Pages

Ads 468x60px

Jumat, 11 November 2016

PUISI MUHAMMAD RIFKI: HUJAN AIR MATA


Puisi I
HUJAN RABU INI

Di hujan rabu ini
waktu mengukur sepi pada detak jantung
bel tua bergelinang di jendela   
tertahan suara, hujan meracik dingin

Di kamar pengap ini, sejarah jatuh
dalam catatan kertas kumal
kusimpan denyutnya dalam laci
sebelum kelak menyilang dada
dan anakku akan baca
tentang tahun tertatih, dari kakek-kakekku
cerita usang tak berhati
disekap kepedihan bertahun-tahun

Hujan rabu ini, hujan menari-nari
berkelak-kelok di atas not melodi muram
pancung dada di tengah perapian jantung dingin
gigil hari terbahak menggenggam bunga di atas kuburan
tetapi aku, lelaki tak berhati
bara api kutiduri
aku lupa hari
tanda merah bentuk alfa hari ini
sekolah, tanda tanya di atas mimpi

Hujan rabu ini
matahari dingin
rebah di atas mataku
kantuk lumpuh
sebab aku lupa
tak tahu apa
mengingat apa

Aku ingin bermimpi


Hujan, 26 Oktober 2016




Puisi II
BIARKAN SAJA, KAK

tak usah kau seduh secangkir kopi airmata malam ini
                biarkan saja, kak
sebab ia akan mencekik leher hatimu
melahap hidup
mendidih atau sampai kau merasa haus
agar hujan tumbuh di matamu
sekental merah darah

biarkan saja, kak
kesedihan menjadi cerita tak usai
dan akan ku eja sepimu malam ini
lalu kita lipat ke dalam botol kecil
berisi mimpi-mimpi

mari, kak
biar kuajari
menghargai sisa nafas


Al Falah Putera, 12 Oktober 2016




Puisi III
NEGERI KITA DAN AIR MATA

pulanglah anak-anak
ke rumah. sebelum hari menjerit
ibu-ibu menyapu bongkah keringat dengan lapar
kuah bercampur lumpur
sebagai pengganjal perut kusut seharian
ceritakanlah kembali tentang dusun kita
di sana tertera titah petitih
senandung bocah dan angan-angan
sedang dibalik sawah, padi menguning
mengutip luka
lalu setangkai jatuh, itulah yang kita pungut

nak, sudah lama ini hilang
di negeri kita selain jejak luka dari takdir ringkih
dan sekarang kitalah pemilik hati cadas
kemakmuran biasa ditikam tindih
hingga padi-padi adalah kulit bangkai
untuk dijilat

ini sudah lama, nak
entah sampai kapan disetubuhi penguasa
sedang negeri kita terus menciumi airmata


Al falah Putera, 12 Oktober 2016


BIODATA
Muhammad Rifki, lahir di Anjir Pasar, 13 Agustus 1998. Usai lulus dari sekolah dasar, lalu melanjutkan sekolah ke Pondok Pesantren Al Falah Putera dan di sana ia membangun sebuah organisasi tulis menulis bernama Forum Pena Pesantren/FPP.  Ingin mengenalnya lebih, bisa melalui akun facebook ; Rifki M atau email rifkimaibelopah@gmail.com





Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter