Puisi I
TRAGEDI MUSIM RAMBUTAN
Tanpa sengaja
mata bertemu mata
saling menyapa
Jumpa kedua
mulai penuh makna
saling bercanda
Berpegang tangan
dan berikrar setia
tuk selamanya
Musim rambutan
berpadunya asmara
awal cerita
Malam yang sunyi
cinta berpadu rasa
gelora jiwa
Tiada salah
cinta mulai berdusta
menjelma bala
Yang dulu rindu
kini penuh jelaga
dan penyesalan
Musim rambutan
kubakar mimpi indah
cinta yang semu
Barabai,
22/05/2015
Puisi II
TARIAN DUKA SEMUSIM CINTA
Ay,
Hari ini kugores lagi rasa kekecewaanku
padamu
yang telah tega menyalakan api khianat di
lukaku
meluluhlantakan kejujuran dan indahnya
kesetiaan
saat pelangi asmara penuh warna-warni
kerinduan
hingga kuterpuruk di dalam gelap pusara
kedukaan
Burung-burung resah berkicau tentang
kepedihan
mewartakan cerita duka cinta nan terbakar di
dada
keringlah sudah anggrek bulan dalam genggaman
menyisakan keperihan dan duri di setiap
langkahku
hingga ruang dada sarat sesal dan kekecewaan
Merah muda senyummu kini menjelma jelaga
siksa
mengubur semua cerita dan rayuan kadaluwarsa
walau mati seribu kalipun kau takkan
kumaafkan
karena kau tega meracuni segenap rasa di
jiwaku
Kutahu musim kan berganti duka tak kekal
menguliti
kasih sayangku tak akan bermudik lagi padamu
telah kau tancapkan sembilu duka lara di hati
ini
dan kau tak akan kuasa menerawang jejak
cintaku
Ay,
Hatiku kini menjelma batu karang yang kelu
dan bisu
yang mencoba meraih senyum dan memamah
dustamu
hingga saat kau tertawa bagai burung pemakan
bangkai
nikmatilah selamanya neraka dusta di dalam
keluguanmu
Barabai,
12/05/2015
Puisi III
BIARKAN
Biarkan, jangan kau usik
kubermimpi dan bernyanyi
lagu yang tak pernah usai
tergores sunyi dalam hati
Biarkan aku termangu
sekedar kuresapi diam-diam
karena kulelah sudah menanti
cerita panjang tentang hidup ini
Biarkan aku selalu begini
hati memar menyongsong
dan kureguk semua mimpi
sampai tiada tanya hidup ini
Barabai,
17/12/2015
TABERI
LIPANI, lebih
akrab disapa Pani ini lahir pada tanggal 6 September 1971 di Barabai Kabupaten
Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Penyair kita yang satu ini mulai
belajar merangkai kata sejak di bangku SMP berlanjut di majalah dinding SMA 1
Barabai. Suami Nurul Lailah dan ayah dari M. Reza Pahlawan, Warisjadi
Syukurmayu, Rindu Annisha Asrahati dan Nur Pancar Ali Mulia ini, dalam
kesibukan sehari-harinya bertugas sebagai Pendata Bencana di BPBD Kab. Hulu
Sungai Tengah, ternyata ia juga rajin menulis puisi. Hal ini dapat dilihat pada
karya-karyanya yang pernah dimuat di SKH Banjarmasin Post, Majalah Dwi Mingguan
Fakta, tabloid Mercu Benua Tanjung, Tabloid Legalitas Bandung. Selain itu
karya-karyanya juga dimuat dalam Antologi Puisi bersama, antara lain Antologi
Puisi Tarian Cahaya Di Bukit Sanggam
(2008), Seribu Sungai Paris Berantai
(2006), Antologi Puisi Sastrawan Hulu Sungai Tengah Bertahan Di Bukit Akhir (2008), Antologi puisi Satu Kata Istemewa (Yogyakarta) bersama sastrawan nasional lainnya
(2012), Tardarus Rembulan (ASKS X,
2013), Ketika Kembalinya Cinta / Puisi
Cinta Bersama Hamami Adaby dkk (2013), Antologi ASKS XI Rantau, Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia
(2014). Antologi Tunggal Puasa Dan Rasaku
(2013), Tadarus Kerinduan (2014) dan Nyanyian Kacincirak (2015). Taberi
Lipani juga pernah menjuarai Lomba Bakisah Bahasa Banjar Piala Museum Banjar
Baru Kalimanan Selatan. Dan salah satu puisinya pernah masuk dalam jajaran 10
besar pada Lomba Tulis Puisi Bahasa Banjar yang dilaksanakan oleh Taman Budaya
Provinsi Kalimantan Selatan. Kini Taberi Lipani, aktif sebagai pegiat sastra di
Lapak Seni Dan Sastra Dwi Warna Hulu Sungai Tengah dan sejak tahun 2000 aktif
sebagai Ketua bagian Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Provinsi Kalimantan Selatan.

