Pages

Ads 468x60px

Jumat, 06 Mei 2016

PUISI TABERI LIPANI: TRAGEDI MUSIM RAMBUTAN




Puisi I
TRAGEDI MUSIM RAMBUTAN


Tanpa sengaja
mata bertemu mata
saling menyapa

Jumpa kedua
mulai penuh makna
saling bercanda

Berpegang tangan
dan berikrar setia
tuk selamanya

Musim rambutan
berpadunya asmara
awal cerita

Malam yang sunyi
cinta berpadu rasa
gelora jiwa

Tiada salah
cinta mulai berdusta
menjelma bala

Yang dulu rindu
kini penuh jelaga
dan penyesalan

Musim rambutan
kubakar mimpi indah
cinta yang semu

Barabai, 22/05/2015




Puisi II
TARIAN DUKA SEMUSIM CINTA


Ay,
Hari ini kugores lagi rasa kekecewaanku padamu
yang telah tega menyalakan api khianat di lukaku
meluluhlantakan kejujuran dan indahnya kesetiaan
saat pelangi asmara penuh warna-warni kerinduan
hingga kuterpuruk di dalam gelap pusara kedukaan

Burung-burung resah berkicau tentang kepedihan
mewartakan cerita duka cinta nan terbakar di dada
keringlah sudah anggrek bulan dalam genggaman
menyisakan keperihan dan duri di setiap langkahku
hingga ruang dada sarat sesal dan kekecewaan

Merah muda senyummu kini menjelma jelaga siksa
mengubur semua cerita dan rayuan kadaluwarsa
walau mati seribu kalipun kau takkan kumaafkan
karena kau tega meracuni segenap rasa di jiwaku

Kutahu musim kan berganti duka tak kekal menguliti
kasih sayangku tak akan bermudik lagi padamu
telah kau tancapkan sembilu duka lara di hati ini
dan kau tak akan kuasa menerawang jejak cintaku

Ay,
Hatiku kini menjelma batu karang yang kelu dan bisu
yang mencoba meraih senyum dan memamah dustamu
hingga saat kau tertawa bagai burung pemakan bangkai
nikmatilah selamanya neraka dusta di dalam keluguanmu


Barabai, 12/05/2015




Puisi III
BIARKAN


Biarkan, jangan kau usik
kubermimpi dan bernyanyi
lagu yang tak pernah usai
tergores sunyi dalam hati

Biarkan aku termangu
sekedar kuresapi diam-diam
karena kulelah sudah menanti
cerita panjang tentang hidup ini

Biarkan aku selalu begini
hati memar menyongsong
dan kureguk semua mimpi
sampai tiada tanya hidup ini

Barabai, 17/12/2015





TABERI LIPANI, lebih akrab disapa Pani ini lahir pada tanggal 6 September 1971 di Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Penyair kita yang satu ini mulai belajar merangkai kata sejak di bangku SMP berlanjut di majalah dinding SMA 1 Barabai. Suami Nurul Lailah dan ayah dari M. Reza Pahlawan, Warisjadi Syukurmayu, Rindu Annisha Asrahati dan Nur Pancar Ali Mulia ini, dalam kesibukan sehari-harinya bertugas sebagai Pendata Bencana di BPBD Kab. Hulu Sungai Tengah, ternyata ia juga rajin menulis puisi. Hal ini dapat dilihat pada karya-karyanya yang pernah dimuat di SKH Banjarmasin Post, Majalah Dwi Mingguan Fakta, tabloid Mercu Benua Tanjung, Tabloid Legalitas Bandung. Selain itu karya-karyanya juga dimuat dalam Antologi Puisi bersama, antara lain Antologi Puisi Tarian Cahaya Di Bukit Sanggam (2008), Seribu Sungai Paris Berantai (2006), Antologi Puisi Sastrawan Hulu Sungai Tengah Bertahan Di Bukit Akhir (2008), Antologi puisi Satu Kata Istemewa (Yogyakarta) bersama sastrawan nasional lainnya (2012), Tardarus Rembulan (ASKS X, 2013), Ketika Kembalinya Cinta / Puisi Cinta Bersama Hamami Adaby dkk (2013), Antologi ASKS XI Rantau, Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia (2014). Antologi Tunggal Puasa Dan Rasaku (2013), Tadarus Kerinduan (2014) dan Nyanyian Kacincirak (2015). Taberi Lipani juga pernah menjuarai Lomba Bakisah Bahasa Banjar Piala Museum Banjar Baru Kalimanan Selatan. Dan salah satu puisinya pernah masuk dalam jajaran 10 besar pada Lomba Tulis Puisi Bahasa Banjar yang dilaksanakan oleh Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan. Kini Taberi Lipani, aktif sebagai pegiat sastra di Lapak Seni Dan Sastra Dwi Warna Hulu Sungai Tengah dan sejak tahun 2000 aktif sebagai Ketua bagian Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter