Puisi I
NAURA
Letih tertatih meniti waktu tertentu
Senyum mengayom rindu terharu
Selayak tetes embun pada rumput hijau di ujung sinar mentari
Menggelantung mengayunkan ujung pucuk muda
Penghujung ranting menari iringi siulan anak gembala
Mengiring hadirnya gadis jelita tumpuan hati ibunda
Bola mata hitam memancarkan semangat kehidupan
Tatapan bening menyempurnakan kebahagian
Sebuah impian kejayaan dalam pandangan
Hadir Naura di depan
selaksa makna keagungan
Kulit halus bersemu merah hadirkan titik-titik damai
Berselimut angan cita dan cinta dalam pengabdian insani
Rinai menyerigai oleh tangismu wahai nanda
Cakrawala membuka ketika tawamu meraba
Memboncah denyut nadi aliran darah harapan kesempurnaan
Naura di balik
tengadah kedua tangan dalam pengharapan
Hembusan nafas iringi rasa syukur tak terucap
Nikmat dunia dan akhir semoga terkecap
Duka lara menciut
dalam dekapan nestapa nan terlelap
Karunia terhebat tak akan hilang melesap
Satui, 2016
Puisi II
BUKAN GENERASI
KORUPTOR
Bunda mengandung tidak berharap mempunyai anak durhaka
Kau bintang yang selayaknya bersinar di antara anak bangsa
yang lain
Ayah kumandangkan azan untuk anakku sang pemuja illahi
Bunda peluk si cabang bayi yang akan memproklamirkan diri
kebangggan pertiwi
Sajadah lusuh tak bosan ikut mengaminkan doa terpanjat pada
sang pencipta
Timang sayang, anak ku hebat
Reguklah air susu ibu nan diciptakan sang Esa untuk memberi
tahumu tentang kebesarannya
Tatap dunia ini yang telah di lukis keagungan yang bercorak
kebajikan di antara mereka yang sanggup berpikir
Rekahan senyum bunda akan penuh artian yang terbaca oleh
hubungan batin kita duhai anakku
Makanlah sayang bubur yang bunda sajikan untuk mengebalkan
dirimu dari bisa ganas kehidupan
Larilah anakku, hai pemilik otot kaki tercepat
Tariklah pelana kudamu dan umumkan pada abdi negara dan
rakyat semua
Tengadahkan tanganmu dan katakan lah dengan lantang sehingga
tergoyanglah tiang arsy dan semua malaikat turut berdoa untukmu
“AKU HIDUP BERSAMA ISLAM DAN BUKAN TERLAHIR UNTUK MENJADI
KORUPTOR”
Jika ini telah engkau lakukan hai penerus maka ketika
malaikat maut menghampiri bunda pun ikhlas mengikuti
Satui, 2015
Puisi II
HARAPAN HIDUP BUNDA
Itu-itu saja bosan dan jenuh duhai bundaku
Rupa-rupa tak ubah menjenuhkan sukaku
Berulang lagi-lagi tiada perubahan sangat memuakkan
Uraian simpul simbul kusut kehidupan nan menyedihkan
Kedip lilin terhembus angin sekelebat bukanlah padam
Sepoi sayang menghembus tak sejahat tak sekuat badai
Gagap-gagap si jari tangan mempertahankan genggaman
Awasi ujung pisau belati kecurangan siap mengujam
Tunggulah bunda bungaku tumbuh rindang
Sinar mentari bukan hanya hangatkan tapi melasapkan terang
Tataplah tajam jalan keadilan jauh melangkah ke depan
Rangkul hati kepemilikan pembagi kasih idaman
Satui, 2015
BIODATA:
MAHDA EMJIE terlahir dengan nama
Mahdalena tepatnya pada tanggal 3 Januari 1987 di Ilung kecamatan Batang Alai
Utara kabupaten Hulu Sungai Tengah propinsi Kalsel dan dibesarkan di sana. Dia
pernah mengecap pendidikan di SDN Ilung 2, MTsN B.A.U, SMAN 2 Barabai dan
sekarang menjalani pendidikan di STKIP PGRI Banjarmasin jurusan PBSI. Karyanya
yang pernah dimuat antara lain di antologi Merangkai Damai, Kumpulan Puisi Aruh
Sastra Kalimantan Selatan XI Membuka Cakrawala Menenyentuh Fitrah
Manusia, Kumpulan puisi penyair Kalsel tadarus puisi Banjarbaru 2015 Ada Malam
Beratabur Bintang, Antologi puisi penyair Tanah Bumbu Elegi Rindu Senja di
Rumah-rumah Bagang,
Kumpulan Sajak Bunga Putera Bangsa ,Antologi Ayah di Bahumu Aku Bersandar,
Antologi Aruh Sastra kalsel ke XII Kalimantan Tidak Akan Menyerah, Antologi
Ibu Dalam Balutan Rindu jilid II, Antologi Laut jilid ll, Memo Anti Terorisme,
Antologi Ayo Goyang dan Antologi Percakapan Laut di Sungai Kusan. alamat Mahdalena yakni jalan
propinsi km 172 desa Satui Barat, kecamatan Satui, kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan kode pos
72275. Pin BBM 55462B61, email mahdalena345@yahoo.co.id

