Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 28 Mei 2016

CERPEN SULISTIYO SUPARNO: NAMA ISTIMEWA



Setiap pagi Sonep berdiri di bawah pohon asam dekat pasar, menunggu kedatangan Markumi. Ketika yang ditunggu telah datang, mereka berangkat bersama ke sekolah. Melihat seragam putih biru mereka, tak jarang membuat orang-orang tua menggelengkan kepala.
“Heh, kalian masih kecil. Jangan pacaran!” seru seorang tua.
Tangkas, Sonep menjawab, “Biarin. Kecil pacaran, kalau sudah gede kawin!”
“Dasar zaman edan.”
Begitulah, hubungan Markumi dan Sonep makin erat. Tak ada yang mampu memisahkan hati mereka.
“Ingat, Son... Markumi itu anak orang kaya. Kita orang miskin,” Emak Sonep yang janda itu, mengingatkan.
Orang se-Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah tahu Haji Hasan –ayah Markumi—adalah juragan emping, sedangkan Emak adalah buruh di pabrik emping milik haji tiga kali itu.
Kedekatan Sonep dengan Markumi bisa mengancam “karier” Emak. Kalau Haji Hasan marah, Emak bisa dipecat.
Tapi Sonep hanya menyeringai tiap kali Emak menasehatinya.
“Tenang saja, Mak. Kalau Sonep jadi menantu Haji Hasan, kan Emak juga yang senang. Emak nggak perlu lagi jadi buruh.”
Emak menggeleng-geleng kepala, mencoba bersabar menghadapi kebandelan anaknya. “Kamu persis sekali dengan bapakmu. Keras kepala!”
Lulus SMP, Sonep dan Markumi berpisah jarak. Markumi melanjutkan ke sebuah SMA Negeri di Pekalongan. Sonep merantau ke Jakarta mengikuti pamannya, menjadi buruh bangunan. Beberapa minggu jadi buruh bangunan, Sonep beralih menjadi juru parkir, karena kedekatannya dengan seorang preman yang rumahnya dekat rumah paman.
Diam-diam, bila punya uang lebih, Sonep mengunjungi tempat kos Markumi. Jarak yang jauh tak menyurutkan gelora cinta mereka untuk bertemu dan memadu kasih.
“Kamu nggak akan meninggalkanku, kan?” bisik Markumi cemas, ketika mereka selesai bercumbu di sebuah losmen.
“Tentu saja tidak. Cintaku hanya untukmu.”
Bagai seekor kumbang, usai menghisap madu setangkai kembang, Sonep segera terbang. Bila kerinduan kembali menggelegak, maka Sonep bergegas mengunjungi Markumi, menyeretnya ke kamar losmen.
“Kamu sudah sukses sekarang?” Sepasang mata Markumi berbinar bahagia.
“Ya. Semua kulakukan demi kamu, sayang,” bisik Sonep, membuat gelora di dada Markumi kembali menggelegak. Gadis desa itu pasrah, ketika Sonep kembali menghisap madunya.
Dengan kecanggihan teknologi, membuat kerinduan Markumi pada Sonep tak terhalang jarak. Setiap saat Markumi mengirim SMS atau menelepon menanyakan kabar kekasihnya itu.
“Kapan kamu mengunjungiku lagi? Aku kangen,” mendesah, Markumi bertanya melalui ponsel.
“Sabar, sayang. Aku sibuk sekali. Kini aku punya banyak anak buah yang harus kuurus,” jawab Sonep di seberang sana.
“Semalam aku mimpi, kamu pergi dengan gadis lain,” mengalir cemburu dalam suara Markumi. Terdengar Sonep tertawa.
“Nggak mungkin, sayang. Cintaku hanya untukmu seorang.”
Markumi tersenyum damai mendengarnya. Ia memejamkan mata, meresapi kata-kata indah yang selalu ingin ia dengar dari bibir kekasihnya itu.
***
Kemudian datanglah petaka itu. Markumi hamil. Dikeluarkan dari sekolah. Dalam kegelisahan, Markumi menelepon Sonep.
“Jangan cemas, sayang. Aku akan datang melamarmu,” janji Sonep.
Bersama emaknya, Sonep datang melamar Markumi.
“Tidak!” kata Haji Hasan. “Itu dosa. Kalian tidak boleh menikah, sebelum Markumi melahirkan!”
“Tapi ayah....” suara Markumi tercekat.
“Lahirkan dulu anakmu!” sahut Haji Hasan. Lalu pada Sonep, haji itu berkata, “Cari kerja lain. Jangan jadi preman!”
Meski diam, tapi hati Sonep merasa terhina. Dengan dada membara, Sonep kembali ke Jakarta. Kembali mengurusi anak buahnya yang jumlahnya kian banyak. Sonep masih sangat muda, bertubuh kekar dan selalu menang berkelahi. Kawan-kawan segan padanya, lawan-lawan takut padanya. Apalagi saat patah hati begini, Sonep makin garang.
Pamannya mencoba menasehati Sonep.
“Serdadu mati oleh peluru, preman mati diujung belati.”
Sonep menyahutnya dengan tawa tergelak, seakan mendengar lelucon yang amat menggelikan.
“Apapun yang terjadi denganmu, aku tak peduli lagi!”
“Lebih bagus begitu, Paman. Hahaha.....”
Waktu pun cepat melaju. Markumi telah melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia segera menelepon Sonep. “Kapan kamu pulang, Mas? Akan beri nama siapa anak kita?”
“Tunggulah, aku sedang sibuk.Tak ada alasan lain dari Sonep selain kata sibuk, sibuk, sibuk. Kali ini ia menambahkan, “Jangan kau beri nama anak kita sebelum aku pulang. Aku telah menyiapkan nama istimewa untuknya.”
Markumi memegang teguh pesan Sonep. Pada orang-orang yang bertanya siapa nama anaknya, Markumi selalu menjawab, “Mas Sonep telah menyiapkan nama istimewa untuknya. Tunggu saja.”
Markumi selalu menatap keluar jendela kamarnya, menanti kedatangan Sonep. Setiap kali anaknya yang belum bernama itu menangis, Markumi selalu menghiburnya. “Sabar ya, sayang. Ayahmu akan pulang membawa nama istimewa untukmu.”
Jauh di dalam hati, Markumi sangat gelisah. Sekian lama menunggu, tapi Sonep belum juga pulang. Tak ada yang tahu keberadaan Sonep. Ponselnya tak bisa dihubungi. Bahkan pamannya pun tak tahu keberadaan Sonep, karena sudah tidak tinggal di rumahnya lagi. Sonep seperti lenyap ditelan bumi.
Tetapi, kesetiaan Markumi memang mengagumkan. Ia berkeras membiarkan anaknya tanpa nama, meski kini anak itu sudah mulai bisa merangkak. Kemudian orang-orang memanggil anaknya Thole, sebutan anak laki-laki masyarakat pedesaan. Markumi marah. Ia tak senang anaknya dipanggil Thole, yang dianggapnya sebagai sebutan untuk masyarakat kelas bawah. Tapi ia tak bisa menyalahkan mereka. Semua anak, termasuk anaknya, perlu nama.
Malam telah larut, tapi Markumi belum menutup jendela kamarnya. Tatapannya menerawang ke sudut jalan di kampungnya. Berharap seorang lelaki gagah berjalan tegap muncul dari tikungan jalan itu. Bila lelaki itu muncul, Markumi akan menyambutnya penuh suka cita. Ia yakin sekali lelaki itu pasti membawa nama istimewa untuk anaknya. Anak mereka. [ ]


Biodata:

Sulistiyo Suparno, cerpenis kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Selain menulis cerpen, juga menulis dongeng dan cerpen anak. Karya-karyanya tersiar di berbagai media seperti Minggu Pagi, Cempaka, Wawasan, Suara Muhammadiyah, Radar Surabaya. Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah. Facebook: Sulistiyo Suparno




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter