Pages

Ads 468x60px

Minggu, 26 Juni 2016

HADERI IDERIS: MENULIS, MEMAKSA DIRI


Memaksa diri. Keras dengan diri sendiri. Ya, seperti itulah semangat orang yang ingin sukses.
Ya, kita mesti memaksa diri.  Sesuatu yang berat kita lakukan, untuk bisa melakukannya, ya harus memaksa diri. 
Seseorang memaksa diri melakukan shalat tahajjud. Awalnya memang tidak enak. Ia harus melawan kantuk, ia berjuang melawan dinginnya angin malam. Sekali, dua kali, terus, dan terus ia lakukan setiap malam, akhirnya, tidak terasa berat lagi, malah ketagihan. Dan, jika ia tidak mengerjakannya, seolah ada yang kurang, bahkan merasa kehilangan, dan kerugian besar. Begitu kiranya dengan menulis.
Bercermin dengan Pak Munadi. Saat memonitoring UAMBN ke Madrasah Aliyah Darul Ulum. Beliau menghadiahkan buku kepadaku. Kekaguman langsung kuutarakan pada beliau. Saya kagum lantaran saya tahu bagaimana kesibukan beliau. Luar biasa, masih sempat Bapak menulis?
Dari perbincangan itu saya tahu bahwa beliau  berazam menulis setiap hari  seusai jam kerja kantor, menulis satu halaman atau satu topik, baru beliau pulang ke rumah. Ini bisa beliau lakukan karena memang beliau bertekad dan melaksanakannya.
Beda lagi dengan pengakuan Pak Ewa, beliau tidak menetapkan waktunya. Namun, beliau bisa menulis di sela kesibukan kapan pun bisa.
Kok, bisa? Karena mereka memang memaksa diri, harus menulis. Namun, bagi mereka bukan terkesan memaksa diri lagi, tapi sudah pada tataran kebutuhan. Malah lebih dari itu, yang tidak bisa dirasakan orang lain. Hanya mereka yang bisa merasakannya.
Berazam, bertekad memang diperlukan. Namun, yang lebih diperlukan adalah melaksanakannya. Kita juga bisa bercermin pada penulis tetap kolom di surat kabar. Tulisan mereka setiap minggu terbit dengan berbagai topik. Awalnya, mereka tentu diberikan tawaran kerja sama. Lalu mereka menyanggupinya. Sudah tentu mereka itu memiliki kesibukan masing-masing. Mengapa mereka bisa? Karena mereka memang harus menulis. Kan, sudah terikat kontrak? Hehehe…
Bagaimana dengan kita? Ya, kita yang tidak terikat kontrak ini, jika ingin produktif menulis, kudu memaksa diri. Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya. Hehehe…. Kok, jadi ngancam gitu, Pak? Ini benaran, nggak main-main. Ya, sudah. Keputusan terakhir ada di tangan Anda. Hehehe. [Haderi Ideris]




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter