Puisi I
HUJAN RABU
INI
Di hujan
rabu ini
waktu
mengukur sepi pada detak jantung
bel tua
bergelinang di jendela
tertahan
suara, hujan meracik dingin
Di kamar pengap
ini, sejarah jatuh
dalam
catatan kertas kumal
kusimpan denyutnya
dalam laci
sebelum
kelak menyilang dada
dan anakku
akan baca
tentang
tahun tertatih, dari kakek-kakekku
cerita usang
tak berhati
disekap
kepedihan bertahun-tahun
Hujan rabu
ini, hujan menari-nari
berkelak-kelok
di atas not melodi muram
pancung dada
di tengah perapian jantung dingin
gigil hari
terbahak menggenggam bunga di atas kuburan
tetapi aku,
lelaki tak berhati
bara api
kutiduri
aku lupa
hari
tanda merah
bentuk alfa hari ini
sekolah,
tanda tanya di atas mimpi
Hujan rabu
ini
matahari
dingin
rebah di
atas mataku
kantuk
lumpuh
sebab aku
lupa
tak tahu apa
mengingat
apa
Aku ingin
bermimpi
Hujan, 26 Oktober 2016
Puisi II
BIARKAN
SAJA, KAK
tak usah kau
seduh secangkir kopi airmata malam ini
biarkan saja, kak
sebab ia
akan mencekik leher hatimu
melahap
hidup
mendidih
atau sampai kau merasa haus
agar hujan
tumbuh di matamu
sekental
merah darah
biarkan
saja, kak
kesedihan
menjadi cerita tak usai
dan akan ku
eja sepimu malam ini
lalu kita
lipat ke dalam botol kecil
berisi
mimpi-mimpi
mari, kak
biar kuajari
menghargai
sisa nafas
Al Falah Putera, 12 Oktober 2016
Puisi III
NEGERI KITA
DAN AIR MATA
pulanglah
anak-anak
ke rumah.
sebelum hari menjerit
ibu-ibu
menyapu bongkah keringat dengan lapar
kuah
bercampur lumpur
sebagai
pengganjal perut kusut seharian
ceritakanlah
kembali tentang dusun kita
di sana
tertera titah petitih
senandung
bocah dan angan-angan
sedang
dibalik sawah, padi menguning
mengutip
luka
lalu
setangkai jatuh, itulah yang kita pungut
nak, sudah
lama ini hilang
di negeri
kita selain jejak luka dari takdir ringkih
dan sekarang
kitalah pemilik hati cadas
kemakmuran
biasa ditikam tindih
hingga
padi-padi adalah kulit bangkai
untuk
dijilat
ini sudah
lama, nak
entah sampai
kapan disetubuhi penguasa
sedang
negeri kita terus menciumi airmata
Al falah Putera, 12 Oktober 2016
BIODATA
Muhammad
Rifki, lahir di Anjir Pasar, 13
Agustus 1998. Usai lulus dari sekolah dasar, lalu melanjutkan sekolah ke Pondok
Pesantren Al Falah Putera dan di sana ia membangun sebuah organisasi tulis
menulis bernama Forum Pena Pesantren/FPP.
Ingin mengenalnya lebih, bisa melalui akun facebook ; Rifki M atau email
rifkimaibelopah@gmail.com

