Pages

Ads 468x60px

Senin, 02 Mei 2016

ZULFAISAL PUTERA: MOVIE GOERS




Sempat menduga tak banyak yang antri seperti ketika saya memutuskan untuk ikut menonton film Batman vs Superman : Dawn of Justice di pemutaran perdana, 23 Maret 2016 di Studio XXI Taman Ismail Marzuki Jakarta, ternyata meleset. Apa yang saya lihat di Empire XXI, Bandung Indah Plaza Bandung ketika ingin menonton pemutaran perdana film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2), 28 April tadi ternyata antrinya mengular panjang.

Saya memang termasuk malas harus antri berlama-lama untuk beli tiket hanya sekadar memuaskan hati menonton film di bioskop. Ini bukan persoalan tak setuju budaya antri, tetapi seperti merasa bodoh saja karena sebenarnya jika sabar beberapa waktu saja akan bisa beli tiket itu dengan leluasa. Maka itu, aku putuskan tak jadi ikut menyaksikan film AADC2 di hari pertama.
Jika ada waktu luang, ketika ada tugas atau perjalan ke luar daerah, aku memang menyempatkan untuk menonton film yang aku senangi. Misalnya, ketika ke Jakarta atau Bandung. Alasannya sederhana, punya waktu dan tiket studio 21 di sana lebih murah. Untuk Studio 21 di BIP itu harga tiket masuk (HTM)-nya cuma Rp30.000, Jumat Rp35.000, dan libur Rp40.000. Sementara di TIM lebih murah lagi lima ribu.

Bandingkan dengan HTM di Studio 21 Duta Mall, Rp40.000, Jumat Rp50.000, dan libur Rp60.000. Mahal sekali. Apakah karena hanya itu satu satunya bioskop di Banjarmasin, atau karena menganggap urang Banjar sugih sugih. Menurut sebuah artikel, penetapan HTM bioskop didasarkan pembagian 20% pajak pemerintah, 40% keuntungan pengusaha bioskop, dan 40% buat produser film. Itu belum lagi pajak khusus film import dan pajak untuk PAD daerah.

Lupakanlah soal HTM mahal itu karena menurut saya, seperti apa pun mahalnya HTM di studio 21 di DM, tetap saja dibeli. Masyarakat banua, khususnya kota Banjarmasin ini sepertinya punya dana ekstra untuk menonton film dan ada kebanggaan bisa menjadi bagian calon penonton yang ikut antri. Berita di Banjarmasin Post, Jumat dan Sabtu (29 dan 30 April) bahwa warga antusias berbondong dan rela antri hanya untuk menyaksikan pemutaran perdana AADC2.

Saya melihat ini bukanlah sebuah fenomena aneh. Ini juga bukan persoalan kejiwaan. Pemandangan rela antri berpuluh meter untuk beli tiket pertunjukan film sudah sering terlihat. Masih lekat ingatan ketika film Ayat Ayat Cinta tayang. Ada banyak ibu-ibu pengajian yang ikut berjejal dengan ABG. Mereka tentu bukan movie goers atau penggemar sejati film. Mereka adalah orang-orang yang ingin tahu bagaimana sih film itu. Bahkan, mereka rela ikut nangis menyaksikan.
Kasus ini berbeda ketika tahun 1984 terjadi antrian panjang masyarakat untuk menyaksikan film Pengkhianatan G30 S PKI. Penuhnya kursi bioskop hampir satu bulan bukan karena kahandak saurang, tetapi mobilisasi besar pemeritah melalui Diknas dan Deppen, yang mewajibkan pelajar, mahasiswa, dan pegawai untuk menonton sebagai bagian dari kampanye antikomunis. Sama seperti sekarang ketika bupati walikota mengajak pegawainya atau anggota partai pendukungnya menonton bersama.

Jika saat ini film AADC2 kembali membuat sesak dengan antrian mengular, bisa jadi karena sebagian besar adalah penonton, kebanyakan dewasa alias orang tua, yang penasaran ingin melihat kelanjutan hubungan Cinta dan Rangga, setelah 14 tahun lalu menggantung di film AADC1. Atau karena pengaruh promosi film ini yang bombastis melalui iklan 9 produk, dari minuman mineral sampai mobil. Bolehlah juga ditanya apa mereka termasuk movie goers atau seperti penonton ibu-ibu tadi: handak tahu, banar ai, supaya kada takaji habar. [ZulfaisalPutera]


(Esai ini telah dimuat di SKH BanjarmasinPost edisi Minggu, 01 Mei 2016)



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter