Saya masih ingat Bung Candra pernah mengatakan
bahwa kunci sukses seseorang itu tergantung dua hal, yaitu buku apa yang
ia baca dan dengan siapa ia bergaul.
Perkataan Bung Candra di atas bisa diterapkan
dalam bidang apa saja, termasuk bidang kepenulisan. Kalau Anda ingin jadi
penulis, mesti banyak membaca. Membaca dalam makna luas, tidak terbatas pada
buku. Namun, untuk mengarahkan dan menyalurkan hasrat jadi penulis, Anda mesti
membaca buku-buku tentang kepenulisan dan bergaul dengan penulis. Termasuk
membaca artikel ini. Hehehe…
Membaca dan berteman dengan penulis adalah
bagian dari motivasi luar diri. Membaca akan memengaruhi pikiran kita untuk
melakukan apa yang kita baca. Begitu juga dengan berteman.
Teman cukup besar pengaruhnya terhadap prilaku
seseorang. Orang yang tadinya tidak bisa merokok, karena bergaul dengan
perokok, akhirnya jadi perokok juga. Berteman dengan orang jahat, akhirnya
ikutan jadi jahat. Na'uzubillah.
Bergaul dengan penulis, akhirnya jadi penulis juga. Alhamdulillah. Hehehe... Nggak percaya?
Survei membuktikan. Saya menulis artikel ini
karena bergaul dengan penulis muda berbakat, Mahfuzh Amin. Ia yang datang ke
rumah saya dan meminta saya mengisi satu bagian dari rubrik Read Zone ini. Saya
menyanggupinya. Dengan begitu, mau tidak mau saya harus menulis setiap minggu.
Saya pun bersyukur ada wadah untuk mengasah kreativitas saya dalam menulis.
Bicara kreativitas menulis. Saat ini saya
mencoba menulis dengan satu jari sambil rebahan telantang di depan TV yang lagi
nyala. Telunjuk kanan digunakan untuk menulis, tangan kiri memegang
ponsel. Karena ini saya lakukan, akhirnya tulisan ini pun bisa Anda baca.
Membaca dan bergaul dengan penulis tidak akan
ada artinya jika kita tidak memotivasi diri sendiri untuk melakukan, melatih
dan mengembangkan diri kita sendiri. Namun, setidaknya dengan membaca dan
bergaul dengan penulis akan saling memengaruhi.
Melalui media sosial kita bisa berteman dengan
penulis. Awalnya saya mengenal Pak Ersis, motivator kepenulisan lewat fb,
akhirnya bisa kopi darat, dengan motivasi-motivasi beliau, mulai tahun 2011
saya bisa menerbitkan buku.
Belakangan ini, saya mengenal Pak Hernowo Hasim,
dengan slogan beliau "mengikat makna". Saya senang membaca tulisan-tulisan
beliau lewat fb. Setelah membaca tulisan-tulisan beliau, saya bisa
memahami bahwa menulis itu adalah upaya mengikat makna. Setelah paham, saya pun
menulis apa yang saya pahami tadi dengan bahasa saya sendiri. Itulah yang
disebut mengikat makna. Kalau menulis persis sama, itu bukan menulis, bukan
mengikat makna, tapi menyalin. Tulisan saya tentang mengikat makna ini saya
posting di fanspage fb saya "Terampil Menulis". Alhamdulillah, beliau memberikan komentar positif atas
tulisan-tulisan saya. Komentar positif dan doa dari penulis hebat itu membuat
saya terus keranjingan menulis.
Jadi, membaca, berteman dengan penulis, dan menulis
itu sendiri tidak bisa diabaikan jika Anda memang ingin jadi penulis. Oke?
Ya, sip dah. [ Haderi Ideris ]
