"Benarkah
jika cinta itu sebuah pilihan? Benarkah?
Apa masih ada, apa masih berlaku sebuah kesempatan itu untukku? Ya, kesempatan
untuk memiliki cinta. Karena cinta itu ada dalam jaminan Allah."
***
Antara gerimis di pagi itu dan kau, Helwa.
Kalaupun
cinta, memang aku sangat mencintaimu. Kalaupun rindu, memang aku sangat
merindukanmu. Kalaupun sayang, maka kau tahu, tak ada detik yang tersisa selain hanya mengingatmu, Helwa.
Aku tak bisa lebih sekadar membisu, membiarkan saja perasaan ini
larut. Karena, percayalah, ketulusan ini takkan berkurang sesenti pun.
Kemarin,
di gerimis yang mencair dari langit, usai sunrise
mengganti gaun malam. Itu pertemuan terakhir kita sebelum besok kau pergi lama
dari pesantren ini. Memang, seharusnya hari itu puncak perasaan ini kuluapkan.
Hari saat penantian lamaku, menunggu di detik dan menit yang tepat untuk
menumpahkan perasaan itu. Masih kusimpan rapat dan tetap utuh, Helwa. Penantian
15 tahun yang tidak sebentar sejak kita masih asyik dulu, malu-malu mengintip dibalik kitab. Mencuri
kesempatan ketika jalanan amat lengang dari teman-teman santri lain, hanya sekadar melempar sapa. Apa kau ingat?
Hingga
masa itu kini tinggal berbingkai kenangan, tak terasa telah begitu lama
perasaan ini kupendam hingga kita sendiri mengabdi sebagai guru di pesantren. Namun, aku tak berubah, masih sebisu
dulu dalam masalah cinta. Dan kau pun juga tahu, bukan?
Kita
selalu terbiasa pada gerimis. Menjadikannya alasan untuk mengenang masa indah
kita. Karena, pada gerimislah kau sering cerewet, memuji awan yang kau bilang
baik sekali melelehkan air sejuk. Juga Tuhan yang entah tak diminta menurunkan rahmat-Nya. Dan kau benar, pada gerimis pula lah benih cinta ini tumbuh.
Aku
masih beku di pijakan halte yang memisahkan jarak pada halaman aula pesanten
dengan jalan raya. Di seberang sana, bersama secangkir teh, kau duduk anggun
dan terlihat manis, perawakan yg berubah pesat dari yang kukenal dulu. Ya Rabb, sungguh, ini bukan urusan
mudah. Datang ke sana menemuimu, sok peduli dengan pura-pura menyapa. Lah, bagaimana jika aku mengganggumu? Bagaimana jika kau yang malah menolakku? Lihatlah! Sudah setengah jam aku berdiri mematung di sini,
rela gerimis yang kian tak ramah menikamku. Tapi, kau tetap seolah tak tahu
menahu, tanpa pernah sesaat saja membalikkan pandangan ke seberang jalan demi
melihatku. Helwa, seharusnya kau tau aku di sini. Toh, bukankah setiap hari pun aku selalu di sini
demi memperhatikanmu yang di sana juga setiap hari selalu sok sibuk? Mengapa tidak sesaat saja kau mau memandangku?
Jujur,
aku tak pernah senekad ini. Sepenggal menit aku sibuk mengutuki hati,
melapangkan perasaan yang sangat susah diajak kompromi. Mencoba mendekatimu.
Ah, ini bukan urusan mudah.
"E… ha… hai," sapaku kaku.
Kau
menoleh ragu, mengangkat wajahmu yang tadi tenggelam dalam buku. Cukup lama.
Tidak.
Ini tak boleh terjadi. Mengapa aku sangat gugup, semua kata-kataku yang tadi
terangkai amat rapi pun luntur. Mendadak perasaan yang tadi ingin kuluapkan
kehilangan bekasnya. Padahal inilah saatnya, inilah kesempatan saat ujung
penantian itu usai. Tapi mengapa?
"Pa... Pagi," kataku gagap.
"Pagi," jawabmu ketus.
Aduh,
kenapa mesti kata itu yang terlontar sih.
"Kau
sibuk? "
Kau
menggeleng. Berhasil, setidaknya aku mulai sedikit menguasai keadaan.
"Ada
apa? " tanyamu.
Ya Rabb, ada apa?
Ya, ada apa? Apa yang terjadi padaku? Seharusnya yang kubilang bahwa aku
mencintaimu, aku menyayangimu.
"Ah,
tidak apa-apa. Oya, aku ke kelas dulu ya, mau ngajar. Kamu?”
Tidak! Tidak! Semuanya gagal! Harapan itu sudah tak
berlaku lagi. Hancur! Penantian ini memang tak ada ujungnya. Mengapa
aku mesti bilang mau ngajar. Bodoh! Aku ini bodoh! Ketahuilah, ini memang tidak
mudah.
"Aku
nanti saja, mau baca buku ini dulu."
Kau pun
tersenyum.
Pagi
itu, gerimis seperti memakiku.
***
Antara gerimis di pagi itu dan kau, Reyhan
Kalaupun
cinta, memang aku sangat mencintaimu. Kalaupun rindu, memang sangat aku
merindukanmu. Kalaupun sayang, maka kau tau, tak ada detik yang tersisa selain
kau, Reyhan. Aku tak pernah tau apa kau benar mencintaiku atau tidak. Kau
selalu menikmati diam, tanpa pernah sekalipun terbesit untuk menyatakan
perasaanmu. Namun, kau harus tahu, bahwa sesenti pun perasaanku tak akan
berkurang.
Kemarin,
di gerimis yang mencair dari langit, usai sunrise
mengganti gaun malam, itu pertemuan terakhir kita, sebelum besok aku pergi dari
pesantren karena orang tuaku ingin menjodohkanku. Kau lelaki bodoh, Rey! Lima belas tahun kita bersahabat, sejak dulu
saat kita masih asyik mengintip dari balik kitab sekadar mencuri pandang, hingga tak terasa kita
sendiri yang jadi guru di pesantren ini.
Tapi, apa kau pernah sekali saja mengakui
perasaanmu? Tak pernah! Tak pernah sekalipun! Aku selalu menunggu itu, hingga bagiku
menunggu sudah menjadi bagian dari hidup. Kau tahu, ini menyakitkan. Terkurung
pada penantian yang tak kunjung reda.
Kita
memang selalu terbiasa pada gerimis, mengenalnya bahkan lebih mirip dari bagian
kenangan kita. Benar, aku selalu cerewet saat gerimis tumpah, bilang ini dan
itu yang tak jelas dan tentunya pernah menyindirmu, bukan? Karena menurutku pada gerimislah tumbuh benih
perasaan di antara kita. Tapi, sayangnya kau amat senang membisu tanpa pernah
mau mengerti.
Aku
sengaja pagi itu duduk di depan aula pesantren, menunggumu yang selalu bersikap
bodoh di seberang sana. Sesusah apa sih, mendekat ke sini, berbicara dan
langsung mengungkapkan perasaan. Aku sudah hapal kebiasaanmu. Saat gerimis
turun, kau tak tanggung-tanggung beka untuk lama di seberang sana dan rela saja
tubuhmu dijilati gerimis.
Kau tak
pernah mengerti, Rey. Aku selalu menunggumu, tapi apa? Percuma! Kau terlalu keras seperti batu untuk peka.
Lihatlah, aku selalu bersandiwara di sini, sok sibuk setiap hari dan kini malah
sok membaca yang semua itu kulakukan agar kau mengerti dan menghampiriku. Bukan
hanya sekedar menyapa. Aku muak, Rey! Melihatmu di sana yang selalu bersikap bodoh
dan tak pernah berani menikam rasa takutmu. Hingga aku sangat malas membalikkan
pandangan ke seberang sana.
Ajaib!
Kau akhirnya nekad dan mampu memaksa kakimu beranjak ke sini. Meski aku sangat
tahu wajahmu memutih seperti kain kumal. Aku sudah
menunggumu lama untuk ini, Rey. Kapan lagi kau akan mengungkapnya. Sebelum harapanmu sungguh tak lagi berlaku dan
malah hancur. Sebelum terlambat dan selamanya kau takkan punya kesempatan untuk
memilikiku lagi. Karena cinta itu adalah pilihan. Kau harus memilih.
"E… ha… hai," sapamu kaku.
Aku
menoleh, ragu menatapmu yang tak pernah kunjung serius. Penat. Lelah, sedari
tadi aku menyelubungi wajahku dengan buku. Ya
Rabbi, kau sedang apa? Apa hanya
mematung dan membisu? Cepat langsung saja katakan!
Aku
memang tak pernah tahu apa yang menjerat lidahmu hingga teramat
susah mengutarakannya.
"Pa… pagi," katamu gugup.
"Pagi,"
jawabku ketus.
Ada apa
sih, basa-basi omong kosong lagi.
"Kau
sibuk?"
Aku
menggeleng. Kau lihat sendiri, bukan. Ya, setidaknya kau sedikit bisa
mengendalikan diri.
"Ada
apa?" tanyaku.
Akhirnya
sempurna aku memancingmu. Kau pasti mengerti, bukan. Tunggu apa lagi. Katakan saja aku menyukaimu atau aku
mencintaimu. Maka masalah beres, bukan.
"Ah,
tidak apa-apa. Oya, aku ke kelas dulu ya, mau ngajar. Kamu?”
Bodoh! Kau lelaki bodoh! Percuma aku berharap selama
ini. Percuma aku menunggumu, tapi kau selalu begitu, tak pernah serius. Bodoh! Kau bodoh, Reyhan! Bukankah kau juga mencintaiku. Sejak dulu pun
aku juga sudah tau. Tapi, kau yang tak pernah berubah. Aku menyerah.
"Aku
nanti saja, mau baca buku ini dulu." Aku
tersenyum. Senyuman yang kupaksa merekah di bibir. Jujur, sebetulnya aku ingin
ikut denganmu, ingin pergi bersamamu. Namun, aku terlanjur marah. Dasar kau, Reyhan!
Pagi itu
gerimis seperti menatapku iba.
***
Antara gerimis di sore itu dan kau, Reyhan.
Hari ini
aku pergi. Kau di mana, Reyhan? Apa kau tidak ikut mengantarku? Ah, aku memang
gadis malang. Terlalu berharap banyak padamu, yang sebenarnya bukanlah hakku.
Di sore
ini, gerimis belum usai mencair, hingga hari berganti lagi gaun gelap. Di sini,
di bandara kota kecil kita, aku tak pernah lelah memajangkan pandangan ke tiap
sudut tempat. Berharap kau ada. Memang percuma aku berharap kau ada. Yang ada hanya kawan-kawan lama kita, berebut menghampiriku, mengucapkan salam perpisahan dalam bentuk indah
bermacam-macam. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa malu pamer puisi.
Seharusnya kau yang melakukan ini, Rey.
Cukup
lama aku mengeruk waktu di sini. Entahlah, aku masih setia menantimu, tak tahu
sampai kapan baru akan tiba di pengunjungnya. Rela saja aku susah payah
menemani mereka demi menantimu. Namun, malah kau yang tak ada, Reyhan. Kumohon,
kali ini saja kau tidak memalsukan harapanku. Benar, kau memang ada, duduk di
kursi paling belakang sana dan malah malu-malu menatapku. Bodoh! Kau ngapain di sana?!
Lalu,
usai kutatap lama, dengan langkah berat kau pun mendekat. Wajahmu tegang. Di
antara banyak kawan-kawan kita ini, kau pasti malu mengungkapkan perasaan. Duhai,
kapan lagi. Jika seperti ini, sampai kapanpun perasaan itu
takkan terungkap.
"Jaga
dirimu baik-baik, ya!"
Hanya
itu kalimat yang terlontar dari mulutmu. Tak lebih.
"Terimakasih,"
jawabku.
Lantas,
setelah itu kau berpaling lagi dan jauh mengambil jarak pandang dariku. Apa kau
tak mencintaiku, aku tak mengerti, Reyhan. Tak mengerti. Padahal, andai kau
berani mengungkapkannya, aku bisa saja membatalkan perjodohanku. Membatalkan
kepergianku ini untukmu.
Maaf. Tapi, sebentar lagi aku akan pergi.
***
Antara gerimis di sore itu dan kau, Helwa.
Hari ini
kau akan akan pergi. Maaf, aku terlambat. ibuku terlalu tua untuk
kutinggalkan sendiri di rumah. Dia juga sedang sakit. Tapi, aku tak mungkin melewatkan detik ini. Ini kesempatan terakhirku untukmu, sebelum semua
benar-benar usai. Semoga kau masih mengharapkanku.
Ibuku
selalu memaksa ingin melihatmu. Ingin melihatku menikah dengan gadis cantik
sepertimu. Dia memang terlalu tua untuk masih hidup, setidaknya, sebelum
napasnya berhembus terakhir, dia ingin melihatku bahagia denganmu. Sangat
ingin. Entah mengapa bagiku, itu permintaan yang sangat sulit.
Di sore
itu, gerimis belum usai mencair hingga hari berganti lagi gaun gelap. Di sini,
di bandara kota kecil kita, aku bergegas berlari ke sana. Meski sebelumnya,
lama membujuk ibuku agar mau sebentar menunggu di mobil.
Tidak.
Saat aku ke sana, saat kakiku menginjak lantai pertama tempat itu, lihatlah!
Kau amat asyik bercanda ria dengan kawan-kawan lama kita -banyak di antaranya
laki-laki. Kau tampak bahagia dan entah mengapa aku tak suka melihat itu.
Cemburu.
Seorang
di antaranya bahkan tanpa malu memamerkan puisi untukmu. Ya Rabbi, kau tersenyum, Helwa. Kau menyukainya? Ah, aku seolah
kehilangan semangat untuk mendekatimu meski sekadar mengucapkan salam
perpisahan. Lantas memilih duduk di kursi paling belakang.
Sayang,
kau keburu mendapatiku, memandangiku penuh harap. Baiklah, tak ada pilihan
lain, aku ke sana dengan tegang karena menahan gugup dan grogi yang
menimbunku.
"Jaga
dirimu baik-baik, ya!"
Hanya
itu kalimat yang terlontar dari mulutku. Tak lebih.
"Terimakasih,"
jawabmu.
Tak ada
gunanya aku berada di dekatmu. Kau tetap akan pergi. Maafkan aku, Helwa.
Kuharap kau mengerti.
Ah, aku
menyesal. Sebentar lagi kau akan pergi.
***
Antara gerimis di malam itu dan mereka berdua.
Tak ada
yang bisa diharapkan lagi.
Bahkan gadis itu telah memasuki pesawat dan bersiap
pergi. Membawa luka hati dan perasaan. Penantian ini membusuk tak berguna lagi.
Mereka berdua sama-sama menangis. Ingin menghakimi langit, hukum langit yang
jahat mesti memisahkan mereka. Dan lagi-lagi gerimis lah yang menjadi saksi pilu keduanya.
Namun,
yang paling terpukul adalah sang lelaki. Ia seorang pemilih yang buruk. Membiarkan
kesempatan lenyap tak berarti. Ada dua hal yang ia sesalkan; pertama kepergian
gadis itu yang tanpa pernah tahu tentang perasaannya yang teramat tulus. Kedua
adalah ibunya. Ibunya yang selalu mengharapkan agar bisa melihat anaknya
bahagia bersama calon menantunya. Sayang, semua itu sekarang tak lebih sekadar gerimis yang jatuh sia-sia ke tanah, lantas
larut tak berguna.
Reyhan,
lelaki itu menangis di tengah gerimis. Tak
peduli segila apa perbuatannya, ia teramat kesal mengutuki langit.
Berteriak-teriak seperti kurang waras, menjadikannya tontonan yang menarik.
"Tuhan,
kumohon, AKU MENCINTAINYA! SANGAT MENCINTAINYA! Tolong, kembalikan dia kepadaku. Aku tak
sanggup, tak sanggup hidup tanpanya. BIARKAN DIA KEMBALI! Biarkan dia kembali untukku, Tuhan. KUMOHON!"
Mendadak,
guntur meraung menakutkan malam itu.
***
Antara gerimis dan kepulangan.
Gadis
itu memang kembali.
Hari
sudah berlanjut malam, menusukkan dingin yang setajam duri es. Lelaki itu
menyesal menyadari, orang yang ia sayangi, malam itu ... akhirnya menghempaskan nyawanya dan
melambungkannya ke langit. Ini menyedihkan. Tangisan berceceran di bandara kota
kecil ini. Guntur pun tak kunjung diam
membentak-bentak beserta kilat yang mengurat. Petir pun tak kalah geram
berperan, sempurna membuat malam semakin kelam dan menakutkan.
Sebulir
bening dari pipi tua yang mengeriput. Terisak.
"Kau
harus sabar, ya, Nak. Mungkin gadis itu memang bukan
jodohmu," seorang wanita tua mengelus rambut Reyhan.
Ya,
gadis itu memang kembali. Namun, dalam bentuk nyawa dan tubuh yang tak utuh
lagi. Petir jahat, kejam, menyambar pesawat yang ia naiki.
"Cinta
memang rahasia Allah dan ada dalam jaminannya." Lelaki itu mengeluh. [ ]
Maibelopah, 10 februari 2016
Biodata Penulis
Muhammad Rifki, lahir di Anjir Pasar, 13
Agustus 1998. Usai lulus dari sekolah dasar, lalu melanjutkan sekolah ke Pondok
Pesantren Al Falah Putera dan di sana ia membangun sebuah organisasi tulis
menulis Forum Pena Pesantren/FPP. Ingin
mengenalnya lebih, bisa melalui akun facebook ; Maibe Lopah atau email rifkimaibelopah@gmail.com
