Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 21 Mei 2016

CERPEN K: AIZOU




Bosan!
Membosankan!
Semuanya membosankan!

Sang pria menghela nafas. Dia adalah seorang bangsawan di kerajaan yang sangat indah. Kehidupannya dipenuhi oleh kekayaan, istri yang cantik, pelayan yang setia. Segalanya tersedia. Namun, segalanya itu pulalah yang membuat kehidupannya membosankan.
Namanya adalah Darwin. Di sebelahnya, duduk istrinya, Ellen. Gaun oranye lembut mengembang menutupi tubuhnya. Malam ini dirinya akan kembali ke pertunjukan opera itu.
Ya, itulah satu-satunya hal yang disukainya. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya 'hidup'.

Beberapa minggu yang lalu, di pertunjukan opera itu, Darwin melihat seorang aktris baru. Seorang wanita cantik berambut merah muda yang tampak sangat indah, melambai ringan selama sang wanita memainkan perannya. Wanita itu bernama Elizabeth. Tanpa disadarinya, hatinya telah direbut oleh wanita itu.
Hari ini, Darwin kembali melihat wajah cantik itu. Senyumnya merekah, laksana buah delima. Matanya bulat, sebening kaca.
Aku menginginkannya.
Terbakar api nafsu, dirinya sudah tidak tahan lagi.
Malam itu, dipanggilnya pelayan setianya. Mereka adalah Allen dan Anne, tangan kanannya, sekaligus pembunuh yang sangat kejam. Dua saudara kembar itu menatapnya dalam nyala bola mata yang identik, namun berbeda warna. Tatapan kejam mereka menusuknya, namun Darwin bukanlah orang yang lemah. Dia balas menatap keduanya sambil mengukir senyuman.
"Cari aktris itu. Tangkap dia bagaimana pun caranya. Tapi, jangan lukai dia seujung rambut pun!"
"Ha'i, Ou-sama[1]!" Allen dan Anne menunduk. Senyuman licik terukir di wajah keduanya. Darwin balas tersenyum sinis.
"Cepat laksanakan perintahku!" Dan keduanya berkelebat, lenyap dalam kegelapan malam.
* * *
"Ou-sama semakin lama makin tamak saja," tawa Allen.
"Ah, karena itulah kita memilihnya." Anne tersenyum.
Keduanya tengah duduk di bar sepanjang perjalanan mencari aktris itu.
"Lagi-lagi tugas berat dilimpahkan pada kita."
"Tapi, aku tidak ingin mengalah darinya."
Sementara itu, dikediamannya, Elizabeth merasakan hawa kematian yang amat menusuk.
* * *
Berhari-hari sudah Allen dan Anne memata-matai kediaman Luke.
"Sudah saatnya melapor kepada Ou-sama."
Darwin menghirup morning tea[2] yang diberikan pelayannya di ruang kerjanya. Dia melihat kilatan gelap dari cermin yang terletak di meja besarnya.
"Keluar!" perintahnya. Pelayan itu membungkuk, lalu melangkah keluar ruangan. Setelah pintu berdebam menutup, dia mengangkat tangannya.
Bayangan itu melompat masuk. Allen dan Anne.
"Ou-sama, kami menemukan kediaman Elizabeth yang sesungguhnya. Dia tidak tinggal di mansion mewah seperti yang dikatakan oleh berita, tapi di sebuah rumah kecil di pinggir kota. Dia dijaga oleh sepasang suami-istri bernama Luke dan Fran." Allen memulai.
"Kami sudah mencoba melawan mereka, tapi mereka bertarung dengan gerakan yang terlalu gila. Mereka melindungi Elizabeth seolah kerasukan setan. Ini mencurigakan!" lanjut Anne.
Darwin menerawang.
"Luke? Aku pernah mendengar nama itu, entah di mana...," gumamnya. "Ah, lupakan! Bisakah kalian menghabisi suami-istri itu?" tanya Darwin.
"Yes, Ou-sama!" seru Allen dan Anne serempak.
* * *
Luke dan Fran? Darwin merasakan ada hal yang ganjil. Dirinya merasa pernah mendengar nama pasangan itu, tapi entah di mana.
"Sayang, mengapa kau terlihat sangat depresi akhir-akhir ini?" tanya Ellen saat makan malam.
"Ah... aku tengah dipusingkan oleh suatu masalah," gumam Darwin.
"Bagaimana kalau kau mendatangi Sang Peramal?" saran Ellen.
"Sang ... Peramal?"
"Ya. Ada seorang peramal yang sangat sakti dan dipercayai oleh orang-orang negeri ini. Dia selalu berhasil memberikan jalan keluar dari berbagai masalah pelik."
Darwin mengerutkan kening mendengar pernyataan istrinya itu. Dia lalu memanggil Allen dan Anne, dan berangkatlah dia menuju tempat peramal itu.
"Pasangan suami-istri itu telah menjalin kontrak dengan iblis. Lemparkan air suci ini kepada mereka, dan iblis itu akan binasa, lalu keduanya akan pingsan," kata Sang Peramal.
Lalu Allen dan Anne pun mencoba saran Sang Penyihir.
* * *
"Kami telah membawanya kepada Anda, Ou-sama." Allen dan Anne menyerahkan Elizabeth pada Darwin. Gadis itu tengah tertidur.
Darwin tersenyum melihatnya. Tidak ada yang tidak bisa dimilikinya di dunia ini.
Dia mengangkat Elizabeth dan membawanya ke kamarnya.
Tanpa disadari Darwin, istrinya, Ellen tengah melihatnya dari balik tirai ruangan. Dia menangis sedih. Suami yang teramat dicintainya ternyata mencintai wanita lain.
"Hime-sama[3]." Bayangan merah tampak menatap Ellen dengan ekspresi khawatir.
"Lynn…." Ellen menghapus air matanya. Dia menatap pelayan setianya, Lynn, yang juga merupakan sahabat terbaiknya. Mereka telah bersama sejak kecil. Karena itulah, Lynn memanggil Ellen dengan 'Hime-sama' walau Ellen telah menikah.
"Apakah aku harus membunuh wanita itu? Dia telah mengambil Ou-sama dari Hime-sama."
"Jangan! Aku tidak ingin melukai perasaan suamiku!" Ellen kembali meneteskan air matanya.
Lynn memeluk Ellen. "Ellen, aku selalu ada di pihakmu, dalam keadaan seburuk apapun. Berikan aku satu perintah, dan aku akan melaksanakannya, apapun taruhannya," bisik Lynn.
"Kau adalah sahabat terbaikku, Lynn. Arigato…," balas Ellen.
* * *
Paginya, kediaman bangsawan itu gempar. Darwin jatuh sakit. Tabib dipanggil, dia mengatakan bahwa penyebabnya adalah suatu racun yang entah bagaimana bisa memasuki tubuhnya.
"Wanita sialan! Pasti kau pelakunya!!" seru Ellen marah pada Elizabeth. Ellen segera memerintahkan Lynn untuk memenjarakan Elizabeth di sel bawah tanah. Ellen juga memerintahkan pelayannya untuk menyiksa Elizabeth sampai gadis itu tidak sadarkan diri.
Ellen memandangi Darwin yang terbaring lemah di ranjang.
"Anata... ano onna koroshinashai...,[4]" bisik Ellen sembari menggenggam tangan Darwin yang dingin.
"Ja... ngan... bunuh... El... li... za… beth…." Darwin menjawab sambil menahan sakit. Butir-butir keringat berjatuhan di pelipisnya.
"Ke... napa?!" Ellen kaget mendengar jawaban suaminya itu.
"Elizabeth... bukanlah... pelakunya...."
Ellen menatap wajah pucat suaminya yang dipenuhi oleh keringat itu. Sungguh, dia tidak menyangka, suaminya itu benar-benar telah dibutakan oleh kecantikan Elizabeth sampai melindunginya seperti ini.
Lalu, setelah berpikir, Ellen menemukan ide. Dia berencana untuk menghilangkan ingatan Darwin dengan meminta bantuan Sang Peramal. Dengan begitu dia bisa membunuh Elizabeth tanpa menyakiti hati Darwin.
"Ara... ara... Anda ingin ke mana, Yang Mulia?" Tiba-tiba muncul Allen dan Anne di hadapan Ellen.
"M... Ou-sama memang melarang kami untuk menyentuh Anda. Tapi, bila Anda berencana membunuh wanita yang dipercayakan Ou-sama kepada kami, dan bahkan berencana mengacaukan pikirannya, kami tidak akan tinggal diam." Allen melempar-lempar pisau di tangannya. Anne mengelus lembut busurnya.
"BRENGSEK! KALIAN BERANI MENGUCAPKAN HAL ITU KEPADA HIME-SAMA!" Lynn muncul sambil menghunuskan pedangnya.
"Ups... kami akan lebih senang untuk menghindari pertarungan. Ini hanya peringatan. Sang Peramal tidak sesakti yang kalian sangka. Cairan Penghilang Ingatan miliknya akan mengacaukan pikiran korbannya, bukan menghilangkan ingatan tertentu. Itu sangat berbahaya untuk dicoba. Ou-sama akan menjadi gila."
"Dan lagi, wanita itu, Ou-sama sangat mencintainya. Mungkin Anda malah akan dibencinya bila membunuh wanita itu."
"Sampai sini dulu, kami akan datang lagi nanti." Dan keduanya pun menghilang.
"Ellen..." Lynn menatap Ellen yang tampak mulai ragu mendengar pernyataan Anne dan Anne.
Ellen jatuh terduduk. "Kenapa? Kenapa? Aku sangat mencintainya! Apa salahku? Mengapa hal seperti ini bisa terjadi padaku?!"
* * *
Darwin adalah putera dari seorang pejabat kerajaan yang sedang jatuh dari kedudukannya. Dipenuhi dendam membara dengan lawan politik yang telah menjatuhkan keluarganya, dia menyusun taktik licik untuk menghancurkan lawannya itu.
Dimulailah kariernya. Dengan wajah tampan dan kepandaian yang luar biasa, dia telah membuat seisi kerajaan menjadi sangat menghormatinya. Posisinya perlahan-lahan mulai naik, hingga dia akhirnya bertemu dengan lawan politiknya itu.
Dengan penuh kesabaran dan ketelitian, taktik itu perlahan-lahan terlihat semakin nyata. Lawan politiknya semakin terpuruk, dan dirinya semakin maju. Hingga akhirnya, dia diangkat menjadi penasihat raja, posisi tertinggi sebagai bentuk kesetiaannya pada kerajaan itu. Dibalik itu, Darwin diam-diam mengetuai sebuah organisasi yang bergerak di balik bayangan. Organisasi jahat yang membersihkan seluruh kejahatan di kerajaan itu, dengan cara tak jauh berbeda dengan kejahatan itu sendiri.
Di situlah dia bertemu dengan Allen dan Anne. Sepasang pembunuh liar, dan tak ada satupun yang mampu menangani mereka. Darwin mengulurkan tangannya, dan berhasil menjadikan mereka menjadi miliknya.
Hidupnya semakin membaik, dan salah satu panglima kerajaan pun menikahkan puterinya pada Darwin. Seorang gadis tercantik di kerajaan, Ellen. Gadis yang sangat mencintai Darwin, dan pada saat itu, dirinya pun mencintai gadis itu.

Ellen adalah seorang puteri dari seorang panglima yang tidak terlalu berpengaruh di kerajaan itu, namun dirinya dianugerahi paras yang teramat cantik menawan. Banyak lelaki datang melamarnya, tapi dirinya telah jatuh cinta pada seorang penasihat raja yang baru. Seorang pemuda tampan dengan kepandaian yang tiada tandingannya di kerajaan itu.
Dan beruntung lah dirinya, pria itu juga balas mencintainya. Mereka dielu-elukan sebagai pasangan paling serasi di kerajaan itu.
Tapi sayang, dia tidak mengetahui kegelapan yang berada di balik senyuman suaminya itu.

Di balik semua itu, Luke dan istrinya, Fran, orang yang dihancurkan oleh Darwin menjadi dendam padanya. Dia lalu berusaha mencari berbagai cara untuk menghancurkan lawannya itu. Bahkan dengan cara sekotor apapun.
* * *
Ellen menatap peramal di hadapannya. Mata merah sang peramal menatap ke dalam mata hijau Ellen.
Dirinya telah melanggar janji.
"Ya, suamimu memang telah diracuni oleh wanita selingkuhannya itu." Sang Peramal menjelaskan.
Ellen menunduk. Tangannya gemetar menahan emosi.
"Tapi, itu semua bukan ulahnya. Ada jampi-jampi di balik seluruh perilaku mencurigakannya." lanjut Peramal.
"APA?!"
"Dia dikendalikan."
"Oleh siapa?"
"Suami-istri, Luke-Fran."
Ellen menyergit. Dia berusaha mengingat-ingat nama itu. Ah, iya, mereka berdua adalah tahanan yang disembunyikan oleh suaminya di ruang bawah tanah, bersamaan dengan kedatangan Elizabeth. Ternyata mereka adalah pelaku sebenarnya.
Dibakar api amarah, Ellen meninggalkan tempat Peramal itu, dan menuju ke kediamannya. Ditemukannya sel sepasang suami-istri itu.
Wajah iblis keduanya menyambutnya. Luke tertawa.
"Akhirnya kau datang juga," tawa Luke.
"Kau... kau orang yang berniat membunuh suamiku!!!" sinis Ellen.
"Hei, ayolah. Dia belum mati, kan?" Luke mengejek.
Ellen mengangkat tangannya. Hukuman mutlak telah jatuh. Suami-istri itu dibawa ke ruang penyiksaan, dan disiksa oleh para pelayan Ellen hingga kematian menjemput mereka.
"Kenapa? Kenapa kalian sangat jahat pada suamiku?!" teriak Ellen sambil menghantamkan cambuk ke tubuh mereka.
"Kau... tidak pernah tahu... ba... gaimana... rasanya di... jatuhkan.... Saat seluruh hidupmu hancur.... Dia orang yang paling ingin kami... BUNUH!" Fran berteriak marah.
"Dia merebut segalanya dari kami!" sahut Luke.
Tubuh keduanya yang terikat tampak lemas dengan darah di mana-mana.
"Kau tahu... dia melakukan banyak hal yang licik. Supaya dia bisa duduk di tahta tertinggi... hingga kami menjadi seperti ini. Dial ah yang merupakan hal terjahat di muka bumi ini!" Luke tersenyum. Darah menetes dari sudut bibirnya.
Elizabeth yang menyaksikan seluruh kejadian itu menatapnya dengan ngeri. Luke dan Fran tergeletak tanpa nyawa di hadapannya.
"Sekarang giliranmu!" Ellen berbalik dan menatap tepat ke mata Elizabeth. Elizabeth balas menatap dengan wajah penuh air mata.
"Aku akan membunuhmu di sini, diam-diam. Kau hanya akan dianggap telah menghilang nantinya." Ellen berbisik sambil menyeret Elizabeth.
"Aku tidak tahu apa-apa! Aku ada dalam pengaruh mereka saat itu! Aku memang sahabat Luke dan Fran, tapi aku tulus mencintai Darwin-sama[5]!" Luka memberontak.
"Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu itu, wanita jalang! Aku tidak peduli dengan alasanmu!" Ellen melemparkan tubuh Elizabeth ke sudut ruangan. Diambilnya pedang milik Lynn, dan bersiap-siap mengayunkannya.
Lynn menatap kejadian itu dalam diam. Dia membiarkan Ellen melakukan apapun sesukanya. Selama itu kehendak Ellen, dia selalu mengikutinya tanpa banyak bicara.


Darwin berjalan dengan tertatih-tatih. Sakit, sakit, sakit…. Seluruh rintihan ditelannya, dan ia tetap berusaha berjalan menuju ruang bawah tanah saat mendengar kabar bahwa Elizabeth ditawan di sana.


"MATILAH KAU, WANITA BRENGSEK!!" Ellen menghunuskan pedang Lynn ke arah Elizabeth.
Elizabeth menjerit dan mengangkat tangannya untuk melindungi dirinya.
Darwin tiba-tiba muncul di antara Elizabeth dan Ellen. Tubuhnya menerima tebasan pedang dari Ellen, bersama dengan Elizabeth.
Bruk...
Tubuh itu terjatuh, lemah, pucat, berlumuran darah. Seisi ruangan menjadi sunyi.
"A... anata... [6]" Ellen jatuh berlutut.
Darwin terbatuk, darah membanjir di sekelilingnya. Sakit... Sakit...

Mungkin, inilah balasan dari segalanya yang telah kubuat.
Maafkan aku, Luke-Fran, karena diriku, kalian menderita.
Maafkan aku, Elizabeth, aku benar-benar mencintaimu. Salahku, hingga membuatmu harus ikut mati denganku.
Maafkan aku Allen, Anne, aku sungguh tuan yang egois, tapi tampaknya kalian menyukai sifatku itu.
Maafkan aku, Ellen. Maafkan diriku yang telah mencintaimu. Dan malah membuatmu tersakiti...


–Darwin P.O.V–
Seribu  maaf, seribu penyesalan tidak ada gunanya.
"Darwin-sama..." suara lembut itu perlahan menghampiri telingaku.
"Eliza... aishiteiru yo [7]...." Kuelus pipi halusnya dengan telapak tanganku yang berlumuran darah itu. Air matanya membasahi wajahku.
Darahku dan darah Elizabeth membanjir di sekeliling kami. Tapi, mengapa malah hatiku begitu sakit?  Ini perasaan yang selama ini tidak pernah kurasakan.
Nafasku berat. Kutatap wajah Ellen. Aah... dia telah terjerumus dalam lubang gelap yang sama sepertiku. Itukah pelayan setianya? Wanita berambut merah... Semoga dia bisa melindungi Ellen.


–P.O.V. END–
Tangan Darwin terjatuh dari genggaman Elizabeth. Ya, nyawanya telah melayang. Di tangan istrinya sendiri. Bersama orang yang paling dicintainya, Elizabeth.
Suara isak tangis terdengar perlahan. Ellen merayap mendekati Darwin. Ditariknya tubuh kaku itu menjauh dari Elizabeth. Ellen menendang mayat Elizabeth, dan memeluk mayat Darwin.
"Aishiteru... aishiteru..." Ellen membisikkan hal itu pelan kepada Darwin. Tapi, pria itu tidak menjawab. Tidak akan pernah.
"Lynn... ini perintah...BAKAR AKU BERSAMA SUAMIKU!!" teriak Ellen.
Lynn tersentak. "A-apa?"
"CEPAT LAKUKAN!"
Lynn menahan tangisnya, dan melaksanakan perintah terakhir sahabatnya itu.
Api membakar tempat itu, berkobar tanpa ampun.
Ellen tersenyum, perlahan. Sekarang, dirinya akan mati bersama orang yang paling dicintainya itu. Berpelukan, bersama-sama, selamanya.
* * *
Lynn berlari meninggalkan kediaman yang telah terbakar itu.
"Ellen... Ellen... ELLEN!" Tidak peduli berapakali pun dirinya berteriak, sahabatnya itu tidak akan pernah menjawabnya.
Lynn mengambil belati dari balik bajunya, dan menusuk lehernya sendiri, mengakhiri hidupnya dengan penuh derita karena ditinggalkan oleh sahabatnya.
Semuanya telah hancur, tanpa sisa....
* * *
"Wah wah wah.... Master telah terbakar kerakusannya sendiri," tawa Anne, menonton mansion yang perlahan hancur itu dari kejauhan.
"Tugas kita telah berakhir." Allen tersenyum.
Mereka bergandengan tangan, dan menutup mata bersama-sama.
Racun itu mulai menyebar, dan kedua pembunuh itu pun meninggal pada malam yang sama dengan tuannya. Itulah kontrak yang mereka buat dengan tuannya. Apabila tuannya meninggal, maka mereka pun akan bunuh diri demi melindungi seluruh informasi. [ ]



Catatan:
[1]Ou-sama = yang mulia, tuan, master, kadang bisa diartikan sebagai raja.
[2]morning tea = tradisi teh yang biasa dilakukan saat baru bangun dipagi hari.
[3]hime-sama = tuan puteri
[4]bahasa Jepang, artinya “Sayang, bunuhlah wanita itu.”
[5]sama = panggilan kepada orang yang dihormati, atau yang derajatnya lebih tinggi.
[6]anata = kamu, kau, anda, dalam hubungan suami-istri bisa juga diartikan sayang.
[7]aishiteru = aku mencintaimu.


Biodata Penulis:
K adalah sebuah nama pena dari penulis kelahiran Riau, 11 Oktober



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter