DOMPET
AJAIB
Oleh Mahfuzh Amin
![]() |
| Sumber gambar: http://cdn-2.tstatic.net/banjarmasin/foto/bank/images/koma-2014-08-29.jpg |
Junai tidak habis pikir
kenapa dia tetap membeli dompet putih itu. Dipandanginya dompet itu, tidak ada yang terlihat istimewa.
Putih polos dengan sedikit goresan sebagai label merknya. Dibuka-bukanya tiap
kantong dompet itu, juga tidak ada yang istimewa. Masih kosong juga. Tapi,
persis seperti yang dia lihat malam tadi. Hampir lima belas menit dia
memandangi, akhirnya dilemparnya juga dompet itu hingga jatuh di dekat kakinya.
Dia melipat siku kedua
tangannya dan meletakkan kedua telapaknya di bawah kepalanya. Matanya terus
memandangi kipas angin kecil yang menempel di plafon. Putarannya terlihat
sangat cepat, namun tidak terasa anginya. Seperti waktu yang terus berputar
cepat, namun dia tidak juga merasakan kesejukan. Duit selalu menjadi masalah
dalam hidupnya.
HP-nya berbunyi. Dengan
malas-malasan diraihnya HP butut yang tergeletak di samping kepalanya. “Jun, jangan lupa ya rapat BEM jam tiga.”
Huh…
Junai
menghembuskan nafasnya dengan berat. Diletaknya kembali HP itu ke tempat
semula. Rapat BEM, pasti akan membahas
masalah keuangan. Kenapa aku harus ikut memikirkan keuangan BEM, sedang aku
sendiri juga butuh uang? Apalagi sudah lewat tiga hari ulang tahun Farida,
sedangkan dia belum memberi kado apapun untuk pujaan hatinya itu.
Junai kembali
menghembuskan nafasnya dengan berat. Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan
jam setengah dua belas. Di samping kanannya, ada Windi yang masih tertidur
pulas. Dia pun memutuskan untuk mengikuti jejak Windi.
* * *
Dia memeriksa isi
dompet hitamnya yang lucek. Ada selembar lima puluh ribu dan selembar sepuluh
ribu. Ditatapnya dompet putih yang masih terbungkus plastik itu. Masih
mengkilap.
“Tidak bisa kurang,
mas, harganya?” tanyanya.
“Wah, tidak bisa, mas.
Itu sudah harga pas,” jawab si penjual.
“Dikurangi sedikit lah,
mas,” pinta Junai agak memelas. “Dua puluh delapan ribu saja, mas, gimana?”
“Tiga puluh ribu,
mas. Itu sudah harga pas. Saya cuma
mengambil untung sedikit. Coba saja mas cari di toko lain, tidak ada yang jual
dompet merk ini seharga tiga puluh ribu kecuali di sini.”
Junai garuk-garuk
kepala. Jika dia membeli dompet itu, berarti selama sebulan ke depan dia harus
bisa bertahan dengan uang tiga puluh ribu.
Haruskah
aku membeli dompet itu?
“Mas, boleh aku lihat
dompetnya?”
Si penjual pun
mengambilkan dompet yang dia maksud. Dibolak-baliknya, kemudian dibuka-tutupnya
dompet yang kini telah di tangannya itu. Persis seperti yang dia lihat semalam.
“Ayo lah, mas,
dikurangi dikit,” pintanya lagi memelas.
Si penjual hanya menjawab
dengan gelengan.
Junai terus
menimbang-nimbang. Haruskah? Haruskah?
Haruskah? Diletaknya kembali dompet itu. Dilihatnya si penjual itu terus
menatapnya. Junai pun mengeluarkan dompetnya, “Baiklah, mas, kuambil
dompetnya.”
Namun, setelah hak
milik dompet itu telah resmi berpindah tangan kepadanya, tak henti-hentinya dia
mengatakan bodoh, bodoh, dan bodoh pada dirinya sendiri. Dia tidak menyangka
dirinya bisa percaya dengan mimpinya semalam.
* * *
Junai duduk bersila di
hadapan orang yang asing baginya. Orang itu memakai pakaian serba putih dengan
ikat kepala kain putih. Orang itu juga duduk bersila. Untung saja dadanya tidak
terlihat. Jika terlihat dan ada tulisan 212, berarti orang itu adalah Wiro
Sableng.
Pendekar
dari manakah dia?
Mereka berdua bersitatap
dengan tajam. Junai ingin beranjak dari tempat duduknya, tapi tubuhnya terasa
seperti dibius sehingga tidak mampu bergerak sedikit pun dari posisinya. Si
pendekar itu menggerakkan tangannya ke belakang, mengambil sesuatu.
“Ini adalah dompet
ajaib,” kata si pendekar sambil menunjukkan sebuah dompet berwarna putih.
“Kamu pendekar dari
mana?” tanya Junai. Dia lebih tertarik identitas si pendekar itu dari pada
dompet ajaib.
“Aku bukan seorang
pendekar.”
“Berarti kamu
malaikat?”
“Aku juga bukan
malaikat.”
“Jadi?”
“Aku cuma orang yang
diutus untuk membawakan dompet ini untukmu.”
Junai mengerutkan
kening. Kali ini perhatiannya telah teralihkan ke dompet itu. Tampak
biasa-biasa saja, tidak bercahaya layaknya sebuah benda ajaib dan terlihat
tipis yang artinya kosong. Dalam kondisi keuangan yang menipis, dia lebih
tertarik uang tunai atau cek daripada sebuah dompet. Diisi apa juga dompet itu jika aku sendiri tidak punya duit, pikirnya.
Dompet yang selama ini dia gunakan pun tidak pernah merasakan makan yang sangat
kenyang.
Jangan-jangan
memang ada selembar cek di dalamnya, duga Junai. Dia
tersenyum penuh harap.
“Berapa duit ada di
dompet itu?” buru Junai.
“Sesuai yang kamu
inginkan.”
“Maksudnya?” Junai jadi
bingung.
“Ini adalah dompet
ajaib. Dompet yang selalu mengerti kebutuhanmu.”
“Maksudnya, jika aku
butuh duit, di dompet itu akan tersedia duit secara ajaib.”
“Seperti itu lah.”
“Wah, kalau begitu, aku
mau.”
Tangan Junai langsung
bergerak ingin mengambil dompet itu, tetapi si bukan pendekar itu sigap menarik
tangannya menjauh.
“Kamu harus
membelinya.”
“Membelinya?” Junai
agak kaget dan bingung. Katanya dompet
itu dibawakan untukku. Kok harus membeli lagi? “Berapa harganya?”
“Kamu tidak membelinya
di sini.”
“Lalu?”
“Carilah di pasar
besok?”
“Di pasar?!”
* * *
“Jun, cepatan!
Anak-anak sudah pada ngumpul. Tinggal kamu saja lagi yang belum datang.”
Mata Junai langsung
terbelalak. Wajah kantuknya seketika hilang. Dia langsung teringat rapat BEM.
“Iya, iya. Aku segera
ke sana.” Langsung diputuskannya panggilan yang telah mengganggu tidurnya itu
Bergegas dia ke kamar
mandi, cuci muka dan sikat gigi. Kemudian ke kamar lagi mengambil bajunya yang
tergeletak di samping kasurnya dan celana hitam yang tergantung di belakang
pintu kamarnya. Sebelum bergegas pergi, dia sempat melihat Windi yang masih
juga tertidur pulas.
Bukan rapat BEM yang
sebenarnya menjadi motivasinya buru-buru datang, karena dia sudah menduga
pembahasan yang akan dibahas adalah pembahasan yang sangat malas untuk dia
bahas saat kondisinya seperti sekarang. Bukan juga karena ingin menjadi anggota
BEM yang paling aktif, karena selama dia menjabat sebagai wakil ketua BEM, tak
pernah sekali pun dia tidak hadir dalam rapat. Bukan kedua alasanya itu,
melainkan karena Farida. Gadis imut itu telah menarik perhatiannya sejak
menjadi peserta osmaba (orientasi mahasiswa baru) setahun yang lalu. Sejak
itulah, dia menjadi pengagum rahasia Farida. Hanya pengagum rahasia, tanpa
pernah memiliki seutuhnya. Entah karena dia tidak berani mengungkapkan
perasaannya atau karena dia sadar kastanya berbeda dengan Farida yang merupakan
anak seorang pejabat di kabupaten. Yang jelas, Farida telah menjadi cinta
pertamanya sejak pertama dia dinobatkan sebagai mahasiswa di salah satu
perguruan tinggi swasta di HSU. Tak ayal, sepanjang rapat, hanya Farida yang
menjadi pusat perhatiannya.
“Jun, serius dong
rapatnya. Jangan melirik Farida terus,” kata Dayat pelan sesudah menyenggolnya.
“Alah… Paling yang
dibahas itu-itu saja. Ujung-ujungnya paling membuat proposal permohonan dana,”
sahut Junai pelan. Matanya tak henti-hentinya memandangi wajah putih nan imut
itu. Di sebarang, si pemilik wajah imut yang menyadari ada yang
memerhatikannya, tersenyum-senyum salah tingkah. Wajahnya sedikit merona merah.
Junai makin kesemsem.
Tiba-tiba, Junai
menyadari ada yang janggal padanya hari ini. Dia merasa duduknya tidak seimbang
seperti biasanya. Bagian bokong kanannya terasa lebih tinggi dari bagian
kirinya. Tentu itu membuatnya kurang nyaman. Dia pun teringat sesuatu.
Benarkah?
Junai segera memutuskan
ijin ke toilet. Di sana, dia mengeluarkan dompet putih itu. Terlihat lebih
tebal dari dompetnya biasa. Penasaran, perlahan dibukanya dompet tersebut.
Seketika matanya terbelalak melihat isinya. Ada sepuluh lembar seratus ribu,
sepuluh lembar lima puluh ribu, dan beberapa lembar dua puluh dan sepuluh ribu.
Jadi
dompet ini benar-benar ajaib?
Senyum pun tak
henti-hentinya mengembang di wajahnya. Bahkan ketika dia sudah berada di ruang
rapat pun, senyum itu tidak hilang juga. Dayat merasa aneh melihatnya, juga
beberapa teman BEM lainnya.
“Kamu gila ya, Jun?”
tanya Dayat.
“Durian tuntuh, Yat.”
“Durian runtuh?” Dayat
bingung. Dia garuk-garuk kepala.
“Hari ini kutraktik
kamu makan bakso sepuasnya.”
“Serius?” Dayat merasa
tidak percaya.
Junai tidak langsung
menjawab. Matanya kembali melirik Farida. “Sekalian juga ajak Farida. Terserah
dia mau bawa siapa saja, asal jangan cowok. Jika dia tidak ikut, traktiran
baksonya gagal.”
“Tapi kamu serius,
tidak?” Dayat masih tidak percaya.
Junai menatap mata
Dayat. “Kurang serius apa aku?”
“Ehem…”
Junai dan Dayat kembali
tenang.
* * *
Dayat gelisah. Dia
telah berada di warung bakso bersama Farida dan Yulia. Tanpa Junai. Gila! Jika Junai tidak datang, mampus aku
bayarin mereka berdua, batinnya. Kegelisahannya membuat bakso di hadapannya
terlihat tidak enak. Dia ingat, di dompetnya cuma ada lima belas ribu, itu pun
rencananya untuk beli bensin. Seporsi bakso plus
segelas es jeruk pasti totalnya minimal sepuluh ribu.
“Tunggu bentar ya,”
kata Dayat pada kedua gadis di depannya. Keduanya hanya mengangguk sambil
melahap bakso mereka. Dayat pun menuju depan warung. Di sana dia langsung
menelpon Junai.
“Jun, kamu di mana?
Kami sudah di warung sejak dari tadi.”
“Sebentar
lagi aku sampai,” sahut Junai dari seberang.
Tut…
Tut… Tut……
Dayat pun kembali ke
meja baksonya dengan tetap membawa kegelisahannya.
“Kamu kenapa, Yat?
Sakit ya?” tanya Yulia.
“Tidak,’ jawab Dayat
gelagapan.
“Junai mana, Yat?”
tanya Farida.
“Ee… Bentar lagi dia
datang.” Semoga, lanjut batinnya.
Tak lama, Dayat pun
akhirnya bisa bernafas lega. Junai yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
“Maaf ya, aku
terlambat. Tadi ada sedikit urusan,” ujar Junai dan langsung duduk bersama
mereka. Tidak ada sahutan dari perkataannya tadi. Dia juga tidak langsung
memesan bakso, tapi malah sibuk dengan sesuatu di dalam tas punggungnya. Oleh
Dayat, tas punggungnya terlihat lebih menggelembung dari tasnya sewaktu di
kampus tadi.
“Ini untukmu, Farida,
hadiah ulang tahunmu.”
Sebuah boneka Panda
keluar dari tas Junai dan langsung diserahkan kepada Farida. Farida yang sangat
menyukai Panda pun langsung histeris menerima hadiah Junai. Boneka itu pun
langsung dipeluk-peluknya, bahkan dicuimnya. Bakso pun terabaikan.
Harusnya
aku yang dipeluk dan dicium seperti itu, batin Junai
nakal.
Acara makan bakso pun selesai.
Senja jingga pun mulai menyapa. Mereka pun akan berpisah untuk pulang.
“Makasih hadiahnya, ya,
Jun,” ucap Farida.
“Iya, sama-sama.
Untukmu, apa sih yang tidak,” sahut Junai sedikit mengombal. Farida tersenyum
malu-malu. Junai menutup matanya, cium dong…
cium dong… harapnya. Tapi yang dia dapat malah dorongan di kepalanya oleh
Dayat.
“Otakmu jangan ngeres,
Jun,” ujar Dayat. “Tuh Farida sudah mau pulang.”
Mata Junai langsung
terbuka. Dilihatnya punggung Farida yang telah duduk di jok belakang motor Yulia.
Lihat
ke belakang dong… Lihat ke belakang dong… harap Junai
lagi.
Seakan mendengar
harapan Junai, Farida menoleh ke belakang dengan sebuah senyuman manis
kepadanya sebelum motor bergerak maju, “Nanti malam, telpon aku ya!” kata
Farida sebelum akhirnya beranjak pergi.
Bibir Junai pun
langsung mengembang. Hatinya dipenuhi bunga bahagia. Saking bahagianya, dia
melompat-lompat kegirangan. Junai merasa ini adalah hari yang terbaik baginya.
“Jun, gimana bisa kamu
tiba-tiba dapat duit banyak gitu? Dapat arisan ya? Atau jangan-jangan kamu
menang togel?” tanya Dayat sebelum mereka berpisah.
Junai pun menceritakan
tentang dompet ajaib itu, dari mimpinya semalam hingga sampai dompet barunya
yang tiba-tiba berisi uang lebih dari satu juta.
“Wah, sungguh beruntung
kamu, Jun. Jadi pengen dapat dompet ajaib itu juga,” komentar Dayat. “Jika
berkenan, boleh dong aku minjam sehari.”
“Gampang diatur.”
Toa-toa mesjid dan
surau mulai mengaji. Azan maghrib sebentar lagi akan menguasai alam. Senja
makin mendekati bintang. Mereka pun berpisah menuju hunian masing-masing.
Sebelum ke kos, Junai mampir di sebuah ponsel dan langsung membeli pulsa
seratus ribu. Malam ini akan menjadi malam yang terindah untuknya.
Junai memasuki kosnya
dengan penuh suka cita. Dia bersiul-siul mengikuti irama nada cinta. Namun, dia
agak kaget mendapat teman sekamarnya, Windi, duduk menunduk di ruang tamu.
Rambutnya acak-acakan tak karuan. Dia seperti orang yang sedang stress tingkat
tinggi.
“Kamu kenapa, Win?”
tanya Junai tanpa duduk di samping Windi.
“Celanaku hilang,”
jawab Windi dengan tetap menunduk.
“Kok bisa?”
“Aku juga tidak tahu.
Seingatku, pagi tadi kugantung di gantungan belakang pintu. Pas aku bangun,
celananya sudah tidak ada.”
“Sudah lah, Win., Tidak
usah terlalu disedihkan. Cuma celana ‘kan?”
Windi mengangkat
wajahnya yang ternyata juga kusut tak karuan, “Kamu tidak tahu…” Tiba-tiba
ucapan Windi terhenti. Matanya menatap tajam Junai.
“Kamu kenapa, Win?”
Junai bingung dengan perubahan Windi. “Ada yang salah dengan diriku?”
Tidak ada jawaban.
Matanya terus memandangi Junai, kemudian ke bawah. Tentu Junai merasa aneh,
juga risih. Dia pun memutuskan segera ke kamar.
Di kamarnya, Junai tak
henti-hentinya tersenyum sendiri. Senyum Farida yang begitu merekah membuatnya
serasa ingin terbang. Dia sudah tidak sabar menunggu selesai isya agar bisa
menelpon Farida. Namun senyumnya seketika reda ketika matanya tertumpu pada
sebuah dompet putih yang tergeletak di samping kasurnya. Dipungutnya dompet
itu. Persis seperti dompet ajaib yang dia beli tadi pagi.
Jangan-jangan?
Cepat dia mengambil
dompet putih di kantong belakang celananya. Diobrak-abriknya setiap sudut
kantong dompet itu hingga ditemukannya sebuah KTP. Dia sangat kaget mendapati
nama di KTP itu bukan namanya. Ditelitinya dengan seksama celana yang sedang
dia pakai. Hah?! Ini ‘kan bukan celanaku.
Dia benar-benar tidak menyadarinya.
“Alamak!!!”
(Cerpen ini sudah diterbitkan dalam antologi Mekar Dalam Penantian, terbitan Tuas Media Banjarmasin)
