Sempat menduga tak banyak yang
antri seperti ketika saya memutuskan untuk ikut menonton film Batman vs Superman : Dawn of Justice di
pemutaran perdana, 23 Maret 2016 di Studio XXI Taman Ismail Marzuki Jakarta,
ternyata meleset. Apa yang saya lihat di Empire XXI, Bandung Indah Plaza
Bandung ketika ingin menonton pemutaran perdana film Ada Apa Dengan Cinta 2
(AADC2), 28 April tadi ternyata antrinya mengular panjang.
Saya memang termasuk malas harus
antri berlama-lama untuk beli tiket hanya sekadar memuaskan hati menonton film
di bioskop. Ini bukan persoalan tak setuju budaya antri, tetapi seperti merasa
bodoh saja karena sebenarnya jika sabar beberapa waktu saja akan bisa beli
tiket itu dengan leluasa. Maka itu, aku putuskan tak jadi ikut menyaksikan film
AADC2 di hari pertama.
Jika ada waktu luang, ketika ada
tugas atau perjalan ke luar daerah, aku memang menyempatkan untuk menonton film
yang aku senangi. Misalnya, ketika ke Jakarta atau Bandung. Alasannya
sederhana, punya waktu dan tiket studio 21 di sana lebih murah. Untuk Studio 21
di BIP itu harga tiket masuk (HTM)-nya cuma Rp30.000, Jumat Rp35.000, dan libur
Rp40.000. Sementara di TIM lebih murah lagi lima ribu.
Bandingkan dengan HTM di Studio
21 Duta Mall, Rp40.000, Jumat Rp50.000, dan libur Rp60.000. Mahal sekali.
Apakah karena hanya itu satu satunya bioskop di Banjarmasin, atau karena
menganggap urang Banjar sugih sugih.
Menurut sebuah artikel, penetapan HTM bioskop didasarkan pembagian 20% pajak
pemerintah, 40% keuntungan pengusaha bioskop, dan 40% buat produser film. Itu
belum lagi pajak khusus film import dan pajak untuk PAD daerah.
Lupakanlah soal HTM mahal itu
karena menurut saya, seperti apa pun mahalnya HTM di studio 21 di DM, tetap
saja dibeli. Masyarakat banua,
khususnya kota Banjarmasin ini sepertinya punya dana ekstra untuk menonton film
dan ada kebanggaan bisa menjadi bagian calon penonton yang ikut antri. Berita
di Banjarmasin Post, Jumat dan Sabtu (29 dan 30 April) bahwa warga antusias
berbondong dan rela antri hanya untuk menyaksikan pemutaran perdana AADC2.
Saya melihat ini bukanlah sebuah
fenomena aneh. Ini juga bukan persoalan kejiwaan. Pemandangan rela antri
berpuluh meter untuk beli tiket pertunjukan film sudah sering terlihat. Masih
lekat ingatan ketika film Ayat Ayat Cinta tayang. Ada banyak ibu-ibu pengajian
yang ikut berjejal dengan ABG. Mereka tentu bukan movie goers atau penggemar sejati film. Mereka adalah orang-orang
yang ingin tahu bagaimana sih film itu. Bahkan, mereka rela ikut nangis
menyaksikan.
Kasus ini berbeda ketika tahun
1984 terjadi antrian panjang masyarakat untuk menyaksikan film Pengkhianatan
G30 S PKI. Penuhnya kursi bioskop hampir satu bulan bukan karena kahandak saurang, tetapi mobilisasi
besar pemeritah melalui Diknas dan Deppen, yang mewajibkan pelajar, mahasiswa,
dan pegawai untuk menonton sebagai bagian dari kampanye antikomunis. Sama
seperti sekarang ketika bupati walikota mengajak pegawainya atau anggota partai
pendukungnya menonton bersama.
Jika saat ini film AADC2 kembali
membuat sesak dengan antrian mengular, bisa jadi karena sebagian besar adalah
penonton, kebanyakan dewasa alias orang tua, yang penasaran ingin melihat
kelanjutan hubungan Cinta dan Rangga, setelah 14 tahun lalu menggantung di film
AADC1. Atau karena pengaruh promosi film ini yang bombastis melalui iklan 9
produk, dari minuman mineral sampai mobil. Bolehlah juga ditanya apa mereka
termasuk movie goers atau seperti
penonton ibu-ibu tadi: handak tahu, banar
ai, supaya kada takaji habar. [ZulfaisalPutera]
(Esai
ini telah dimuat di SKH BanjarmasinPost edisi Minggu, 01 Mei 2016)
