Pages

Ads 468x60px

Senin, 25 April 2016

ZULFAISAL PUTERA: TAK SEKADAR BAPER


“Pipi saparti pauh dilayang
Bartambah pula gulunya janjang
Manalan sapah barbayang bayang
Mambaru hati barang ta bimbang”

Anda sudah membaca larik larik itu dengan perasaan? Apa yang Anda bayangkan tentang wanita yang disanjungkan dalam bait itu? Tentu wanita dengan pengandaian kecantikan yang sangat. Dengan pipi yang ranum seperti pauh atau buah asam dan jenjang leher yang putih hingga kunyahan sapah atau sirih yang ditelan pun seperti terlihat. Silakan Anda mewujudkan imaji itu dengan wanita mana pun.

Larik-larik yang sangat sugestif di atas dikutip dari buku ke-3 Syair Indera Bumaya, bait ke-200. Tak jelas kapan syair itu ditulis dan siapa pengarangnya. Namun, berdasarkan ciri-ciri fisiknya, ditulis dengan huruf Arab Melayu dan ceritanya masih bersifat istana sentris, diperkirakan dikarang sekitar awal abad ke-15. Dan satu hal lagi, syair Indera Bumaya diakui sebagai karya urang Banua.

Rasanya tak habis kagum jika melihat hebatnya orang-orang zaman dahulu dalam menulis kata-kata bersayap. Bukan hanya mengandung hal yang bersifat estetika, tetapi juga etika. Bagaimana mengungkapkan sesuatu dengan dengan bahasa yang indah tetapi juga santun. Itulah yang banyak saya temukan dalam larik larik semacam syair, gurindam, atau pun pantun.

Tanpa mengabaikan kemajuan dan kekayaan khazanah sastra masa kini, tradisi lisan pada masa lalu sangat kaya dan bermartabat. Kebiasaan bertutur yang bukan sembarang tutur itu disampaikan turun temurun, baik dalam bentuk prosa seperti legenda, fabel, hikayat; maupun puisi seperti syair di atas. Ini bukan hanya sekadar kreativitas, tetapi juga ekspresi masyarakat yang masih memegang teguh adat dan tata nilai.

Jika ada yang mengatakan karya yang lahir dari tradisi lisan itu sangat lebay atau terlalu berlebihan (dalam diksi dan cara pengungkapan), maka yang berpendapat itu harus kembali ke jalan yang benar. Melihat karya masa lalu tentu tidak bisa menggunakan kacamata masa kini (baca: modern) tersebab tradisi lisan lahir dalam kearifan lokal yang sangat kental dan dipengaruhi oleh kondisi saat itu.

Coba Anda cermati bagaimana cerdasnya orang bahari dalam membuat peribahasa, misalnya, “Laksana katak, sedikit hujan banyak bermain”. Untuk menyindir orang yang suka membesar-besarkan masalah saja, mereka memilih sifat katak sebagai simbolnya. Jutaan ungkapan dan peribahasa yang luar biasa itu tidak akan lahir dari pikiran orang yang stres dan pengidap penyakit hati yang akut.

Demikianlah hasil endapan pemikiran saya setelah selama dua hari mengikuti diskusi yang teramat bernilai. Pertama, Dialog Budaya “Revitalisasi Tradisi Lisan pada Masyarakat Banjar” oleh BPNB Kalbar, 17-18 April; dan Kedua “Telaah Buku Syair Indera Bumaya” oleh Museum Lambung Mangkurat, 18 April. Kedua kegiatan itu makin menanamkan kesadaran bahwa tradisi lisan itu adalah warisan adiluhung.

Namun, sebaik-baik pembicaraan adalah dituangkan dalam bentuk aksi nyata. Kerja berikutnya adalah menginventarisir naskah naskah tradisi lisan di daerah ini. Syukur-syukur merekamnya dari penutur yang tersisa atau turunannya. Tentu juga mengalihaksara dari Arab Melayu ke Latin. Selanjutnya menyebarkannya agar generasi sekarang tak sekadar baper alias bawa perasaan, tetapi juga mampu menghargai. [Zulfaisal Putera]


(Esai ini telah dimuat d SKH BanjarmasinPost edisi Minggu, 24 April 2016)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter