Sebuah bangunan berlantai 2 di
jalan Galur Sari II, No. 54, Utan Kayu Selatan, Jakarta itu lebih seperti rumah
layaknya daripada kantor. Apalagi letaknya memang di wilayah perumahan yang
mempunyai akses jalan berliku yang takbisa dilalui mobil berselisih. Untuk
menuju ke sana bisa mengawali dari Jalan Pramuka masuk ke Utan Kayu atau Kayu
Manis. Itu pun harus banyak tanya untuk bisa sampai.
Di lantai atas bangunan, ada
ruang rapat redaksi, ruang olahraga, dan kamar tempat inap sastrawan. Lantai
bawah ada ruang tamu yang di dindingnya terpasang foto-foto sastrawan Indonesia
masa ke masa, serta dua kamar untuk ruang kerja dan ruang istirahat, serta
garasi yang sekaligus sebagai tempat menumpuk majalah dan bagian sirkulasi
bekerja. Dari ruang-ruang inilah sebuah majalah sastra tertua Indonesia sejak
zaman Orde Baru, Horison, pernah lama diolah dan diterbitkan.
Namun, tepat setengah abad
usianya, 26 Juli 2016 tadi, majalah sastra terbesar di negeri ini telah
menyatakan diri berhenti terbit. Ini memang kabar menyedihkan walaupun juga
bukan kabar yang mengagetkan. Pada masanya, majalah yang melahirkan banyak
penyair, cerpenis, esais, kritikus, dan budayawan besar negeri ini, sangat
disegani karena menjadi tolak ukur perkembangan dan peradaban sastra Indonesia.
Ada banyak faktor tentu yang
membuat majalah ini harus mengakhiri hidupnya. Salah satunya adalah mahalnya
ongkos produksi yang takseimbang dengan lakunya. Apalagi daya beli masyarakat,
khususnya sastrawan dan budayawan terhadap majalah yang khususan ini sangat-sangat
rendah. Nasib majalah ini takbeda jauh dengan majalah dan media cetak lainnya
pada umumnya yang sudah mulai sekarat dan tiarap di tengah gempuran dunia
digital.
Nasib Horison memang turun naik
seperti cahaya kaki langit yang amat jauh, yang terkadang jelas, terkadang
samar. Horison edisi perdana yang terbit Juli 1966 langsung dicetak 15.000
eksemplar. Dalam perjalanannya sampai jelang akhir hayat, tiras Horison kembang
kempis. Majalah ini pernah kembali capai tiras sampai 12.000 eksemplar sekitar
2000 s.d. 2010, ketika mendapat suntikan dana dari pihak lain sehingga bisa
dibagi ke sekolah menengah seluruh Indonesia secara gratis.
Oleh pendirinya, Mochtar Lubis,
P.K. Ojong, Arief Budiman, Zaini, dan Taufiq Ismail, Horison lahir dari
idealisme budaya dan kerinduan akan majalah sastra yang bermutu. Mochtar Lubis
menulis pada pengantar edisi perdana, “Bersama ini kami perkenalkan kepada
Saudara pembaca yang budiman, majalah kami Horison, sebuah majalah sastra yang
memuat cerita-cerita pendek, sajak-sajak,esei, dan kritik, yang kami harap akan
cukup bermutu untuk seterusnya dapat memikat perhatian dan kasih sayang Saudara
pada majalah ini. ...”
Majalah sastra ini memang
benar-benar memikat publik sastra Indonesia, khususnya para sastrawan.
Karya-karya sastra penulis Indonesia hadir rutin setiap bulan. Para redaksi
Horison sejak dipimpin Mochtar Lubis sampai Jamal D. Rahman betul-betul harus
menyeleksi untuk menjaga mutu karya sastra yang dimuat. Sastrawan yang karyanya
berhasil masuk Horison tentu punya gengsi tersendiri. Muncul anggapan bahwa
Horison jadi sebagai majalah ‘pembaptis’ barometer kualitas dan kesastrawanan
seseorang.
Menurut Tajuddin Noor Ganie,
sejumlah sastrawan Banua sempat dimuat di majalah ini, baik berupa puisi,
cerpen, esai, dan kritik. Yang sempat tercatat adalah Hijaz Yamani, Ajamuddin
Tifani, Ahmad Fahrawi, Maman S. Tawie, M. Rifani Djamhari, Micky Hidayat,
Tarman Effendi Tarsyad, Jamal T. Suryanata, dan Zulfaisal Putera. Khusus Hijaz
Yamani dan Ajamuddin Tifani, sempat diulas lengkap biografi dan karya-karyanya.
Horison edisi cetak memang sudah
mengakhir hidupnya. Kantor majalah itu tentu akan senyap tanpa aktivitas
redaksi. Keriuhan Horison berpindah ke dunia maya karena sebagai penggantinya
edisi daring pun diluncurkan dengan Pemred Sastri Sunarti. Bagaimana pun juga
pasti berbeda nilai rasa edisi daring dibanding cetak tersebab sudah banyak
situs sastra senada yang sudah lebih dulu hadir dan diakui kelayakan kualitas
karya yang ditampilkan. Sekarang nasibnya pun tergantung kepada sastrawan yang
‘melek’ internet. [Zulfaisal Putera]
