“Pipi saparti pauh dilayang
Bartambah pula gulunya janjang
Manalan sapah barbayang bayang
Mambaru hati barang ta bimbang”
Anda sudah membaca larik larik
itu dengan perasaan? Apa yang Anda bayangkan tentang wanita yang disanjungkan
dalam bait itu? Tentu wanita dengan pengandaian kecantikan yang sangat. Dengan
pipi yang ranum seperti pauh atau buah asam dan jenjang leher yang putih hingga
kunyahan sapah atau sirih yang ditelan pun seperti terlihat. Silakan Anda mewujudkan
imaji itu dengan wanita mana pun.
Larik-larik yang sangat sugestif
di atas dikutip dari buku ke-3 Syair Indera Bumaya, bait ke-200. Tak jelas
kapan syair itu ditulis dan siapa pengarangnya. Namun, berdasarkan ciri-ciri
fisiknya, ditulis dengan huruf Arab Melayu dan ceritanya masih bersifat istana
sentris, diperkirakan dikarang sekitar awal abad ke-15. Dan satu hal lagi,
syair Indera Bumaya diakui sebagai karya urang
Banua.
Rasanya tak habis kagum jika
melihat hebatnya orang-orang zaman dahulu dalam menulis kata-kata bersayap.
Bukan hanya mengandung hal yang bersifat estetika, tetapi juga etika. Bagaimana
mengungkapkan sesuatu dengan dengan bahasa yang indah tetapi juga santun.
Itulah yang banyak saya temukan dalam larik larik semacam syair, gurindam, atau
pun pantun.
Tanpa mengabaikan kemajuan dan
kekayaan khazanah sastra masa kini, tradisi lisan pada masa lalu sangat kaya
dan bermartabat. Kebiasaan bertutur yang bukan sembarang tutur itu disampaikan
turun temurun, baik dalam bentuk prosa seperti legenda, fabel, hikayat; maupun
puisi seperti syair di atas. Ini bukan hanya sekadar kreativitas, tetapi juga
ekspresi masyarakat yang masih memegang teguh adat dan tata nilai.
Jika ada yang mengatakan karya yang
lahir dari tradisi lisan itu sangat lebay atau terlalu berlebihan (dalam diksi
dan cara pengungkapan), maka yang berpendapat itu harus kembali ke jalan yang
benar. Melihat karya masa lalu tentu tidak bisa menggunakan kacamata masa kini
(baca: modern) tersebab tradisi lisan lahir dalam kearifan lokal yang sangat
kental dan dipengaruhi oleh kondisi saat itu.
Coba Anda cermati bagaimana
cerdasnya orang bahari dalam membuat
peribahasa, misalnya, “Laksana katak,
sedikit hujan banyak bermain”. Untuk menyindir orang yang suka
membesar-besarkan masalah saja, mereka memilih sifat katak sebagai simbolnya.
Jutaan ungkapan dan peribahasa yang luar biasa itu tidak akan lahir dari
pikiran orang yang stres dan pengidap penyakit hati yang akut.
Demikianlah hasil endapan
pemikiran saya setelah selama dua hari mengikuti diskusi yang teramat bernilai.
Pertama, Dialog Budaya “Revitalisasi Tradisi Lisan pada Masyarakat Banjar” oleh
BPNB Kalbar, 17-18 April; dan Kedua “Telaah Buku Syair Indera Bumaya” oleh
Museum Lambung Mangkurat, 18 April. Kedua kegiatan itu makin menanamkan
kesadaran bahwa tradisi lisan itu adalah warisan adiluhung.
Namun, sebaik-baik pembicaraan
adalah dituangkan dalam bentuk aksi nyata. Kerja berikutnya adalah
menginventarisir naskah naskah tradisi lisan di daerah ini. Syukur-syukur
merekamnya dari penutur yang tersisa atau turunannya. Tentu juga mengalihaksara
dari Arab Melayu ke Latin. Selanjutnya menyebarkannya agar generasi sekarang
tak sekadar baper alias bawa perasaan, tetapi juga mampu menghargai. [Zulfaisal Putera]
(Esai ini telah dimuat d SKH BanjarmasinPost
edisi Minggu, 24 April 2016)
