Pages

Ads 468x60px

Senin, 15 Agustus 2016

ZULFAISAL PUTERA: URANG BANJAR SABUKUAN


Sebagai urang Banjar, barangkali apa yang saya rasakan ini juga dirasakan oleh urang Banjar lainnya, baik yang tinggal di banua maupun yang sudah lama madam di negeri orang. “Beruntung jadi urang Banjar”, itu yang saya rasakan hampir setengah abad ini. Lahir dan besar serta menikmati tanah, banyu, dan udara dengan segala kekayaan alam yang takterkira. Dan jika akhir hayat nanti pun, semoga jasad pun disemayamkan di sini.
Ini bukan sekadar romantisme karena sudah terlanjur jadi urang Banjar atau juga karena lahir tidak bisa memilih tempat. Namun, ini adalah soal darah yang mengalir di dalam tubuh dan jiwa sejak nini datu dan terus menerobos ke tulang, ke daging, ke kulit, dan setiap dengus nafas. Jika boleh meminjam judul puisi Pak Zawawi Imron ‘Madura, Akulah Darahmu!’, maka sebagai urang Banjar saya akan pertegas menjadi ‘Banjar, Akulah Darah Dagingmu!’
Ada perasaan himung yang menggunung bagi urang Banjar di mana pun berada bila bertemu dan saling barawaan dengan sesama urang Banjar. Apalagi bagi urang Banjar atau keturunannya yang lama madam di perantauan yang mudik ke banua dan bertemu sanak keluarga. Bisa jadi belum pernah jumpa, bahkan saling tahu. Yang terjadi adalah saling menumpahkan rasa dandaman dengan berurai cerita dan air mata serta mencari titik garis turunan untuk dirangkai lagi.
Situasi demikian tergambar dalam dua kegiatan besar di banua pada waktu hampir bersamaan dalam minggu ini. Pertama, ‘International Conference On Social and Intelectual of the Contemporary Banjarese’ yang diselenggarakan oleh IAIN Antasari Banjarmasin, 9 s.d. 10 Agustus 2016. Disambung yang kedua, ‘Kongres Budaya Banjar IV’ hasil kerja Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Prov. Kalsel, 12 s.d. 14 Agustus 2016. Keduanya bertempat di Aria Hotel Barito, Banjarmasin.
Sejumlah tuturan dan paparan beredar dari para pembentang dan peserta yang nota bene urang Banjar dan keturunannya yang datang dari berbagai wilayah, Singapura, Malaysia, Brunei, Sumatera, Aceh, Sulawesi, Jawa, dan tentu Kalimantan dari ujung ke ujung. Semua pembicaraan bermuara kepada bagaimana diaspora urang Banjar di mana pun telah menjadikan urang Banjar mempunyai nilai lebih, baik sebagai bangsa Banjar maupun sebagai orang perantau.
Banjar identik dengan Islam, itulah keberuntungan yang pertama dan utama. Dengan Islam sebagai agama anutan membuat urang Banjar di mana pun dirinya berada menjadi rahmatan lil alamin, membawa manfaat bagi siapa pun. Di mana ada urang Banjar tinggal, pasti di sana ada masjid dan langgar, serta pesantren. Berikutnya, muncullah ulama-ulama yang memimpin salat dan berperan dalam kegiatan keagamaan lainnya, seperti juga ulama yang ada di Banua.
Dengan dasar Islam itu pulalah, urang Banjar yang merantau ke negeri orang dengan ragam modus persoalan ekonomi, politik, atau masalah keluarga, mampu beradaptasi. Ajaran agama yang dianutnya diterapkan ke dalam setiap sendi kehidupan, seperti pertanian, perniagaan, bahkan sampai pendidikan. Di perantauan mereka mampu hidup dan berkompetisi dengan warga setempat. Hanya satu tampaknya urang Banjar takbegitu haus hingga takterlihat mencolok, yaitu kekuasaan. Urang Banjar perantauan tampaknya sadar bahwa takelok harus ‘berkuasa’ di negeri orang.
Terlepas dari subjektivitas definisi siapakah yang disebut urang Banjar, maka yang merasa urang Banjar pasti takingin setengah setengah menjadi urang Banjar. Manusia Banjar berusaha untuk menjadi urang Banjar sabukuan dengan terus menggali catatan dan kekayaan budaya urang Banjar bahari. Sebuah ikhtiar terpuji jika ingin kembali ‘mangangkat batang (yang dianggap) tarandam’ hingga menghadirkan kembali Banjar sesungguhnya lengkap dengan segala isi dan bungkusnya.
Namun, perlu juga disadari bahwa musuh terbesar urang Banjar sendiri adalah dirinya sendiri. Mampukah melepaskan diri dari romantisme masa lalu di tengah ‘dunia yang mengerut’ (Giddens, 1997) dan ‘dunia tergesa-gesa’ ini (Fannon, 1954)? Tersebab, di tengah makin sempitnya dunia, takada yang bisa terbebas dari akulturasi; pun dengan perubahan dunia yang semakin cepat ini, maka urang Banjar akan semakin ditinggal, entah oleh bangsa lain, entah oleh impiannya sendiri. [Zulfaisal Putera]




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter