Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 30 April 2016

CERPEN NOERWENTY FUJI ASTUTY: KODE BIRU



Lepaslah segala yang ia pakai, dengan mata kosong Biru menghampiri meja rias di sudut kamar. Pakaian serba hitam itu tergeletak saja tanpa dirapikan. Diremasnya ujung meja, kepalanya masih menunduk dengan rambut berurai kacau. Cahaya redup senja merambat lembut melewati celah jendela setengah terbuka. Remang-remang terdengar bunyi isak tertahan dari Biru, rupanya dia sudah lelah menahan tangis selama pemakaman tadi siang.
Orang lain mungkin akan menanggap Biru berlebihan. Sebab Biru belum mengenal orang itu dengan baik. Namun, dia tiba-tiba pergi. Sesak mendera setiap sendi urat tubuh Biru. Empat belas hari Biru mengurung diri. Biru benar-benar merasa sendiri sekarang.


Biru --
Siang yang panas di kota perantauan Biru. Hiruk pikuk kendaraan bermotor tak sedetikpun menjelma menjadi sunyi di kota ini. Salah satu kota metropolitan yang penuh dengan kendaraan bermotor tersebut telah dua tahun menjadi pijakan Biru.
“Pasti bisa, pasti!” bisiknya mantap sambil mengepalkan tangan kanan. Helaan napas Biru berembus berat, dipeluknya tas berbentuk gitar kecil dengan erat. Langkahnya cepat untuk mendaki tangga besar dan menanjak di tengah kota. Biru terhenti di anak tangga terakhir, diliriknya sebuah papan iklan besar yang berdiri kokoh di bagian kanan pintu masuk. Dia kembali mengambil napas panjang namun mengeluarkannya perlahan, sedikit berbeda dari sebelum dia naik tangga. Dibacanya satu persatu dari huruf di papan iklan. Dari atas hingga akhir kalimat dan senyum masih terjelma di wajahnya. Namun, ekspresi Biru berubah
“Pukul 13:00 sampai 18:30?” Tangan kanannya terangkat dan Biru kembali tersenyum. Dirapikannya rambut pixie yang sudah mulai panjang itu cepat. “Ok, masih ada waktu,” benak Biru bersemangat. Dia masuk dengan percaya diri.
Biru mengikuti audisi bakat untuk kesekian kalinya. Bakat? Iya, Biru memiliki bakat besar dalam tubuh kecilnya. Biru kecil sangat menyukai segala hal berbau seni. Menggambar, mewarnai, menyanyi dan bermain alat musik telah dilahapnya. Biru sangat menyukai biola. Baginya biola adalah sebuah benda mati yang dapat menghidupkan orang mati sekalipun.
Biru sampai di sebuah ruangan tempat audisi. Dibukanya perlahan pintu dengan tangan kirinya.  Hening. Tak ada seorang pun di dalam ruangan itu. Hanya Biru seorang dan kursi-kursi. Biru mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut ruang auditorium. Biru bahkan tak mengedipkan matanya, dia begitu menyukai ruangan itu. Biru berdiri lama di tengah-tengah ruangan, dipejamkannya mata dan menikmati kesunyian ruangan.
Amazing!” bisiknya kagum.
“Ya, memang luar biasa,” sahut seseorang di belakang Biru. Biru berbalik cepat mendengar jawaban yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Biru mendapati seorang gadis berambut merah sedang melipat kedua tangannya sambil tersenyum kecut. Hantu? Bukan. Dia seorang yang dikenal oleh Biru, Sunny.
Iya, luar biasa karena kita berdua terlambat,” timpalnya tak ditanya.
Biru diam sejenak, mencerna perkataan Sunny barusan. “Tunggu, maksudnya?” Mata Biru menyipit pelan. Sunny mengangkat bahu lalu berbalik meninggalkan Biru.
“Hey tunggu! Bukankah audisinya sampai jam setengah tujuh?” desak Biru mengimbangi langkah Sunny.
“Hey, jawab dong!” Biru mulai merasa tak di hargai.
“HEY!” Biru menaikkan suaranya. Sunny berhenti dan berbalik ke arah Biru.
“Hey come on! My name is Sunny, bukan Hey,” balas Sunny lebih tinggi. “Audisinya udah selesai dua jam yang lalu, kita ter-lam-bat!” tambahnya masih berjalan di depan Biru.
“Lantas, kenapa loe di sini?” Pertanyaan Biru membuat langkah Sunny berhenti. “Dari mana loe tahu audisi udah selesai?” ketusnya. Namun, Sunny kembali berjalan meninggalkan Biru.
Biru dan Sunny memang terkenal tidak pernah akur dalam hal apapun, padahal mereka di bawah bimbingan coach yang sama. Mereka juga punya skill masing-masing, Biru dengan kehebatannya dalam menggesek biola dan Sunny dengan suara indahnya yang menggemparkan. Tak ada yang tahu alasan perang dingin antara mereka, tak ada yang tahu  mengapa mereka tak pernah memanggil nama satu sama lain.
* * *
Kring
Sebuah lonceng berbunyi, itu tanda ada seseorang yang masuk ke dalam kedai. Jidan masih sibuk dengan serbuk-serbuk kopi, sementara seseorang yang membawa biola dengan tangan kanannya itu telah duduk di meja dekat jendela. Seorang gadis menatap kosong ke luar jendela sambil mendekap biolanya, lalu menghela nafas berat. Tak lama, Jidan menghampirinya.
“Pesan apa, Mbak?”
Diam. Gadis itu belum menjawab tawaran Jidan. Ia kembali bertanya, kali ini dengan gerakan tangan di depan wajah gadis biola. Tentu saja berhasil membangunkan gadis itu dari lamunan.
Oh, iya, Americano dan... Gadis biola itu terdiam, seperti mengingat sesuatu.
“Dan?” tanya Jidan tak sabar.
“Teh hijau,” jawabnya pelan. Kening Jidan mengernyit. Aneh. Biasanya pelanggan akan memesan satu minuman dengan satu kudapan. “Satu americano dan teh hijau, wait a moment,” ulang Jidan berlalu dengan wajah bingung.
Dari balik meja bar Jidan sesekali melirik gadis biola. Lirikan pertama masih dengan tanda tanya besar, kedua kali Jidan menyimpulkan gadis itu sedang menunggu seseorang yang menyukai americano atau mungkin teh hijau. Namun, untuk yang ketiga kalinya Jidan tidak mendapatkan gadis biola.
Lha, mana dia?” Jidan memutar badannya melihat sekeliling ruangan. Matanya tidak melewatkan satu sudut pun. “Hilang?” gumam Jidan menuju pintu keluar, dengan sedikit berlari. Tak ada jejak dari gadis biola itu. Jidan terdiam seperti mengingat sesuatu. Dia merasa pernah merasakan situasi seperti ini. Ditutupnya mata rapat-rapat, mencoba mengingat apa sebenarnya yang ingin ia ingat. “Akh!!!geram Jidan mengacak rambutnya, tanda dia tidak berhasil menemukan jawaban yang diinginkan.
“Ngapain?” Tepukan kecil di bahu Jidan berhasil membuatnya kaget.
“Ah, Mina, sudah datang.”
“Iya, ngapain di luar? Di dalam siapa? Kok ditinggalin? Jidan, kamu gimana sih? Kalo ada yang komplain, terus kalo ada yang hilang, kan repot,” timpal gadis bernama Mina. Jidan hanya mengangkat bahu dengan senyum kecut lalu berbalik.
“Mina, tadi lihat cewek bawa biola, tidak?
* * *
Siang itu begitu sembab. Wajah-wajah pelanggan begitu tidak enak dilihat. Jidan duduk di balik meja bar. Mengamati setiap tindak-tanduk pelanggan dengan serius. Terkadang dia terkekeh karena ulah seorang pelanggan wanita di ujung kedai. Seperti wanita yang sedang sibuk mengerjakan tugas akhir atau semacamnya. Kacamata bulat ala John Lenon terpasang kokoh diwajah oval dan chubby-nya. Dua buku tebal dan empat buku semi-tebal lain membuat mejanya jadi penuh. Terkadang wanita itu bicara sendiri penuh ekspresif. Jidan serasa menonton pertunjukan teater di siang bolong.
Kring
Seorang gadis memasuki kedai. Rambut merahnya tergerai, membuat karakternya terlihat kuat. Namun, mata sayunya mengimbangi karakter kuat dari rambut. Gadis itu berhenti sebentar, melihat sekeliling, lalu berjalan menuju meja di dekat jendela. Meja yang sama yang diduduki gadis biola beberapa saat lalu.
Di letakkannya tas tangan kotak-kotak putih di atas meja kedai, lalu ditariknya pelan kursi kayu kedai. Dia terlihat menarik napas dalam sebelum duduk.
“Mas! panggil gadis itu pada Jidan.
Jidan yang sedari tadi memperhatikan gadis merah, segera menghampirinya dengan buku kecil di tangan.
“Pesan apa, Mbak?”
“Teh hijau dan…” Gadis merah terdiam sejenak. Jidan mengerutkan alis, teringat suasana yang sama beberapa jam yang lalu. Ya, suasana yang sama seperti saat gadis biola duduk di tempat yang sama, di sini, meja di dekat jendela.
“Dan?” Sebenarnya Jidan tidak mau menanyakan hal yang sama, tapi mulutnya telah berkhianat. Jidan sepertinya sudah tahu jawaban apa yang akan keluar.
Americano,jawab gadis merah yang beriringan dengan bisikan Jidan. Bingo! Jidan benar. Jidan tersenyum puas dengan jawaban gadis merah.
“Baik, wait a minute!jawab Jidan mantap. Kali ini Jidan tidak mau tahu tentang kenapa gadis merah memesan dua minuman. Belum sampai Jidan di meja bar, tiba-tiba Jidan kembali ke meja gadis merah. Dia berdiri dekat meja, dan sukses membuat gadis merah itu bicara.
“Kenapa lagi, Mas?”
“Mbak, nggak akan kabur, kan?”
Gadis merah terlihat heran dengan pertanyaan Jidan yang tiba-tiba. Dia tersenyum sinis lalu berdiri. “Kalau minumannya nggak ada bilang aja, Mas.” Gadis merah terlihat marah, dia hampir meninggalkan kedai namun ditahan Mina. Jidan menenangkan gadis merah dan menjelaskan kenapa dia menanyakan hal semacam itu secara tiba-tiba.
“Sekali lagi saya minta maaf, Mbak.” Jidan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Makanya, nggak semua orang seperti mbak yang tadi pagi,” timpal Mina sang pemilik kedai.
“Udah, tidak apa-apa, Mbak. Dia harus begitu kalau tidak mau rugi,Gadis merah menenangkan Mina sambil terkekeh. Jidan yang dari tadi hanya diam menyesali perbuatannya kini tersenyum senang.
“Makasih, Mbak.
“Sunny, call me Sunny,” jawab gadis merah tersebut dengan senyum yang begitu menawan, juga mata yang tegas dan tenang dalam waktu bersamaan.


Biru –
Dentingan senar dari jari lentik Biru mengalun indah sore itu. Alunan lagu yang  sering dia mainkan, lagu menyayat hati kata teman-temannya. Lagu yang sebenarnya selalu dinyanyikan oleh seseorang. Lagu yang Biru mainkan hanya untuk seseorang. Seseorang yang telah lama ingin ia dekati. Ya, selain mahir bermain biola, Biru juga merupakan gitaris yang baik, meskipun tidak sebaik gitaris lain di kelasnya.
Sekelabat Biru melihat seseorang sedang memandanginya dari kejauhan. Sadar dirinya diawasi, Biru beranjak dari taman dan pergi menuju sebuah tempat. Tempat yang sangat bersejarah bagi Biru. Rumah sakit.
* * *
Biru berhenti di depan sebuah kedai. Dia mengintip dari balik kaca-kaca di depan kedai itu. Biru terlihat kaget, dia menunduk cepat lalu berniat untuk meninggalkan kedai. Tapi, sebuah tangan menahan Biru, tangan itu menarik ujung tas ranselnya. Tentu saja itu berhasil membuat Biru kembali ke tempatnya semula.
“Kamu, yang kabur waktu itu, kan?” kata seorang pria di belakang Biru.
“Ka... kabur? Kabur apanya?”
“Gadis biola yang kabur setelah memesan minuman.”
“Ga... gadis apa?” sahut Biru masih membelakangi pria itu.
“Ah, hari ini kamu bawa gitar, berarti gadis gitar yang memesan minuman lalu kabur beberapa hari yang lalu,” tambah pria itu panjang lebar. Biru belum sepenuhnya paham maksud dari pria di belakangnya itu. Yang membuatnya marah sekarang adalah posisi mereka yang tidak wajar untuk sebuah percakapan serius.
“Permisi dulu, Mas. Mas bisa lepasin dulu?” pinta Biru sedikit memelas.
“Mas? Nama gue Jidan, bukan Mas.” Pria itu melepas Biru.
Belum sempat pembicaraan baru dimulai, seorang tamu keluar dari dalam kedai. Sunny, dia menghampiri Jidan dan Biru pelan.
“Dia temanku, Dan.” Ucapan Sunny membuat Biru dan Jidan diam. Mereka mencerna perkataan Sunny sesaat. “Biru, masuklah! Kita perlu bicara.”
“Biru? Nama yang aneh.”
* * *
Diam. Mereka berdua tenggelam dalam sebuah kata yang disebut diam. Tak satupun dari mereka memulai pembicaraan. Mereka sesekali saling mencuri pandang, seperti orang yang baru pertama kali bertemu, seperti pasangan yang baru memulai hubungan. Canggung adalah kata yang tempat bagi mereka sekarang.
Sunny dan Biru adalah teman baik sejak kecil. Dua tahun yang lalu Biru melanjutkan kuliah ke luar negeri, dan Sunny tetap di Jakarta. Enam bulan yang lalu Biru kembali ke Jakarta, dan mengambil fakultas yang sama dengan Sunny. Tidak ada yang tahu bagaimana hubungan mereka sebelumnya. Yang teman-teman mereka tahu hanyalah perang dingin antara Biru dan Sunny.
“Kemarin gue ketemu Dandi,” ujar Biru sedikit ragu. Sunny tersentak mendengar nama Dandi disebut.
Gue ke rumah sakit dan ketemu dia di sana,” lanjut Biru.
“Dandi ... gimana dia sekarang?” Sunny merespon singkat.
Biru menghela napas dalam, mencoba menata kata yang tepat untuk menyampaikan perasaannya pada Sunny.
“Dandi bilang, kalau ...”
“Dandi memang nggak bisa dipercaya,” sahut Sunny cepat.
“Gue minta maaf sama loe, Sun.”
“Untuk?”
Gue minta maaf karena gue baru tahu sekarang. Gue minta maaf karena udah terlambat. Gue minta maaf karena udah ninggalin loe tanpa pamit. Gue minta maaf karena gue nggak pernah ngabarin loe selama di Jerman. Gue minta maaf karena udah salah paham sama loe waktu itu. Gue minta maaf karena gue nggak nanya dulu sama loe. Gue minta maaf karena gue pikir loe suka sama Dandi. Gue minta maaf, Sun. Gue… minta maaf,” ungkap Biru sambil memejamkan mata.
Sunny tersenyum mendengar pengakuan Biru. “Kalau maaf bisa bikin kita seperti dulu, kenapa tidak,” sahut Sunny tersenyum lebar. Bukan hanya bibirnya yang tersenyum, tapi matanya juga. Sebuah mata yang memancarkan kebahagiaan. Sunny dan Biru menjadi lebih cair sekarang, meski masih sedikit cangung. Sebenarnya jawaban Sunny sedikit membuat Biru lega. Ya, sedikit. Ada hal lain yang mengganggu di hati Biru.
Hal lain yang didengar Biru dari Dandi, bahwa Sunny sedang sakit. Bukan sakit biasa, tapi sakit yang mengharuskan Sunny dirawat di rumah sakit secara intensif. Sunny Gunawan, ada sebuah tumor yang tumbuh di dalam tenggorokannya. Umumnya tumor ini menyerang para lansia, namun hal ini terjadi pada Sunny. Memang belum terlihat, tapi Biru bisa melihat betapa kesakitannya Sunny. Sunny memang merokok sejak mereka masih SMA. Biru sudah sering menegur Sunny, tapi sia-sia.


Sunny –
Biru, walaupun namanya biru, tapi hari-harinya tampak begitu ceria.
Sunny, nama yang berarti cerah, gembira, ataupun riang.
“Begitukah orang tuaku menginginkan hidupku?”, batin Sunny.
Sunny berbaring di atas dipan kecil dalam kamar yang didominasi warna putih. Bau obat dimana-mana. Sunny di rumah sakit sekarang. Biru berhasil membujuk Sunny untuk dirawat. Sunny sendiri ragu, apakah keadaannya akan membaik jika dirawat. Dia sudah menyerah, ah, lebih tepatnya dia sudah pasrah dengan apa yang Tuhan mau.
* * *
Code blue… Code blue... Kamar 32 Melati code blue, code blue” [ ]




Biodata Penulis:
NOERWENTY FUJI ASTUTY, sudah 22 tahun lebih 2 bulan menjalani kehidupan sebagai anak tunggal. Kesan pertama orang lain setelah mengetahui namanya adalah 1) Ada darah Jepang kah? 2) Orang Jawa ya? 3) Kasian pengantin prianya. Masih menjunjung mimpi masa kecilnya yaitu ‘keliling dunia’. Mengagumi ketegasan dan mencintai ketenangan. Wenty bisa di hubungi via e-mail : noerwenty.fujiastuty@gmail.com dan facebook : Wenty Fujii, juga Line ID : wentyfujii.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter