tanpa berpikir ini itu. Apa yang
terlintas, langsung kita tulis. Mau nyambung atau tidak, tak perduli, yang
penting pikiran terkeluarkan dalam bentuk tulisan. Teringat hal menggembirakan,
tulis. Ingat kesedihan, tulis. Ingat apa saja, tulis. Dengan begitu waktu 15
menit benar-benar efektif sehingga kita dapat menghasilkan tulisan. Seperti
pembahasan terdahulu, proses seperti ini disebut dengan membuang pikiran.
Menulis itu ibarat buang hajat. Setelah keluar dari WC, lega
rasanya. Bayangkan, jika terus menerus lambung ini diisi, tapi tak pernah
dibuang atau tak mau dibuang, berbahaya. Begitu pula dengan pikiran, setiap
hari mendapatkan asupan informasi, pengetahuan, pengalaman, baik yang
menyenangkan maupun yang menyedihkan. Lalu kita biarkan ditanggung sendiri
tanpa pernah dibicarakan dengan orang lain atau tidak pernah diadukan kepada
Allah dalam munajat, kemungkinan besar stress pun akan menimpa. Makanya,
untuk menghindari stress, pilihan cerdas yang lain adalah dengan menulis.
Tentu saja menulis dalam arti membuang ini tidak akan
menghasilkan tulisan utuh yang bisa dikonsumsi orang lain. Karena memang
tujuannya bukan menghasilkan tulisan untuk dibaca orang lain. Hasilnya pun
pasti ngaur, tak beraturan. Namun, ketika kita melakukan itu justru membuat
kita enjoy, tak terbeban, tak ada kekhawatiran apa pun. Keadaan menulis seperti
itulah yang mesti kita pelihara. Ketika menulis sudah selesai, ada rasa lega.
Berarti kita sudah benar-benar mendapatkan manfaat menulis.
Disamping menulis sebagai proses membuang, menulis juga sebagai
proses membangun pikiran. Manakala kita membaca buku, lalu kita coba memahami
apa yang kita baca, lalu kita menuliskan apa yang kita pahami tadi, ini
yang kita sebut menulis sebagai proses membangun pikiran sendiri. Ketika kita
mampu membangun pikiran dengan menuliskannya, berarti kita betul-betul
memahaminya. Dan jadilah ilmu yang kita baca tadi benar-benar terpatri dalam
pikiran tak mudah terlupakan.
Ketika saya mampu menjelaskan tatacara menyelenggarakan jenazah
dari proses memejamkan mata mayat sampai proses memotong kain kapan dan
memandikan mayat dalam sebuah buku, berarti saya benar-benar mengikat ilmu itu
dalam bentuk tulisan. Sehingga memudahkan saya dalam praktik.
Ini dua hal yang bisa dibolak-balik. Dari pengalaman praktik,
kita kontruksi jadi tulisan. Karena pengalaman kita betul-betul dikuasai
sehingga memudahkan kita dalam menuliskannya. [Haderi Ideris]
