Sebagai urang Banjar, barangkali
apa yang saya rasakan ini juga dirasakan oleh urang Banjar lainnya, baik yang
tinggal di banua maupun yang sudah lama madam di negeri orang. “Beruntung jadi
urang Banjar”, itu yang saya rasakan hampir setengah abad ini. Lahir dan besar
serta menikmati tanah, banyu, dan udara dengan segala kekayaan alam yang
takterkira. Dan jika akhir hayat nanti pun, semoga jasad pun disemayamkan di
sini.
Ini bukan sekadar romantisme
karena sudah terlanjur jadi urang Banjar atau juga karena lahir tidak bisa
memilih tempat. Namun, ini adalah soal darah yang mengalir di dalam tubuh dan
jiwa sejak nini datu dan terus menerobos ke tulang, ke daging, ke kulit, dan
setiap dengus nafas. Jika boleh meminjam judul puisi Pak Zawawi Imron ‘Madura,
Akulah Darahmu!’, maka sebagai urang Banjar saya akan pertegas menjadi ‘Banjar,
Akulah Darah Dagingmu!’
Ada perasaan himung yang
menggunung bagi urang Banjar di mana pun berada bila bertemu dan saling
barawaan dengan sesama urang Banjar. Apalagi bagi urang Banjar atau
keturunannya yang lama madam di perantauan yang mudik ke banua dan bertemu
sanak keluarga. Bisa jadi belum pernah jumpa, bahkan saling tahu. Yang terjadi
adalah saling menumpahkan rasa dandaman dengan berurai cerita dan air mata
serta mencari titik garis turunan untuk dirangkai lagi.
Situasi demikian tergambar dalam
dua kegiatan besar di banua pada waktu hampir bersamaan dalam minggu ini.
Pertama, ‘International Conference On Social and Intelectual of the
Contemporary Banjarese’ yang diselenggarakan oleh IAIN Antasari Banjarmasin, 9
s.d. 10 Agustus 2016. Disambung yang kedua, ‘Kongres Budaya Banjar IV’ hasil
kerja Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Prov. Kalsel, 12 s.d.
14 Agustus 2016. Keduanya bertempat di Aria Hotel Barito, Banjarmasin.
Sejumlah tuturan dan paparan
beredar dari para pembentang dan peserta yang nota bene urang Banjar dan
keturunannya yang datang dari berbagai wilayah, Singapura, Malaysia, Brunei,
Sumatera, Aceh, Sulawesi, Jawa, dan tentu Kalimantan dari ujung ke ujung. Semua
pembicaraan bermuara kepada bagaimana diaspora urang Banjar di mana pun telah
menjadikan urang Banjar mempunyai nilai lebih, baik sebagai bangsa Banjar
maupun sebagai orang perantau.
Banjar identik dengan Islam,
itulah keberuntungan yang pertama dan utama. Dengan Islam sebagai agama anutan
membuat urang Banjar di mana pun dirinya berada menjadi rahmatan lil alamin,
membawa manfaat bagi siapa pun. Di mana ada urang Banjar tinggal, pasti di sana
ada masjid dan langgar, serta pesantren. Berikutnya, muncullah ulama-ulama yang
memimpin salat dan berperan dalam kegiatan keagamaan lainnya, seperti juga
ulama yang ada di Banua.
Dengan dasar Islam itu pulalah, urang
Banjar yang merantau ke negeri orang dengan ragam modus persoalan ekonomi,
politik, atau masalah keluarga, mampu beradaptasi. Ajaran agama yang dianutnya
diterapkan ke dalam setiap sendi kehidupan, seperti pertanian, perniagaan,
bahkan sampai pendidikan. Di perantauan mereka mampu hidup dan berkompetisi
dengan warga setempat. Hanya satu tampaknya urang Banjar takbegitu haus hingga
takterlihat mencolok, yaitu kekuasaan. Urang Banjar perantauan tampaknya sadar
bahwa takelok harus ‘berkuasa’ di negeri orang.
Terlepas dari subjektivitas
definisi siapakah yang disebut urang Banjar, maka yang merasa urang Banjar
pasti takingin setengah setengah menjadi urang Banjar. Manusia Banjar berusaha
untuk menjadi urang Banjar sabukuan dengan terus menggali catatan dan kekayaan
budaya urang Banjar bahari. Sebuah ikhtiar terpuji jika ingin kembali
‘mangangkat batang (yang dianggap) tarandam’ hingga menghadirkan kembali Banjar
sesungguhnya lengkap dengan segala isi dan bungkusnya.
Namun, perlu juga disadari bahwa
musuh terbesar urang Banjar sendiri adalah dirinya sendiri. Mampukah melepaskan
diri dari romantisme masa lalu di tengah ‘dunia yang mengerut’ (Giddens, 1997)
dan ‘dunia tergesa-gesa’ ini (Fannon, 1954)? Tersebab, di tengah makin
sempitnya dunia, takada yang bisa terbebas dari akulturasi; pun dengan
perubahan dunia yang semakin cepat ini, maka urang Banjar akan semakin
ditinggal, entah oleh bangsa lain, entah oleh impiannya sendiri. [Zulfaisal Putera]
