Permainan yang saya sukai pada
video game sejak zaman Nintendo sampai Play Station dan Game Online sekarang
adalah balap mobil. Permainan ini saya anggap paling fair. Saya tidak perlu
harus membunuh orang lain untuk menjadi pemenang. Saya hanya perlu meningkatkan
kemampuan teknis, menginjak gas, menjaga kendali kemudi, dan konsentrasi arah
jalan. Selebihnya keberuntungan karena pengendalian mobil lawan oleh program
lebih jitu.
Tidak heran kalau saya juga
menyenangi balapan mobil kelas dunia Formula 1 dan menyempatkan menyaksikan
lewat TV. Sekalipun balapan F1 ini termasuk olahraga mewah dan berbiaya tinggi,
tapi ada banyak pelajaran yang bisa didapat. Yang menarik adalah bagaimana para
pelaksana dan pembalap itu memperlakukan setiap tahapan dengan sangat serius.
Salah satunya adalah saat mereka melaksanakan kegiatan Geladi Resik.
Geladi resik hakikatnya adalah
latihan untuk menghadapi kegiatan sesungguhnya. Dan ini merupakan latihan
terakhir. Disebut resik atau bersih karena latihan ini sudah harus bebas dari
kesalahan dan siap tempur. Jika menyaksikan geladi resik sekelas F1 maka kita
seperti melihat lomba yang sesungguhnya. Para pembalap benar-benar saling
salip. Penonton sama tegangnya dengan manajer pembalap. Dan dunia menyaksikan
karena siaran langsungnya dijual ke stasion TV dengan sponsor.
Peristiwa semacam itu pernah saya
jadikan contoh ketika membahas kegiatan Pra atau Ujicoba Ujian Nasional yang
tiap tahun dilaksanakan oleh sekolah dan dinas pendidikan. Sebagai orang yang
pernah menjadi guru selama 21 tahun dan masih dipakai sebagai penulis soal,
dalam pengamatan saya, penggarapan geladi resik UN itu tak pernah seserius itu
dilakukan. Sangat berbeda sistem dan nuansanya dibanding UN sesungguhnya, baik
tipe soal, jumlah pengawas, dan penggarapan nilainya. Akibatnya, siswa peserta
juga tak pernah serius.
Tersebab anggapan geladi resik
hanya latihan maka digarap setengah hati dan satayuh-tayuh-nya. Lihatlah geladi resik upacara hari besar atau
pergelaran apa pun. Hanya beberapa mata acara yang dilatih benar-benar. Itu pun
tak maksimal. Sering beberapa hanya free
memory. Tak heran kalau selalu ada kesalahan pada kegiatan sesungguhnya.
Misalnya, kesalahan pembacaan teks, posisi barisan peserta yang kacau, sampai
tidak cermatnya pengaturan durasi waktu pementasan.
Keseriusan penggarapan geladi
resik memang bukan menjadi jaminan utama bakal berhasilnya pelaksanaan kegiatan
sesungguhnya. Namun, paling tidak sudah tergambar bagaimana kelak kegiatan itu
dilaksanakan. Salah satu yang paling menentukan adalah faktor manusianya.
Sebagai pelaku, manusia harus konsisten menjalankan apa yang sudah digariskan
oleh pengatur dan menjaga ritmenya agar tetap seperti yang sudah dicontohkan,
bahkan seperti latihan yang sudah diikuti.
Sabtu (21 Mei 2016) atau malam
Ahad (15 Syakban 1437 H), umat Islam di Banua, bahkan di seluruh dunia,
melaksanakan kegiatan peribadatan malam Nisfu Syakban untuk menyambut bakal
datangnya bulan suci Ramadhan yang akan tiba 15 hari lagi. Peribadatan dari
waktu Magrib ke Isya ini diisi dengan sejumlah salat sunat dan pembaca surah
Yasin. Masjid dan musala sampai ke halaman dipenuhi jamaah. Esok harinya (atau
hari ini Minggu) biasanya umat Islam melakukan puasa sunat.
Saya menganalogikan kegiatan
malam Nisfu Syakban ini sebagai sebuah geladi resik. Latihan untuk kegiatan
yang lebih besar lagi, yaitu peribadatan di bulan Ramadhan. Tentu geladi resik
yang satu ini sangat bernilai karena Allah langsung instruktur dan pemberi
skor-nya serta disaksikan langsung para malaikat dan penghuni alam. Maka adalah
sangat membanggakan jika semangat melimpahnya jamaah mengikutinya ‘geladi
resik’ di Nisfu Syakban sama besar, bahkan lebih besar lagi saat kegiatan
intinya di bulan puasa nanti. [Zulfaisal
Putera]
(Esai ini
telah dimuat di SKH BanjarmasinPost edisi Minggu, 22 Mei 2016)
