Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 21 Januari 2017

CERPEN YUDITEHA: SIKLUS SINGKAT


Malam tiba.
Aku merasa kehadiranku tak diharapkan. Setiap berjumpa dengan orang, mereka seperti ingin menghindar. Dan jika kebetulan berpapasan dengan orang di jalan, kontan mereka seperti mendadak ada yang terasa gatal ditubuhnya.

Jumat, 20 Januari 2017

PUISI ZR. IIS: TEMAN ATAU CINTA?


Puisi I
DALAM DIAM

Dalam diam,aku bermimpi
Dalam diam, aku berharap
Dalam diam aku tertawa
Dalam diam aku menangis
Dalam diam aku merindu
Dan dalam diam jua, aku mencintaimu
Hanya dengan doa
Caraku mencintaimu dalam diamku
Biarkan tetap seperti ini
Seperti air mengalir dalam diamnya
Biarlah aku tetap terdiam
Karena aku, akan baik-baik saja




Puisi II
SUNYI

Tak seperti biasanya
Memang berbeda
Benar-benar berbeda
Canda tawa,suka & duka
Tinggal cerita dalam sajak-sajak hampa
Teman memang tak ada yang sejati
Pada akhirnya semua harus pergi
"Teman sejati yang tak Pernah Pergi"
Itu hanya kalimat dan ambisi
Nyatanya teman sejati hilang & pergi
Dan kini aku berada dalam sunyi
Sepi dan lagi-lagi sendiri




Puisi III
TEMAN ATAU CINTA?

Seperti mawar yang merindukan kumbang
Seperti malam yang menanti sang bintang
Seperti putri yang merindu pangeran
Seperti itu pula aku padamu

Kamu teman, tapi aku sayang
Aku cinta, tapi kamu kawan
Teman atau cinta? Cinta atau teman?
Biarkan aku diam, dan tidak mencari jawaban

Semua hanya angan
Hanya bayang yang kan menghilang
Entahlah.  . .
Esok atau Lusa kita pasti sama-sama melupa



BIODATA
Zr. Iis, merupakan nama pena dari Iis Suhartini, bekerja sebagai Care Giver di PT Kanopi Insan Sejahtera. Facebook: Iis S (Zuster Iis) E-mail: ariskaiis098@gmail.com



Senin, 16 Januari 2017

ZULFAISAL PUTERA: LACUR


Bisakah pelacuran dihapuskan dari bumi Antasari? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Pertanyaan ini begitu penting mengingat banua Banjar, baik secara histori maupun sosial, selama ini dikenal sebagai daerah yang masih menjadikan nilai nilai agama sebagai pijakan dalam tata kehidupan masyarakatnya. Namun, seperti di negara negara yang paling kuat agamanya sekali pun, pelacuran tetap hadir sebagai bagian dari dinamika kehidupannya.
Libur awal tahun baru 2017 tadi saya berkunjung ke Pasar Hanyar atau Pusat Perbelanjaan Sentra Antasari di Banjarmasin. Kondisinya sekarang sudah semrawut. Salah satunya adalah pertokoan di lantai dua sayap kanan pasar tersebut yang selama ini dikenal sebagai Pasar Kasbah. Selain ada tukang jahit, warung makan, penjual barang bekas, dan layanan pijat tradisional, di sana juga ada praktik prostitusi. Terlihat sejumlah wanita berpakaian minim menyemut di beberapa titik hiburan karaoke. Mereka menjadikan kios-kios takbertuan sebagai kamar praktik.
Menyaksikan pemandangan tersebut, saya jadi teringat peristiwa di pekan ketiga bulan Desember tahun 2016 lalu di kota Banjarbaru. Saat itu, pemko Banjarbaru melalukan pemulangan Pekerja Seks Komersial atau PSK yang selama ini berpraktik di wilayahnya ke daerah asalnya. Ada 100 PSK dari Jawa, 225 asal Kalsel, dan beberapa dari Kalteng dan Kaltara penghuni lokalisasi Pal 18, Pembatuan, dan Batu Besi yang dipulangkan dengan bantuan dana 5 juta lebih per orang untuk transport dan dana jaminan hidup. Tentu perlu kita apresiasi ikhtiar untuk membebaskan Banjarbaru dari prostitusi.
Apakah ini sudah menyelesaikan masalah? Secara kasat mata, iya. Paling tidak, sudah tidak ada lagi tempat lokalisasi di sana. Namun, apakah para PSK yang dipulangkan itu benar pulang dan pensiun. Itu soal lain. Para PSK yang praktik di Pasar Kasbah ternyata sebagian besar adalah limpahan dari penutupan beberapa tempat prostitusi di Banjarmasin, seperti komplek lokalisai Ria Begau di Gang Ganda Magfirah, Tembus Mantuil, dan Losmen Sinar Dodo di Kolonel Sugiono. Belum lagi PSK pelarian dari kejaran Satpol PP di Taman Sari seberang Mahligai Pancasila.
Saya pikir, masalah pelacuran di banua ini sama seperti yang terjadi di daerah lain di Indonesia, atau di negara mana pun, yaitu bukan sekadar masalah sosial, tetapi juga budaya. Kebanyakan wanita, atau pun pria – jangan lupa ada juga pelacur pria atau disebut gigolo – memasuki dunia prostitusi bukanlah soal kemiskinan semata, tetapi juga gaya hidup. Ada juga wanita kaya, seperti artis, yang menjalani profesi ini. Sudah sejak dulu, budaya (sex) menyimpang ini menjadi tradisi di beberapa suku dan tempat. Bahkan, sekarang malah menjadi bagian dari industri jasa.
Konon, prostitusi adalah profesi tertua di dunia. Manusia (wanita) telah ditukar dengan uang dan barang untuk seks selama ribuan tahun yang lalu. Beberapa catatan dapat dibaca pada artikel yang ditulis Rudyard Kipling (1888), William Josephus Robinson pada "The Oldest Profession in the World: Prostitution" (1929), dan Joseph McCabe "The Story of the World’s Oldest Profession" (1932). Jauh sebelumnya, dalam Alkitab digambarkan tentang orang Israel yang memiliki banyak selir, bisa dianggap sebagai pelacur atau istri yang lebih rendah.
Lantas bagaimana sejarah prostitusi di Banua Banjar? Belum ditemukan hasil riset tentang ini. Jika melihat gurita pelacuran itu mulai menyebar, pada umumnya disebabkan adanya ‘permintaan’ dari para lelaki yang jauh dari keluarganya, baik karena alasan pekerjaan atau pun perjalanan, maka tentu kedatangan para penjajah Belanda pada masa lalu turut mempelopori hal ini. Dalam sebuah catatan disebutkan, tahun 1876, Pemerintahan Belanda pernah mendirikan rumah rakit khusus Pelacur di Banjarmasin karena mewajibkan para pelacur memeriksa kesehatannya ke dokter setiap pekan.
Kita boleh menyatakan bahwa prostitusi itu perbuatan terkutuk, penyakit masyarakat (Pekat), bahkan dengan usaha mengganti beberapa kali istilah pelacur, menjadi Wanita Tuna Susila (WTS), Pramunikmat, sampai PSK, maka selama ada demand, supply pelacur masih ada. Yang perlu dipulangkan sebenarnya bukan hanya fisik para PSK itu, tetapi sifat ‘lacur’, atau buruk laku, manusia, pemakai atau pun penyedia. Dan ini bukan pekerjaan mudah. Bisa jadi sampai kiamat pun tak akan bisa. Tersebab, yang bisa mengubah sesuatu yang sudah menjadi budaya itu hanya satu, yaitu hijrah atau kematian. [ ]


Sabtu, 14 Januari 2017

CERPEN MUHAMMAD RIFKI: MENGHAPUS HUJAN


Pagi?
Selamat malam?
Apa ini hujan?
Jadi, apa aku harus bahagia atau bagaimana?
Karena bagiku, semua hanyalah kosong.

Jumat, 13 Januari 2017

PUISI DARUZ ARMEDIAN: KENANGAN SEPANJANG PANTURA


Puisi I
JATUH CINTA YANG BAIK BAGI PEMALU

sebagai lelaki pemalu aku tahu cara jatuh cinta yang baik
adalah membiarkan pikiran menggambar seseorang
seperti halnya bocah kecil dengan riang mencoreti buku kecil
sesuka hati sesuka pandangan ini

aku ingin selalu merawat rindu yang panjang
dan tak mau duduk berdampingan membicarakan kembang
putih awan, biru kolam dan ikan-ikan
lalu memaksa waktu bermusuhan dengan perjalanan
aku tak mau membagi perasaan pada telinganya
yang menyimpan rahasia dan semacam peristiwa

kalau seandainya ia menganggapku wajah yang ia cintai
aku tetap menolak jadi waktu bagi putaran jam
yang mau tidak mau fardlu berdampingan
sebab dekat adalah cara membunuh yang akurat pada kerinduan


kutub, 2016




Puisi II
KENANGAN

kenangan adalah rumah tempatku singgah yang menolak rapuh
dan menganggap waktu hanya sebatas pejalan yang menjauh
di sana aku bermukim dengan pikiranku sendiri
dengan segala yang kurawat di dada ini

seumpama kau berpetualang dan tak ingat jalan pulang di pundakku
atau pergi dengan seseorang yang memaksamu melupakan masa lalu
aku tak berniat mencarimu
aku hanya akan lebih khidmat tinggal di rumah itu


warkop, 2016




Puisi III
DI SEPANJANG PANTURA

di sepanjang Pantura, dalam bis kota
menuju rumahmu, yang itu adalah rumahku
kita bersepakat; siapa paling cepat
membaca papan iklan
ialah pemenang
aku lihat mulutmu yang angkuh pada kesedihan
membaca satu per satu, pandanganmu ke sini ke situ
aku tak hendak bicara apa-apa, sebab celotehmu
seperti mengajakku untuk senantiasa mengabadikan momen ini
momen di mana luka tak punya ruang lagi

kau salah tingkah, atau mungkin lelah?
kepalamu  kini bersandar di pundaku
harum rambutmu kini kuciumi
akhirnya, seperti biasa, kau bertanya juga soal perpisahan

di sepanjang Pantura, biarlah debu-debu berterbangan
toh, kita masih di sini, bergandengan tangan

Tuban, 2015



Biodata:
Daruz Armedian, lahir di Tuban dan kuliah di jurusan Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).  Tulisannya pernah di Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Post, dll.




Senin, 09 Januari 2017

ZULFAISAL PUTERA: FITSA HATS


Harus diakui, Indonesia ini gudangnya orang kreatif. Baik kreatif karena mampu mencipta, maupun mengembangkan. Yang lebih unik, proses kreativitas itu terkadang tidak direncanakan, bahkan tidak pernah terpikirkan bakal menjadi sebuah produk. Dan parahnya lagi, produk taksengaja itu jadi begitu terkenal dan ramai-ramai menjadi viral di media sosial. Contoh kekinian adalah sebutan ‘Fitsa Hats’.
Bermula pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Novel Chaidir Hasan Bamukmin, Sekjen FPI, saksi kasus Penistaan Agama oleh tersangka Basuki Tjahaja Purnama, yang mencantumkan kata ‘Fitsa Hat’s’ sebagai sebutan dari Pizza Hut pada riwayat hidupnya. Beberapa jam pascapersidangan, Selasa (3/1), mencuatlah sebutan itu sebagai isu menarik awal tahun. Walaupun reaksi yang muncul kebanyakan berupa olok-olokan, tapi cukup menghibur.
Pizza Hut, merk sebuah waralaba kuliner asal Amerika ini, kalau dilisankan memang /fitza hats/. Sama seperti melisankan Kentucky dengan /kentaki/, Dunkin dengan /dankin/, atau Cocacola dengan /kokakola/. Dan itu berlaku bagi lidah orang dari negara mana pun, karena pelafalan abjad dalam bahasa Inggris memang demikian.
Namun, penulisan Pizza Hut tetaplah ‘Pizza Hut’, takbisa diubah menjadi ‘Fitsa Hat’, apalagi Fitsa Hats’ karens Pizza Hut adalah sebuah nama produk. Tata Bahasa Indonesia telah mengatur cara penyerapan bahasa Asing ke dalam Bahasa Indonesia. Untuk kepentingan pengayaan kosakata Bahasa Indonesia dibolehkan untuk menyerap kosakata asing dari mana pun dengan cara pengubahan apa pun, kecuali untuk nama.
Ada empat cara yang digunakan oleh Badan Bahasa dalam menyerap kosakata bahasa Asing dan Daerah. Dua di antaranya paling sering dipakai dan masih terasa bau asingnya. Pertama, Adopsi yaitu mengambil seutuhnya kosakata tersebut, baik bentuk maupun ejaannya, seperti supermarket, plaza, dan motor; dan Kedua, Adaptasi, mengubah beberapa abjad dari kosakata aslinya untuk disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia seperti business menjadi bisnis, celluler menjadi seluler, dan essay menjadi esai.
Kita sering tidak menyadari bahwa ribuan kosakata yang digunakan selama ini adalah hasil penyerapan dari bahasa asing. Kosakata bahasa Belanda adalah terbanyak diserap, yaitu 3.280 kata (berdasar data tahun 1999). Ini terjadi karena Indonesia 3,5 abad dijajah Belanda. Selanjutnya bahasa Inggris, Arab, Cina, Portugis, Tamil, Parsi, dan Hindi. Kosakata hasil serapan itu mengepung hidup kita dari segala penjuru untuk seluruh aktivitas. Jadi apalah lagi yang kita sombongkan karena sudah menikmati ‘bantuan’ asing itu sejak dari bahasa sehari-hari.
Dalam bahasa Banjar pun ada kosakata bahasa asing yang diadopsi. Misalnya, kata raun dari round yang berarti ‘’pelesir atau keliling kota’’, setrat dari kata street untuk menyebut ‘jalan aspal’, gim dari kata game yang menyatakan ‘’permainan berakhir’, dan banyak lagi. Bahkan, nama Kampung Kuin di Banjarmasin Utara bisa jadi berasal dari kata queen yang berarti ‘ratu’ sebagai nama tempat Kerajaan Banjar pertama berdiri. Kerajaan biasa dilambangkan dengan ratu sekali pun rajanya laki-laki, seperti Keraton di kerajaan Jawa yang berasal dari kata ‘ke-ratu-an’.
Inilah risiko sebagai bangsa terbuka yang siap menerima ‘masukan’ dan ‘bantuan’ dari pihak mana pun. Seperti juga bahasa Indonesia yang memosisikan diri demikian sejak bernama bahasa Melayu hingga dikukuhkan tahun 1928. Peluang inilah yang membuat orang Indonesia kreatif dalam berbahasa. Tidak heran kita takpernah kehabisan kata untuk mewakili pikiran dan perasaannya. Maka lahirlah bahasa Prokem, bahasa Gaul, bahasa Alay, dan sebagainya itu.

Namun demikian, aturan kebahasaan tetaplah harus dipatuhi karena itulah lagi yang menjaga ke-Indonesia-an bahasa Indonesia. Kita tidak bisa memaksakan pendapat agar alasan penulisan sebuah kata yang berupa nama seperti kasus ‘Fitza Hats’ adalah bagian dari cinta bahasa Indonesia karena takbersesuaian. Terlepas apakah penulisan itu ide yang bersangkutan atau sipenulis BAP. Dan argumen ini pun bukanlah sebuah keterangan seorang saksi ahli. [ ]

Sabtu, 07 Januari 2017

CERPEN ALFA ANISA: SEBUAH LUKA DARI SURAT KEKASIH


Gelas berbibir sumbing kuletakkan di atas meja pendek dekat tempat tidur, masih sisa separuh teh yang mendingin yang kubuat sejak pagi. Sudah hampir dua jam aku membolak-balikkan tumpukan novel yang kudapatkan dari kolong tempat tidur, berharap dapat menghilangkan kebosanan di akhir pekan dari setiap halaman yang terus kuloncati sekenanya.

Jumat, 06 Januari 2017

PUISI AKBAR RIZKY SHOLEH: KETIKA MATI


Puisi I
KETIKA MATI

Diam-diam kau datang
Bersama bayang-bayang
Rinduku membeku
Dipantai deraimu

Kau menjemputku
Ditengah sepi yang sembilu
Ragaku kau angkat
Rohku melayang terangkat

Dibawah batu nisan
Kau menghujatku berat
Mulutku terdiam
Tubuhku menjawab berat




Puisi II
DIPERKOSA SUNYI

Sunyi telah memperkosaku malam ini.
Seluruh tubuhku dijamahnya habis.
Ia telah membelai sekujur tubuhku.
Dengan aroma yang membuat mulutku bisu.
Kau ajak aku bercinta.
Kau janjikan aku kata-kata yang nista.

ketika tubuhku kaku
Kau biarkan aku tergelatak tak berdaya.




Puisi III
MAWAR YANG BERDURI

Mawar..
Harummu semerbak bersama angin.
Warnamu yang merah, telah membuat aku lebih berani.

Mawar...
Aku disini memujamu, dengan angan-angan yang tak ingin ku lepas.
Mawar..
Tahukah kau bahwa aku mencintaimu.
Tahukah kau bawa aku disini menjamah bau harum yang keluar dari kelopak bungamu itu.
Mawar.. 
Tahukah kau apa yang sedang aku rasakan melalui indera penciumanku..

Tapi, kenapa mawar selalu menancapkan duri itu untukku.
Mawar.
Aku mencintaimu tapi kenapa kau tusukkan duri itu untukku.
Aku tak peduli mawar atas darah yang bercucuran dari tubuhku.
Aku disini aku terus mencium harummu, walau aku tau akan duri darimu yang akan menusuk-nusuk tubuhku sampai aku mati.

Mawar..
Mohon kendalikan dirimu, aku disini selalu mencintaimu



BIODATA:
Akbar Rizky Sholeh, biasa dipanggil Abay, lahir pada tanggal 25 Desember 1996. Sekarang Menjadi Mahasiswa di-Universitas Lambung Mangkurat Program Study Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Terlibat diberbagai kegiatan seni Seperti Teater, Tari dan Sastra di sebuah sanggar yang bernama SAS SMAGRIDA ( Sarana Apresiasi Seni SMA PGRI 2 Banjarmasin)




Selasa, 03 Januari 2017

INNOCENTO DYAH NURMALA :PESTA LOMBAN, WISATA KHAS LEBARAN ASAL JEPARA


Jepara, jika mendengar nama kota tersebut pasti diidentikkan dengan produksi mebel dan ukiran kayu khas Jepara. Mungkin kita juga terbayang pada pahlawan emanpasi yang lahir di kota Jepara, yaps... Ibu Kartini, sosok perempuan hebat yang dilahirkan di Jepara. Ternyata Jepara tidak hanya identik dengan kedua hal tersebut loh... Jepara memiliki salah satu tradisi unik yang dirayakan setiap tahunnya. Pesta Lomban, tradisi unik khas lebaran warga nelayan Jepara yang digelar di hari ketujuh setelah perayaan Idul Fitri.
Tradisi Pesta Lomban ini ternyata punya banyak nama, beberapa masyarakat lokal menyebutnya dengan bada kupat atau lebaran ketupat, karena di hari itu banyak warga yang memasak ketupat untuk dimakan bersama. Ada lagi yang menamai tradisi tersebut dengan nama Larungan karena puncak acara dari tradisi unik ini adalah melarung endhas kebo atau kepala kerbau di laut lepas Pantai Kartini Jepara. Masih ada satu nama lagi untuk tradisi tahunan ini yaitu Sedekah Laut. Tradisi ini merupakan perwujudan rasa syukur warga atas rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada para nelayan di Jepara, karena itulah Sedekah Laut menjadi salah satu nama untuk menyebut tradisi unik ini.

Dok. Pribadi: Deretan Kapal Nelayan yang dijadikan kapal hias saat Pesta Lomban digelar

Prosesi Pesta Lomban serta pelarungan kepala kerbau ini terbilang cukup panjang. Prosesi Pesta Lomban dan Pelarungan kepala kerbau tersebut diawali dengan mengarak kerbau yang nantinya akan disembelih dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujungbatu Jepara menuju rumah pemotongan hewan. Kerbau yang telah disembelih tersebut kepalanya akan disimpan di TPI Ujungbatu sementara dagingnya dimasak untuk dimakan bersama masyarakat nelayan Jepara. Setelah pemotongan Kerbau, masyarakat nelayan akan menggelar doa bersama di makam Cik Lanang, tokoh yang menjadi leluhur bagi masyarakat nelayan Jepara. Pada malam harinya dilangsungkan pesta kesenian wayang kulit di area TPI Ujungbatu. Puncak acara dari prosesi Pesta Lomban ini adalah pelarungan kepala kerbau di laut lepas Pantai Kartini Jepara.
Pelarungan endhas kebo atau kepala kerbau ini diwarnai dengan berbagai sesasi sebagai wujud rasa syukur warga atas rezeki yang telah dilimpahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada masyarakat nelayan Jepara. Sesaji ini dibawa ke tengah laut dengan kapal motor. Kapal motor pembawa sesaji tersebut diikuti oleh kapal motor lainnya, mereka saling berebut untuk mendekati kapal pembawa sesaji untuk mendapatkan sesaji yang telah didoakan sebelumnya. Usai melarung sesaji beserta endhas kebo atau kepala kerbau, rangkaian acara diakhiri dengan festival kupat lepet yaitu pagelaran tari tradisional masyarakat nelayan Jepara dan disambung dengan berebut gunungan kupat lepet yang telah didoakan oleh Bupati Jepara di Pantai Kartini Jepara.

Dok. Pribadi: Gunungan Kupat lepet dalam Tradisi Pesta Lomban Jepara

Itulah salah satu tradisi milik Indonesia yang sudah sepatutnya kita lestarikan dan kita jaga sebagai identitas lokal bangsa. Wisata budaya tak hanya menjadi ajang bersenang-senang saja. Selain berwisata kita juga mendapat pengetahuan tentang kearifan lokal yang menjadi milik bangsa kita, secara tidak langsung kita juga ikut berpartisipasi melestarikan tradisi nusantara. Jadi tak ada salahnya jika kita datang ke Jepara tidak hanya untuk melihat ukiran khasnya atau menapaki jejak Ibu Kartini saja, kita juga dapat melihat tradisi Pesta Lomban ini. Makanya, jadikan Pesta Lomban Jepara sebagai salah satu bagian dari rencana liburan panjang lebaran kalian di tahun depan ya... [ ]

Dok. Pribadi: Tarian nelayan yang dilakukan sebelum prosesi mendoakan gunungan kupat lepet



BIODATA:
Innocento Dyah Nurmala, lahir di Jepara, 31 Maret 1997. Saat ini masih belajar di jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang. Senang berwisata dan menyukai sastra.




Statistik Pengunjung

Flag Counter