Pages

Ads 468x60px

Jumat, 20 Mei 2016

PUISI ACHMAD HIDAYAT: KENANGAN KUNANG-KUNANG




Puisi I
KENANGAN KUNANG-KUNANG


“Apa yang kamu ingat?” “Wajahmu.”
“Apa yang terpatri itu?” “Mengenang dirimu.”
“Apakah kenangan itu?”
“Tak sulit. Kenangan adalah barisan
kunang-kunang yang beterbangan,
bercahaya dan mengerlap penuh magis.
Pancaran kuning rapi berbaris,
akan membuatmu terpana
kemudian menangis karena
engkau teringat akan semua
yang telah kita lakukan bersama.”
“Lalu kenapa tidak coba memandu
kembali kunang-kunang itu?”
“Mereka menjauh bersama perginya dirimu.”
“Kumohon, berhentilah bergurau.
Peluk dan ciumlah aku.
Kujamin tak ada lagi perjalanan jauh.
Tak ada lagi derita untukmu.”
Dan kemudian mereka berpelukan
berdua saling menghangatkan
sang kekasih melepas kediaman.


Makassar, Januari 2016




Puisi II
CERMINAN


temaram lampu kota, dimana orang-orang mencari kehangatan
suara-suara bising sembunyikan keluh kesah isyarat kepedihan
ombak hanyalah bagian dari meditasi, pelumat sebagian kelelahan
bening cahaya gemintang, tak ada yang hirau pada kerlap keselarasan
aku tersudut sepi menanti hinggapnya manja sebuah rona
dan terbangun sebuah cerminan mengenai hal-hal yang dijalani bersama
ada yang merindukan dirimu semenjak senjakala


Pantai Losari, September 2015




Puisi III
SEBELUM BERANGKAT


Kuhirup dalam-dalam wangi jemarimu
yang berselimut hangatnya rembulan tengah almanak.
Kutatap lekat-lekat buram potretmu
yang kusimpan dalam almari bernama sanubari.
Kubelai pelan-pelan gelombang rambutmu
yang tergerai di dalam sebuah aliran penuh bebatuan.
Kudekap erat-erat hangat tubuhmu
yang berbaur dalam sebuah artikulasi malam dingin.
Dan ketika nanti engkau kurelakan pergi,
tak ada lagi wajahmu berayun dalam berandaku.


Makassar, Februari 2016






Achmad Hidayat, kadang menggunakan nama pena Achmad Hidayat Alsair. Lahir di sebuah kota kecil bernama Pomalaa (Sulawesi Tenggara), 15 Mei 1995. Sekarang tengah berkuliah di Universitas Hasanuddin, Makassar, jurusan Ilmu Hubungan Internasional, semester 6. Selain sibuk dengan tugas dosen dan berdiskusi mengenai apapun, penulis juga hobi menuangkan hal-hal yang melintas di pikirannya ke atas kertas. Beberapa puisinya pernah dimuat di koran kampus Unhas Identitas dan harian Fajar Makassar. Yang terbaru, salah satu karyanya tergabung dalam antologi puisi “Rumah Abadi” (Tidar Media, 2016).




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter