Pages

Ads 468x60px

Jumat, 22 Juli 2016

PUISI DARUZ ARMEDIAN: STASIUN RINDU

Puisi I
SERPIH KERINDUAN


di depan pintu, malam ini
gerimis turun lagi
di dalam diriku, ada yang memaksa
untuk terus bertanya-tanya
adakah ini serpih-serpih kerinduan
yang kau cipta dari awan-awan?

El, di dekatmu, aku pernah menatap wajah yang senda
ada kesetiaan di sana
maka bacalah aku pada puisi ini
kucipta dari hujan, dari serbuk awan
yang itu adalah kerinduanmu tanpa tepi




Puisi II
DI STASIUN, AKULAH PATUNG


Eliana, hujan deras dari tenggara
mencipta jejak paling ombak
kenanglah sebagai embun cemara
yang pecah di kaca-kaca jendela kereta

hidup ialah perpisahan
sebagaimana matahari pada malam-malam

sementara di stasiun
kakiku adalah patung-patung
dan gesekan roda berputar jauh
seperti sebuah masa lampau

tak ada kata-kata yang hidup
semua mati dan redup

mataku mata panah
memandangmu jauh dengan tabah
kurentang tangan kulantang teriakan
dan hanya kosong lalu sepi merebah pelukan

Eliana, hujan deras dari tenggara
seperti kereta yang membawamu jauh ke utara




Puisi III
KAWAN LAMA


orang-orang menyanyi menadakan sunyi
mata yang sendu dan bibir tak mengenal senda

di stasiun yang mati
enampuluh tahun yang lalu dan kita di sini
atas nama ketiadaan
saling menggumam: adakah lagi sebuah perpisahan?

Kawan lama, duduk di bangku tua peninggalan belanda
tak ada yang perlu ditunggu
semua sudah menanti



Biodata:
Daruz Armedian, menulis puisi dan cerpen di media massa. Email: armediandaruz@gmail.com




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter