Lepaslah segala yang ia pakai, dengan mata
kosong Biru menghampiri meja
rias di sudut kamar. Pakaian serba hitam itu tergeletak saja tanpa dirapikan.
Diremasnya ujung meja, kepalanya masih menunduk dengan rambut berurai kacau.
Cahaya redup senja merambat lembut melewati celah jendela setengah terbuka. Remang-remang
terdengar bunyi isak tertahan dari Biru, rupanya dia sudah lelah menahan tangis
selama pemakaman tadi siang.
Orang
lain mungkin akan menanggap Biru berlebihan. Sebab Biru belum mengenal orang
itu dengan baik. Namun, dia tiba-tiba pergi. Sesak mendera setiap sendi urat
tubuh Biru. Empat belas hari Biru mengurung diri. Biru benar-benar merasa sendiri sekarang.
Biru --
Siang
yang panas di kota
perantauan Biru. Hiruk pikuk kendaraan bermotor tak sedetikpun menjelma menjadi
sunyi di kota ini. Salah satu kota metropolitan yang penuh dengan kendaraan bermotor tersebut telah dua tahun menjadi
pijakan Biru.
“Pasti
bisa, pasti!” bisiknya mantap sambil mengepalkan tangan kanan. Helaan napas
Biru berembus berat, dipeluknya tas berbentuk gitar kecil dengan
erat. Langkahnya cepat untuk mendaki tangga besar dan menanjak di tengah kota.
Biru terhenti di anak tangga terakhir, diliriknya sebuah papan iklan besar yang
berdiri kokoh di bagian kanan pintu masuk. Dia kembali mengambil napas panjang
namun mengeluarkannya perlahan, sedikit berbeda dari sebelum dia naik tangga. Dibacanya
satu persatu dari huruf di papan iklan. Dari atas hingga akhir kalimat dan
senyum masih terjelma di wajahnya. Namun,
ekspresi Biru berubah
“Pukul
13:00 sampai 18:30?” Tangan kanannya
terangkat dan Biru kembali tersenyum. Dirapikannya rambut pixie yang sudah mulai panjang itu cepat. “Ok, masih ada waktu,”
benak Biru bersemangat. Dia masuk dengan percaya diri.
Biru
mengikuti audisi bakat untuk kesekian kalinya. Bakat? Iya, Biru memiliki bakat besar dalam tubuh kecilnya. Biru kecil sangat menyukai segala hal
berbau seni. Menggambar, mewarnai,
menyanyi dan bermain alat musik telah
dilahapnya. Biru sangat menyukai biola. Baginya biola adalah sebuah benda
mati yang dapat menghidupkan orang mati sekalipun.
Biru
sampai di sebuah ruangan tempat audisi. Dibukanya perlahan
pintu dengan tangan kirinya. Hening. Tak
ada seorang pun di dalam ruangan itu. Hanya Biru seorang dan kursi-kursi. Biru
mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut ruang auditorium. Biru bahkan tak
mengedipkan matanya, dia begitu menyukai ruangan itu. Biru berdiri lama di tengah-tengah
ruangan, dipejamkannya mata dan menikmati kesunyian ruangan.
“Amazing!” bisiknya kagum.
“Ya,
memang luar biasa,” sahut seseorang di
belakang Biru. Biru berbalik cepat mendengar jawaban yang sebenarnya tidak ia
butuhkan. Biru mendapati seorang gadis berambut merah sedang melipat kedua tangannya sambil
tersenyum kecut. Hantu? Bukan. Dia seorang yang
dikenal oleh Biru, Sunny.
“Iya, luar biasa karena
kita berdua terlambat,”
timpalnya tak ditanya.
Biru
diam sejenak, mencerna perkataan Sunny
barusan. “Tunggu, maksudnya?” Mata
Biru menyipit pelan. Sunny mengangkat bahu lalu berbalik
meninggalkan Biru.
“Hey… tunggu! Bukankah audisinya sampai jam
setengah tujuh?” desak Biru mengimbangi langkah Sunny.
“Hey, jawab dong!” Biru
mulai merasa tak di hargai.
“HEY!” Biru menaikkan
suaranya. Sunny
berhenti dan berbalik ke arah
Biru.
“Hey… come on! My name is Sunny, bukan Hey,”
balas Sunny lebih tinggi. “Audisinya udah selesai dua jam yang lalu,
kita ter-lam-bat!” tambahnya masih berjalan di depan Biru.
“Lantas, kenapa loe di sini?” Pertanyaan Biru membuat langkah Sunny berhenti. “Dari
mana loe tahu audisi udah selesai?”
ketusnya. Namun, Sunny kembali berjalan meninggalkan Biru.
Biru
dan Sunny memang terkenal tidak pernah akur dalam hal apapun, padahal mereka di
bawah bimbingan coach yang sama.
Mereka juga punya skill
masing-masing, Biru dengan kehebatannya dalam menggesek biola dan Sunny dengan
suara indahnya yang menggemparkan. Tak ada yang tahu alasan perang dingin
antara mereka, tak ada yang tahu mengapa
mereka tak pernah memanggil nama satu sama lain.
* * *
Kring
Sebuah
lonceng berbunyi, itu tanda ada seseorang yang masuk ke dalam kedai. Jidan
masih sibuk dengan serbuk-serbuk kopi, sementara seseorang yang membawa biola dengan tangan kanannya itu telah duduk di meja dekat jendela.
Seorang gadis menatap kosong ke luar jendela sambil mendekap
biolanya, lalu menghela nafas berat. Tak lama, Jidan
menghampirinya.
“Pesan
apa, Mbak?”
Diam. Gadis itu belum
menjawab tawaran Jidan. Ia kembali bertanya, kali ini dengan gerakan tangan di
depan wajah gadis biola. Tentu saja berhasil membangunkan gadis itu dari
lamunan.
“Oh, iya, Americano dan...” Gadis biola itu
terdiam, seperti mengingat sesuatu.
“Dan?”
tanya Jidan tak sabar.
“Teh
hijau,” jawabnya pelan.
Kening Jidan mengernyit. Aneh. Biasanya pelanggan akan
memesan satu minuman dengan satu kudapan. “Satu americano dan teh hijau, wait a moment,” ulang Jidan berlalu
dengan wajah bingung.
Dari
balik meja bar Jidan sesekali melirik
gadis biola. Lirikan pertama masih dengan tanda tanya besar, kedua kali Jidan menyimpulkan gadis
itu sedang menunggu seseorang yang menyukai americano atau mungkin teh hijau. Namun, untuk
yang ketiga kalinya Jidan tidak mendapatkan gadis biola.
“Lha, mana dia?” Jidan memutar badannya
melihat sekeliling ruangan. Matanya tidak
melewatkan satu sudut pun.
“Hilang?” gumam Jidan menuju pintu keluar, dengan sedikit berlari. Tak ada
jejak dari gadis biola itu.
Jidan terdiam seperti mengingat sesuatu. Dia merasa pernah merasakan situasi
seperti ini. Ditutupnya mata rapat-rapat, mencoba mengingat apa sebenarnya yang
ingin ia ingat. “Akh!!!” geram Jidan mengacak
rambutnya, tanda dia tidak berhasil menemukan jawaban yang diinginkan.
“Ngapain?”
Tepukan kecil di bahu Jidan berhasil membuatnya
kaget.
“Ah, Mina, sudah datang.”
“Iya,
ngapain di luar? Di dalam siapa? Kok ditinggalin? Jidan, kamu gimana sih? Kalo ada yang komplain,
terus kalo ada yang hilang, kan repot,” timpal gadis bernama
Mina. Jidan hanya mengangkat bahu dengan senyum kecut lalu berbalik.
“Mina,
tadi lihat cewek bawa biola,
tidak?”
* * *
Siang
itu begitu sembab. Wajah-wajah pelanggan begitu tidak enak dilihat. Jidan duduk
di balik meja bar. Mengamati setiap
tindak-tanduk pelanggan dengan serius. Terkadang dia terkekeh karena ulah
seorang pelanggan wanita di ujung kedai. Seperti wanita yang sedang sibuk
mengerjakan tugas akhir atau semacamnya. Kacamata bulat ala John Lenon terpasang kokoh
diwajah oval dan chubby-nya.
Dua buku tebal dan empat buku semi-tebal lain membuat mejanya jadi penuh.
Terkadang wanita itu bicara sendiri penuh ekspresif. Jidan serasa menonton
pertunjukan teater di siang bolong.
Kring
Seorang
gadis memasuki kedai. Rambut merahnya tergerai, membuat karakternya terlihat
kuat. Namun, mata sayunya mengimbangi
karakter kuat dari rambut. Gadis itu berhenti sebentar, melihat sekeliling, lalu
berjalan menuju meja di dekat jendela. Meja yang sama yang diduduki gadis biola
beberapa saat lalu.
Di
letakkannya tas tangan kotak-kotak putih di atas meja kedai, lalu ditariknya
pelan kursi kayu kedai. Dia terlihat menarik
napas dalam sebelum duduk.
“Mas!” panggil gadis itu pada
Jidan.
Jidan
yang sedari tadi memperhatikan gadis merah, segera menghampirinya dengan buku
kecil di tangan.
“Pesan
apa, Mbak?”
“Teh
hijau dan…” Gadis merah terdiam
sejenak. Jidan mengerutkan alis, teringat suasana yang sama beberapa jam yang
lalu. Ya, suasana yang sama seperti saat gadis biola duduk di tempat yang sama,
di sini, meja di dekat
jendela.
“Dan?”
Sebenarnya Jidan tidak
mau menanyakan hal yang sama, tapi mulutnya telah berkhianat. Jidan sepertinya
sudah tahu jawaban apa yang akan keluar.
“Americano,” jawab
gadis merah yang beriringan dengan bisikan Jidan. Bingo! Jidan benar. Jidan tersenyum puas dengan jawaban gadis
merah.
“Baik,
wait a minute!”
jawab Jidan mantap.
Kali ini Jidan tidak mau tahu tentang kenapa gadis merah memesan dua minuman.
Belum sampai Jidan di meja bar,
tiba-tiba Jidan kembali ke
meja gadis merah. Dia berdiri dekat meja, dan sukses membuat gadis merah itu
bicara.
“Kenapa
lagi, Mas?”
“Mbak,
nggak akan kabur, kan?”
Gadis
merah terlihat heran dengan pertanyaan Jidan yang tiba-tiba. Dia tersenyum
sinis lalu berdiri. “Kalau minumannya nggak ada bilang aja, Mas.” Gadis merah terlihat
marah, dia hampir meninggalkan kedai namun ditahan Mina. Jidan menenangkan
gadis merah dan menjelaskan kenapa dia menanyakan hal semacam itu secara tiba-tiba.
“Sekali
lagi saya minta maaf, Mbak.” Jidan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Makanya,
nggak semua orang seperti mbak yang tadi pagi,” timpal Mina sang pemilik kedai.
“Udah,
tidak apa-apa, Mbak. Dia harus begitu kalau tidak mau rugi,” Gadis
merah menenangkan Mina sambil terkekeh. Jidan yang dari tadi hanya diam
menyesali perbuatannya kini tersenyum senang.
“Makasih,
Mbak.”
“Sunny,
call me Sunny,” jawab gadis merah tersebut dengan senyum yang
begitu menawan, juga mata yang tegas dan tenang dalam waktu bersamaan.
Biru –
Dentingan senar dari jari lentik Biru
mengalun indah sore itu. Alunan lagu yang
sering dia mainkan, lagu menyayat hati kata teman-temannya. Lagu yang
sebenarnya selalu dinyanyikan oleh seseorang. Lagu yang Biru mainkan hanya
untuk seseorang. Seseorang yang telah lama ingin ia dekati. Ya, selain mahir
bermain biola, Biru juga merupakan gitaris yang baik, meskipun tidak sebaik
gitaris lain di kelasnya.
Sekelabat Biru melihat seseorang sedang
memandanginya dari kejauhan. Sadar dirinya diawasi, Biru beranjak dari taman
dan pergi menuju sebuah tempat. Tempat yang sangat bersejarah bagi Biru. Rumah
sakit.
* * *
Biru berhenti di depan sebuah kedai. Dia mengintip
dari balik kaca-kaca di depan kedai itu. Biru terlihat kaget, dia menunduk
cepat lalu berniat untuk meninggalkan kedai. Tapi, sebuah tangan menahan Biru,
tangan itu menarik ujung tas ranselnya. Tentu saja itu berhasil membuat Biru
kembali ke tempatnya semula.
“Kamu, yang kabur waktu itu, kan?” kata
seorang pria di belakang Biru.
“Ka... kabur? Kabur apanya?”
“Gadis biola yang kabur setelah memesan
minuman.”
“Ga... gadis apa?” sahut Biru masih
membelakangi pria itu.
“Ah, hari ini kamu bawa gitar, berarti
gadis gitar yang memesan minuman lalu kabur beberapa hari yang lalu,” tambah
pria itu panjang lebar. Biru belum sepenuhnya paham maksud dari pria di
belakangnya itu. Yang membuatnya marah sekarang adalah posisi mereka yang tidak
wajar untuk sebuah percakapan serius.
“Permisi dulu, Mas. Mas bisa lepasin dulu?”
pinta Biru sedikit memelas.
“Mas? Nama gue Jidan, bukan Mas.” Pria itu melepas Biru.
Belum sempat pembicaraan baru dimulai,
seorang tamu keluar dari dalam kedai. Sunny, dia menghampiri Jidan dan Biru
pelan.
“Dia temanku, Dan.” Ucapan Sunny membuat
Biru dan Jidan diam. Mereka mencerna perkataan Sunny sesaat. “Biru, masuklah! Kita
perlu bicara.”
“Biru? Nama yang aneh.”
* * *
Diam. Mereka berdua tenggelam dalam sebuah
kata yang disebut diam. Tak satupun dari mereka memulai pembicaraan. Mereka
sesekali saling mencuri pandang, seperti orang yang baru pertama kali bertemu,
seperti pasangan yang baru memulai hubungan. Canggung adalah kata yang tempat
bagi mereka sekarang.
Sunny dan Biru adalah teman baik sejak
kecil. Dua tahun yang lalu Biru melanjutkan kuliah ke luar negeri, dan Sunny
tetap di Jakarta. Enam bulan yang lalu Biru kembali ke Jakarta, dan mengambil
fakultas yang sama dengan Sunny. Tidak ada yang tahu bagaimana hubungan mereka
sebelumnya. Yang teman-teman mereka tahu hanyalah perang dingin antara Biru dan
Sunny.
“Kemarin gue ketemu Dandi,” ujar Biru sedikit ragu. Sunny tersentak
mendengar nama Dandi disebut.
“Gue
ke rumah sakit dan ketemu dia di sana,” lanjut Biru.
“Dandi ... gimana dia sekarang?” Sunny
merespon singkat.
Biru menghela napas dalam, mencoba menata
kata yang tepat untuk menyampaikan perasaannya pada Sunny.
“Dandi bilang, kalau ...”
“Dandi memang nggak bisa dipercaya,” sahut
Sunny cepat.
“Gue minta maaf sama loe, Sun.”
“Untuk?”
“Gue
minta maaf karena gue baru tahu sekarang. Gue
minta maaf karena udah terlambat. Gue
minta maaf karena udah ninggalin loe
tanpa pamit. Gue minta maaf karena gue nggak pernah ngabarin loe selama di Jerman. Gue minta maaf karena udah salah paham
sama loe waktu itu. Gue minta maaf karena gue nggak nanya dulu sama loe. Gue
minta maaf karena gue pikir loe suka sama Dandi. Gue minta maaf, Sun. Gue… minta maaf,” ungkap Biru sambil
memejamkan mata.
Sunny tersenyum mendengar pengakuan Biru.
“Kalau maaf bisa bikin kita seperti dulu, kenapa tidak,” sahut Sunny tersenyum
lebar. Bukan hanya bibirnya yang tersenyum, tapi matanya juga. Sebuah mata yang
memancarkan kebahagiaan. Sunny dan Biru menjadi lebih cair sekarang, meski
masih sedikit cangung. Sebenarnya jawaban Sunny sedikit membuat Biru lega. Ya,
sedikit. Ada hal lain yang mengganggu di hati Biru.
Hal lain yang didengar Biru dari Dandi,
bahwa Sunny sedang sakit. Bukan sakit biasa, tapi sakit yang mengharuskan Sunny
dirawat di rumah sakit secara intensif. Sunny Gunawan, ada sebuah tumor yang
tumbuh di dalam tenggorokannya. Umumnya tumor ini menyerang para lansia, namun
hal ini terjadi pada Sunny. Memang belum terlihat, tapi Biru bisa melihat
betapa kesakitannya Sunny. Sunny memang merokok sejak mereka masih SMA. Biru
sudah sering menegur Sunny, tapi sia-sia.
Sunny –
Biru, walaupun namanya biru, tapi hari-harinya
tampak begitu ceria.
Sunny, nama yang berarti cerah, gembira,
ataupun riang.
“Begitukah orang tuaku menginginkan
hidupku?”, batin Sunny.
Sunny berbaring di atas dipan kecil dalam
kamar yang didominasi warna putih. Bau obat dimana-mana. Sunny di rumah sakit
sekarang. Biru berhasil membujuk Sunny untuk dirawat. Sunny sendiri ragu,
apakah keadaannya akan membaik jika dirawat. Dia sudah menyerah, ah, lebih
tepatnya dia sudah pasrah dengan apa yang Tuhan mau.
* * *
“Code
blue… Code blue... Kamar 32 Melati
code blue, code blue” [ ]
Biodata Penulis:
NOERWENTY FUJI ASTUTY, sudah 22 tahun lebih 2
bulan menjalani kehidupan sebagai anak tunggal. Kesan pertama orang lain
setelah mengetahui namanya adalah 1) Ada darah Jepang kah? 2) Orang Jawa ya? 3)
Kasian pengantin prianya. Masih menjunjung mimpi masa kecilnya yaitu ‘keliling
dunia’. Mengagumi ketegasan dan mencintai ketenangan. Wenty bisa di hubungi via
e-mail : noerwenty.fujiastuty@gmail.com dan facebook : Wenty Fujii, juga Line ID :
wentyfujii.
