Saat semobil dalam perjalanan
pulang dari pertemuan di pendopo Desmon J. Mahesa di Sungai Tabuk beberapa
minggu lalu, saya bersama Taufik Arbain dan Imam Buchori Balangan seperti
‘mengeroyok’ Micky Hidayat, sastrawan nasional Kalimantan Selatan yang termasuk
senior ini. ‘Pengeroyokan’ kami, lebih lebih saya, kepada beliau, tentu curhat
seputar dinamika sastra dan satrawan di banua yang terkait dengan sosoknya.
Micky Hidayat (MH), memang satu
dari sedikit lagi sastrawan angkatan 80-an daerah ini yang masih berdaya dan
bertiti di jalan sastra banua. Beberapa sejawatnya, seperti Ahmad Fahrawi
(1954-1990), Ajamuddin Tifani (1951-2002), Noor Aini Cahyani (1959-2003), M.
Rifani Djamhari (1959-2009), Burhanuddin Soebely (1957-2012), Maman S. Tawie
(1957-2014), Eko Suryadi W.S. (1959-2015), dan beberapa lagi sudah lebih dulu
pergi.
Memang masih ada nama-nama
seperti Tarman Effendi Tarsyad, Tajuddin Noor Ganie, Y.S. Agus Suseno, Arifin
Noor Hasbi, dan beberapa lagi yang tetap eksis dan berkarya dengan gayanya
masing-masing. Namun, sosok MH menjadi penting saat ini karena dianggap paling
berpengaruh di antara nama yang ada. MH yang baru berusia ke-57, tanggal 4 Mei
tadi, menjadi semacam sentral belukar sastra di banua.
Kalau ada yang menyebutkan bahwa
sastra dan sastrawan di banua hidup bersekat-sekat dalam kelompok, itu tidak
benar. Begitu juga bila ada klaim soal pengelompokkan penulis sesuai jenis
karya sastranya juga tidak tepat. Di daerah ini, penulis puisi juga menulis
cerpen atau novel, penulis kritik atau esai juga menulis puisi. Tak ada yang
setia 100% hanya menulis satu jenis karya.
Bahwa masih ada satu dua kelompok
sastrawan yang tampaknya setia dengan kelompoknya, ini hanyalah soal kenyamanan
dalam berteman. Maklum, sastrawan sebagai seniman punya sensitivitas
tersendiri. Suka baper dalam bereksistensi. Namun, terkadang risi juga melihat
segelintir kawan sastrawan yang suka mojok di belakang asyik mengobrol tanpa
memperhatikan sebagai apresiasi terhadap sastrawan lain yang sedang tampil di
depan.
Gambaran di atas bukanlah
persoalan penting bagi dunia sastra di Kalsel karena masih ada hal yang lebih
bernilai untuk dijadikan isu menarik. Namun, seperti sebuah keluarga besar,
sastra banua tentu memerlukan satu atau lebih sosok orang yang dituakan, baik
karena kebesaran karyanya maupun karena tingkat senioritasnya. Orang-orang
inilah yang menjadi rujukan, paling tidak, tempat meminta pendapat dalam
menghadapi masalah.
MH-lah satu satunya, yang saya
cermati, menjadi sosok itu, setelah Ajamuddin Tifani dan Burhanuddin Soebely,
yang jadi tempat bersandar sebelumnya, pergi mendahului. Sebagai penyair yang
disegani di tingkat nasional karena karya dan aktivitasnya, penggagas dan
pendiri beberapa komunitas sastra, pengurus beberapa organisasi seni, dan
peraih rekor MURI pembaca puisi terlama tahun 1997 ini sudah saatnya menyadari
hal tersebut.
Di tengah luberan penulis dan
karyanya yang semakin banyak dan aktivitas kegiatan sastra semakin sering, MH
harus mampu berdiri di atas semua kepentingan sastra dan sastrawan di banua
ini. Sekali pun situasi dunia sastra banua saat ini sangat berbeda dengan
situasi saat MH masih bersama angkatannya, tetapi gairahnya sama, yaitu mampu
bergerak dan menggerakan semua lapis genre dan generasi sastra daerah ini.
Seperti juga sosok-sosok
sastrawan lain yang dituakan di luar banua, kita berharap MH juga terus
berkarya. Tersebab dengan terus berkarya itulah, eksistensi kesastrawanan
seseorang tetap diperhitungkan. Seperti yang pernah dilontarkan oleh bapak
gurindam, Iberamsyah Barbary, yang menyayangkan MH tidak produktif berkarya.
Gairah saja memang tidak cukup. Harus ada ekksekusi untuk mencapai nikmat
sebagai sastrawan. [ZULFAISAL PUTERA]
(Esai
ini didedikasikan penulis untuk bangk Micky Hidayat yang berulang tahun ke-57
pada tanggal 4 Mei 2016, dan telah dimuat di SKH BanjarmasinPost edisi Minggu,
04 Mei 2016)
