Memaksa diri. Keras dengan diri
sendiri. Ya, seperti itulah semangat orang yang ingin sukses.
Ya, kita mesti memaksa
diri. Sesuatu yang berat kita lakukan, untuk bisa melakukannya, ya harus
memaksa diri.
Seseorang memaksa diri melakukan
shalat tahajjud. Awalnya memang tidak enak. Ia harus melawan kantuk, ia
berjuang melawan dinginnya angin malam. Sekali, dua kali, terus, dan terus ia
lakukan setiap malam, akhirnya, tidak terasa berat lagi, malah ketagihan. Dan,
jika ia tidak mengerjakannya, seolah ada yang kurang, bahkan merasa kehilangan,
dan kerugian besar. Begitu kiranya dengan menulis.
Bercermin dengan Pak Munadi. Saat
memonitoring UAMBN ke Madrasah Aliyah Darul Ulum. Beliau menghadiahkan buku
kepadaku. Kekaguman langsung kuutarakan pada beliau. Saya kagum lantaran saya
tahu bagaimana kesibukan beliau. Luar biasa, masih sempat Bapak menulis?
Dari perbincangan itu saya tahu
bahwa beliau berazam menulis setiap hari seusai jam kerja kantor,
menulis satu halaman atau satu topik, baru beliau pulang ke rumah. Ini bisa
beliau lakukan karena memang beliau bertekad dan melaksanakannya.
Beda lagi dengan pengakuan Pak
Ewa, beliau tidak menetapkan waktunya. Namun, beliau bisa menulis di sela
kesibukan kapan pun bisa.
Kok, bisa? Karena mereka memang
memaksa diri, harus menulis. Namun, bagi mereka bukan terkesan memaksa diri
lagi, tapi sudah pada tataran kebutuhan. Malah lebih dari itu, yang tidak bisa
dirasakan orang lain. Hanya mereka yang bisa merasakannya.
Berazam, bertekad memang
diperlukan. Namun, yang lebih diperlukan adalah melaksanakannya. Kita juga bisa
bercermin pada penulis tetap kolom di surat kabar. Tulisan mereka setiap minggu
terbit dengan berbagai topik. Awalnya, mereka tentu diberikan tawaran kerja
sama. Lalu mereka menyanggupinya. Sudah tentu mereka itu memiliki kesibukan
masing-masing. Mengapa mereka bisa? Karena mereka memang harus menulis. Kan,
sudah terikat kontrak? Hehehe…
Bagaimana dengan kita? Ya, kita
yang tidak terikat kontrak ini, jika ingin produktif menulis, kudu memaksa
diri. Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya. Hehehe…. Kok, jadi ngancam gitu, Pak? Ini benaran, nggak main-main. Ya,
sudah. Keputusan terakhir ada di tangan Anda. Hehehe. [Haderi Ideris]
