Pages

Ads 468x60px

Senin, 23 Mei 2016

ZULFAISAL PUTERA: GELADI RESIK




Permainan yang saya sukai pada video game sejak zaman Nintendo sampai Play Station dan Game Online sekarang adalah balap mobil. Permainan ini saya anggap paling fair. Saya tidak perlu harus membunuh orang lain untuk menjadi pemenang. Saya hanya perlu meningkatkan kemampuan teknis, menginjak gas, menjaga kendali kemudi, dan konsentrasi arah jalan. Selebihnya keberuntungan karena pengendalian mobil lawan oleh program lebih jitu.

Tidak heran kalau saya juga menyenangi balapan mobil kelas dunia Formula 1 dan menyempatkan menyaksikan lewat TV. Sekalipun balapan F1 ini termasuk olahraga mewah dan berbiaya tinggi, tapi ada banyak pelajaran yang bisa didapat. Yang menarik adalah bagaimana para pelaksana dan pembalap itu memperlakukan setiap tahapan dengan sangat serius. Salah satunya adalah saat mereka melaksanakan kegiatan Geladi Resik.

Geladi resik hakikatnya adalah latihan untuk menghadapi kegiatan sesungguhnya. Dan ini merupakan latihan terakhir. Disebut resik atau bersih karena latihan ini sudah harus bebas dari kesalahan dan siap tempur. Jika menyaksikan geladi resik sekelas F1 maka kita seperti melihat lomba yang sesungguhnya. Para pembalap benar-benar saling salip. Penonton sama tegangnya dengan manajer pembalap. Dan dunia menyaksikan karena siaran langsungnya dijual ke stasion TV dengan sponsor.

Peristiwa semacam itu pernah saya jadikan contoh ketika membahas kegiatan Pra atau Ujicoba Ujian Nasional yang tiap tahun dilaksanakan oleh sekolah dan dinas pendidikan. Sebagai orang yang pernah menjadi guru selama 21 tahun dan masih dipakai sebagai penulis soal, dalam pengamatan saya, penggarapan geladi resik UN itu tak pernah seserius itu dilakukan. Sangat berbeda sistem dan nuansanya dibanding UN sesungguhnya, baik tipe soal, jumlah pengawas, dan penggarapan nilainya. Akibatnya, siswa peserta juga tak pernah serius.

Tersebab anggapan geladi resik hanya latihan maka digarap setengah hati dan satayuh-tayuh-nya. Lihatlah geladi resik upacara hari besar atau pergelaran apa pun. Hanya beberapa mata acara yang dilatih benar-benar. Itu pun tak maksimal. Sering beberapa hanya free memory. Tak heran kalau selalu ada kesalahan pada kegiatan sesungguhnya. Misalnya, kesalahan pembacaan teks, posisi barisan peserta yang kacau, sampai tidak cermatnya pengaturan durasi waktu pementasan.

Keseriusan penggarapan geladi resik memang bukan menjadi jaminan utama bakal berhasilnya pelaksanaan kegiatan sesungguhnya. Namun, paling tidak sudah tergambar bagaimana kelak kegiatan itu dilaksanakan. Salah satu yang paling menentukan adalah faktor manusianya. Sebagai pelaku, manusia harus konsisten menjalankan apa yang sudah digariskan oleh pengatur dan menjaga ritmenya agar tetap seperti yang sudah dicontohkan, bahkan seperti latihan yang sudah diikuti.

Sabtu (21 Mei 2016) atau malam Ahad (15 Syakban 1437 H), umat Islam di Banua, bahkan di seluruh dunia, melaksanakan kegiatan peribadatan malam Nisfu Syakban untuk menyambut bakal datangnya bulan suci Ramadhan yang akan tiba 15 hari lagi. Peribadatan dari waktu Magrib ke Isya ini diisi dengan sejumlah salat sunat dan pembaca surah Yasin. Masjid dan musala sampai ke halaman dipenuhi jamaah. Esok harinya (atau hari ini Minggu) biasanya umat Islam melakukan puasa sunat.

Saya menganalogikan kegiatan malam Nisfu Syakban ini sebagai sebuah geladi resik. Latihan untuk kegiatan yang lebih besar lagi, yaitu peribadatan di bulan Ramadhan. Tentu geladi resik yang satu ini sangat bernilai karena Allah langsung instruktur dan pemberi skor-nya serta disaksikan langsung para malaikat dan penghuni alam. Maka adalah sangat membanggakan jika semangat melimpahnya jamaah mengikutinya ‘geladi resik’ di Nisfu Syakban sama besar, bahkan lebih besar lagi saat kegiatan intinya di bulan puasa nanti. [Zulfaisal Putera]


(Esai ini telah dimuat di SKH BanjarmasinPost edisi Minggu, 22 Mei 2016)




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter