Puasa
di kota metropolitan, semacam di Jakarta, Surabaya, atau Bandung, sungguh penuh
ujian dan godaan, demikian kata seorang teman yang merasakan suasana bulan
Ramadhan di luar kampungnya. Padahal ini bukan yang pertama dia rasakan.
Sebagai mantan kepala asuransi yang sudah memimpin cabang di hampir seluruh
provinsi di Indonesia pasti hal semacam ini bukan pemandangan baru.
Ramadan
tahun 2014, lupa hari ke berapa, aku dan teman tadi harus segera keluar wisma
Pemprov Kalsel di Jakarta karena ada kegiatan di TIM. Begitu keluar pintu, kami
menyaksikan warung-warung makan di depan dipenuhi para karyawan kantor-kantor
di seputaran jalan itu. Padahal masih pagi. Siang harinya, usai Jumatan di
salah satu gedung, sebagian jamaah kembali memenuhi warung-warung tersebut,
tentu untuk makan siang.
Pemandangan
semacam itu tentu biasa bagi masyarakat Jakarta dan kota-kota sejenis.
Pemerintah kotanya tak melarang warung makan buka di siang hari puasa. Namun,
tak biasa bagi orang Banjar di Banua. Di sini, warung makan harus tutup. Jika
ada yang nekad buka, maka akan diberangus oleh Satpol PP. Bahkan, tempat
hiburan malam pun harus tutup sepanjang Ramadan. Setuju atau tidak dengan
situasi berbeda tersebut, tetapi begitulah adanya.
Bagaimana
pun kerinduan akan suasana bulan puasa di kampung halaman akan menyesakkan dada
bila saat Ramadan sedang berada di lain kota. Apalagi suasana Ramadan di banua
tercinta, Kalimantan Selatan. Daerah yang penduduk muslimnya sebesar 96,67% ini
masih memelihara suasana kondusif bulan mulia ini, bahkan kearifannya masih
terasa. Waktu memang telah mengubah bentuk dan warna kearifan itu, kecuali soal
ibadah.
Budaya
bagarakan sahur, misalnya, masih tetap dilaksanakan di kampung-kampung. Dulu
bermodalkan gong, babun dan peralatan dapur sebagai bunyi-bunyian, sekarang
dengan gerobak soundsystem yang lebih nyaring. Membunyikan laduman atau meriam
bambu juga sudah mulai kurang berganti dengan petasan berdaya ledak keras.
Keduanya sangat mengusik ketenangan. Yang mulai hilang budaya badamaran atau
menyalakan lampu dengan getah kayu damar pada malam hari dan tanglong
penggantinya.
Yang
sangat seru dan selalu membuat rindu adalah suasana peribadatan malam Ramadan,
seperti salat Isya dan Tarawih. Walau masjid dan musala hanya penuh sesak di
sepertiga awal Ramadan, tetapi tetap mewarnai suasana malam. Apalagi suara
Bilal saat berseru setiap dua rakaat Tarawih hanya terdengar di bulan itu.
Begitu pula Tadarus Al Quran pasca-Tarawih, sungguh sangat menyejukkan. Apalagi
kalau pengeras suaranya tidak terlalu nyaring.
Ada
kebiasaan baru yang sebenarnya metamorfosis kebiasaan lama. Basasambang atau
jalan sore hari menjelang buka, ke pasar wadai misalnya, terkadang tidak
memperhatikan etika berpakaian, terutama bagi anak muda. Contoh lain yang tren
adalah buka puasa bersama, terutama yang diadakan di rumah makan, dari pinggir
jalan sampai hotel berbintang. Asyiknya silaturahmi sambil makan bersama
terkadang sebagian yang hadir abaikan salat magrib yang juga utama.
Bulan
Ramadan bulan penuh rahmat, bulan Tuhan cuci gudang. Semua peribadatan
ditawarkan dengan harga murah dan bonus berlimpah, termasuk ada satu malam
dengan imbalan pahala 1000 bulan. Pintu sorga dibuka dan pintu neraka ditutup.
Malaikat bertebaran siap mencatat aktivitas ibadah umatnya, sementara setan
diikat agar tak bernyali. Namun, sehebat apa pun bahasa promosi Tuhan, semua
terpulang manusia. Mau atau tidak memanfaatkannya.
Ibarat
sebuah kompetisi pencarian bakat, maka bulan puasa ini adalah Ramadan Academy.
Kaum muslimin adalah peserta yang harus siap menyajikan peribadatan dan amalan
terbaik di panggung bumi. Ada ‘lagu wajib’ dan ada ‘lagu pilihan’ yang harus
‘dinyanyikan’. Jurinya adalah para malaikat dan sang penentu Allah SWT.
Insya-Allah, malam ini muslim di banua dan sedunia akan memulai pentas Ramadan.
Andakah bakal pemenangnya? [Zulfaisal
Putera]
(Telah
dimuat di SKH BanjarmasinPost edisi Minggu, 05 Juni 2015)
