Mentari pagi mulai bersinar. Menghapus jejak
sang embun di dedaunan. Burung-burung kecil bernyanyi saling bersahutan. Mereka
terbang beriringan di bawah bentangan langit biru. Sedangkan aku, hanya mampu
duduk di kursi roda. Memandangi keindahan di luar sana lewat jendela. Ya, aku
memang berbeda. Karena perbedaan itu juga aku tak punya teman. Tak ada yang mau
menemaniku bermain.
Saat ini usiaku 14 tahun. Bibi bilang aku
telah memasuki masa remaja. Entahlah! Aku tidak tahu apa itu remaja. Masa
anak-anak pun terasa tak pernah kulalui. Aku tak pernah menikmati hidupku
selama ini. Pernah kucoba untuk menerima apa yang terjadi dalam hidupku. Tapi,
usahaku terkalahkan oleh rasa sepi yang kian hari kian mengacau. Aku ingin punya
teman. Seperti mereka di luar sana yang punya banyak teman. Aku cukup satu,
teman yang baik dan selalu menemani dalam sepiku, teman untuk saling berbagi
cerita. Tapi mustahil.
Dulu ketika aku 8 tahun, pernah aku bermain
keluar mencari teman. Hasilnya hanya kecewa dan sakit hati. Mereka tak mau
berteman denganku. Mereka bilang aku anak yang lumpuh, tidak akan asyik bermain
denganku. Mereka bahkan mengusirku. Sejak saat itulah aku tak pernah lagi
berani keluar rumah. Biarlah sepi yang menemaniku.
"Bi, ibu sama bapak sudah pulang?"
"Belum, Non. Ibu dan bapak kan sedang
ada kerjaan di luar kota. Pulangnya mungkin minggu besok."
Begitulah. Ibu dan bapakku sibuk bekerja.
Mereka sibuk mengumpulkan harta. Harta telah membutakan hati mereka. Bagi
mereka harta adalah segalanya. Bahkan demi harta mereka mengorbankan apapun,
termasuk aku.
Aku tak pernah mengenal bapak dan ibu. Meski
mereka orang tuaku, tapi mereka begitu asing bagiku. 14 tahun aku hidup di
dunia ini, tak pernah sekalipun bercengkrama dengan mereka. Bahkan ketika bayi pun,
bibi bilang aku hanya disusui dengan susu formula oleh bibi karena ibuku tak
ada waktu untuk menyusuiku. Jangankan menyusui, menggendongku saja mungkin tak
pernah. Mereka seperti lupa kalau mereka punya anak. Mereka lupa kalau aku butuh
perhatian dan kasih sayang mereka. Mungkin mereka pikir uang adalah
kebahagiaan. Mungkin mereka pikir aku cukup bahagia dengan diberikan harta yang
berlimpah. Padahal itu tidak sama sekali benar. Jika aku boleh memilih, lebih
baik aku hidup sederhana tapi mendapat perhatian yang cukup dari orang tuaku.
"Bi, aku mau ke kebun."
"Mari, Non, saya antar."
Bunga mawar merah merekah sedikit mengobati
rasa sepiku. Perkebunan mawar ini dibuatkan bapak saat aku berusia 10 tahun.
Itu berarti 4 tahun sudah aku berteman dengan mawar-mawar ini. Dulu belum
berbunga, tapi kini mawar-mawarku sudah tambah besar dan berbunga lebat. Aku
suka di sini. Menghabiskan kesendirianku dengan mencium aroma mawar yang
eksotik. Merah, pink, putih, kuning. Semua jenis warna mawar ada di sini. Tapi,
aku lebih suka mawar merah. Jangan tanya kenapa. Aku pun tak pernah tahu
jawabannya.
Tak jarang kulihat kupu-kupu beriringan
menghirup aroma mawar. Kumbang-kumbang beterbangan menghisap madu sang mawar.
Keindahan sang mawar memang mempesona.
Seperti bunga mawar. Berduri tajam tapi indah
jika telah berbunga. Dari kehidupan mawar aku belajar, biarlah sekarang hidupku
seperti ini. Tapi pada waktunya nanti semua akan indah. Aku yakin itu.
Raja siang semakin terik menerangi bumi yang
kupijak. Tetesan sang embun tak lagi tersisa pada daun sang mawar. Kulihat
jarum jam menunjukan pukul 11.00 WIB. Sebentar lagi guru privatku akan datang.
Aku harus bergegas menyiapkan buku pelajaran.
Ya,
mungkin ini pulalah yang menyebabkan aku tak berteman. Bapak dan ibuku tidak
mengizinkanku untuk sekolah seperti anak yang lainnya. Mereka bilang home
schooling lebih baik bagiku. Mereka bilang aku berbeda. Kakiku yang sudah
lumpuh sejak lahir membuat aku tak bisa memasuki semua pintu di dunia ini. Apa
salahku? Mengapa aku dilahirkan seperti ini? Tak jarang aku menyalahkan
keadaan. Seandainya Tuhan meminjamkan dua kaki yang kuat memopongku untuk
berjalan, walau hanya satu jam tak masalah. Akan kujelajahi pintu-pintu dunia
yang terlarang bagiku. Aku ingin berdiri tegak di atas tanah, tanpa bantuan
apapun. Itu impian bagi anak sepertiku. Apakah Tuhan akan mengabulkan impianku
itu? Entahlah! Biarkan waktu yang menjawabnya.
"Non, ibu guru sudah datang. Nona mau
belajar di mana?"
"Di perpustakaanku saja, Bi."
"Baik, Non. Mari saya antar."
Lama aku tak memasuki perpustakaan pribadiku.
Lama tak kubaca jendela-jendela dunia di perpustakaanku. Perpustakaan ini ibu
berikan kepadaku dari aku masih berusia 6 tahun. Semua buku ada di sini. Ya, aku
hanya bisa menjelajahi dunia lewat buku-buku di sini.
Seperti biasanya, sekitar 2 jam aku belajar
dengan guru privatku. Aku selalu mengikuti pelajaran dengan baik. Aku bersyukur
ibu dan bapakku mengizinkanku untuk sekolah walau hanya home schooling.
Karena aku bisa berinteraksi dan bercengkrama dengan orang selain dengan bibi.
"Ibu pamit yah. Jangan lupa mengerjakan
tugas yang ibu berikan. Minggu depan ibu koreksi."
"Baik, Bu."
Setelah guru privatku pulang, aku langsung
mengerjakan tugas yang ia berikan. Aku tak punya kegiatan apa-apa, sehingga tidak
ada alasan bagiku untuk menunda-nunda mengerjakan tugas.
"Non, waktunya makan siang."
"Iya, Bi. Siapkan saja. Sebentar lagi
saya ke sana."
Makan pagi, siang, ataupun malam, aku hanya
ditemani oleh tumpukan-tumpukan makanan mewah. Di samping kanan kiri dan di
depanku hanya terlihat kursi-kursi kosong tak berpenghuni. Aku selalu meminta
bibi dan 8 asisten rumah tangga untuk menemaniku makan. Tapi, mereka selalu
menolak. Entah apa alasannya. Mereka seolah membatasi diri mereka denganku.
Padahal aku memperlakukan mereka dengan baik.
"Mengapa kalian tak mau makan
denganku?"
"Kami tidak layak satu meja makan dengan
tuan putri." Mereka selalu menjawab demikian. Tuan putri? Apa pula maksud
mereka? Putri kesepian? Itu baru tepat untukku.
Selesai makan, biasanya aku bersantai di
depan rumah. Menanti sang senja tiba sambil membuka diary-ku. Aku selalu suka langit senja. Aku suka menulis cerita
dalam diary-ku di bawah langit senja.
Langit senja banyak menyimpan cerita.
Warnanya yang berbeda dari warna langit yang lain membuat ia istimewa. Aku juga
ingin seperti langit senja, walau berbeda tapi diistimewakan. Bukan malah diabaikan
dalam kesendirian seperti ini.
"Maaf, Non, hari sudah mulai gelap.
Sebaiknya Nona segera masuk."
"Aku masih ingin di sini."
"Tapi, Non, Tuan bilang…."
"Sudah cukup. Aku akan masuk."
Aku dengan kursi rodaku berjalan menuju
kamar. Rumahku yang luas bak bandara membuat aku lelah. Untuk menuju kamar
saja, aku harus dibantu oleh bibi.
Di dalam kamar aku merenung. Apa lagi yang
kedua orang tuaku cari? Rumah megah, mobil mewah, uang segudang, emas batangan?
Pertanyaan yang berulang kali aku renungkan tapi tak pernah kudapati
jawabannya. Semua itu sudah mereka dapatkan. Lantas apa lagi yang kurang?
Kupandangi langit yang berbintang dari
jendela. Bintang itu punya banyak teman. Satu, dua, tiga, empat.... Ah terlalu
banyak. Mereka datang bersama dan pergi pun bersama. Aku iri melihat bintang.
Kurebahkan tubuhku dan kututup kedua mataku.
Kuberbisik dalam hati "Waktu adalah sahabat dalam sepiku. Mungkin sampai
nanti aku tertidur di bawah nisan pun, waktu selalu menemaniku.
Entahlah!!!" [ ]
BIODATA
