Setiap pagi Sonep berdiri di bawah pohon asam dekat pasar,
menunggu kedatangan Markumi. Ketika yang ditunggu telah datang, mereka
berangkat bersama ke sekolah. Melihat seragam putih biru mereka, tak jarang
membuat orang-orang tua menggelengkan kepala.
“Heh, kalian masih kecil. Jangan pacaran!” seru seorang tua.
Tangkas, Sonep menjawab, “Biarin. Kecil pacaran, kalau sudah
gede kawin!”
“Dasar zaman edan.”
Begitulah, hubungan Markumi dan Sonep makin erat. Tak ada
yang mampu memisahkan hati mereka.
“Ingat, Son... Markumi itu anak orang kaya. Kita orang
miskin,” Emak Sonep yang janda itu, mengingatkan.
Orang se-Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah
tahu Haji Hasan –ayah Markumi—adalah juragan emping, sedangkan Emak adalah
buruh di pabrik emping milik haji tiga kali itu.
Kedekatan Sonep dengan Markumi bisa mengancam “karier” Emak.
Kalau Haji Hasan marah, Emak bisa dipecat.
Tapi Sonep hanya menyeringai tiap kali Emak menasehatinya.
“Tenang saja, Mak. Kalau Sonep jadi menantu Haji Hasan, kan
Emak juga yang senang. Emak nggak perlu lagi jadi buruh.”
Emak menggeleng-geleng kepala, mencoba bersabar menghadapi
kebandelan anaknya. “Kamu persis sekali dengan bapakmu. Keras kepala!”
Lulus SMP, Sonep dan Markumi berpisah jarak. Markumi
melanjutkan ke sebuah SMA Negeri di Pekalongan. Sonep merantau ke Jakarta
mengikuti pamannya, menjadi buruh bangunan. Beberapa minggu jadi buruh
bangunan, Sonep beralih menjadi juru parkir, karena kedekatannya dengan seorang
preman yang rumahnya dekat rumah paman.
Diam-diam, bila punya uang lebih, Sonep mengunjungi tempat
kos Markumi. Jarak yang jauh tak menyurutkan gelora cinta mereka untuk bertemu
dan memadu kasih.
“Kamu nggak akan meninggalkanku, kan?” bisik Markumi cemas,
ketika mereka selesai bercumbu di sebuah losmen.
“Tentu saja tidak. Cintaku hanya untukmu.”
Bagai seekor kumbang, usai menghisap madu setangkai kembang,
Sonep segera terbang. Bila kerinduan kembali menggelegak, maka Sonep bergegas
mengunjungi Markumi, menyeretnya ke kamar losmen.
“Kamu sudah sukses sekarang?” Sepasang mata Markumi berbinar bahagia.
“Ya. Semua kulakukan demi kamu, sayang,” bisik Sonep,
membuat gelora di dada Markumi kembali menggelegak. Gadis desa itu pasrah,
ketika Sonep kembali menghisap madunya.
Dengan kecanggihan teknologi, membuat kerinduan Markumi pada
Sonep tak terhalang jarak. Setiap saat Markumi mengirim SMS atau menelepon
menanyakan kabar kekasihnya itu.
“Kapan kamu mengunjungiku lagi? Aku kangen,” mendesah,
Markumi bertanya melalui ponsel.
“Sabar, sayang. Aku sibuk sekali. Kini aku punya banyak anak
buah yang harus kuurus,” jawab Sonep di seberang sana.
“Semalam aku mimpi, kamu pergi dengan gadis lain,” mengalir
cemburu dalam suara Markumi. Terdengar Sonep tertawa.
“Nggak mungkin, sayang. Cintaku hanya untukmu seorang.”
Markumi tersenyum damai mendengarnya. Ia memejamkan mata,
meresapi kata-kata indah yang selalu ingin ia dengar dari bibir kekasihnya itu.
***
Kemudian datanglah petaka itu. Markumi hamil. Dikeluarkan
dari sekolah. Dalam kegelisahan, Markumi menelepon Sonep.
“Jangan cemas, sayang. Aku akan datang melamarmu,” janji
Sonep.
Bersama emaknya, Sonep datang melamar Markumi.
“Tidak!” kata Haji Hasan. “Itu dosa. Kalian tidak boleh
menikah, sebelum Markumi melahirkan!”
“Tapi ayah....” suara Markumi tercekat.
“Lahirkan dulu anakmu!” sahut Haji Hasan. Lalu pada Sonep,
haji itu berkata, “Cari kerja lain. Jangan jadi preman!”
Meski diam, tapi hati Sonep merasa terhina. Dengan dada
membara, Sonep kembali ke Jakarta. Kembali mengurusi anak buahnya yang jumlahnya
kian banyak. Sonep masih sangat muda, bertubuh kekar dan selalu menang
berkelahi. Kawan-kawan segan padanya, lawan-lawan takut padanya. Apalagi saat
patah hati begini, Sonep makin garang.
Pamannya mencoba menasehati Sonep.
“Serdadu mati oleh peluru, preman mati diujung belati.”
Sonep menyahutnya dengan tawa tergelak, seakan mendengar
lelucon yang amat menggelikan.
“Apapun yang terjadi denganmu, aku tak peduli lagi!”
“Lebih bagus begitu, Paman. Hahaha.....”
Waktu pun cepat melaju. Markumi telah melahirkan seorang
bayi laki-laki. Ia segera menelepon Sonep. “Kapan kamu pulang, Mas? Akan beri
nama siapa anak kita?”
“Tunggulah, aku sedang sibuk.” Tak
ada alasan lain dari Sonep selain kata sibuk, sibuk, sibuk. Kali ini ia
menambahkan, “Jangan kau
beri nama anak kita sebelum aku pulang. Aku telah menyiapkan nama istimewa
untuknya.”
Markumi memegang teguh pesan Sonep. Pada orang-orang yang
bertanya siapa nama anaknya, Markumi selalu menjawab, “Mas Sonep telah
menyiapkan nama istimewa untuknya. Tunggu saja.”
Markumi selalu menatap keluar jendela kamarnya, menanti
kedatangan Sonep. Setiap kali anaknya yang belum bernama itu menangis, Markumi
selalu menghiburnya. “Sabar ya, sayang. Ayahmu akan pulang membawa nama
istimewa untukmu.”
Jauh di dalam hati, Markumi sangat gelisah. Sekian lama
menunggu, tapi Sonep belum juga pulang. Tak ada yang tahu keberadaan Sonep.
Ponselnya tak bisa dihubungi. Bahkan pamannya pun tak tahu keberadaan Sonep,
karena sudah tidak tinggal di rumahnya lagi. Sonep seperti lenyap ditelan bumi.
Tetapi,
kesetiaan Markumi memang mengagumkan. Ia berkeras membiarkan anaknya tanpa
nama, meski kini anak itu sudah mulai bisa merangkak. Kemudian orang-orang
memanggil anaknya Thole, sebutan anak laki-laki masyarakat pedesaan. Markumi
marah. Ia tak senang anaknya dipanggil Thole, yang dianggapnya sebagai sebutan
untuk masyarakat kelas bawah. Tapi ia tak bisa menyalahkan mereka. Semua anak,
termasuk anaknya, perlu nama.
Malam telah larut, tapi Markumi belum menutup jendela
kamarnya. Tatapannya menerawang ke sudut jalan di kampungnya. Berharap seorang
lelaki gagah berjalan tegap muncul dari tikungan jalan itu. Bila lelaki itu
muncul, Markumi akan menyambutnya penuh suka cita. Ia yakin sekali lelaki itu
pasti membawa nama istimewa untuk anaknya. Anak mereka. [ ]
Biodata:
Sulistiyo Suparno, cerpenis kelahiran Batang, 9
Mei 1974. Selain menulis cerpen, juga menulis dongeng dan cerpen anak.
Karya-karyanya tersiar di berbagai media seperti Minggu Pagi, Cempaka, Wawasan,
Suara Muhammadiyah, Radar Surabaya. Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah. Facebook: Sulistiyo Suparno

