Puisi I
KENANGAN
KUNANG-KUNANG
“Apa
yang kamu ingat?” “Wajahmu.”
“Apa
yang terpatri itu?” “Mengenang dirimu.”
“Apakah
kenangan itu?”
“Tak
sulit. Kenangan adalah barisan
kunang-kunang
yang beterbangan,
bercahaya
dan mengerlap penuh magis.
Pancaran
kuning rapi berbaris,
akan
membuatmu terpana
kemudian
menangis karena
engkau
teringat akan semua
yang
telah kita lakukan bersama.”
“Lalu
kenapa tidak coba memandu
kembali
kunang-kunang itu?”
“Mereka
menjauh bersama perginya dirimu.”
“Kumohon,
berhentilah bergurau.
Peluk
dan ciumlah aku.
Kujamin
tak ada lagi perjalanan jauh.
Tak
ada lagi derita untukmu.”
Dan
kemudian mereka berpelukan
berdua
saling menghangatkan
sang
kekasih melepas kediaman.
Makassar, Januari 2016
Puisi II
CERMINAN
temaram
lampu kota, dimana orang-orang mencari kehangatan
suara-suara
bising sembunyikan keluh kesah isyarat kepedihan
ombak hanyalah
bagian dari meditasi, pelumat sebagian kelelahan
bening
cahaya gemintang, tak ada yang hirau pada kerlap keselarasan
aku
tersudut sepi menanti hinggapnya manja sebuah rona
dan
terbangun sebuah cerminan mengenai hal-hal yang dijalani bersama
ada
yang merindukan dirimu semenjak senjakala
Pantai Losari, September 2015
Puisi III
SEBELUM
BERANGKAT
Kuhirup
dalam-dalam wangi jemarimu
yang
berselimut hangatnya rembulan tengah almanak.
Kutatap
lekat-lekat buram potretmu
yang
kusimpan dalam almari bernama sanubari.
Kubelai
pelan-pelan gelombang rambutmu
yang
tergerai di dalam sebuah aliran penuh bebatuan.
Kudekap
erat-erat hangat tubuhmu
yang
berbaur dalam sebuah artikulasi malam dingin.
Dan
ketika nanti engkau kurelakan pergi,
tak
ada lagi wajahmu berayun dalam berandaku.
Makassar, Februari 2016
Achmad
Hidayat,
kadang menggunakan nama pena Achmad Hidayat Alsair. Lahir di sebuah kota kecil
bernama Pomalaa (Sulawesi Tenggara), 15 Mei 1995. Sekarang tengah berkuliah di
Universitas Hasanuddin, Makassar, jurusan Ilmu Hubungan Internasional, semester
6. Selain sibuk dengan tugas dosen dan berdiskusi mengenai apapun, penulis juga
hobi menuangkan hal-hal yang melintas di pikirannya ke atas kertas. Beberapa
puisinya pernah dimuat di koran kampus Unhas Identitas dan harian Fajar Makassar.
Yang terbaru, salah satu karyanya tergabung dalam antologi puisi “Rumah Abadi”
(Tidar Media, 2016).

