Puisi
I
AKU
Aku tersandar dalam gelap malam
Aku merenung dalam bayang
Aku terhempas ombak yang terjal
Aku terjatuh dalam buaian
Aku menangis dalam tawa
Aku
tersenyum dalam perih
Aku
bahagia dalam luka
Aku
belajar bersandiwara
Aku
hidup untuk orang lain
Aku
bukanlah diri ku
Aku akan menjadi diriku
Apabila aku kembali seperti dulu
Namun itu hanya masa lalu
Sebab aku telah menjadi benalu
Karena itulah takdirku
Puisi II
GELEBAH JULUNG
Rasa itu
semakin memudar
Bagai hembusan
uap di kaca bening
Yang terhapus
oleh angin
Bagai tersayat
beling saat dia mendekat
Hanya untuk
keperluan sesaat
Untung saja aku
tersadarkan dari mimpi indah
Yang sebenarnya
hanya sebuah manipulasi belaka
Aku bangkit
dari gelebah yang membuatku lemah
Aku berlari
dari julung yang telah ada
Hingga tiba di penghujung
jalan yang berharga
Puisi III
TANPA JAWABAN
Rasa kebanggaan itu terselubung di dalam hati
Mungkin karena kabut yang begitu tebal menyelimuti
Kebanggaan itu menggelora di dalam jiwa
Merasakan bahwa itu sesuatu yang patut dijaga
Tak sadar bahwasanya kebanggaan itu hanya sebuah ilusi
Ilusi yang tak pernah berujung dengan kedamaian hati
Mungkin hanya
engkau dan Tuhan yang tahu
Kebanggaan itu
tersembunyi di dalam kalbumu
Kalimat manis
itu terucap dari bibirmu
Sehingga terkesan
indah bagiku
Hati selalu bertanya
Apakah kebenaran itu ada pada dirinya
Hanya dia yang mampu menjawab semuanya
Dengan diam ia menjawabnya
Hanya diam diam
dan diam
Itulah dirinya
dengan sandiwaranya
Dengan lakon
itu dia tersenyum
Seolah tak ada
masalah menimpanya
Menunggu menunggu dan menunggu
Itulah yang dapat kulakukan
Dalam diam ku menunggu
Dengan jawaban yang tak terpastikan
Biodata:
ALMUNA, lahir di Muara Bakanon
(Puruk Cahu) Kab. Murung Raya Kalimantan Tengah, 30 januari 1996. Seorang
Mahasiswi di IAIN Antasari Banjarmasin Jurusan Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah (PGMI) semester IV. Saat ini tinggal di jalan A. Yani kompleks Bina
Brata Gang Permata Banjarmasin Timur. FB: Almuna Hur’ain.

