Pages

Ads 468x60px

Senin, 27 Juni 2016

ZULFAISAL PUTERA: PALSU

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah dengan sapaan palsu / Lalu merekapun belajar sejarah palsu dari buku-buku palsu / Di akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu / Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu / Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru /
Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu / Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu / Dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu / Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu / Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu /
Masyarakatpun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu / Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu / Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu di tengah seminar dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.
Puisi tersebut berjudul “Sajak Palsu” yang ditulis Agus R. Sarjono, penyair dan mantan Redaksi Majalah Sastra Horison, pada tahun 1998. Di kalangan sastrawan Indonesia dan dunia, puisi ini sangat terkenal. Saya sengaja menyalinkan puisi itu selengkapnya pada esai yang pendek ini karena secara terang benderang menggambarkan bagaimana ‘kepalsuan’ sudah menjadi label orang Indonesia dan mendarah daging. Puisi ini satire dan menusuk!
Dalam KBBI, ‘Palsu’ 1. tidak tulen; tidak sah; lancung (tentang ijazah, surat keterangan, uang, dan sebagainya); 2. tiruan (tentang gigi, kunci, dan sebagainya); 3. gadungan (tentang polisi, tentara, wartawan, dan sebagainya); 4. curang; tidak jujur (tentang permainan dan sebagainya); 5. sumbang (tentang suara dan sebagainya). Berdasar definisi itu, Anda bisa mengategorikan apakah sesuatu itu bisa disebut palsu atau bukan.
Kasus pemalsuan atau pun memalsukan sudah ada sejak dulu. Ingatlah cerita 12 nabi palsu di zaman Rasulullah dan kasus itu terus bermunculan sampai saat ini. Begitu pula kasus penyaliban nabi Isa yang menurut Injil Barnabas bahwa yang disalib adalah sahabatnya, Yudas Iskariot, atau dalam Al-Quran, An-Nisa ayat 157 disebut sebagai “orang yang diserupakan dengan Nabi Isa AS” atau tiruannya. Mirip yang dilakukan Saddam Husein, mantan Presiden Irak yang memalsukan puluhan orang mirip dirinya untuk mengelabui musuh pihak Amerika dan sekutunya saat itu.
Deretan panjang tak berujung kasus ‘palsu’ membanjiri Indonesia sejak berdirinya negeri ini. Sebutlah Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang beredar selama ini dianggap palsu karena surat aslinya tak pernah ada. Apalagi soal pemalsuan sejarah menurut versi penguasa, seperti kasus Serangan Umum 1 Maret. Jadi kalau soal uang, beras, obat, merk, ijazah, surat menyurat, sampai tentara, polisi, istri, bahkan janji palsu adalah hal yang sudah lumrah. Bolehlah disebut laten karena setiap waktu akan terus muncul.
Kasus ‘palsu’ ini akan terus ada sampai manusia berakhir. Apakah kepalsuan itu dibutuhkan sangat tergantung dengan alasan dan moral saja lagi. Jika karena kepalsuan itu merugikan banyak orang, bahkan sebuah sejarah, maka harus dikutuk habis habisan. Namun, bisa saja palsu tidak merugikan orang lain, sah sah saja, bahkan ditawarkan : gigi palsu, bulu mata palsu, dan rambut palsu. Jadi, palsu ini hanyalah soal pilihan. Saya pikir, di negeri ini hanya satu yang belum dipalsukan : Indonesia!  [Zulfaisal Putera]


(Telah dimuat di SKH BanjarmasinPost edisi Minggu, 26 Juni 2016)



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter