Bosan!
Membosankan!
Semuanya membosankan!
Membosankan!
Semuanya membosankan!
Sang
pria menghela nafas. Dia adalah seorang bangsawan di kerajaan yang sangat
indah. Kehidupannya dipenuhi oleh kekayaan, istri yang cantik, pelayan yang
setia. Segalanya tersedia. Namun, segalanya itu pulalah yang membuat
kehidupannya membosankan.
Namanya
adalah Darwin. Di sebelahnya, duduk istrinya, Ellen. Gaun oranye lembut
mengembang menutupi tubuhnya. Malam ini dirinya akan kembali ke pertunjukan
opera itu.
Ya,
itulah satu-satunya hal yang disukainya. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya 'hidup'.
Beberapa
minggu yang lalu, di pertunjukan opera itu, Darwin melihat seorang aktris baru.
Seorang wanita cantik berambut merah muda yang tampak sangat indah, melambai
ringan selama sang wanita memainkan perannya. Wanita itu bernama Elizabeth.
Tanpa disadarinya, hatinya telah direbut oleh wanita itu.
Hari
ini, Darwin kembali melihat wajah cantik itu. Senyumnya merekah, laksana buah
delima. Matanya bulat, sebening kaca.
Aku
menginginkannya.
Terbakar
api nafsu, dirinya sudah tidak tahan lagi.
Malam
itu, dipanggilnya pelayan setianya. Mereka adalah Allen dan Anne, tangan
kanannya, sekaligus pembunuh yang sangat kejam. Dua saudara kembar itu
menatapnya dalam nyala bola mata yang identik, namun berbeda warna. Tatapan
kejam mereka menusuknya, namun Darwin bukanlah orang yang lemah. Dia balas
menatap keduanya sambil mengukir senyuman.
"Cari
aktris itu. Tangkap dia bagaimana pun caranya. Tapi, jangan lukai dia seujung
rambut pun!"
"Ha'i,
Ou-sama[1]!" Allen dan Anne menunduk. Senyuman licik
terukir di wajah keduanya. Darwin balas tersenyum sinis.
"Cepat
laksanakan perintahku!" Dan keduanya berkelebat, lenyap dalam kegelapan
malam.
* * *
"Ou-sama
semakin lama makin tamak saja," tawa Allen.
"Ah,
karena itulah kita memilihnya." Anne tersenyum.
Keduanya
tengah duduk di bar sepanjang perjalanan mencari aktris itu.
"Lagi-lagi
tugas berat dilimpahkan pada kita."
"Tapi,
aku tidak ingin mengalah darinya."
Sementara
itu, dikediamannya, Elizabeth merasakan hawa kematian yang amat menusuk.
* * *
Berhari-hari
sudah Allen dan Anne memata-matai kediaman Luke.
"Sudah
saatnya melapor kepada Ou-sama."
Darwin
menghirup morning tea[2] yang diberikan pelayannya di ruang
kerjanya. Dia melihat kilatan gelap dari cermin yang terletak di meja besarnya.
"Keluar!"
perintahnya. Pelayan itu membungkuk, lalu melangkah keluar ruangan. Setelah
pintu berdebam menutup, dia mengangkat tangannya.
Bayangan
itu melompat masuk. Allen dan Anne.
"Ou-sama, kami menemukan kediaman Elizabeth
yang sesungguhnya. Dia tidak tinggal di mansion mewah seperti yang dikatakan
oleh berita, tapi di sebuah rumah kecil di pinggir kota. Dia dijaga oleh
sepasang suami-istri bernama Luke dan Fran." Allen memulai.
"Kami
sudah mencoba melawan mereka, tapi mereka bertarung dengan gerakan yang terlalu
gila. Mereka melindungi Elizabeth seolah kerasukan setan. Ini mencurigakan!"
lanjut Anne.
Darwin
menerawang.
"Luke?
Aku pernah mendengar nama itu, entah di mana...," gumamnya. "Ah,
lupakan! Bisakah kalian menghabisi suami-istri itu?" tanya Darwin.
"Yes,
Ou-sama!" seru Allen dan Anne
serempak.
* * *
Luke dan Fran? Darwin merasakan ada hal yang ganjil. Dirinya merasa pernah
mendengar nama pasangan itu, tapi entah di mana.
"Sayang,
mengapa kau terlihat sangat depresi akhir-akhir ini?" tanya Ellen saat
makan malam.
"Ah...
aku tengah dipusingkan oleh suatu masalah," gumam Darwin.
"Bagaimana
kalau kau mendatangi Sang Peramal?" saran Ellen.
"Sang
... Peramal?"
"Ya.
Ada seorang peramal yang sangat sakti dan dipercayai oleh orang-orang negeri
ini. Dia selalu berhasil memberikan jalan keluar dari berbagai masalah
pelik."
Darwin
mengerutkan kening mendengar pernyataan istrinya itu. Dia lalu memanggil Allen
dan Anne, dan berangkatlah dia menuju tempat peramal itu.
"Pasangan
suami-istri itu telah menjalin kontrak dengan iblis. Lemparkan air suci ini
kepada mereka, dan iblis itu akan binasa, lalu keduanya akan pingsan,"
kata Sang Peramal.
Lalu Allen
dan Anne pun mencoba saran Sang Penyihir.
* * *
"Kami
telah membawanya kepada Anda, Ou-sama."
Allen dan Anne menyerahkan Elizabeth pada Darwin. Gadis itu tengah tertidur.
Darwin
tersenyum melihatnya. Tidak ada yang tidak bisa dimilikinya di dunia ini.
Dia
mengangkat Elizabeth dan membawanya ke kamarnya.
Tanpa
disadari Darwin, istrinya, Ellen tengah melihatnya dari balik tirai ruangan.
Dia menangis sedih. Suami yang teramat dicintainya ternyata mencintai wanita
lain.
"Hime-sama[3]." Bayangan
merah tampak menatap Ellen dengan ekspresi khawatir.
"Lynn…."
Ellen menghapus air matanya. Dia menatap pelayan setianya, Lynn, yang juga
merupakan sahabat terbaiknya. Mereka telah bersama sejak kecil. Karena itulah, Lynn
memanggil Ellen dengan 'Hime-sama'
walau Ellen telah menikah.
"Apakah
aku harus membunuh wanita itu? Dia telah mengambil Ou-sama dari Hime-sama."
"Jangan!
Aku tidak ingin melukai perasaan suamiku!" Ellen kembali meneteskan air
matanya.
Lynn
memeluk Ellen. "Ellen, aku selalu ada di pihakmu, dalam keadaan seburuk
apapun. Berikan aku satu perintah, dan aku akan melaksanakannya, apapun
taruhannya," bisik Lynn.
"Kau
adalah sahabat terbaikku, Lynn. Arigato…," balas Ellen.
* * *
Paginya,
kediaman bangsawan itu gempar. Darwin jatuh sakit. Tabib dipanggil, dia
mengatakan bahwa penyebabnya adalah suatu racun yang entah bagaimana bisa
memasuki tubuhnya.
"Wanita
sialan! Pasti kau pelakunya!!" seru Ellen marah pada Elizabeth. Ellen
segera memerintahkan Lynn untuk memenjarakan Elizabeth di sel bawah tanah. Ellen
juga memerintahkan pelayannya untuk menyiksa Elizabeth sampai gadis itu tidak
sadarkan diri.
Ellen
memandangi Darwin yang terbaring lemah di ranjang.
"Anata...
ano onna koroshinashai...,[4]" bisik Ellen sembari
menggenggam tangan Darwin yang dingin.
"Ja...
ngan... bunuh... El... li... za… beth…." Darwin menjawab sambil menahan
sakit. Butir-butir keringat berjatuhan di pelipisnya.
"Ke...
napa?!" Ellen kaget mendengar jawaban suaminya itu.
"Elizabeth...
bukanlah... pelakunya...."
Ellen
menatap wajah pucat suaminya yang dipenuhi oleh keringat itu. Sungguh, dia
tidak menyangka, suaminya itu benar-benar telah dibutakan oleh kecantikan Elizabeth
sampai melindunginya seperti ini.
Lalu,
setelah berpikir, Ellen menemukan ide. Dia berencana untuk menghilangkan
ingatan Darwin dengan meminta bantuan Sang Peramal. Dengan begitu dia bisa
membunuh Elizabeth tanpa menyakiti hati Darwin.
"Ara... ara... Anda ingin ke mana, Yang
Mulia?" Tiba-tiba muncul Allen dan Anne di hadapan Ellen.
"M...
Ou-sama memang melarang kami untuk menyentuh
Anda. Tapi, bila Anda berencana membunuh wanita yang dipercayakan Ou-sama kepada kami, dan bahkan
berencana mengacaukan pikirannya, kami tidak akan tinggal diam." Allen
melempar-lempar pisau di tangannya. Anne mengelus lembut busurnya.
"BRENGSEK!
KALIAN BERANI MENGUCAPKAN HAL ITU KEPADA HIME-SAMA!"
Lynn muncul sambil menghunuskan pedangnya.
"Ups...
kami akan lebih senang untuk menghindari pertarungan. Ini hanya peringatan.
Sang Peramal tidak sesakti yang kalian sangka. Cairan Penghilang Ingatan
miliknya akan mengacaukan pikiran korbannya, bukan menghilangkan ingatan
tertentu. Itu sangat berbahaya untuk dicoba. Ou-sama akan menjadi gila."
"Dan
lagi, wanita itu, Ou-sama sangat
mencintainya. Mungkin Anda malah akan dibencinya bila membunuh wanita
itu."
"Sampai
sini dulu, kami akan datang lagi nanti." Dan keduanya pun menghilang.
"Ellen..."
Lynn menatap Ellen yang tampak mulai ragu mendengar pernyataan Anne dan Anne.
Ellen
jatuh terduduk. "Kenapa? Kenapa? Aku sangat mencintainya! Apa salahku?
Mengapa hal seperti ini bisa terjadi padaku?!"
* * *
Darwin adalah putera dari seorang pejabat kerajaan yang
sedang jatuh dari kedudukannya. Dipenuhi dendam membara dengan lawan politik
yang telah menjatuhkan keluarganya, dia menyusun taktik licik untuk
menghancurkan lawannya itu.
Dimulailah kariernya. Dengan wajah tampan dan kepandaian
yang luar biasa, dia telah membuat seisi kerajaan menjadi sangat
menghormatinya. Posisinya perlahan-lahan mulai naik, hingga dia akhirnya
bertemu dengan lawan politiknya itu.
Dengan penuh kesabaran dan ketelitian, taktik itu
perlahan-lahan terlihat semakin nyata. Lawan politiknya semakin terpuruk, dan
dirinya semakin maju. Hingga akhirnya, dia diangkat menjadi penasihat raja,
posisi tertinggi sebagai bentuk kesetiaannya pada kerajaan itu. Dibalik itu, Darwin
diam-diam mengetuai sebuah organisasi yang bergerak di balik bayangan.
Organisasi jahat yang membersihkan seluruh kejahatan di kerajaan itu, dengan
cara tak jauh berbeda dengan kejahatan itu sendiri.
Di situlah dia bertemu dengan Allen dan Anne. Sepasang
pembunuh liar, dan tak ada satupun yang mampu menangani mereka. Darwin
mengulurkan tangannya, dan berhasil menjadikan mereka menjadi miliknya.
Hidupnya semakin membaik, dan salah satu panglima kerajaan
pun menikahkan puterinya pada Darwin. Seorang gadis tercantik di kerajaan, Ellen.
Gadis yang sangat mencintai Darwin, dan pada saat itu, dirinya pun mencintai
gadis itu.
Ellen adalah seorang puteri dari seorang panglima yang tidak
terlalu berpengaruh di kerajaan itu, namun dirinya dianugerahi paras yang
teramat cantik menawan. Banyak lelaki datang melamarnya, tapi dirinya telah
jatuh cinta pada seorang penasihat raja yang baru. Seorang pemuda tampan dengan
kepandaian yang tiada tandingannya di kerajaan itu.
Dan beruntung lah dirinya, pria itu juga balas mencintainya.
Mereka dielu-elukan sebagai pasangan paling serasi di kerajaan itu.
Tapi sayang, dia tidak mengetahui kegelapan yang berada di
balik senyuman suaminya itu.
Di balik semua itu, Luke dan istrinya, Fran, orang yang
dihancurkan oleh Darwin menjadi dendam padanya. Dia lalu berusaha mencari
berbagai cara untuk menghancurkan lawannya itu. Bahkan dengan cara sekotor
apapun.
* * *
Ellen
menatap peramal di hadapannya. Mata merah sang peramal menatap ke dalam mata
hijau Ellen.
Dirinya
telah melanggar janji.
"Ya,
suamimu memang telah diracuni oleh wanita selingkuhannya itu." Sang
Peramal menjelaskan.
Ellen
menunduk. Tangannya gemetar menahan emosi.
"Tapi,
itu semua bukan ulahnya. Ada jampi-jampi di balik seluruh perilaku
mencurigakannya." lanjut Peramal.
"APA?!"
"Dia
dikendalikan."
"Oleh
siapa?"
"Suami-istri,
Luke-Fran."
Ellen
menyergit. Dia berusaha mengingat-ingat nama itu. Ah, iya, mereka berdua adalah
tahanan yang disembunyikan oleh suaminya di ruang bawah tanah, bersamaan dengan
kedatangan Elizabeth. Ternyata mereka adalah pelaku sebenarnya.
Dibakar
api amarah, Ellen meninggalkan tempat Peramal itu, dan menuju ke kediamannya.
Ditemukannya sel sepasang suami-istri itu.
Wajah
iblis keduanya menyambutnya. Luke tertawa.
"Akhirnya
kau datang juga," tawa Luke.
"Kau...
kau orang yang berniat membunuh suamiku!!!" sinis Ellen.
"Hei,
ayolah. Dia belum mati, kan?" Luke mengejek.
Ellen
mengangkat tangannya. Hukuman mutlak telah jatuh. Suami-istri itu dibawa ke
ruang penyiksaan, dan disiksa oleh para pelayan Ellen hingga kematian menjemput
mereka.
"Kenapa?
Kenapa kalian sangat jahat pada suamiku?!" teriak Ellen sambil
menghantamkan cambuk ke tubuh mereka.
"Kau...
tidak pernah tahu... ba... gaimana... rasanya di... jatuhkan.... Saat seluruh
hidupmu hancur.... Dia orang yang paling ingin kami... BUNUH!" Fran
berteriak marah.
"Dia
merebut segalanya dari kami!" sahut Luke.
Tubuh
keduanya yang terikat tampak lemas dengan darah di mana-mana.
"Kau
tahu... dia melakukan banyak hal yang licik. Supaya dia bisa duduk di tahta
tertinggi... hingga kami menjadi seperti ini. Dial ah yang merupakan hal
terjahat di muka bumi ini!" Luke tersenyum. Darah menetes dari sudut
bibirnya.
Elizabeth
yang menyaksikan seluruh kejadian itu menatapnya dengan ngeri. Luke dan Fran
tergeletak tanpa nyawa di hadapannya.
"Sekarang
giliranmu!" Ellen berbalik dan menatap tepat ke mata Elizabeth. Elizabeth
balas menatap dengan wajah penuh air mata.
"Aku
akan membunuhmu di sini, diam-diam. Kau hanya akan dianggap telah menghilang
nantinya." Ellen berbisik sambil menyeret Elizabeth.
"Aku
tidak tahu apa-apa! Aku ada dalam pengaruh mereka saat itu! Aku memang sahabat Luke
dan Fran, tapi aku tulus mencintai Darwin-sama[5]!" Luka
memberontak.
"Jangan
sebut namanya dengan mulut kotormu itu, wanita jalang! Aku tidak peduli dengan
alasanmu!" Ellen melemparkan tubuh Elizabeth ke sudut ruangan. Diambilnya
pedang milik Lynn, dan bersiap-siap mengayunkannya.
Lynn
menatap kejadian itu dalam diam. Dia membiarkan Ellen melakukan apapun
sesukanya. Selama itu kehendak Ellen, dia selalu mengikutinya tanpa banyak
bicara.
Darwin
berjalan dengan tertatih-tatih. Sakit, sakit, sakit…. Seluruh rintihan
ditelannya, dan ia tetap berusaha berjalan menuju ruang bawah tanah saat mendengar
kabar bahwa Elizabeth ditawan di sana.
"MATILAH
KAU, WANITA BRENGSEK!!" Ellen menghunuskan pedang Lynn ke arah Elizabeth.
Elizabeth
menjerit dan mengangkat tangannya untuk melindungi dirinya.
Darwin
tiba-tiba muncul di antara Elizabeth dan Ellen. Tubuhnya menerima tebasan
pedang dari Ellen, bersama dengan Elizabeth.
Bruk...
Tubuh
itu terjatuh, lemah, pucat, berlumuran darah. Seisi ruangan menjadi sunyi.
"A...
anata... [6]" Ellen jatuh berlutut.
Darwin
terbatuk, darah membanjir di sekelilingnya. Sakit... Sakit...
Mungkin,
inilah balasan dari segalanya yang telah kubuat.
Maafkan
aku, Luke-Fran, karena diriku, kalian menderita.
Maafkan
aku, Elizabeth, aku benar-benar mencintaimu. Salahku, hingga membuatmu harus
ikut mati denganku.
Maafkan
aku Allen, Anne, aku sungguh tuan yang egois, tapi tampaknya kalian menyukai
sifatku itu.
Maafkan
aku, Ellen. Maafkan diriku yang telah mencintaimu. Dan malah membuatmu
tersakiti...
–Darwin P.O.V–
Seribu
maaf, seribu penyesalan tidak ada
gunanya.
"Darwin-sama..."
suara lembut itu perlahan menghampiri telingaku.
"Eliza...
aishiteiru yo [7]...." Kuelus pipi halusnya dengan
telapak tanganku yang berlumuran darah itu. Air matanya membasahi wajahku.
Darahku
dan darah Elizabeth membanjir di sekeliling kami. Tapi, mengapa malah hatiku begitu sakit? Ini perasaan yang selama ini tidak pernah
kurasakan.
Nafasku
berat. Kutatap wajah Ellen. Aah... dia
telah terjerumus dalam lubang gelap yang sama sepertiku. Itukah pelayan
setianya? Wanita berambut merah... Semoga dia bisa melindungi Ellen.
–P.O.V. END–
Tangan
Darwin terjatuh dari genggaman Elizabeth. Ya, nyawanya telah melayang. Di
tangan istrinya sendiri. Bersama orang yang paling dicintainya, Elizabeth.
Suara
isak tangis terdengar perlahan. Ellen merayap mendekati Darwin. Ditariknya
tubuh kaku itu menjauh dari Elizabeth. Ellen menendang mayat Elizabeth, dan
memeluk mayat Darwin.
"Aishiteru...
aishiteru..." Ellen membisikkan hal itu pelan kepada Darwin. Tapi, pria
itu tidak menjawab. Tidak akan pernah.
"Lynn...
ini perintah...BAKAR AKU BERSAMA SUAMIKU!!" teriak Ellen.
Lynn
tersentak. "A-apa?"
"CEPAT
LAKUKAN!"
Lynn
menahan tangisnya, dan melaksanakan perintah terakhir sahabatnya itu.
Api
membakar tempat itu, berkobar tanpa ampun.
Ellen
tersenyum, perlahan. Sekarang, dirinya akan mati bersama orang yang paling
dicintainya itu. Berpelukan, bersama-sama, selamanya.
* * *
Lynn
berlari meninggalkan kediaman yang telah terbakar itu.
"Ellen...
Ellen... ELLEN!" Tidak peduli berapakali pun dirinya berteriak, sahabatnya
itu tidak akan pernah menjawabnya.
Lynn
mengambil belati dari balik bajunya, dan menusuk lehernya sendiri, mengakhiri
hidupnya dengan penuh derita karena ditinggalkan oleh sahabatnya.
Semuanya telah hancur, tanpa sisa....
* * *
"Wah
wah wah.... Master telah terbakar
kerakusannya sendiri," tawa Anne, menonton mansion yang perlahan hancur
itu dari kejauhan.
"Tugas
kita telah berakhir." Allen tersenyum.
Mereka
bergandengan tangan, dan menutup mata bersama-sama.
Racun
itu mulai menyebar, dan kedua pembunuh itu pun meninggal pada malam yang sama
dengan tuannya. Itulah kontrak yang mereka buat dengan tuannya. Apabila tuannya
meninggal, maka mereka pun akan bunuh diri demi melindungi seluruh informasi. [ ]
Catatan:
[1]Ou-sama = yang mulia, tuan, master,
kadang bisa diartikan sebagai raja.
[2]morning tea = tradisi teh yang biasa dilakukan saat baru bangun dipagi hari.
[3]hime-sama = tuan puteri
[4]bahasa Jepang,
artinya “Sayang, bunuhlah wanita itu.”
[5]—sama = panggilan kepada orang yang dihormati, atau yang derajatnya lebih tinggi.
[6]anata = kamu, kau, anda, dalam hubungan
suami-istri bisa juga diartikan sayang.
[7]aishiteru = aku mencintaimu.
Biodata Penulis:
K adalah sebuah
nama pena dari penulis kelahiran Riau, 11 Oktober
